
Rigel dan Merial melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk memasuki bagian dalam tubuh Hydra. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di kepala Hydra yang berada di atas tumpukan ekornya yang panjang. Ada beberapa prajurit yang nampaknya berusaha mencabut kristal Hydra dari tempatnya, ada juga orang yang memotong taring taring Hydra.
Nampaknya, seluruh bagian tubuh Hydra dari daging, kulit luarnya yang keras, tulang, taring dan yang lainnya dapat berguna untuk membuat senjata ataupun Zirah. Rigel memilih untuk melewati kristal yang ada di kepala Hydra untuk saat ini, karena dia lebih tertarik dengan pedang yang berada di dalam tubuh Hydra.
Saat Rigel memasuki bagian dalam Hydra, dia di sambut oleh bau yang tidak sedap dan lendir lendir di sekitarnya. Rigel hanya bisa melihat daging dan kegelapan saat memasukinya.
"Tidak kusangka ini akan seperti sebuah Gua, meskipun bau dan lendirnya yang menjijikan ini sangat meresahkan..."
Sebelum Rigel berjalan lebih jauh ke tubuh Hydra, Merial mulai mengambil sesuatu dari Infertory miliknya.
"Tunggu, Tuan Rigel... Aku lupa mengembalikan kristal yang kau pinjamkan untukku dan juga, aku menemukan sebuah batu permata merah muda saat membersihkan sisa-sisa pertarungan ini... Nisa berkata jika ini adalah milikmu, jadi aku menyimpannya agar tidak menghilang..."
Rigel dengan terburu-buru mencari sesuatu di dadanya untuk memastikan. Nampaknya batu yang di pungut Merial adalah Inti jiwa milik Priscilla yang di jadikan sebuah kalung oleh Rigel. Dia mengambil kembali inti jiwa Priscilla dan juga kristal sihir yang dia pinjamkan kepada Merial sebelumnya. Kristal sihir itu langsung Rigel masukan ke dalam infertory sementara dia tetap menggenggam dan menatap inti jiwa itu.
Syukurlah kau tidak hancur atau hilang karena pertarungan itu, Priscilla.
Melihat Rigel yang lega, Merial menatap dengan bingung dan bertanya—
"Apakah benda itu sangat berharga untukmu, Tuan Rigel...?? Aku dapat merasakan sedikit kekuatan Peri tersimpan di dalamnya, apakah itu pemberian seseorang...??"
"Ya... Ini milik temanku yang sangat-sangat berharga bagiku..."
Rigel tersenyum dan menatap dengan sedih ke arah inti jiwa Priscilla. Inti jiwa merah muda itu mengeluarkan kilatan seolah merespown perkataan dan kesedihan Rigel.
"Jika kau mengizinkan, bolehkah aku mengetahui siapa temanmu itu...??"
"Ya, dia adalah Priscilla... Dia adalah gadis yang berjuang bersamaku untuk menaklukan labyrint selama bertahun-tahun... Yah, untuk sekarang mari kita masuk ke dalam, aku ingin melihat seperti apa pedang itu."
Rigel menciptakan api di tangan kirinya dan berjalan memasuki lorong tubuh Hydra. Disisi lain, Merial sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Rigel mengenai Labyrint dan semacamnya. Merial berkata dalam hati...
Bertahun-tahun...?? Seingatku bahkan belum sampai tiga tahun para pahlawan di panggil ke dunia ini, dan juga Tuan Rigel telah dinyatakan mati karena satu tahun menghilang... Lalu, menaklukan Labyrint...?? Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud dari perkataan Tuan Rigel... Pasti ada sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia terjadi padanya...
Melihat Rigel yang terus berjalan dan semakin menjauh, Merial menghilangkan pemikirannya dan mengikuti Rigel.
Rigel bahkan tidak menyadari jika dia menceritakan sesuatu yang tidak seorang pun tahu, seperti Labyrint. Rigel terus berjalan dan memasukan Inti jiwa Priscilla ke dalam infertory karena khawatir jika itu hilang di tempat yang gelap ini.
"Cih, semakin dalam memasuki tempat ini baunya juga semakin kuat..."
Rigel menutup hidungnya karena bau bagian dalam Hydra hampir seperti ikan yang telah membusuk. Karena frustasi dengan baunya, Rigel menciptakan benda yang mungkin dapat sedikit membantu untuk menghindari bau busuk ini. Merial menatap Rigel yang mengulurkan tangannya untuk membuat benda itu...
Rigel hanya perlu mengingat bentuk benda, itu dan membiarkan sistem bekerja. Benda yang sedang Rigel coba buat adalah sebuah masker yang dapat menghindarinya menghirup bau tidak sedap tubuh Hydra. Rigel menciptakan dua, satu untuk dia gunakan dan satu lagi dia berikan kepada Merial.
"Gunakanlah ini untuk menutupi mulut dan hidungmu... Dengan benda ini kau bisa menghindari untuk menghirup bau tak sedap dan juga gas beracun..."
Merial mengangguk dan menatap masker berwarna hitam itu dengan bingung. Dia dengan canggung memakainya dan terkejut karenanya.
"Ini hebat Tuan Rigel... Aku tidak lagi mencium bau busuk sedikitpun saat menggunakannya... Apakah benda ini berasal dari duniamu sebelumnya, Tuan Rigel...??"
"Ya... Di duniaku sebelumnya tidak ada sihir... Untuk bertahan hidup, manusia di duniaku menggunakan kecerdasannya untuk membuat berbagai hal hebat... Masker ini adalah salah satu hasil dari perkembangan umat manusia selama dua juta tahun lamanya..."
"D-dua juta tahun...?!... Hebat, aku jadi semakin penasaran seperti apa dunia Tuan Rigel sebelumnya..."
"Saat kita berhasil memulihkan kerajaan Yurazania, akan kutunjukan seluruh hasil dari kecerdasan umat manusia... Dengan kemampuan Creatorku, aku dapat mewujudkan hal itu di dunia ini..."
"Akan aku nantikan hal itu, Tuan Rigel..."
Rigel dan Merial tersenyum dan terus berjalan menyusuri tubuh panjang Hydra. Setelah hampir berjalan selama lebih dari 30 menit, Rigel dan Merial akhirnya sampai di bagian tubuh yang sedikit lebih besar dari tempat dia datang. Tempat itu sedikit lebih terang dari tempat Rigel datang, mungkin karena bagian tubuh di sini cocok untuk berkemah jadi mereka memberikan pencahayaan. Rigel juga bisa melihat jika ada orang lain selainnya disini, nampaknya mereka adalah prajurit yang melakukan ekspedisi bersama Ray dan yang lain.
Selain itu, Rigel sangat terpukau dengan bagian ini. Meskipun ini di dalam tubuh Hydra, tempatnya terlihat indah dan mengerikan... Ada batu berwarna biru terang menempel di langit langit, banyak bangkai kapal yang telah hancur berada di sini...
"Disinilah kami menemukan Runestone milik Hydra, Tuan Rigel..."
"Pantas saja aku dapat merasakan sedikit energi sihir menyelimuti tempat ini... Ini indah jika mengecualikan bangkai kapal itu... Lalu, dimana letak pedang itu berada...??"
"Tidak jauh lagi di depan sana kita akan bertemu Ray, Misa dan Nisa yang sedang mencari sesuatu yang bagus di sekitar sana..."
"Apakah kalian juga menggeledah bangkai-bangkai kapal yang di sana itu...??"
"Tidak... Kami memprioritaskan untuk mencari peninggalan yang berguna untuk para pahlawan..."
Rigel sedikit berfikir saat Merial mengatakannya. Memang benar jika mereka fokus pencarian sebatas benda yang berguna untuk pahlawan akan sangat membantu Rigel. Namun, dia teringat akan pesan terakhir yang di berikan oleh Satan kepadanya. Ragnarok bukanlah peperangan individu dan Satan menyarankan Rigel untuk membentuk pasukannya sendiri.
"Yah, mencari sesuatu yang dapat memperkuat kami para pahlawan memanglah bagus dan kekuatan individu dapat mempengaruhi jalannya peperangan... Namun tetap saja kalian tidak harus membantu pahlawan memperkuat diri... Kalian juga harus memperkuat diri kalian juga... Dalam perang nanti, kalian tidak akan bisa sepenuhnya bergantung kepada kami... Karena itu, jelajahilah bangkai kapal itu... Masih ada kemungkinan bahwa kapal kapal itu adalah kapal dari suatu kerajaan kuno yang berusaha menaklukan Hydra... Ambil apapun yang ada di dalam sana..."
"Baiklah jika itu keinginanmu, Tuan Rigel... Aku akan menyuruh beberapa pasukan yang tinggal di sini untuk menggeledah bangkai-bangkai kapal itu..."
Rigel mengangguk selagi Merial menuju ke perkemahan prajurit yang berada sedangkan Rigel menuju ke tempat yang dia tuju seorang diri. Rigel dapat merasakan energi sihir kuat berada di ujung sana, jadi dia berasumsi jika pedang itu ada di sana.