
Pagi pertama Rigel di tengah laut. Matahari terlihat lebih menyilaukan di tengah laut. Rigel meregangkan tubuhnya yang masih lemas karena bangun tidur.
"Selamat pagi, Tuan Rigel."
Sapa kapten kapal kepada Rigel. Tidak hanya kapten kapal, tetapi seluruh awak kapal menyapa Rigel dan memberikan hormat kepadanya.
"Ya, selamat pagi. Kerja bagus semuanya, suatu saat akan kuberikan kalian bonus."
Para awak kapal tersenyum kepada gurauan Rigel. Kemarin malam, saat Megalodon menyerang Rigel dan yang lainnya namun berhasil di hentikan oleh Rigel dan Takumi.
Rigel masih penasaran dengan serangan yang di keluarkan Takumi saat itu. Takumi menolak menjelaskannya lebih jauh, dia hanya berkata bahwa skill itu hanya bisa di gunakan dengan beberapa kondisi khusus.
'Jika aku ingat ingat lagi kejadian kemarin, Takumi menyuruhku untuk membuat Megalodon itu keluar dari laut. Mungkinkah kondisinya adalah lawan harus berada di udara? Meskipun jika itu benar, aku yakin ada hal lain yang harus di penuhi.'
Karena tidak menemukan jawaban yang pasti, Rigel akhirnya menyerah dan memeriksa item drop yang dia terima dari Megalodon. Mayoritas dari item drop Megalodon kebanyakan tidak terlalu berguna baginya namun sebaliknya, mereka lebih berguna untuk Takumi dan yang lainnya.
Tidak seperti Rigel, Takumi memiliki sebuah senjata suci. Selain menaikan level dan menaruh point skill, untuk membuka skill yang ada pada tombaknya dia membutuhkan bagian dari tubuh monster dan menyerapnya ke dalam kristal yang ada di tombaknya.
Itu adalah sebuah kerugian untuk Creator Hero karena tidak memiliki senjata suci, dia hanya memiliki sebuah skill yaitu Creator. Meskipun Rigel sedikit kesal karema tidak memilikinya, namun ke untungan yang di terima Rigel juga cukup memuaskan.
Rigel tidak memiliki batasan terhadap senjata apa yang dapat dia gunakan dan juga, dia bebas mempelajari berbagai skill yang dia inginkan.
'Meskipun kebanyakan itemnya tidak berguna, namun aku terkejut bahwa benda ini ada di dunia fisik.'
Item drop yang Rigel ambil adalah sebuah batu, lebih tepatnya mungkin inti jiwa. Rigel sudah sangat familiar dengan benda ini, namun ada suatu perbedaan yang terlihat jelas.
'Inti jiwa seharusnya tidak memiliki lambang seperti tulisan sihir. Seharusnya inti jiwa yang berasal dari monster akan berbentuk seperti kepala monster.'
Rigel tahu betul jika benda ini adalah inti jiwa, namun ini berbeda. Merial berkata pada Rigel sebelumnya jika batu itu adalah sebuah Runestone.
Runestone adalah sebuah batu yang memiliki ukiran rune atau tulisan sihir kuno yang berisi skill di dalamnya. Runestone sendiri sangatlah langka, tidak banyak monster yang akan menjatuhkan benda ini. Untuk menggunakannya, Rigel harus memecahkan batu itu di tangannya dan mendapatkan skill dari Megalodon.
'Yah, terus berfikir mengenai ini itu tidak akan membantu apapun.'
Rigel mengambil Runestone dari infertory miliknya dan menggenggamnya dengan erat untuk menghancurkannya. Runestone hancur seperti sebuah kaca pecah dan tidak lama, sebuah pesan muncul di layar pandang Rigel.
...**Anda telah mendapatkan skill sampingan!...
...Megalodon skill : penguasaan air**!...
"Skill sampingan?"
Rigel baru mengetahui istilah "skill sampingan" yang baru saja muncul di dalam layar pandangnya.
"Benar juga. Aku hampir benar benar lupa dengan sistem bernama Index ini. Selama ini, aku telah benar benar mengabaikannya bahkan aku tidak pernah mengaksesnya untuk melihat level."
Bahkan selama pelatihannya di labyrint, Rigel benar benar tidak perduli tentang level ataupun Index itu sendiri. Rigel mulai berfikir jika Index itu sendiri masih penuh misteri.
'Tidak ada gunanya terus memikirkannya, lebih baik ku periksa sendiri.'
..."Index!"...
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama bagi Rigel untuk mengakses system yang bernama index. Rigel mulai mengakses ke bagian level dan hal lainnya.
...Status!...
Name : Amatsumi Rigel.
Job : Creator Hero.
Type skill : Creator, mana manipulation.
Level : 656.
Attack : 61468.
Hp : 106785.
Defens : 25384.
Magic power : 80186.
Speed : 85689.
Agility : 54360.
Intelligent : 73253.
Sense : 90755.
"Hahaha, aku benar benar telah mengabaikan hal ini. Sepertinya aku harus memperbaiki kebiasaan burukku dalam mengabaikan berbagai hal."
Rigel mulai mempelajari sistem index yang sudah dia abaikan. Ada beberapa hal yang membuat Rigel terkejut karenanya. Rigel mulai berfikir bahwa dia benar benar bodoh karena telah mengabaikan sistem ini.
'Levelku sekitar enam ratus, ya? Mungkin itu karena aku membunuh banyak monster kuat di labyrint. Lalu, Azazel dan para jiwa di labyrint yang kubunuh, sepertinya tidak berpengaruh kepada levelku.'
Rigel bersyukur bahwa dia tidak membunuh teman temannya untuk menaikan level. Namun dia juga tahu, bahwa mungkin ada beberapa diantara demi human yang dia bunuh memberikan Rigel exp untuk level.
'Nampaknya Sense ku jauh lebih tinggi dari yang lainnya. Lalu, yang terendah adalah pertahananku. Untuk Magic power aku tidak terlalu perduli karena aku bisa memulihkannya menggunakan mana manipulation.'
Setelah puas mempelajari mengenai levelnya, suatu hal mulai menarik minat Rigel saat dia terus mempelajari Index. Rigel membuka jendela skill yang membuatnya tertarik.
Rigel memfokuskan penglihatannya dan membuka jendela skill. Hal pertama yang Rigel lihat adalah skill utama yaitu :
...**Skill utama, Creator skill :...
Imagination Creator , material Creator, Mana manipulation**.
Rigel tidak terkejut dengan skill utamanya karena sebagian besar dari skill miliknya telah menjadi satu kesatuan dengan Imagination Creator. Namun, yang membuatnya terkejut adalah skill sampingan miliknya. Rigel mulai berkeringat saat terus membaca banyak dari skill sampingan miliknya hingga dia terkejut dengan skill terakhir yang dia baca.
"Haaa?!!!"
Rigel berteriak sehingga membuat semua orang memperhatikannya dengan khawatir. Takumi dan Merial berlari menghampirinya dengan khawatir.
"Ada apa Rigel? Apakah terjadi sesuatu?"
Takumi bertanya kepada Rigel dengan khawatir, begitu juga dengan Merial. Rigel menoleh ke arah mereka dan memaksakan senyum di bibirnya.
"Ahh, tidak ada apa apa. Aku hanya terkejut saat melihat status yang kumiliki."
"Haduh, jangan membuat kami khawatir dong."
"Syukurlah jika tidak terjadi sesuatu yang buruk, Tuan Rigel."
Takumi dan Merial menghela nafas dan tersenyum kepada Rigel.
"Kalau begitu, mari kita sarapan dulu, Rigel. Makanan kita kali ini adalah daging Megalodon yang kita kalahkan kemarin, ayo."
Takumi mengajak Rigel untuk pergi ke ruang makan namun, Rigel menolak ajakannya.
"Ahh, sisakan saja bagianku. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan, bisakah aku serahkan yang di sini kepadamu, Takumi?"
"Yah, tidak apa apa sih. Memangnya apa yang ingin kau lakukan?"
"Ada deh, kau akan mengetahuinya cepat atau lambat nanti. Sudah ya, aku pergi dulu."
"Ah tunggu—"
Sebelum Takumi menyelesaikan kata katanya, Rigel telah terbang menjauh dari kapal dan pergi ke arah yang berlawanan dari arah tujuan kapal.
"Astaga, memangnya hal apa yang membuatnya terburu buru seperti itu?"
Takumi mendesah kasar sambil menatap Rigel yang pergi menjauh.
Rigel terbang dengan kecepatan maksimal dan setelah beberapa menit berlalu, dia sampai di tempat yang dia tuju, tempat mayat Megalodon berada. Mayat Megalodon itu hanya menyisakan tulang karena daging dan kulitnya telah di kuliti oleh Merial untuk bahan makanan serta armor. Ada hal yang ingin Rigel coba dengan skill sampingan yang tidak dia ketahui keberadaanya sebelumnya.
"Ya ampun, aku harus benar benar memperbaiki kebiasaanku dalam mengabaikan hal hal seperti ini."
Rigel benar benar tidak bisa tenang karena kejutan besar ini. Skill sampingan miliknya ini nyata, bukan hanya pajangan belaka. Sebuah kekuatan yang seharusnya tidak boleh di miliki olehnya.
"Mau seberapa banyak kau terus membodohiku, Azartooth?!"
Rigel menyebut nama seseorang yang seharusnya tidak ada di dunia ini dengan nada kemarahan. Meskipun Rigel marah kepada dewa yang telah membodohinya lagi, namun Rigel sedikit bersyukur karena hal ini.
"Sebisa mungkin, aku tidak boleh menggunakan kekuatan yang satu ini."
'Aku hanya akan menggunakannya di saat benar benar di butuhkan.'
Setelah melakuka sesuatu dengan skillnya itu, Rigel memutuskan untuk kembali ke kapal.