The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Theater Pahlawan



Rigel telah kembali ke medan tempur, beserta Pahlawan lain yang awalnya berpencar. Sungguh mengejutkan bahwa kumpulan monster yang mengepung mereka dapat dengan mudah dan cepat di habisi.


Untuk Lava yang menyembur, Rigel telah mengatasinya dengan membuat sebuah ruang kosong yang cukup besar di dalam tanah. Tentunya, hal itu hanya dapat membeli waktu selama beberapa menit.


Di lihat dari keadaannya, Ozaru nampak terluka cukup parah, tentu dia tahu bahwa itu hanya tampilan luar. Ozaru melakukannya dengan sangat baik. Rigel yakin, setelah dirinya Ozaru adalah orang yang di khawatirkan oleh orang itu.


Meski ini pertarungan penting, namun hal yang akan terjadi kedepannya adalah penentuan. Tidak perduli apapun yang terjadi, rencananya harus berhasil!


Para Pahlawan berkumpul di satu tempat, selain Rigel dan Hazama yang tengah membawa Ozaru.


"Cukup mengejutkan bila kita selesai di saat bersamaan." Ujar Aland dengan tersenyum tipis.


"Mereka hanya monster kecil, kami berlima mengatasinya dengan sangat mudah." Marcel membalas.


"Meski begitu, cukup melelahkan berhadapan banyak dari mereka." Ujar Takumi. Nafasnya terengah-engah. Mungkin dia adalah orang yang paling banyak menggunakan tenaganya, terutamanya pada bagian Tombak Penghakiman.


"Namun syukurlah jika kita tepat pada waktunya. Terlambat sedikit saja kuyakin akan fatal." Ujar Yuri, menyiapkan panahnya.


"Cukup untuk berbincang-bincang, nampaknya burung di sana mulai menghadap kita."


Mendengar apa yang di katakan Petra, semua kembali memfokuskan diri pada Phoenix yang sedang berhadapan dengan Rigel dan satu yang sedang di tahan Merial.


Phoenix yang berada dalam cengkraman Cambuk mulai memberontak sampai akhirnya terlepas, karena tak lagi kuasa menahan kekuatannya yang hebat.


"Sebagai mahkluk suci yang menghanguskan segala pendosa dan yang menodai dunia ini, aku Phoenix akan menghakimi kalian dan menyucikan kembali dunia ini!..."


Kedua Phoenix mengumpulkan cahayanya dan membuat tubuh mereka bersinar. Selagi dalam mempersiapkan serangan, Perisai yang melindungi mereka muncul, membuat orang luar tidak dapat mengganggunya.


Lidah begitu pahit, dia sadar bahwa ini bukan sesuatu yang benar-benar bagus untuk di abaikan. Insting bertahan hidup menjerit begitu keras, seakan-akan malaikat maut sedang berdiri tepat di depannya.


Hazama dan Ozaru telah berkumpul dengan yang lain dan kedua Phoenix hanya memfokuskan serangan kepada mereka.


Cahaya yang berkumpul di sekitar Phoenix mulai membentuk sesuatu dan mata serta tubuhnya di aliri api putih kebiruan.


Ini gawat! Hazama tidak akan mampu melakukannya sendirian! Batin Rigel.


Sesuatu yang tidak menyenangkan benar-benar akan terjadi, dia tidak tahu apa itu, yang jelas dia harus menghentikannya.


"Purgatory!"


Bersamaan dengan melesat nya serangan Phoenix, Rigel melompat ke depan semua orang bersama Hazama dan berusaha menahan serangannya.


"Kaarrghh!" x2.


Rigel dan Hazama mengaum. Rasa sakit menjalar, tubuh begitu panas dan hampir matang, seakan tengah merasakan penyucian dosa dari api neraka. Jubah Hazama mulai lenyap, di ikuti pakaiannya yang terbakar dan kulitnya yang melepuh.


Rigel tak kuasa menahan sakitnya lagi. Stamina telah begitu banyak terkuras, hingga mencapai setengah kekuatan yang di miliki nya. Dia mencoba menghilangkannya dengan Void, namun tentu tidak akan semudah itu.


Krgh! Tahap Dua, Penciptaan Dunia!


Rune di tangan kanan bertambah, mengalirkan lebih banyak kekuatan hampa padanya. Mengatupkan giginya dengan kuat, mata menyipit dan memancarkan keinginan melihat hari esok dengan kuat.


Bahkan tahap dua masih tidak cukup kuat untuk mengembalikan api kembali menjadi kehampaan. Menahannya seperti itu pilihan buruk, menciptakan serangan tak berarti untuk mendorong kembali juga pilihan buruk. Tidak ada jalan untuk lolos dari situasi terdesak, kecuali satu hal bagus yang terpikirkan Rigel.


Niatnya menyembunyikan banyak stamina dan kekuatannya akan hancur jika dia melakukannya. Kekuatan sihir memang bisa pulih dengan cepat, namun tidak sama halnya dengan stamina tubuh. Akan butuh waktu untuk kembali memulihkannya. Selain itu, bukan Pahlawan yang dia khawatirkan yang membuatbya menyembunyikan kekuatan penuh.


Melainkan sosok yang berkemungkinan mengamati pertarungan. Para iblis. Meski tidak merasa ada yang mengamati pertarungan, namun mereka tidak cukup bodoh, melewatkan pertempuran ini dan mengungkapkan kartu Truf setiap Pahlawan.Meski Lucifer berkata akan diam dan mengamati, dia tetaplah seorang iblis. Mempercayai kata-kata iblis sama saja dengan menelan racun.


Meski begitu, keadaan tidak membiarkannya bimbang lebih lama lagi dan membuat Rigel mengambil pilihan itu...


"Ke-Keuaaarrghh!..."


Void : Lubang Hampa!


Selagi mengaum, dia menggumamkan kekuatannya di dalam hati, retakan ruang dimensi terjadi, menciptakan lubang dengan warna unik yang menelan api putih kebiruan dalam sekejap.


"A-apa yang terjadi!??"


Phoenix tidak berhasil mencerna sedikitpun kejadian yang dia saksikan secara langsung. purgatory, api yang seharusnya tidak akan padam meski 10 tahun berlalu, dapat dengan mudahnya hilang tanpa sisa dengan kekuatan aneh.


*BAK.


Hazama tumbang, dengan kulit kedua tangan dan beberapa bagian di wajahnya terbakar. Dia tidak lagi sadarkan diri, keadaannya begitu memprihatinkan dan harus mendapatkan pertolongan pertama dengan cepat. Rigel tidak ada bedanya dengan Hazama, bagian kulit wajah dan bahunya terbakar, namun tidak seburuk milik Hazama.


Dengan goyah dia membetulkan posisinya, nafasnya terengah-engah, namun tetap bertekad kuat untuk bertarung.


"Kau... Siapa kau sebenarnya, Manusia rendahan?!"


"Ras dari mahkluk yang kau hina dan rendahkan, Manusia! aku adalah orang yang menantang langit, dengan mengacungkan jari tengah ku dan meludah di wajah para dewa!"


Meninggalkan kata-kata itu, Rigel mengulurkan dua tinju dan melesat terbang kepada Phoenix di hadapannya. Tubuhnya yang lain hendak menyusul, namun Ray dengan cepat melompat dan menggores paha kakinya.


"Mari habisi monster ini di sini!" Ray berteriak, membangkitkan semangat bertarung semua orang.


"Aku akan memeberikan pertolongan pertama untuk Hazama dan Ozaru!" Petra mengambil tindakan.


"Aku, Nadia dan Takatsumi akan membantu Rigel! Sisanya tetap disini untuk melindungi Hazama dan Ozaru selagi bertarung dengannya!" Marcel memerintah.


Mereka mengangguk tanpa protes dan Nadia yang tercepat dari mereka berlari di depan mereka.


Rigel terbang di udara, melemparkan Asura Punch menuju Phoenix dan hampir membuatnya terjatuh ke tanah. Phoenix melaju cepat selagi menembakan bola api dari mulutnya dan bulu-bulunya yang meledak saat berbenturan.


Rigel dengan kecepatan gila menghindari setiap serangan dan bulu Phoenix selagi melontarkan Asura Punch dan beberapa serangan elemen, seperti air, angin dan listrik.


Pertarungan berjalan begitu intens, Nadia merasa bahwa tidak ada tempat untuknya meletakan tangan di sana. Dia bahkan hampir tidak dapat mengikuti pergerakan Rigel yang melebihi kecepatannya.


"Aku hampir berpikir bahwa kita benar-benar tidak dapat di butuhkan!" Marcel mengutuk.


Dia sadar betul, pertarungan Rigel dengan Phoenix terlihat di luar jangkauannya, belum lagi dengan keterbatasan di pertarungan udara. Dia tidak dapat melakukan apapun selain menunggu kesempatan.


Rigel berputar di udara, menghindari setiap serangan Phoenix. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara dan menggumamkan Skill...


"Hujan Halilintar!"


*JDER!


Halilintar menghantam Phoenix dari langit, di susuli halilintar lainnya. Phoenix terus menghindar selagi mencoba untuk membuat Perisainya, namun Rigel tidak membiarkannya semudah itu. Rigel mengulurkan telapak tangan kanannya.


"Kekuasaan Air Poseidon : Air Mata Poseidon!"


Satu tetes air muncul dan Rigel menggenggamnya. Air terjun muncul dari tangan Rigel dan dia mengendalikannya sama seperti hal yang di lakukan Hydra.


Menciptakan duri-duri air yang akan mengejar targetnya sampai ke ujung dunia. Air mungkin efektif melawan api, namun api milik Phoenix tentu berbeda dari yang biasa. Namun air yang di buat Rigel juga bukan air biasa.


"Api abnormal dengan Air abnormal, mari lihat siapa yang bertahan!"


Meninggalkan kata-kata itu, Duri air melesat mencoba menghantam Phoenix yang terbang ke sana-sini demi menghindari setiap air yang ada.


"Buktikanlah ucapanmu dan jangan hanya membacot!"


Menghadapi provokasinya, Phoenix m


kembali mengumpulkan energi dan api putih kebiruan berkumpul di sekitarnya. Ukurannya tidak sebesar sebelumnya, namun kekuatannya tentu sebanding.


"Purgatory!"


Rigel mengarahkan Duri air ke arah api putih kebiruan, namun sama sekali tidak menghentikan kecepatan dan kekuatannya. Benar-benar api yang sangat mengerikan.


Jika pertarungan ini berakhir, aku harap mendapatkan Rune stone dengan kekuatan api putih ini!


Batin Rigel.


Tentu, jika dia masih memiliki waktu untuk datang ke tempat ini. Seandainya rencananya berhasil, kekacauan besar akan terjadi sehingga akan sulit mencari keberadaan Rune Stone.


Menyadari bahwa air tidak dapat menghentikannya, Rigel mencoba cara lain dan berusaha menghindar. Namun tidak perduli sejauh apa dia pergi, api itu tetap mengikutinya. Ukurannya memang lebih kecil, namun mungkin Rigel bisa menghilangkannya dengan Void.


"Void Tahap satu : Kehampaan... Kembalilah menjadi kehampaan!"


Rigel mengulurkan tangan kanan, mencoba menghapus Purgatory Phoenix. Butuh lebih banyak usaha dari yang di perkirakan, namun kali ini dia berhasil menahannya.


Tanpa perlu menunggu lama, Rigel kembali melesat menuju Phoenix dan memberikan hantaman keras yang membuatnya terjatuh. Melihat kesempatan, Nadia menerjang dan menebas punggung Phoenix. Marcel dan Takatsumi menyusul dengan memotong masing-masing satu sayapnya.


Di pertarungan Lain, Takumi melompat dan menggores sayap Phoenix yang membuatnya kehilangan keseimbangan.


Merial memanfaatkan kesempatan itu untuk mengunci mulutnya, sebagai antisipasi agar Phoenix tidak menggunakan api putih sebelumnya. Jika dia melakukannya tanpa adanya Rigel dan Hazama, kematian tentunya tidak dapat di hindari.


Phoenix terus memberontak dan mengibaskan sayapnya dengan kuat. Yuri menembakan enam anak panah cahaya yang melubangi sayapnya dan membuat Phoenix kembali terjatuh.


"Hyaa!" Ray berlari dan menggubakan Exterion untuk memberikan luka gores yang cukup dalam pada bagian perut Phoenix.


"Javelin Strike!" Takumi melemparkan jurus andalannya menuju punggung Phoenix.


Tombak yang mengeluarkan cahaya melaju dengan cepat, menancap di punggung Phoenix. Saat hendak mengeluarkan serangan lain, Phoenix mulai meningkatkan suhu di sekitarnya, namun hal itu tidak membuat cambuk Merial terlepas.


Phoenix mencoba berdiri dan melompat menuju Merial, yang membuatnya harus melepaskan Cambuknya dari paruh Phoenix.


"Sepertinya senjata Pahlawan memang tidak dapat di hancurkan, tidak perduli seberapa keras aku berusaha. Kalian benar-benar menyusahkan, padahal hanya mahkluk rendahan yang merusak dunia!"


Phoenix terus mengucapkan sumpah serapah dengan begitu jengkel nya. Sampai akhir, kebenciannya benar-benar tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata. Jika Manusia menodai dunia ini dengan darah dan peperangan, dia tidak salah. Tapi...


"Kau juga mahkluk yang membumi hanguskan dunia, alam dan segala hal yang kau anggap rendah. Itu tidak ada bedanya dengan apa yang di lakukan umat manusia di masa lalu! kau justru lebih rendah dari seekor gobiln!" Merial membantah ucapan Phoenix yang terus menghina manusia.


Manusia adalah mahkluk penuh kebusukan dan keserakahan, itu tidaklah salah. Namun, salah jika menganggap seluruh manusia memiliki sifat seperti itu. Tidak semua manusia melakukan kekejaman seperti membunuh Rasnya sendiri untuk wilayah atau harta. Bahkan ada beberapa orang yang mau membawa perubahan, terhadap diskriminasi yang di buat manusia kepada Ras selain mereka.


Terutamanya Tuan Rigel. Sosok yang sangat kukagumi. Dia tidak tertarik mempermainkan nyawa, memperbudak atau mendiskriminasi. Dia justru berusaha membuat tempat tanpa kehadiran hal-hal busuk semacam itu. Batin Merial.


"Menggonggong lah sesukamu, karena hanya itu yang bisa di lakukan seekor anjing!"


Phoenix mulai mengumpulkan api putih, namun Merial dan Yur lagi-lagi mengganggunya dengan melilit mulutnya dan menembakan anak panah menuju matanya.


Phoenix mulai memekik, Ray dan Takumi mengambil kesempatan itu untuk memotong kakinya. Mereka memandang ke tempat Rigel dan yang lainnya bertarung. Mereka nampaknya juga berhasil memojokan Phoenix dan untuk menghabisinya, harus di lakukan secara bersamaan.


Menyadari itu, Rigel mengumpulkan Mana di tangannya dan membuat Mana Hand yang cukup besar untuk memindahkan Phoenix ke tempat Phoenix yang lainnya.


Dua burung itu berada di satu tempat yang sama, dengan tujuan mempermudah menghabisi mereka dalam satu serangan. Rigel dan yang lainnya berlari menuju dua Phoenix yang perlahan bangkit itu.


"Tidak akan kubiarkan riwayatku berakhir di tangan kalian, Manusia rendahan!"


...Phoenix menjerit dan mulai menciptakan api putih, namun lagi-lagi Merial menggagalkan nya dan para Pahlawan mengeluarkan serangan mereka untuk membatalkannya....


"Habisi mereka dalam hitungan tiga!" Rigel mengaum, "Serbu!" dan bergegas menyerbu Phoenix bersama-sama.


"Calamity Claw!"


"Tarian Belati Ganda!"


"Tombak Penghancur!"


"Sabit kegelapan : Grim Reaper!"


"Panah Bintang!"


"Thunder Sword!"


"Hammer Orion!"


Seluruh Pahlawan mengeluarkan serangan mereka tanpa terkecuali menuju Phoenix yang benar-benar hampir mati. Rigel dan Merial berusaha yang terbaik untuk mencegah Phoenix mengerahkan kekuatannya.


"Tidak... Mungkin... Tidak hanya, memojokan ku... Kalian bahkan tahu, cara membunuhku?? Ahh~benar... Peri kecil keparat itu! Jadi kau memihak manusia, Tidak termaafkan!"


Mengabaikan Phoenix yang mengatakan hal-hal tidak berguna pada saat seperti ini, Rigel mulai menghitung.


Satu!


Semua orang menjauh dari Phoenix dan menyerahkannya kepada Marcel dan Takatsumi untuk mengakhiri masing-masing satu dari Phoenix. Mereka sama-sama bersiap untuk menyerang namun...


Dua!


*CRUCH!


*TIGA!


CURCH!


Begitu mengejutkan dan sangat tidak terduga. Pada hitungan kedua, Takatsumi melompat dan menebas kepala Phoenix sementara Marcel melakukannya pada hitungan ketiga. Sejak awal, seharusnya sudah di sepakati untuk memotong pada hitungan ketiga, bahkan dari jauh-jauh hari.


"Kau... Apa yang kau lakukan?!!" Marcel berteriak kepada Takatsumi yang berada jauh dari mereka.


"Seperti yang kalian lihat, kubunuh Phoenix, beserta kalian di dalamnya. Surga tidak memiliki dua matahari, dunia hanya memiliki satu Pahlawan untuk berdiri. Aku harap kalian tidak selamat dari ledakan yang jauh lebih kuat dari Nuklir. Kali ini, aku akan benar-benar memakamkan kalian~. Selamat tinggal untuk yang kedua kalinya, pecundang." Takatsumi tersenyum dan tatapan akhirnya di tujukan pada Rigel.


Tubuh Phoenix mulai bersinar dan energi panas dalam jumlah besar berkumpul di sekitar, sementara Takatsumi telah berteleportasi.


"Dia, menghianati kita?" Petra bergumam, terjatuh di tanah dengan lemas.


"Kergh! bajingan itu! TAKATSUMI!" Marcel berteriak dengan penuh kemarahan.


Tentu bukan hanya dia, semua Pahlawan yang ada sangat terkejut dan sangat marah terhadap penghianat busuk itu yang menampilkan taring dan kebusukannya. Rigel tidak melakukan apapun selain mengucapkan sepatah kata—


"Skakmat!" senyuman tipis terbentuk di bibirnya.


Sebelum sempat ber teleportasi, tubuh Phoenix semakin terang dan akhirnya meledak, menggunakan langit dan bumi. Awan hitam super besar terbentuk di langit, udara kencang menghempas apapun di dekatnya, yang bahkan memotong pepohonan.


Gempa besar yang menyebabkan longsor terjadi dan getarannya cukup kuat untuk mencapai Region. Kekuatan ledakan yang berkali-kali lipat lebih kuat dari nuklir. Ntah bagaimana dengan nasib Pahlawan dan Rigel. Tirai Theater Pahlawan akan di buka! kebusukan akan terungkap dan kejahatan akan di musnahkan!