The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Alexander vs Marionette



Pertarungan Rigel nampaknya akan di selenggarakan antara sore atau esok hari. Berbeda dari harapannya, nyatanya hanya ada satu arena pertempuran dan untuk saat ini, babak Eliminasi tim A tengah di laksanakan. Yah, mau bagaimanapun hasilnya sudah sangat jelas. Marionette yang merupakan Pilar iblis berada di zona A, maka tidak akan ada kesempatan menang bagi orang-orang yang berada dalam zona itu.


Namun Rigel tetap tertarik untuk menyaksikan pertarungan yang akan terjadi, kebetulannya, Marionette akan menjadi yang pertama bertanding.


"Apa kita akan menyaksikan pertarungan Pilar iblis dulu, Matsu?"


Garfiel bertanya, jelas penasaran dengan apa yang ingin di dapatkan Rigel dari menonton pertarungan. Tentunya dia tidak mewajibkan diri untuk menonton, namun, Rigel tertarik dengan julukan yang di miliki si Marionette.


'Pengendali boneka' hal yang benar-benar menarik perhatian Rigel. Apakah boneka yang di maksud adalah benda mati seperti boneka kugutsu atau mungkin mayat seperti Necromancer, atau yang terburuknya...


"Kuyakin dia akan menjadi lawan terakhir kita di pertarungan nanti. Penting untuk mencari seperti apa cara lawan bertarung, kekuatan dan sebatas mana kekuatannya. Jika kita telah membaca semua itu, maka pertarungan yang akan terjadi akan lebih mudah dalam artian lain."


"Artian lain?" Leo dan Garfiel bergumam bersama, tampak tidak mengerti apa yang sedang Rigel coba beritahukan kepada mereka.


"Huh, singkatnya. Dengan melihat cara bertarungnya, kita berkemungkinan besar dapat menebak beberapa kartu truf miliknya dan menyiapkan rencana antisipasi untuk mengatasinya."


Selain itu, tidak ada yang jauh lebih menyeramkan selain kartu yang sama sekali tidak di ketahui. Ada kebutuhan untuk setidaknya mengetahui tentang lawan yang akan di hadapi untuk melakukan berbagai antisipasi serangan dan senjata tersembunyi.


Selain Hydra, Tortoise dan Karaka yang membuat Rigel sedikit hilang kendali, hanya Lucifer sosok yang benar-benar sulit untuk di pahami Rigel, selain dari rencananya untuk melemparkan umpan dan bertindak di baliknya.


Selain memiliki God Hand, Lucifer dapat bergerak dengan bebas di zona ruang dan waktu sesukanya. Tentunya Rigel dapat bertahan di zona itu, namun mungkin tidak akan selama Lucifer. Bahkan satu menit di zona itu sudah membuat perutnya sakit, seakan sedang di remas kekuatan tak terlihat. Untuk saat ini, mari lewatkan pembahasan tentangnya.


"Jadi begitu, sekarang aku mulai memahaminya. Sepertinya hal yang kudengar dari lawan yang hampir mengalahkanku dulu benar, senjata terkuat yang di miliki seseorang adalah informasi."


Ungkapannya itu tidak salah, namun hal itu lebih cocok di gunakan dalam perang dan pertarungan jangka panjang, seperti sekarang ini. Selama masih memiliki waktu sebelum hari pertarungan, maka informasi akan berguna, namun lain hal dengan pertarungan mendadak atau yang terjadi begitu saja.


"Hey, hey, hey, hey, hey! Hari masih panjang, jangan bilang kalian sudah lelah, pertarungan pertama akan menjadi panggung pilar iblis!"


"Whoaa!"


"Sepertinya kalian masih sangat bersemangat ya... Kalau begitu, siapkan uang kalian untuk bertaruh siapa yang akan menjadi pemenang! Meski sudah jelas siapa yang akan memenangkannya! Mari kita sambut Pilar iblis, Marionette!"


Gerbang mulai terbuka, menampilkan seorang gadis berusia 8 tahun, menggunakan gaun yang tidak sesuai tubuhnya dan rambut keemasan serta mata biru yang tidak memancarkan cahaya. Sekali lihat Rigel tahu, bahwa gadis itu sendiri tampak seperti boneka. Dengan garis yang terhubung ke rahangnya yang membuatnya dapat terbuka dan menutup. Setiap sendinya di mulai dari leher hingga leher dan kaki terdapat garis yang terlihat seperti sambungan.


Apa dia tidak datang dengan tubuh asli dan mengendalikan boneka dari kejauhan, atau mungkin sebaliknya?


Tidak hitam ataupun putih, sulit menentukannya karena energi yang di keluarkan juga sangat besar sehingga sulit menentukan apakah itu tubuh asli atau boneka yang hanya dikendalikan dari jarak jauh. Jika itu tubuh asli, maka tidak akan ada keraguan untuk bertarung habis-habisan, namun berbeda jika itu hanyalah bonekanya saja.


Tidak ada gunanya mencoba membunuh boneka dan mengungkap kekuatannya di tempat ini. Ada kebutuhan untuk mengungkapkan apakah dia asli atau hanya bonekanya saja. Bisik para penonton mulai menyebar.


"Pilar iblis itu, apakah dia hanyalah seorang anak kecil?"


"Kupikir dia akan terlihat sangat seperti Necromancer sebelumnya."


"Aku tidak yakin harus takut atau tidak, dia hanya terlihat seperti gadis kecil yang imut saja."


Marionette menatap ke arah penonton, membuat mereka bergidik ngeri, tatapannya berakhir pada Rigel dan mulut bonekanya sedikit menggertak seakan menggantikan senyuman.


"Di sisi lain, petarung solo kuat dengan Palu kutukannya, Alexander Sang Pengutuk!"


"Whoaa!"


Orang yang memberikan kutukan melalui Palunya, Alexander. Rigel telah melihat pertarungannya dengan Hercules dan dia akui itu cukup mengagumkan. Sepertinya dia lawan yang cocok, untuk melihat seberapa tangguh Pilar iblis Marionette.


"Silahkan pasang taruhan kalian, apakah Veteran Fight To End, Sang Pengutuk, Alexander atau Petarung garis depan ras iblis, Pilar Iblis Marionette si pengendali boneka!"


Para penonton mulai menyiapkan uang mereka dan memasang taruhannya ke panita yang tersebar di berbagai tempat. Rigel tidak tahu betul seperti apa sistem pertaruhannya, namun nampaknya semakin sedikit orang yang bertaruh kepada salah satu petarung, semakin besar untung yang didapatkan.


Contohnya, sebagian besar orang bertaruh kepada Marionette dan hanya satu orang yang bertaruh kepada Alexander, maka jika saja Alexander kebetulan menang, maka si petaruh akan mengambil uang dari orang-orang yang bertaruh kepada Marionette. Tentunya, ada beberapa potongan untuk pihak penyelenggara.


"Ya, ya, ya, ya! Taruhan telah selesai di pasang, dan pertarungan akan di mulai! Para petarung silahkan bersiap!"


Alexander mengacungkan Palunya, memasang kuda-kuda ofensif, sementara Marionette tetap diam dan tak bergeming.


"Sepertinya pertarungan akan sengit, ya." Leo bergumam.


Memang nampaknya akan sengit karena di lihat dari ketenangan yang di tunjukkan Alexander menandakan bahwa dia tidak gentar akan gelar Pilar Iblis di hadapannya. Mungkin dia memiliki pemikiran yang sama dengan Rigel, bahwa Pilar iblis di depannya bukanlah wujud aslinya. Melainkan hanya boneka yang dikendalikan dari kejauhan saja.


"Menurutmu siapa yang akan memenangkan pertarungan ini?" Garfiel menyelidiki, ingin mengetahui seperti apa pendapat Rigel tentang pertarungan ini.


"Menurutmu sendiri, siapa yang akan menang?"


"Sejujurnya aku tidak tahu. Alexander memang kuat, aku akui itu, namun aku tidak dapat menebak seberapa hebat si Marionette itu. Kekuatan sihirnya memang besar, namun tubuhnya terlalu kecil dan tampak tidak lihai dalam pertarungan jarak dekat."


Pengamatannya cukup bagus, dia tentunya dapat melihat apa yang tidak dilihat kebanyakan orang. Sebagai orang yang telah sering berada di situasi antara hidup dan mati, pengamatan Garfiel memang bagus, namun dia tidak dapat melihat apa yang di lihat Rigel.


"Memang tampilan luarnya terlihat lemah, namun kau tidak akan tahu apa yang dia simpan. Yah, kita akan segera melihatnya."


"Baiklah, tanpa menunggu lama lagi, pertarungan di mulai! Pertarungan tidak akan selesai sampai salah satu mati atau menyatakan menyerah dan menyerahkan barang berharganya! Fight To End dimulai!"


Dia menggunakan jari-jari tangannya untuk mengendalikan boneka berbentuk manusia itu dan mengepung Alexander dari dua arah. Dengan cermat, Alexander melompat ke udara untuk menghindari kepungan dan sabit yang berusaha menebasnya. Pilihannya melompat ke udara tidak sepenuhnya salah, namun dia lupa bahwa boneka itu dikendalikan, bukannya tidak mungkin dia mendapatkan kepungan di udara.


Benar saja, kedua boneka itu melesat terbang mengejar Alexander. Tidak ada pijakan yang dapat digunakan untuk menghepaskan diri jadi sulit lepas dari kepungan udara para boneka itu.


Melihat itu, Alexander tersenyum dan memukul udara menggunakan palu, menghempaskan dirinya dengan cepat menuju Marionette yang bertarung di garis belakang dan membiarkan kedua bonekanya bertarung.


"Dengan ini berakhir sudah!"


Palu Alexander mulai mengeluarkan cahaya ambient kehitaman yang tampak jahat dan menghantamkannya ke Marionette. Dengan santai, Marionette mengulurkan tangan kanan dan menahan palu Alexander dengan mudah. Bahkan Palu itu tidak sedikitpun menyentuhnya, itu tiba-tiba berhenti tepat di udara dan hanya menyisakan jarak beberapa cm.


Alexander tentunya terkejut, namun ketenangannya kembali dengan cepat seakan sudah menduga bahwa tidak akan semudah itu mengalahkan Marionette. Jika benar memang semudah itu mengalahkan Pilar Iblis, maka para Pahlawan sudah sejak lama menghabisi mereka. Namun nyatanya tak seindah ekspetasi.


"Seperti yang diduga dari musuh umat manusia! Tidak mudah bahkan hanya untuk menyentuh kulitmu!"


Para penonton bersorak kegirangan, akan pertarungan menarik yang di suguhkan antara Alexander dan Marionette. Bahkan Rigel kagum akan kecakapan Alexander dalam pertempuran. Jika dia masih hidup setelah pertarungan ini, Rigel akan merekrutnya menjadi salah satu petarung di Region.


Alexander berusaha menjauhkan palunya, namun Marionette menahannya dengan Mana padat selagi dua bonekanya yang lain melesat menuju Alexander dengan kecepatan tinggi. Alexander telah terpojok, cengkraman Marionette pada Palunya begitu keras sehingga dia harus merelakan Palunya.


Alexander dengan kesal melepaskan palunya dan lari ke arah barat untuk menghindari boneka, namun Marionette tidak melepaskannya begitu saja, dia melemparkan Palu Alexander dengan kuat.


Palu itu berputar dengan cepat sehingga tidak mungkin untuk di tangkap. Selain itu, Marionette juga menggunakan kemampuannya untuk menjadikan Palu itu sebagai bonekanya, karena palu itu terus mengikuti Alexander kemanapun dia pergi.


Hmm, seberapa banyak boneka yang bisa dia kendalikan? Jika gadis kecil itu sendiri adalah boneka dan Marionette mengendalikan dari jauh, maka kemampuannya jelas sangat kuat. Bahkan jauh lebih hebat ketimbang Necromancer milikku.


"Tch! Beri aku istirahat!" Alexander mengutuk selagi berlari dari kejaran boneka dan palu miliknya yang di kendalikan Marionette.


Dia mulai mengambil sesuatu daru infentory dan itu adalah sebuah perisai logam yang sangat mengkilap dengan ukiran singa. Alexander berbalik, menahan laju Palunya dan terhempas sampai beberapa meter hingga akhirnya berhasil menghentikannya. Tidak lama kemudian, boneka dengan senjata sabit telah berada di belakang Alexander dan hendak memenggal kepalanya, namun Alexander sudah menunggu itu dan mengeluarkan belati sihir yang sudah dia sembunyikan di balik perisai.


"Haargh!" Marionette mengaum, menunduk dan berlari ke belakang boneka itu lalu memotong udara tepat di punggung boneka sabit itu.


"Hoh? Jadi dia juga menyadarinya ya?" Rigel bergumam kagum, tidak menduga bila Alexander juga menyadari hal yang sejak lama dia sadari.


Sesuatu yang tidak dapat di lihat Garfiel ataupun Leo, sebuah benang sihir yang terbuat dari Mana alam atau kekuatan peri, sehingga hanya orang-orang dengan tingkatan khusus yang dapat melihatnya. Selain Rigel dan Alexander, nampaknya tidak ada diantara penonton yang menyadarinya selain pembawa acara bertopeng itu. Sepertinya sebagai pembawa acara, dia memiliki kemampuan yang cukup memumpuni.


"Wah, wah, wah, wah! Diluar perkiraan, Alexander dapat menghentikan pergerakan boneka Pilar Iblis Marionette dengan memotong suplai energinya! Benar-benar petarung veteran yang banyak


mempertaruhkan nyawa di medan tempur!"


"Whoaa!"


"Seperti yang di harapkan dari Sang Pengutuk!"


"Namun, dia belum melancarkan satupun pukulan kepada Pilar Iblis."


Meskipun dia berhasil memutus pasokan Mana kepada salah satu boneka, keunggulan jelas terletak kepada Marionette yang masih tak bergeming dari tempatnya berdiri sejak awal.


"Sepertinya keadaan mulai berbalik, bagaimana menurutmu ay—Matsu?"


Leo hampir keceplosan, nampak jelas dia tidak terbiasa menggunakan panggilan lain selain ayah. Tentu Rigel mengabaikan, selama Garfiel tidak mendengarnya, karena masih ada kebutuhan besar menjaga identitasnya.


"Tidak. Menurutku justru Alexander sudah mengalami kebuntuan dan tidak tahu menahu hal apa lagi yang harus dia gunakan, selain mengungkap kartu trufnya. Tentu saja jika dia memilikinya."


"Aku setuju, bahkan aku sama sekali tidak melihat celah untuk menyerang darinya. Bukti bahwa Marionette tidak berpindah tempat sedikitpun sudah cukup bahwa dia bisa mengalahkan Alexander tanpa bersusah payah." Bahkan Garfiel yang memiliki pengalaman bertarung di Fight To End setuju.


Jelas bahwa Marionette hanya sedang bermain-main dan melakukan pemanasan dengan Alexander. Tentunya dia juga menyadari dan merasa kesal akan menjadi bahan pemanasan Marionette.


"Aku tidak ingin menggunakan metode ini, namun tidak ada pilihan lain! Transform!"


Tubuhnya mulai mengeluarkan sinar merah dan dipenuhi kemarahan. Rigel berpikir bahwa itu semacam seri dosa kutukan kemarahan sepertinya, namun milik Alexander jauh lebih rendah dari milik Rigel.


Marionette menarik satu boneka tersisa untuk melindunginya, namun itu hanya rekayasa bahwa sejujurnya dia menantikan apa yang akan terjadi. Alexander mengumpulkan kekuatan di kedua tinju dan melesat secepat laju peluru api.


"Rasakan ini, Kemarahan Naga!"


Cahaya kemerahan membentuk kepala Naga bersamaan dengan Alexander yang melesat cepat. Marionette tidak melakukan hal khusus seperti rindak penaganan serangannya dan untuk pertama kalinya semenjak memasuki arena... Dia tersenyum dan berbicara.


"Membosankan..."


Mengatakan itu, dia mengulurkan tangan kanannya dan menembakan ledakan Mana yang dahsyat ke arah Alexander. Saking besarnya daya ledaknya, kawah terbentuk di arena, menyisakan Alexander terbaring tidak sadarkan diri di tengah kawah.


Hasilnya sudah sangat jelas sedari awal. Batin Rigel.


"Hehe, hehehe... Bagus, bagus sekali, bukannya bagus, tentu bagus, barangkali bagus, bisa jadi bagus, karena itu mungkin bagus! Permainan barusan cukup menyenangkan, sangat menyenangkan, tentunya menyenangkan karena akan menyenangkan!"


Kepribadian sebenarnya Marionette terungkap, dari cara bicara hingga senyuman yang terbentuk pada boneka gadis kecil itu sangat gila. Pilar iblis Marionette, dia diluar perkiraan Rigel dan hanya ada satu kata yang dapat menggambarkan sosoknya, yaitu "Kegilaan!".