The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Perjamuan Malam



Api panas membakar bumi, tanah menjadi gersang dan udara tak cocok untuk dihirup dan dikirim ke paru-paru. Berbagai anomali tercampur pada satu tempat, selayaknya neraka. Segala hal ditelan oleh lautan api, lantas tiada tempat berteduh atau berlindung.


Dimana aku??


Suaranya tak keluar, hanya ucapan tanpa suara yang dapat dilakukan. Rigel tidak dapat melihat bagian tubuhnya, merasakan atau menyentuh apapun. Dia hanya ada, namun juga tak ada. Seakan jiwa yang memperhatikan dunia setelah kematiannya.


Dia menyaksikan ribuan bangkai monster berserakan di penjuru tempat. Beberapa dilahap api, beberapa membeku dan beberapa terpotong. Hanya sebuah ketidak percayaan yang dapat dirasakan Rigel. Siapa yang dapat melakukan hal semacam itu? Belum lagi terhadap monster terkuat diantara monster lain.


Apa-apaan neraka ini...


Bahkan ini tidak jauh lebih buruk pada waktu terakhirnya di Labyrinth neraka. Bila ini kenyataan, lantas tidak berlebihan menganggapnya sebagai neraka itu sendiri.


Dumb!


Dia merasakan getaran. Meski tidak memiliki tubuh fisik, dia dapat merasakannya dengan jelas. Sebuah ledakan energi super masif tidak jauh di depannya. Lantaran dia pikir itu meteor atau semacamnya, namun nyatanya bukan. Dia tidak dapat melihatnya, dikarenakan layar proyeksi mulai mengabur dan berganti ke kejadian lain.


Satu hal terakhir yang dia perhatikan sebelum kesadarannya ditarik keluar. Hal yang sangat mengerikan dan teramat menakutkan. Kata-kata tak dapat menjelaskannya secara terperinci. Kengerian, keputus'asaan, ketakutan, dan ketakjuban dari pemandangan alam yang hanya terjadi satu kali seumur hidup.


Namun ditengah itu semua, dia menyaksikan akhir dari seseorang yang entah siapa itu. Akhirnya begitu menyedihkan, sampai-sampai Rigel bisa menangis kapanpun, seakan dirinya sendiri yang merasakan akhirnya. Penyelamat yang kehilangan segalanya, lantas hal itu menjadi gambaran tepat kisah sosok itu.


Kata-kata tak sempat terucap, lantas kesadarannya ditarik keluar sehingga tidak lagi melihat kelanjutan ceritanya.


"...—mana keadaannya??"


"Dia baik-baik saja. Setidaknya tidak ada lagi jejak kesakitan dari wajahnya."


"Syukurlah...,"


Suara demi suara menusuk telinganya dengan lembut. Angin bertiup melalui kulitnya dan memberikan kenyamanan sesaat. Aroma yang telah sangat dikenalinya, sebuah tempat lembut tempatnya berbaring.


Kesadarannya perlahan turun, disertai rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh yang membuatnya kembali terbawa kepada kenyataan. Begitu membuka matanya, wajah yang nampak familiar ditemukannya.


Lantas dia langsung tersenyum tipis, menatap dua gadis yang sudah sangat lama dia kenali.


"Berapa lama aku tertidur??"


Mendengarnya, dua gadis itu menoleh dengan terkejut dan rasa syukur. Mereka lega dikarenakan kesadarannya tidak memakan waktu lama.


"Rigel!! Kau sudah sadarkan diri?!"


Belum, aku masih tertidur kok. Tidak perlu histeris seperti itu," Rigel melontarkan sedikit candaannya. Lagipula, jika dia dapat berbicara, artinya dia sudah sadar. Tidak perlu lagi menanyakan hal semacam itu.


"Bodoh! Kau selalu saja membuatku khawatir!!"


Dia mulai sedikit menangis, namun tidak berniat melompat ke dalam pelukannya. Mengingat Rigel masih belum pulih sepenuhnya.


"Ya. Maafkan aku, Tirith. Karena selalu membuatmu khawatir."


"Daripada itu, mengapa kau menangis Rigel??"


Tirith menanyakan sesuatu yang sama sekali tak dipahami Rigel. Namun, begitu dia menyentuh mata kanan, tetesan air mata besar membanjiri pipinya. Air yang terasa asin di lidah, entah bagaimana keluar dengan sendirinya.


"Saat lalu juga begitu. Setiap kali kau tidak sadarkan diri, setiap kali juga kau bangun dengan air mata."


Bila dipikirkan lagi memang benar adanya. Rigel ingat dirinya memimpikan sesuatu, namun dia langsung lupa begitu bangun. Menjengkelkan memang, namun tidak ada apapun yang bisa dia lakukan mengenai itu.


"Aku merasa melihat mimpi. Menyedihkan atau mengerikan? Entahlah. Tidak dapat kuingat dengan jelas, seperti apa mimpi itu," dengan keras memutar otak, tidak ada satupun potongan yang tertinggal dalam ingatannya. "Kesampingkan saja sesuatu seperti itu. Berapa lama aku tidak sadarkan diri??"


"Kurang lebih satu Minggu lamanya. Mengenai keadaan diluar, kau tidak perlu khawatir. Lantaran Pahlawan lain dan nona Natalia beserta Asoka mengerjakannya dengan sangat baik."


"Dengan begitu tidak ada kekhawatiran sehingga kau bisa beristirahat," Tirith menambahkan.


Bagus bila tidak ada hal mendesak yang perlu dilakukan. Sekarang tinggal hanya mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk penaklukan selanjutnya. Semakin cepat memang semakin baik, namun mempersiapkan diri dalam keadaan sempurna tidak kalah penting.


"Baguslah. Kalau begitu, bagaimana dengan berita luar? Adakah sesuatu yang menarik??"


"Tidak ada. Hanya saja, Pahlawan Perisai dan Pahlawan Ozaru telah pulih. Lalu Pahlawan lainnya menetap di Region hingga saat ini."


"Mereka menetap??" sebuah kejutan nyata bagi Rigel. Nampaknya mereka memang berniat untuk main di negaranya. Nampaknya mereka perlu diberi pelajaran, batinnya.


"Tarif biaya rekreasi dan makanan yang mereka makan dua kali dari biasanya. Beritahu Asoka untuk melakukannya."


Tiada hal gratis di dunia ini, lantas mereka tak bisa seenaknya melakukan berbagai hal yang diinginkan. Lagipula Region masih dalam tahap perkembangan, wajar bila mereka menuntut biaya terhadap fasilitas yang ada.


"I-itu agak sedikit...," jelas sekali bahwa Misa tidak terlalu menyetujui proposal semacam itu.


"Bukankah kau terlalu kejam Rigel?? Biarkanlah mereka bersenang-senang tanpa perlu dipungut bayaran!" Tirith mulai mengomeli Rigel dengan lembut.


Lantas dia sedikit jengkel bila membiarkan para badut itu bersenang-senang tanpa dipungut biaya. Mau tidak mau dia harus mematuhi Tirith, bila tidak ingin direpotkan. Yah, setidaknya bila hanya mereka maka cukup saja.


"Baiklah, baiklah! Lantas akan kubiarkan mereka. Yah, kalau begitu aku akan mandi untuk menyegarkan diri," dia mencoba bangkit dari kasurnya. Meski tubuhnya dipenuhi rasa sakit dan kelelahan, dia tidak berniat menjadi melemah dengan beristirahat.


Tirith dan Misa tak lagi mencoba menghentikannya. Lagipula mereka tahu bahwa percuma mencoba menghentikannya, dikarenakan Rigel begitu keras kepala.


"Mou, tubuhmu begitu lemah saat ini, namun kau selalu saja memaksakannya!"


Plak!


Dengan santai dia menampar punggung Rigel. Meski seharusnya tidak terlalu bertenaga, namun Rigel penuh celah dan sangat lemah. Sehingga pukulan ringan semacam itu dapat menyakitinya. Mungkin teplakan tangan Tirith


"Itu cukup sakit, sialan. Aku akan menampar bokongmu saat sudah sembuh!!"


"Sebelum itu tiba aku akan melukaimu lebih banyak."


Tidak, itu akan menyakitkan sebaiknya Rigel mengurungkan niatnya. Dengan bantuan Tirith, Rigel bangkit dari kasurnya dan berjalan sempoyongan menuju pemandian.


"Selamat pagi, Pahlawan Rigel. Selamat atas kesembuhan anda."


"Ya, kerja bagus."


Semua pelayan hingga prajurit membungkuk hormat saat melihat Rigel. Meski dirinya masih jauh dari tempatnya, semuanya membungkuk tanpa jeda waktu. Entah hanya formalitas atau murni dalam hati mereka. Dia sama sekali tidak perduli.


Saat memasuki tempat itu, dia menemukan setidaknya delapan Dwarf yang bekerja membangun sesuatu.


"Ah! Pahlawan Creator, tuan Rigel!! Selamat pagi!!"


Sesaat menyadari keberadaan Rigel, mereka serempak menghentikan kegiatan untuk memberikan hormat.


"Ya, selamat pagi. Apakah kalian sedang mengerjakan pemandian air panas yang aku minta??"


Dua hari sebelum penaklukan White Tiger, dia ingat meminta para Dwarf membangun pemandian setelah menyelesaikan rumah mereka. Namun siapapun tidak menduga bila akan secepat ini.


"Ya. Kami telah menemukan sumber air panasnya. Kami sudah setengah jalan dan hanya perlu membangun kolam yang nyaman untuk ditempati."


"Ini memang bagus, namun aku tidak ingat memesan sedetil ini. Apa ada campur tangan pihak lain??"


"Y-ya. Pahlawan tombak, tuan Takumi memberikan kami rincian mengenai sesuatu yang beliau sebut Onsen. Saya awalnya tidak terlalu memahami penjelasannya, namun setelah mendapat replika gambar dari Pahlawan busur, nona Yuri. Saya akhirnya memahami apa yang coba beliau sampaikan."


Dwarf memberikan sepotong kertas yang berisikan gambar sebuah pemandian. Gambarnya begitu bagus dan terlihat nyata, sampai Rigel merasa takjub kepada pembuatnya.


"Huh, mereka jadi seenaknya saja. Yah biarlah, lanjutkan kerja bagus kalian. Beritahu aku bila pemandian yang kalian kerjakan telah siap digunakan."


Meski jengkel, dia tidak membenci desainnya. Jadi tidak ada masalah dan dia memilih menyegarkan dirinya dengan air segar dari alam.


"Pe-permisi!! Sebelum anda pergi, izinkan kami mengatakan sesuatu."


Dirinya terhenti, kembali berbalik menatap para Dwarf, "Apa ada sesuatu yang kalian butuhkan??"


Para Dwarf tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan tindakan.


"Terima kasih banyak!!" ujar mereka serempak, "Berkat kemurahan hati anda, kami terbebas dari rantai budak. Kami mendapat kebebasan yang diidamkan dan bahkan diizinkan membangun tempat tinggal di bawah perlindungan anda. Lantas, biarkan kami membalas dengan bidang keahlian kami!!"


"Ya. Kedepannya akan kumanfaatkan keahlian kalian sebaik mungkin. Lagipula memang itu tujuan awalku."


Mendapat kebebasan dan perlindungan sudah cukup bagi para Dwarf. Lagipula tidak ada satupun tempat aman bagi mereka bila hanya bebas dari perbudakan. Karena itu, mendapat perlindungan dianggap sebuah berkah. Tidak ada seorangpun berani bertindak bila mereka berada di bawah perlindungan Pahlawan.


Rigel dengan acuh berjalan menuju pemandian terbuka. Meskipun air dingin terasa seperti ratusan jarum menusuknya, namun dirinya menemukan sebuah kenyamanan setelahnya.


Puas merasakan air dingin menusuk kulit, Rigel bergegas pergi menuju ruang kendali dan memasang tangan kirinya. Tidak ada apapun yang berarti selama sisa waktu yang dimilikinya. Tentunya, selain perjamuan di malam hari yang sama sekali tidak dia ketahui dan begitu mendadak.


[***]


Malam hari tiba, perjamuan besar diadakan. Meskipun dengan sedikit keterlambatan. Alasannya sederhana, mereka tak memulainya tanpa Rigel. Perjamuan dihadiri oleh para Pahlawan, kandidat Kaisar dan beberapa figur penting seperti Natalia, Fang, Gahdevi, Tirith dan Misa.


Leo menolak menghadiri. Sebagai gantinya Rigel meminta untuk dia berjaga bersama Odin. Lantaran Odin tidak memiliki hubungan baik dengan orang-orang Britannia, bukan pilihan buruk mengirimkannya sebagai penjaga.


"Ugh. Nampaknya aku memang membenci pakaian formal para bangsawan. Biarkanlah aku memakai pakaian ciptaanku sendiri."


"Tidak boleh!! Meski pakaian duniamu unik, namun kamu harus menggunakan pakaian semacam ini bila ingin menghadiri perjamuan!!"


Tirith mulai menceramahi, selagi merapihkan kerah pada jas Rigel. Pakaiannya membuat sesak, bahkan sulit bergerak dan tidak nyaman di bagian antara kedua paha. Bila harus digambarkan, pakaiannya tidak beda jauh dengan jas formal di bumi. Hanya warnanya saja yang putih dan aksesoris berupa rantai dari emas.


"Lihat. Kau benar-benar serasi menggunakan pakaian putih. Sama halnya dengan rambutmu itu."


Tirith tersenyum lembut selagi memandang Rigel. Untuk dia sendiri, pakaiannya nampak seperti gaun pernikahan. Namun bedanya yang dia gunakan saat ini sedikit ketat. Dia juga menggunakan sarung tangan putih, rambut emasnya diikat ke belakang. Mengekspos jelas kulitnya.


"Tubuhku masih lemah dan merasa sangat lelah. Tidak apa bila aku tidak menghadirinya, kan??"


"Bila itu terjadi, perjamuan akan dibatalkan sampai kau pulih."


Jalan pelariannya telah dipotong. Entah mengapa dia merasa Tirith menjadi sedikit agresif dan tahu kemana dia akan mengarah. Dengan terpaksa, Rigel harus menghadirinya. Tidak baik bila dia menunda apa yang memang tetap akan terjadi.


"Kalau begitu ayo kita pergi!! Aku akan membantumu berjalan."


Meski tidak menyukai acara formal, dia tidak membenci sesuatu yang melibatkan kebahagiaan orang tercintanya. Hal kecil itu saja sudah cukup membuatnya tersenyum.


"Oy, bukankah kau ingin membantuku berjalan? Jadi jangan menarikku dan berlari!!"


Tidak butuh waktu lama baginya tiba ke tempat pesta diadakan. Dia mendapat sambutan hangat dari Pahlawan dan figur lainnya. Entah kapan dia tiba, Hazama nampak menghadiri perjamuan. Asoka tengah berbincang bersama budak raja dan kandidat lain berupa Alexei dan Rudeus.


Para bangsawan luar seperti Ainsworth juga menghadiri. Sepertinya orang-orang yang ada telah datang jauh-jauh hari dan menunggu perjamuan diselenggarakan, begitu Rigel sadarkan diri.


"Sepertinya perjamuan ini benar-benar hiburan sesaat. Mengingat banyak neraka kita jalani, aku bersyukur dapat mencapai saat seperti ini."


"Maaf karena aku tidak ikut andil dalam melawan White Tiger. Andaikan saja aku pulih lebih cepat."


Tidak ada yang mengalahkannya, mengingat kondisinya saat lalu terbilang buruk. Namun kini semua menjadi jelas sudah. Keberadaan Hazama menjadi sesuatu yang sangat berharga.


"Yah, tidak perlu risau. Sebagai gantinya, bagaimana bila kau memberikan kami sedikit hiburan??" Takumi yang memerah karena Alkohol merangkul Hazama.


"Berapa gelas yang dia minum??" Rigel bertanya kepada Yuri yang berada di dekatnya.


"Entahlah. Mungkin dua atau tiga gelas.*


Ketahanannya terhadap alkohol lebih rendah dari terakhir kali dia minum bersama. Mungkin karena hukuman kutukan pemalas yang memotong levelnya menjadi faktor utama.


"Jika hanya hiburan..., Seandainya ada sebuah gitar, aku mungkin dapat menunjukkan hiburan yang baik," Hazama merasa sedikit malu selagi menjauhkan wajah Takumi yang terlalu dekat.


"Ahh!! Kalau soal itu serahkan saja kepada Builder Master kita, Rigel!!" Marcel memberi sambutan.


"Yah, gitar hanya perkara mudah," dengan malas melambaikan tangannya, gitar akustik tercipta dalam sekejap.


Hazama tampak takjub selagi menyetel nada sesuai keinginannya. Seisi ruangan menjadi sunyi, begitu Hazama memposisikan diri di depan semua orang.


"Kalau begitu. Sebagai pelengkap, aku akan bernyanyi," Nadia secara sukarela turut ikut. Tidak ada yang menolak, justru sangat bagus bila ada penyanyinya.


Nadia dan Hazama berbisik, mungkin memesan alunan gitar yang diinginkan Nadia agar sesuai dengan lagu yang akan dinyanyikannya. Hazama nampak tidak bermasalah, jelas sekali dia memiliki pengalaman dengan gitar.


Senar gitar dipetik dengan lembut, menghasilkan nada indah yang belum didengar orang-orang dunia ini. Nadia mulai bernyanyi dengan merdu, sangat merdu sampai membuat semua merinding.


Lagu terus berlanjut hingga akhir. Suaranya sangatlah merdu, hingga beberapa menangis akan kekaguman dan kesedihan, dikarenakan lagunya cukup menggambarkan dunia yang kacau ini.