
Butuh waktu hampir setengah jam untuk membiarkan Tirith kembali tenang. Sebelumnya, Tirith baru saja melalui ujian dari Pohon Roh, untuk membuktikan dan mendapatkan izin menaiki Pohon Roh. Hasilnya dapat terlihat jelas, dari beban mental dan kelelahan yang terjadi pada Tirith membuktikan bahwa dia berhasil melaluinya. Tentunya ujian itu sudah pasti sangat menguras mental yang di miliki nya dan mungkin Tirith tidak pernah menghadapi hal semacam itu.
Rigel tidak tahu pasti apa yang di hadapi Tirith, namun kemungkinan tidak jauh berbeda dengan yang di alaminya. Ujian itu sendiri nampak lebih memfokuskan kepada mental seseorang lebih dari apapun. Jati diri seseorang akan dapat terlihat jelas melalui ujian mental itu. Jika mereka bahkan tidak sanggup menghadapi ujian itu, maka mereka tidak pantas menuju tempat tertinggi. Apakah mereka akan menyerah saat di hadapkan oleh neraka? atau memilih untuk berhenti saat di hadapkan dengan surga? atau bahkan akan tetap terus berjalan meski di hadapkan oleh keduanya?
Segalanya akan terukir dengan jelas dalam ujian itu. Jika mereka dapat melewati neraka dan mengabaikan surga dalam ujian itu, seperti apa yang di lakukan Rigel dan Tirith, maka niscaya mereka dapat mencapai puncak pohon Roh. Tidak hanya itu, mereka berkemungkinan untuk mencapai sesuatu yang jauh lebih tinggi ketimbang pohon Roh. Tidak seperti Rigel yang telah mengalami sangat banyak kejadian yang melatih mentalnya, Tirith mungkin sangat rapuh terhadap hal semacam ini dan membutuhkan waktu untuk kembali ke dirinya yang biasa.
"Apa kau sudah baik-baik saja?"
"Ya... Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku Rigel. Dan juga terima kasih karena telah membantu memulihkanku, Ratu Peri..." Tirith memegang kepalanya, mungkin jejak sakit kepala masih dapat di rasakan olehnya.
"Ya, Sama-sama... Aku justru sedikit terkejut dengan dirimu yang berhasil melalui ujian dalam satu kali percobaan. Sama persis dengan Pahlawan Rigel."
"Jika kau sudah baik-baik saja, aku akan menggendongmu dan membawamu menuju puncak sana, Tirith."
Tirith perlahan berdiri dan menatap Rigel yang berada di sisinya, "Baiklah, aku sudah baik-baik saja. Ayo kita pergi."
Dengan segera Rigel membopong Tirith di pelukannya dan melesat ke udara untuk mencapai puncak. Sylph juga mengikuti dari belakang. Tirith menatap wajah Rigel selagi merasakan kehangatan pelukannya, "Rigel... Apakah kau juga melalui ujian itu? hal semacam apa yang kau lihat?"
Keheningan terjadi sesaat, Rigel tidak tahu apa yang harus dia katakan. Tidak tahu bagaimana dia harus menggambarkannya, dan dia tidak tahu apakah jika di jelaskan Tirith akan mengerti? maka pilihan terbaik adalah mengatakan hal yang sudah pasti di ketahui. Bahkan oleh anak kecil.
"Neraka... Aku hanya melihat neraka, tempat yang akan kutuju di akhir perjalananku."
Satu kata yang dapat menggambarkan keputus-asaan, penderitaan, penyiksaan, dan kesedihan mendalam. Sebuah kata yang selalu di takuti manusia, namun selalu menghantui manusia akan hari penyiksaan.
"Begitu..." Tirith tampak mengerti, dia sendiri menyadari bahwa pemandangan di lihatnya bukanlah surga seperti ayng di harapkan, melainkan neraka yang tak di harapkan.
"Dari pada itu... Lebih laik kamu melihat sekitarmu."
Mengikuti kata-katanya, Tirith memandang sekitar. Sebuah pemandangan biru, langit biru sejauh mata memandang. Daratan hijau tampak mengecil dan semakin mengecil dan burung-burung Roh terbang di sekitarnya. Mereka menembus awan putih yang basah dan seakan-akan Tirith dapat mencapai langit tinggi. Tempat para bintang tinggal dan bermain.
"Wahh~ ini indah sekali..."
Udara terasa sejuk di ketinggian ini, namun udara akan semakin menipis semakin tinggi mereka terbang. Rigel terus mengudara menuju puncak dari Pohon Roh. Mungkin akan bagus bagi Tirith untuk melihat bintang dari puncaknya, karena puncaknya jauh lebih dekat dengan langit.
Mereka sampai di puncak dan mendapatkan sambutan dari peri-peri kecil yang beterbangan di sekitar. Ntah berapa kalipun Rigel melihatnya, tetap saja tempat ini sangat menyejukan mata. Tirith terkagum-kagum melihat pemandangannya. Tempat ini jauh lebih luas dari yang dia harapkan.
"Kemari, aku ingin kau bertemu seseorang..." Rigel memimpin jalan sementara Sylph tetap berada di belakang Tirith.
Alasan sederhana, untuk Rigel membawa Tirith ke tempat ini adalah mempertemukannya dengan seorang gadis yang tengah dalam tidur abadinya. Tidak ada alasan khusus baginya untuk melakukan ini. Hanya keinginan pribadi Rigel saja. Selain itu, Rigel juga ingat bahwa Priscilla pernah berkata ingin menemui Tirith.
Sylph menambah sedikit lajunya dan memimpin jalan, dia sadar akan niat Rigel untuk mempertemukan Tirith dengan Priscilla. Dia tidak tahu niat Rigel sebenarnya, namun karena Rigel telah bersedia membantunya untuk membangunkan Priscilla kembali, dia tidak memiliki hak untuk bertanya. Selain itu, Sylph masih memiliki hutang budi yang belum terbayarkan kepada Rigel.
Sedikit berjalan ke depan, mereka tiba di sebuah pohon dengan kasur di bawahnya. Terdapat seorang wanita cantik yang tertidur pulas di sana dan tidak memiliki tanda-tanda akan bangun.
"Apakah dia... Putri tidur?" Tirith terpesona dengan gadis cantik itu. Wajar jika berpikir demikian, kecantikan yang di miliki gadis itu berbeda dari yang pernah dia temui dalam hidupnya. Hanya denan melihat wajahnya yang tertidur saja, seakan semua lelah dan beban fisik yang di terimanya saat ujian menghilang begitu saja.
"Mungkin kasusnya mirip... Gadis ini bernama Priscilla, sosok yang sama pentingnya sepertimu." Sedikit nada kesedihan keluar dari nadanya.
Priscilla mengorbankan jiwanya hanya untuk menyegel Tortoise, dan segel itu bahkan tidaklah sempurna sebab gangguan yang di buat Lucifer pada masa lalu. Ntah karena paksaan atau bukan, namun kemungkinan besar Priscilla melakukannya secara sukarela. Dia tahu betul sifatnya, bahkan saat di Labyrinth neraka, Priscilla membentuk sebuah serikat penaklukan dan mengulurkan tangan bagi orang-orang yang terjebak di sana.
Rigel berjalan ke tepi kasur dan membelai lembut pipi Priscilla, "Tujuanku menjadikan Phoenix sebagai target berikutnya karena dia... Aku membutuhkan air mata serta darah Phoenix untuk mengembalikan jiwa miliknya. Hmm, sungguh egois bukan? aku menarik semua orang ke dalam genggamanku hanya untuk memenuhi keegoisan ku ini... Bukannya mustahil bagiku melakukannya seorang diri, namun perpecahan pasti akan terjadi di antara Pahlawan."
Pro dan Kontra akan terjadi, ada kemungkinan bahwa Pahlawan seperti Marcel menganggap Rigel sedang menyombongkan diri tentang kekuatannya dan semacamnya. Meski dia sudah mengakui Rigel, namun bukan berarti dia benar-benar mengakuinya. Ada bagian lain dari dirinya yang berusaha menyangkal fakta Rigel lebih kuat darinya.
Selain itu, Rigel telah menyiapkan rencana untuk hal lain. Melempar dua burung dengan satu batu, sebuah kebusukan akan terungkap di depan semua orang dan hari pembalasan akan tiba. Sejauh ini, mungkin tidak ada orang yang mengetahui niat Rigel sebenarnya. Jika ada, mungkin itu Takumi yang telah di beritahukan Rigel saat menjadikan Merial Pahlawan sebelumnya.
"Begitu, ya. Jadi...apa kau mencintainya? gadis cantik bernama Priscilla ini?"
Sesuatu membuat Tirith sedikit takut akan jawaban yang akan Rigel berikan. Dia tahu betul, bahwa tidak ada orang selain dirinya yang telah menyakiti Rigel dengan sangat dalam, namun kenyataan Rigel masih mau menerima dirinya yang mengejutkan. Bukan hal yang aneh jika dia mencintai gadis lain.
Ntah sudah berapa lama Rigel menyadarinya, bahwa dia memiliki lubang yang sangat besar di hatinya. Lubang besar yang tercipta untuk alasan yang tidak di ketahui dan lubang yang tidak akan bisa di tutup oleh siapapun.
Dengan jawaban itu, penyesalan memenuhi hatinya. Tirith menganggap itu adalah salahnya, atas perlakuan yang dia lakukan dulu karena adanya ancaman dari Takatsumi, dia harus mencampakkan Rigel. Hal itu terjadi karena kurangnya rasa percaya Tirith akan kekuatan Rigel.
"Begitu, ya... Aku tidak akan terkejut jika kamu mencintai dia. Dia memang cantik, bahkan aku sendiri kagum akan wajah yang di miliki nya...Lalu, bisakah aku mengetahui dari mana kau mengenalnya?"
Sylph juga tertarik akan hal itu. Priscilla hidup di waktu yang sangat berbeda dengan waktu kedatangan Rigel. Terdapat jarak seribu tahun dan dengan mencurigakan Rigel telah mengenal Priscilla saat pertama kalo berjumpa dan mendengar namanya. Sebuah misteri yang tidak akan terungkap selain Rigel atau Priscilla sendiri yang memberitahukannya. Namun, apakah dia benar-benar Priscilla yang Rigel kenal atau bukan, semua akan terjawab saat Priscilla tersadar, begitulah yang di pikirkan Sylph.
Rigel hening, nampak sangat jelas bahwa dia tidak berniat menjawabnya, namun, "Di sebuah tempat yang sangat jauh, yang tidak akan di kunjungi dengan mudah. Di antara surga dan neraka, sebuah labyrinth tiada akhir." Rigel hanya memberikan jawaban yang sangat absurd untuk di pahami.
Yang dapat dengan mudah di mengerti dari ucapannya adalah, bahwa itu berada di alam lain atau mungkin di sebuah tempat yang tidak akan di kunjungi yang hidup. Rigel kembali menatap Priscilla yang tidur nyenyak, atau mungkin setengah mati dan setengah hidup.
"Aku pasti akan membangunkanmu kembali, Priscilla. Tidak perduli berapa lama waktu yang di butuhkan, bahkan jika harus menghabiskan seluruh kehidupanku, aku akan menyelamatkanmu... Tunggulah, sampai saatnya tiba."
Kata-kata yang memiliki kekuatan dan penuh tekad. Bukan hanya sebuah kata-kata kosong yang seringan bulu, yang akan terbawa oleh hembusan angin. Tekad akan terbalaskan dan impian menjadi kenyataan. Bahkan jika membangunkan Priscilla hanyalah sebuah hayalan belaka, maka Rigel akan membuat hayalan itu menjadi kenyataan.
"Sebelum pergi, ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu terlebih dulu, Sylph. Hanya di antara kita saja, bisakah kita pergi ke suatu tempat?" Rigel beralih kepada Sylph yang diam dan memperhatikan.
"Kalau begitu baiklah. Aku tidak bisa menolak permintaan seseorang yang berniat menyelamatkan putriku..." Senyuman lembut muncul di bibir cantik Sylph. Meski Priscilla bukanlah anak yang berasal dari rahimnya, nampaknya dia mencintai Priscilla selayaknya anak kandung.
"Kalau begitu aku akan menunggu di sini selagi kalian bicara." Tirith melemparkan senyum kepada Rigel dan Sylph yang mulai meninggalkan tempat.
Setelah berjalan cukup jauh dari tempat Tirith dan Priscilla, Sylph memulai pembicaraan, "Jadi, apa yang kau inginkan dariku, Pahlawan Rigel?"
Keheningan terjadi sesaat sampai akhirnya Rigel mulai bicara, "... Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu, apakah kau bisa menggunakan sihir semacam teleportasi untuk banyak orang?"
Sylph sedikit terkesima, "Eh... Ya, sepertinya aku bisa. Namun itu akan menjadi sebuah teleportasi paksa dan untuk itu aku harus berada di dalam zona sihir melimpah. Aku tidak dapat melakukan sihir itu dari hutan Peri." Itu sangat mendadak bagi Rigel ingin mencaritahu tentang sihir semacam itu.
"Zona sihir melimpah, ya... Aku tidak tahu jika ada tempat seperti itu..."
Tunggu, dulu. Dia mengingat jika seharusnya ada tempat seperti itu, dan mungkin itu sebuah pilihan yang bagus. Tempat yang tergolong memberikan penghalang sihir untuk melindungi sebuah negara, Britannia!
"Untuk itu, bagaimana pusat dari pasokan penghalang sihir di suatu tempat di Britannia?"
Sylph terkejut atas saran yang di buat Rigel, "Tempat peleburan Excalibur, ya... Mungkin tempat itu cocok. Namun, kemungkinan akan ada sedikit gangguan terjadi pada penghalangnya..." Wajar Jika Sylph langsung mengetahui maksud Rigel, karena dialah yang membuat pelindung sihir itu menjadi kenyataan. Tetapi, bukan itu yang menarik minat Rigel.
"Tunggu... Sebelumnya kau bilang apa? Peleburan?"
"Uh, ya... Demi mempertahankan pelindung sihir dalam waktu yang lama, atas izin Arthur aku membantaunya melelehkan Excalibur menjadi sebuah cairan keemasan yang terus mengalir dan memberikan sihir dalam jumlah banyak. Untuk aura suci yang di miliki Excalibur juga ikut melebur menjadi energi sihir suci di sekitar aliran Excalibur."
"Jadi begitu..." Pantas saja Takatsumi dapat memiliki pedang Excalibur karena masih ada bagian yang tersisa dari Excalibur. Mungkin tidak ada salahnya bagi Rigel mengunjungi dan mendapatkan beberapa hal dari sana.
"Kita kembali ke topik, aku ingin kau melakukan satu hal dengan teleportasi paksa itu. Sebisa mungkin, aku ingin kau melakukannya dalam timing yang tepat."
Meminta tolong tanpa perlu mengungkapkan tujuannya sebanyak mungkin, begitulah Rigel. Kerahasiaan rencana ini harus tetap terjaga, sedikit saja bocor maka segala rangkaian yang telah di siapkan akan hancur begitu saja. Akan menjadi tidak menyenangkan jika persiapan lama yang begitu matang hancur oleh sedikit kebocoran informasi.
Meskipun tidak mungkin bagi Sylph untuk menghianati Rigel, namun dia juga tidak mungkin berbohong jika Pahlawan lain bertanya kepadanya. Jika saja seseorang bertanya mengenai rencana Rigel dan Sylph enggan menjawab, dari hal itu dapat di tebak bahwa Rigel memiliki sebuah rencana. Untuk hal itu, tidak memberitahukan banyak dari rencananya dan membuatnya berfikir ke arah lain adalah suatu ke harusan.
"Jadi begitu, apakah mungkin ini tentang ledakan yang terjadi saat Phoenix sekarat dan membelah tubuhnya menjadi dua? Memang tida mudah untuk membunuh dua target terbang secara bersamaan, jadi kau ingin aku men teleportasi kan paksa kalian saat ledakan terjadi?" Sylph tampak bangga akan sesuatu karena berhasil menebak sedikit dari rencana Rigel.
Di sisi lain, Rigel tidak menjawab Ya atau tidak. Sylph memang tidak salah akan kemungkinan itu, "Mari kita lanjut ke pembicaraan... Kau juga harus memperhatikan pertarungan nanti dan melakukan Teleportasi di saat tanda-tandanya muncul."
Pembicaraan Rigel terus berlanjut dan Sylph menyetujui hal itu. Langkah pertama telah siap, kini waktunya untuk menebarkan benih-benih sebagai umpan. Urusannya di sini telah berakhir, Rigel pergi ke Britannia untuk melakukan urusan selanjutnya.
***
Follow IG thor ya : @ajipanggg