
Rigel, Ray dan Leo memutuskan kembali ke Region. Mereka gagal mencapai tujuan mereka untuk mengalahkan Naga dan memberikan Leo pengalaman yang benar-benar nyata mengenai situasi hidup dan mati. Namun setidaknya mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka pulang membawa sebuah rekan yang mungkin dapat di andalkan di masa depan.
"Kita akan segera terbang, berpeganganlah." Red melebarkan sayapnya dan perlahan mengibaskannya untuk terbang di udara.
Rigel, Ray dan Leo naik di punggung Red dan terbang menuju Region dengan cepat. Leo dan Ray memandang pemandangan dari langit dengan terkagum-kagum karena ini adalah pengalaman pertama mereka terbang di udara.
Rigel sendiri sudah terbiasa dengan pemandangan dari ketinggian, namun dia dapat merasakan perbedaan melihat pemandangan bersama rekannya jauh lebih mengasyikkan ketimbang seorang diri.
Mereka terbang menembus awan dan tetap melaju dalam kecepatan yang stabil. Red sendiri tampaknya juga menikmati pemandangan Leo dan Ray yang begitu terkesima melihat pemandangan dari atas langit.
Manusia memang sangat menarik, terutamanya mereka yang berada di punggungku ini. Haha, aku pikir kami dapat menjadi rekan yang cocok. Batin Red. Setelah 100 tahun lamanya, akhirnya Red menemukan sosok manusia yang dapat dia bawa terbang melintasi langit tinggi.
"Pemandangan sebenarnya masih belum kalian saksikan, anak-anak! aku akan menambah kecepatan ku, berpeganganlah yang erat!" Red memperlihatkan taring-taring tajam miliknya dan terbang vertikal menuju langit yang lebih tinggi lagi.
"Yaa!" Leo menjadi bersemangat dan mengangkat tinju kirinya.
Pakaian yang di kenakan Rigel, Ray dan Leo sedikit terbasahi oleh awan yang menyentuh mereka sampai akhirnya mereka menembus gumpalan awan-awan putih. Pemandangan langit luas berwarna biru sangat menakjubkan. Dataran di bawah mereka tidak lagi terlihat dan Seakan-akan mereka berada di dunia yang jauh berbeda.
"Ini benar-benar indah!"
"Aku setuju denganmu, Leo."
"Yah, jika saja ini malam hari, kita dapat melihat bulan dan bintang-bintang ketimbang sinar matahari yang sangat menyilaukan ini." Rigel menciptakan kacamata hitam untuk tiga orang sehingga mereka tidak akan terganggu oleh terangnya sinar matahari. Setelah puas melihat pemandangan segar dari langit tinggi, Red kembali ke ketinggian sebelumnya.
Mungkin akan menimbulkan kekacauan dan kepanikan besar di Region saat melihat seekor Naga terbang melintasi mereka. Belum lagi ada system tembak otomatis dan pelindung sihir yang sudah Rigel buat melalui Ciel. Lebih baik untuk mengatur hal itu sekarang sebelum Red mencapainya dan Rigel menggunakan mata kirinya untuk mengakses Ciel dan menonaktifkan system tembak otomatis dan memberikan kualifikasi kepada Red untuk memasuki Region.
Semenjak kekacauan yang di sebabkan Karaka, Region memiliki sangat banyak kerusakan dan Rigel memilih untuk meningkatkan kembali pengamanannya dan segala hal yang masuk tanpa kualifikasi atau izin darinya akan langsung di musnahkan atau di tahan.
Hari masih pagi, warga Region sedang memulai aktivitas mereka membersihkan sisa-sisa kekacauan akibat invasi iblis. Mereka terbagi menjadi dua kelompok yang memiliki pekerjaan berbeda-beda. Para wanita membantu untuk menyediakan makanan dan minuman untuk para pria yang melakukan pekerjaan berat seperti mengangkut puing-puing, dan membangun kembali rumah yang hancur.
Meski mereka mendapatkan bencana semacam ini namun hal itu tidak membuat mereka sedih dan terpuruk. Mereka melakukan pekerjaan dengan penuh senyuman di bibir mereka. Karena Rigel dan yang lainnya sudah berusaha keras melakukan segala hal yang mereka bisa untuk melindungi Region dari serangan para iblis. Jadi setidaknya mereka ingin melakukan sesuatu yang dapat meringankan pekerjaan Rigel dan Raja Region, Asoka.
Mendapat kebebasan dari perbudakan dan keberadaan Hydra, tidak ada kata yang patut mereka ucapkan selain terima kasih kepada Rigel yang mengalahkan Hydra sekaligus melepaskan mereka dari perbudakan. Bagi mereka, sosok Rigel tidak hanya seorang Pahlawan, melainkan seorang dewa penyelamat Demi-human dan sosok yang berusaha menyatukan mereka dengan manusia.
"Apa itu?" Ujar salah satu pekerja demi-human yang menatap langit. Mendengar itu, warga lainnya ikut memandang langit dan menemukan sesuatu sedang mendekat ke Region. Sesuatu yang jelas besar berwarna merah dan memiliki sepasang sayap.
"N-Naga! itu Naga!"
"Bagaimana bisa dia masuk ke sini!"
"Semuanya segera bersembunyi!"
Melihat Naga menyusup ke Region semua orang panik dan hendak bersembunyi untuk menghindari Naga itu. Jelas Naga yang menyusup itu bukan Naga biasa, sisiknya berwarna merah sedikit kehitaman dan ukurannya sangat besar dari Naga darah campuran pada umumnya. Dapat di pastikan bahwa Naga itu berdarah murni.
"Tunggu! lihat siapa yang menaiki Naga itu!" Salah satu Demi-human kembali berseru dan menatap bahwa Rigel, Ray dan Leo berada di punggung Naga.
Orang-orang yang awalnya panik dan berlari histeris kini ikut menatap sosok di punggung Naga. Penyelamat mereka, Amatsumi Rigel dan temannya nampak sedang mengendarai Naga itu. Kepanikan perlahan menghilang saat mengetahui bahwa Naga itu berada di bawah tangan Rigel, yang berarti dia bukanlah musuh, melainkan kawan.
"Tuan Rigel memang hebat, dia dapat menjinakan seekor Naga! Belum lagi Naga dengan darah murni!"
"Seperti yang di harapkan dari Tuan Rigel!"
"Apa mungkin dia ingin Naga itu menjadi salah satu penjaga Region?"
"Oh, sungguh, tidak ada hal apapun di dunia ini yang dapat kami persembahkan untuk anda sebagai rasa terima kasih."
Semua orang mulai menyerukan rasa syukur mereka terhadap Rigel, tanpa pernah mengetahui bahwa Rigel menjadikan mereka dan tempat ini sebagai jaminan untuk Red.
Sebagai jaminan bahwa di masa depan Rigel akan mengalahkan Naga malapetaka dan membebaskan belenggu perbudakan di Ras Naga, Rigel menginginkan Red membayar hutang budinya saat perang Ragnarok tiba. Untuk hal itu, Red memerlukan sesuatu yang dapat dia jadikan jaminan atau mungkin lebih pas di sebut bayaran, jika saja Rigel gagal melakukannya.
Kesepakatan ini saling menguntungkan kedua belah pihak. Rigel mendapatkan bantuan besar saat perang tiba dan kaum Naga dapat terbebaskan dari cengkraman Naga malapetaka.
Meski Ras Naga berdarah murni jumlahnya sudah semakin sedikit yaitu sekitar 10-20 ribu. Namun kekuatan tempur dari satu ekor Naga dapat setara dengan empat ribu tentara manusia. Kontribusi mereka saat perang akan sangat besar dan tergantung pada kapan mereka akan di turunkan, mereka dapat membalikan keadaan peperangan.
Peperangan nantinya akan terjadi dalam skala besar yang tidak dapat di bayangkan akan sejauh mana kerusakan yang terjadi pada dunia ini. Kemungkinan besar, Ras Peri yang awalnya adalah pihak Netral dapat berubah dan mendukung manusia dari belakang. Dua Ras kuat membantu satu Ras manusia, kini tidak ada yang perlu di khawatirkan mengenai kekuatan umat manusia di masa depan.
Rigel meminta Red mendarat di belakang halaman kastil kerajaan dan setibanya di sana, ratusan prajurit, Asoka, Misa, Ozaru dan Merial bersiaga karena kemunculan Naga. Ozaru mungkin sudah merasakan bahwa Rigel berada di balik punggung Naga namun tidak ada ruginya untuk berwaspada.
"Wahh, sepertinya ini bukan sambutan yang hangat ya." Ujar Red selagi menatap senjata yang para prajurit pegang dengan tertarik.
"Rigel?? Jadi kau yang berada di balik ini semua, apakah Naga ini temanmu atau..." Asoka terbelalak dan tidak dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Merial dan Misa nampak sama dengan Asoka yang bingung apa yang sebenarnya terjadi di sini. Mereka tidak pernah mengetahui bahwa Rigel memelihara seekor Naga ataupun berteman dengannya. Belum lagi Naga di depan mereka sangat jelas memiliki darah murni karena dapat berbicara layaknya manusia.
Jika Naga ini kawan, maka akan sangat bagus, namun jika sebaliknya, justru malapetaka. Rigel mendesah lelah dan berdiri di samping Red selagi bersandar pada kakinya.
"Tidak perlu khawatir, dia berada di pihak kita. Aku baru bertemu denganya beberapa jam yang lalu dan kami membuat kesepakatan tertentu sehingga dia akan tinggal di pegunungan Region."
"Namaku Red, si Naga Larva. Tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah memakan manusia seperti kalian atau melukai kalian, terkecuali apa yang Pahlawan kalian janjikan ini gagal." Red mendengus dan mengeluarkan asap putih dari hidungnya.
"Janjikan? Kesepakatan? aku tidak mengerti. Bisakah kau menjelaskannya lebih rinci kepadaku, Rigel." Ujar Asoka.
"Izinkan aku ikut mendengarnya. Aku juga sedikit tertarik dengan cicak terbang ini." Ozaru mengikuti.
"Oii, apa maksudmu dengan cicak terbang, Kera tolol." Red menatap Ozaru dengan sedikit jengkel.
Rigel terkejut karena Red dapat menebak dengan tepat bahwa Ozaru adalah seekor Kera, yang harusnya terlihat jelas dia lebih mirip manusia sekarang, karena Ekor dan bulu-bulu di tangannya telah di potong. Seharusnya Ozaru sekarang lebih mirip manusia ketimbang setengah Kera.
"Kau, bagaimana kau dapat mengetahui dia seekor Kera?" Tanya Rigel dengan sedikit rasa penasaran.
"Hah! tercium jelas bahwa dia memiliki aroma kera. Meski begitu aku tahu bahwa Kera ini setidaknya hampir sebanding dengan dirimu, Rigel. Aku seekor Naga, tidak mungkin aku salah menilai seseorang." Ujar Red dengan sombong.
Begitu, aroma ya. Rigel tidak mengerti maksudnya dengan Red mencium aroma kera dari Ozaru. Mungkin saja spesis Naga memiliki penciuman khsus atau sesuatu yang dapat melihat karakter seseorang dari bagian tak terlihat mereka. Misalnya, penampilan luar Ozaru tampak seperti manusia, namun Red dapat melihat tampilan dalamnya yang melihat Ozaru setengah Kera. Mungkin itu semacam mata batin milik Naga atau semacamnya.
"Sebelum aku menjelaskannya kepadamu, lebih baik kita perkenalkan Red kepada warga agar mereka tidak terkejut saat tahu bahwa di gunung terdapat seekor Naga."
Memang sepele, namun jika Rigel mengabaikannya justru akan menimbulkan kekhawatiran tidak perlu di hati orang-orang. Belum lagi, siapa tahu ada orang atau anak-anak seperti Riri yang bermain ke hutan dan terkejut mengetahui kehadiran seekor Naga. Akan lebih baik memberitahukannya secepat mungkin.
"Ya, aku juga tidak ingin menakut-nakuti mereka. Setidaknya aku berharap dapat berteman dengan salah satu rakyatmu dan mendengarkan ceritanya." Red memiliki tatapan lembut.
Sepertinya Red memang benar-benar tertarik dengan kisah hidup yang di miliki manusia. Rigel yakin bahwa Red telah hidup selama lebih dari seribu tahun dan telah menyaksikan berbagai era kehidupan manusia. Kelahiran dan kehancurannya sebuah era telah dia saksikan, namun segala kisah yang ada benar-benar tidak pernah membuatnya bosan dan sebab itulah dia menyukai manusia.
Naga memiliki rentang waktu hidup yang lama, berbeda dengan manusia yang tidak akan dapat hidup lebih dari seratus tahun. Era kehancuran Naga setidaknya sekitar 400 tahun sebelum kelahiran Pahlawan generasi sebelumnya dan kira-kira Red telah hidup sekitar 1400 tahun lamanya. Semakin tua umur seekor Naga, semakin kuat pula mereka karena dengan kebijaksanaan dalam menggunakan kekuatan hebat yang mereka miliki.
Tidak ada yang menolak tawaran untuk memperkenalkan Red kepada Warga, sehingga Rigel dan Red akan terbang di atas kota selagi memberikan pengumuman.
"Kalau begitu, langsung saja Red. Kita akan terbang di atas ibukota dan memperkenalkan dirimu." Rigel melompat naik ke punggung Red.
"Baiklah kalau begitu, memperkenalkan diri tidak akan melukai siapapun." Red mulai mengibaskan sayap lebarnya dan terbang ke udara bersama Rigel.
"System Call : Ciel..." Rigel mulai mengakses Ciel dan memintanya mengaktifkan speaker yang telah terpasang di seluruh wilayah dan dengan begitu Rigel tidak perlu susah payah berteriak agar di dengar semua orang.
"Baik, semuanya, disini aku, Rigel. Aku memiliki beberapa hal yang ingin kusampaikan pada kalian, tentang Naga yang kalian lihat sebelumnya." Suara Rigel menyebar ke seluruh kerajaan dan orang-orang berhenti melakukan aktivitas mereka untuk mendengarkan.
"Suara ini benar-benar tuan Rigel!"
"Kau benar, ini tuan Rigel! suaranya seakan bergema di seluruh tempat!"
"Begitu, akhirnya aku paham benda aneh yang terpasang di banyak tempat itu, inilah kegunaannya."
Semua orang tampak kagum dengan benda aneh bernama Speaker yang mengeluarkan suara Rigel ke berbagai tempat. Bahkan Red sendiri sangat penasaran dengannya dan belum pernah sekalipun melihat sesuatu semacam itu. Rigel memilih untuk menjelaskannya nanti, matahari masih belum mencapai puncak dan cukup panas jika terpapar sinarnya dalam waktu lama.
"Kalian tidak perlu khawatir dengan Naga yang kalian lihat ini, dia akan menjadi teman baru kita dan akan bersarang di gunung Region. Dia seekor Naga berdarah murni, Naga larva Red. Jangan khawatir, dia tidak akan melukai, justru dia menginginkan teman untuk membagi cerita. Yang akrab lah dengannya." Rigel beralih kepada Red.
"Apakah kau ingin menyampaikan sesuatu kepada mereka, Red?"
"Umm, anu, aku sedikit malu." Meski tidak terlihat, namun Rigel yakin Red tersipu.
"Sangat menjijikan melihat tingkah lakumu seperti itu, pak tua." Rigel menatap dengan jijik dan mengabaikan Red.
"Cukup itu saja, bertepuk tangan lah jika kalian mengerti." Rigel berbicara lagi melalui Microphone dan tidak lama setelahnya ratusan tepuk tangan terdengar dari segala tempat.
Red tampak lega karena keberadaannya di negara ini. Jika tidak, maka tidak ada bedanya dengan dia yang tinggal di pegunungan sebelumnya dan membuat takut para pedagang serta petualang yang lewat. Dia berharap setidaknya menemukan orang lain seperti Rigel yang tidak takut atau gentar di hadapannya.
"Region adalah sebuah tempat dimana semua orang dapat tertawa dengan lepas, tanpa memperdulikan Ras, kekurangan atau kasta. Tidak terkecuali untuk Naga sepertimu, aku harap kau nyaman, Red." Rigel menjelaskan arti dari Region itu sendiri.
Dia mempelajarinya dari seorang gadis yang menuntun orang-orang berputus-asa merangkak naik dari jurang kegelapan demi meraih langit tertinggi. Gadis yang dia kagumi dan gadis yang harus dia selamatkan.