
Kemilau cahaya keunguan menyinari hutan, lantas semua monster yang berada jauh dari lokasi pertempuran menatap kemilau itu. Mereka dapat merasakan dua hal pasti, ketakutan dan kekaguman. Anak panah bulan, Arcanum diturunkan dan menghabisi White Tiger dalam satu serangan penentuan.
Rigel dan yang lain tetap berwaspada, barangkali hal sama seperti sebelumnya terjadi. Namun, Rigel pikir itu tidak akan terjadi, mengingat inti White Tiger benar-benar dihancurkan kali ini.
Begitu awan debu menghilang, penampilan bongkahan daging, tulang dan taring diperlihatkan. Masing-masing Pahlawan dan petarung lain bersiap menyerang, dikarenakan tidak ada kepastian antara sudah mati atau belum.
Petra melemparkan kipas cahaya untuk memastikan, namun tiada tanda-tanda pergerakan khusus. Mendapati itu, Rigel kembali turun dan mendekatinya, untuk memastikannya sekali lagi.
"Dia benar-benar telah mati. Energi kehidupan dan sihirnya benar-benar lenyap tak bersisa, seakan dihisap oleh sesuatu," gumamnya.
Mayat di depannya kini hanya sebuah mayat belaka, mungkin tidak lagi berguna dikarenakan tidak memiliki sihir apapun yang tersisa. Tulang belulangnya mungkin cukup kuat untuk dijadikan senjata, namun mungkin tidak akan sampai sehebat belati Ray yang terbuat dari taring Hydra.
Mungkinkah energi sihirnya terhisap semua oleh panah itu? Jika begitu tidak akan mengejutkan...
Justru sebaliknya, itu mengerikan. Baru kali ini Rigel melihat yang seperti itu, mungkin dikarenakan Yuri tidak pernah menggunakannya dalam pertempuran yang dia lalui selama ini. Yah, lagipula tidak ada banyak pertarungan hebat hingga dia perlu menggunakannya. Sama halnya World Of Void milik Rigel yang tak sering digunakan.
"Bagaimana keadaannya Rigel??" Takumi mengintip kepadanya.
Karena dirinya terlalu lelah untuk berteriak, Rigel hanya bisa mengangkat jempolnya sebagai tanda bahwa semua baik-baik saja. Meskipun kelelahan menumpuk pada dirinya, lantas dia tetap memaksakan diri untuk mengawasi sampai akhir.
Begitu mengetahui semua baik, lantas orang-orang yang ada pergi menuruni kawah, berdiri berjajar dengannya.
"Huh, akhirnya selesai juga ya," Aland bertepuk lega selagi menatap mayat rusak di depan mereka.
"Ya. Sungguh pertarungan panjang yang melelahkan."
Meski mungkin hanya berlangsung selama satu malam, namun terasa berhari-hari lamanya. Bahkan Rigel tidak menyangka akan selama dan melelahkan seperti ini. Dirinya saja hampir tidak kiat berdiri, dia sudah cukup memaksakan batasnya hingga akhirnya jatuh berlutut.
"Rigel! Ada apa?!"
Ray menjadi sosok pertama yang bereaksi. Dengan kekhawatiran dia langsung memapah Rigel.
"Sial..., nampaknya ini sudah batas ku. Sisanya kuserahkan kepada kalian..." kesadarannya langsung melayang setelah mengatakannya.
"Tenang saja. Dia hanya tertidur akibat lelah," Ray mengkonfirmasi begitu merasakan alunan nafasnya.
Sejauh ini mungkin Rigel yang paling banyak berkontribusi dalam penyerangan White Tiger. Selama tiga hari dia mempersiapkan berbagai hal tanpa tidur dan dia juga yang menyusun strategi.
Tidak mengejutkan bila dia akan mencapai batasnya setelah menampung banyak kelelahan dalam dirinya.
"Melihatnya seperti ini membuatku sedikit lega. Awalnya aku sedikit takut kepadanya, mengingat kekuatannya benar-benar melampaui kita," ujar Nadia.
"Setuju. Awalnya aku nyaris berpikir bahwa dia dewa atau sejenisnya, namun melihatnya bisa rentan seperti ini membuatku bersyukur," ujar Marcel dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Tatapanmu itu bisa membuat salah paham, loh," Takumi bergumam lirih.
"Araa~, apa kamu cemburu kepadaku, Takumi sayang??"
"Bu-bukannya begitu, ak-aku sama sekali tidak cemburu," Takumi mengikuti guyonannya dan bertindak tsundere. Sifat itu terlihat bagus jika digunakan pada wanita, namun tidak pada pria.
Menatap guyonan Takumi dan Marcel, semua tertawa riang. Hal itu adalah sedikit penyegaran dari pertarungan hidup dan mati yang telah mereka lalui. Lantas tidak ada salahnya memberikan sedikit hiburan.
"Bisa-bisanya kalian melawak sekarang. Lebih baik kita kembali ke Region. Kupikir kita harus mengistirahatkan Rigel dan tubuh kita. Selain itu, aku tidak sabar melihat hal hebat yang telah diciptakan Rigel!" seru Yuri dengan bersemangat.
"Bukan pilihan buruk," Petra memberi persetujuan, diikuti yang lainnya.
Ray dengan sigap memapah Rigel. Takumi juga membantunya disisi lain untuk mempermudah membawa Rigel.
"Dikarenakan anda sekalian tampak kelelahan, kalau tidak keberatan, izinkan saya menggunakan sihir Spatial saya. Sebagai alternatif dari teleportasi," Natalia membungkuk hormat dengan anggun dan tanpa kehilangan sedikitpun formalitasnya.
"Ya. Kalau begitu, tolong ya."
"Terima kasih atas kemurahan hati anda. Kalau begitu, Gate."
Muncul sebuah gerbang yang terlihat seperti lubang putih. Dengan gerbang itu, mereka dapat kembali ke Region dalam sekejap. Tanpa adanya keraguan, mereka mengambil langkah masuk. Dimulai dari Takumi dan Ray yang memapah Rigel hingga akhirnya semua memasukinya.
"Meski sudah menggunakan teleportasi instan. Aku tidak bisa untuk tidak terkejut dengan sihir Spatial," Nadia takjub begitu melangkah keluar dari Gate.
"Bukankah ini mirip dengan itu, pintu kemana saja milik robot abad 21," Yuri menghubungkannya dengan anime di bumi.
Bahkan siapapun tahu siapa yang dimaksud. Karena film tersebut telah mendunia dan populer dikalangan anak kecil.
"Benar juga ya. Bila mengingatnya, aku merasa sedikit kerinduan kepada bumi. Kira-kira Rigel bisa atau tidak, ya. Menciptakan sesuatu seperti anime," Nadia mulai menggumamkan sesuatu yang tidak berguna.
"Yah, kesampingkan hal itu. Sebaiknya kita membawa Rigel untuk beristirahat dan membiarkan tubuh kita istirahat."
Tidak ada yang menolak saran Petra. Lagipula semua merasakan kelelahan yang sama, jadi tidak masalah untuk beristirahat sebelum masalah lain datang menghampiri.
"Kalau begitu kalian pergilah duluan. Aku akan mengantar Rigel ke kamarnya bersama Ray."
Takumi dan Ray tanpa banyak cakap meninggalkan yang lainnya di depan gerbang. Mereka hanya diam dan menatap kepergian Takumi dan Ray. Dapat memapah Rigel tanpa banyak masalah, jelas mereka masih cukup bertenaga.
"Kalau begitu, saya akan menyiapkan beberapa pengaturan untuk membawa jarahan tempur dari pertarungan melawan malapetaka White Tiger."
Hari beranjak pagi, lantas para Pahlawan yang bertarung semalaman tertidur pulas hingga siang hari tiba.
[***]
Angin berhembus dengan damai, seorang pria berjubah duduk dengan bosannya. Meski tidak terlihat, keberadaannya sendiri tampak bosan terhadap dunia. Gambaran jelas pria yang menantikan hiburan menarik yang akan datang.
"Heeh~. Jadi mereka bisa mengalahkannya secepat ini. Bagus, bagus. Lantaran kupikir akan terjadi lebih lama lagi dari dugaan. Namun, baiklah. Setidaknya hiburanku akan tiba tidak lama lagi."
Dirinya tersenyum puas, selagi menatap pemandangan tidak biasa di depannya. Bila itu orang lain yang melihatnya, mereka pasti akan berpikir bahwa itu adalah sebuah kemustahilan.
Pria itu menekan dadanya dengan perasaan gembira yang lama tidak dirasakan. Dia menikmati alunan jantungnya, kesegaran dan kesempurnaan menjadi mahkluk hidup.
"Ahh, sungguh nostalgia dikarenakan sangat lama sekali hatiku tidak berdebar-debar seperti ini."
"Semua ini berkat kau, yang dengan bodohnya pergi dari sangkar, peri kecil. Berkat itu, aku tidak perlu bersusah payah mencari jaminan yang cocok untuk memulai permainanku."
Dia mengeluarkan sebuah cermin yang tampak seperti cermin rias. Mungkin tampak aneh, melihatnya berbicara dengan riang bersama sebuah cermin. Namun bukan hal aneh bila cermin itu sendiri bukanlah cermin biasa.
"Apa yang sedang kau rencanakan?? Dan mengapa kau bisa berada di sini sebelum waktunya tiba?!"
terdapat seorang peri—gadis berada dalam pantulan cermin. Dia nampak terjebak di dalamnya dan tidak ada jalan untuk keluar dari dalam. Wajahnya yang elok menampilkan kemarahan, tangannya menggebrak cermin namun tidak menghasilkan apapun.
"Entahlah. Apa yang aku rencanakan atau sedang direncanakan bukanlah urusanmu. Tugas terpentingmu adalah menjadi jaminan yang membuat manusia—Rigel dan pemimpin rasmu turut andil dalam permainanku. Sebaiknya dirimu berdiam diri dan saksikan saja apa yang akan terjadi selanjutnya, hahaha..."
Dirinya tertawa dengan puas. Entah kapan dia terakhir kali tertawa seperti ini. Mungkin karena di tempat asalnya hanya ada kebosanan tak berujung yang dapat dijumpai.
Gadis dibalik cermin itu tahu dengan betul, bahwa tidak ada gunanya mengorek informasi. Lagipula tidak ada cara apapun baginya untuk menyampaikan.
"Kau akan menyesalinya!! Kesalahan besar memancing amarahnya dan ibuku ratu peri!! Kematian mu tidak akan lama lagi."
"Lantas aku akan mengajak kematian itu sendiri untuk menyeruput teh bersamaku. Lagipula kau seharusnya tahu, bahwa tidak ada apapun yang dapat membunuhku dengan begitu mudahnya, Priscilla."
Priscilla yang terjebak dalam cermin hanya bisa menggerakkan giginya hingga beberapa patah dan mengeluarkan darah. Dia benar-benar menyesal akan kebodohannya sendiri dan membenci dirinya yang tidak berpikir panjang saat itu.
Namun, penyesalan tetap akan menjadi penyesalan. Sampai akhirat pun hal itu tidak akan dapat diubah semena-mena.
"Selain itu, kujamin tidak satupun dari mereka dapat menyentuhku. Bahkan helai rambutku tidak akan bisa tergapai."
Terdengar seperti celotehan belaka dari sosok yang merasa dirinya kuat. Namun, Priscilla tidak menganggap kata-kata yang dilontarkannya sebuah guyonan. Jika itu dia, besar kemungkinannya.
"Kau terbang terlalu tinggi hingga suatu hari matahari akan membakarmu!!"
"Jika aku mengorbankan awan, maka diriku tidak akan terbakar. Lantas, orang-orang dan ibu tiri yang sangat kau cintai itu sangat mungkin tidak dapat mencapai tempat ini. Jika mati atau gagal, umat manusia akan hancur. Namun bila sebaliknya, semua akan menarik."
Yang dia inginkan hanyalah sebuah permainan yang memberikannya kesenangan. Dirinya telah begitu lama merasakan kejenuhan dan sesekali ingin menghibur dirinya sepuas mungkin.
"Apa maksudmu??" Priscilla bertanya lirih. Dia tidak memahami apa yang coba disampaikan pria itu dengan kata-katanya yang begitu ambigu.
Meskipun dirinya tidak memiliki keyakinan bahwa pertanyaannya akan mendapatkan jawaban. Namun dia tetap mempertanyakannya, dengan rasa penasaran yang lebih mendominasi.
"Hahaha!! Bahkan tanpa perlu mengotori debu lada pakaianku, mereka akan kesulitan menghadapi kadal-kadal ini."
Dia membalikan cerminnya, membiarkan Priscilla melihat apa yang ada di depannya dan pemandangan aneh yang disaksikan pria itu semenjak awal.
Hanya ada satu kata, mengerikan, hanya ada satu gambaran tepat, yaitu keputus'asaan. Meski dirinya hampir tidak pernah ketakutan, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Priscilla merasa takut. Keringat dingin mulai keluar dan tubuhnya gemetar akibat pemandangan di depannya.
"... Apa-apaan ini..., bagaimana, bagaimana mungkin hal seperti ini...," dia tidak dapat berbicara dengan baik, mungkin karena terlalu terkejut.
"Seperti yang kau lihat. Hal ini akan menjadi pembukaan sebelum hari akhir tiba!! Hari dimana yang terkuat dan pecundang akan ditentukan!! Permainan terakhir yang akan dilaksanakan, menjelang Ragnarok!! Perang Naga akan segera dimulai."
Ratusan—ribuan Naga tengah bertepuk lutut dihadapannya, lebih tepatnya terhadap sosok yang tertidur di gua yang berada tepat di bawahnya duduk. Dengan dirinya berada di puncah gua, dia merasa seperti dewa yang memimpin ras Naga menuju kepunahan mereka atau akhir dari ideologi bodoh mereka.
"... Hal keji apa yang kau lakukan kepada mereka?? Perkawinan silang?? Mungkin tidak hanya itu saja..., lantas, mengapa sosok yang menganggap kekuatan adalah keadilan mau mengikutinya?? Jelaskan padaku, Acnologia!!"
Suaranya bergema cukup keras, hingga membangunkan Naga yang tertidur di bawah gua tempat orang itu duduk.
Matanya yang terpejam kini terbuka, menampilkan dengan jelas sorot mata hewan buas yang dapat membunuh mangsa tanpa menyentuhnya.
"Dia memberiku kekuatan dan kekuatan adalah segala-galanya. Lantas membuat para Naga tolol itu menjadi sedikit lebih berguna juga akan meningkatkan kekuatanku, Peri kecil..."
Tanggapannya sama sekali tidaklah salah. Namun bukan jawaban seperti itu yang ingin didengar Priscilla. Dirinya mulai merasakan keputus'asaan. Meski tahu Rigel dan ibunya kuat, namun tidak menjamin kemenangan melawan pasukan Naga yang terdiri dari murni dan non murni.
Belum lagi, dengan adanya campur tangan orang itu dan Acnologia yang diperkuat menjadikan semuanya rumit. Lantas apa yang dapat dia berikan? Doa? Tapi kepada siapa?? Dewa adalah sosok yang memulainya, lantas tidak pantas dia meminta kepada sosok yang memulai kekacauan.
"Ah, tidak bisakah hari menjadi lebih cepat lagi?? Jantungku bisa meledak bila menunggu lebih lama!! Pembukaan awal yang direncanakan dan kunantikan..., kira-kira akan menjadi semeriah apa, ya?? Mungkin ras Naga akan punah, namun bukan urusanku."
Dia tidak perduli terhadap apapun yang dia korbankan, asalkan dirinya dapat merasakan kebahagiaan yang ingin dia rasakan. Bahkan jika harus mengorbankan dunia, dengan lapang dada akan dia lakukan.
"Kau sangat berisik, keparat. Biarkan aku tertidur lebih lama lagi."
"Cepat atau lambat kau akan terbangun lagi, pemalas. Sebaiknya bersama kita nantikan, bagaimana roda takdir akan memutari porosnya..."