The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Tujuan Akhir



"Ugh..., dimana aku...??"


Begitu dia membuka matanya, rasa sakit di sekujur tubuh menyerangnya tanpa ampun. Seluruh tubuh serasa diremas oleh sesuatu yang misterius, lantas tiada hal yang dapat dilakukan selain diam dan menikmati rasa sakit yang dideritanya.


"Akhirnya anda telah sadarkan diri, Pahlawan Ozaru..," seru seorang gadis.


Ozaru memandangnya, menemukan Natalia, Garfiel, Odin dan Gahdevi berada bersamanya. Seharusnya mereka tidak ada di tempat, mengingat Rigel memerintah mereka menjauh dari lokasi. Seharusnya sangat tidak mungkin bagi Natalia melanggar perintah Rigel, terkecuali terdapat sesuatu yang menahannya atau mungkin, pertarungan sudah selesai??


"Berapa lama..., aku tidak sadarkan diri??"


"Seharusnya sudah lewat setengah jam semenjak anda pingsan dan saat ini, nampaknya Pahlawan Rigel, Pahlawan Tombak dan busur tengah melawan White Tiger. Mereka bertarung berimbang, masing-masing tengah mencari celah satu sama lain."


Yang berarti semuanya belum selesai, ya..., batin Ozaru. Bila begitu, maka dia tidak dapat bersantai di sini, tempat yang dengan anehnya tidak memiliki apapun selain dinding keunguan. Dia tidak ingat ada tempat ini di Region atau disekitar, lalu dimana ini??


"Bila anda penasaran dengan tempat ini, saya akan menjelaskannya. Saat ini kita tengah berada di celah dimensi, sebuah ruang kecil antara gerbang masuk dan gerbang keluar dari sihir Spatial milik saya."


Sedikit banyaknya, Ozaru memahami sampai garis tertentu. Singkatnya, ini adalah sebuah ruang kecil diantara portal yang dibuat Natalia dengan sihir Spatialnya.


"Begitu, jadi bisa disimpulkan kita aman di sini??"


"Ya. Namun kita tidak dapat keluar dari tempat ini. Entah untuk alasan apa, saya tidak bisa menghubungkan portal keluar, hanya portal masuk yang dapat saya gunakan. Saya berhipotesis bahwa terdapat penghalang ditempat ini, misalnya Territory."


Mari perjelas, kendati portal keluar mengarah ke Region dan portal masuk berada di dalam kabut White Tiger. Lantas, untuk beberapa alasan Natalia tidak dapat membuka pintu keluarnya sehingga saat ini mereka nampak hanya berada di depan pintu keluar, lebih tepatnya tengah-tengah antara pintu masuk dan keluar.


"Selain itu, kabut ini mengingatkan saya tentang kampung halaman saya, lembah raksasa yang telah lama hancur. Kampung halaman saya juga memiliki kabut sejenis, namun itu hanya berfungsi untuk menyesatkan penyusup. Namun kabut putih milik malapetaka nampaknya juga berguna menghalau berbagai sihir seperti Teleportasi dan gerbang Spatial," Gahdevi menambahkan.


"Akupun setuju, namun bila mengamati kembali pertarungan Pahlawan tongkat, terdapat sesuatu yang aneh pada monster itu. Dia seakan tidak bisa mati bagaimanapun caranya," Odin juga ikut mengemukakan pendapatnya.


Memang benar bahwa White Tiger benar-benar tidak mati dengan serangan hebat Ozaru. Mungkin itu akan menjadi ketiga kalinya dia lolos dari kematian, bila menambah Rigel yang pernah membunuh White Tiger diparuh awal. Namun, fakta bahwa mereka menyaksikan pertarungannya tanpa ketahuan cukup mengagumkan. Lantas keamanan tempat ini dapat dijamin.


"Maksudmu, abadi??" tanya Leo, nampak jelas kengerian di wajahnya.


"Ya, namun bukan berarti tidak ada cara untuk membunuhnya."


Natalia dan Gahdevi mengangguk terhadap pernyataan Odin. Jika memang White Tiger abadi, maka tidak perlu diragukan bahwa dia akan secara aktif merusak dunia tanpa kekhawatiran apapun. Namun dia tidak melakukannya, pasti ada hal yang menahannya sehingga tidak bisa melakukannya.


Selagi mendengar pembicaraan mereka, Ozaru mulai teringat tentang pohon besar yang berada di tempatnya. Entah benar atau tidak, namun dia meyakini terdapat sesuatu di sana. Tebakannya bukan tanpa dasar, dia ingat bahwa White Tiger seringkali muncul dari dekat pohon itu.


Hal itu patut di curigai, lalu disaat terakhir sebelum kesadarannya melayang. Saat Ozaru mengamati pohon itu, White Tiger nampak mencegahnya menyelidiki lebih lanjut. Justru hal itu menjadi penguat bahwa terdapat sesuatu di sana.


"Kalian..., cobalah beritahukan hal ini kepada Rigel..., sesuatu, terdapat sesuatu di pohon besar itu. Mungkin, itu dapat menjadi pemecah misteri, dibalik keabadiannya."


"Pohon?? Maksud anda pohon besar yang berada di lokasi pertarungan??"


"Ya..., entah bagaimana, aku dapat mendengar detak jantung berasal dari sana. Cobalah untuk sampaikan itu kepada Rigel..."


Puas karena telah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Ozaru akhirnya terlelap tidur. Dikarenakan tak kuasa lagi mempertahankan kesadaran dan rasa sakit yang menyiksa tubuhnya.


[***]


Clang!!


Takumi dan White Tiger saling menghantam, membiarkan senjata tajam mereka bertemu satu sama lainnya. Pertarungan tidak lagi terhentikan, hanya kematian yang dapat mengakhiri pertikaian diantara mereka.


Pertarungan mereka begitu sengit, Takumi bahkan berusaha sekuat mungkin untuk menyamai kecepatan White Tiger yang tidak masuk akal. Buyar sedikit saja konsentrasinya, tidak terelakan bila dia mendapatkan luka yang cukup buruk.


Yuri dan Rigel memberikan dukungan dari belakang. Alasan Rigel tidak ikut membantu di garis depan karena dia mungkin akan menghambat Takumi yang memerlukan fokus kuat untuk mengimbangi White Tiger tanpa menggunakan kutukan.


Yah, bukan berarti Rigel berada dalam kondisi tidak dapat mengimbangi pertarungan mereka. Namun dalam keadaan ini dia lebih cocok sebagai pembantu jarak jauh, sekaligus melindungi Yuri yang sangat rentan terhadap serangan jarak dekat. Selain itu, Rigel juga memilih menggantikan peran Hazama untuk menahan segala serangan dan membiarkan Takumi bertarung secara leluasa.


"Tusukan beruntun!!"


Takumi mengirimkan empat tusukan cepat, namun dengan lihai dihindari White Tiger, tanpa banyak mengalami kesulitan. White Tiger hendak mengeluarkan serangannya, namun dengan kerja sama yang tepat Rigel dan Yuri berhasil mengganggu White Tiger untuk tidak menggunakan serangannya.


White Tiger berdecak kesal, namun Takumi tidak akan memberikannya waktu untuk mengucapkan serangakaian kutukan. Tanpa jeda sedikitpun, Takumi memutar tombak dan mengayunkannya secara vertikal. Meski White Tiger dapat menghindarinya, namun dia memilih maju dan memukul mundur Takumi dengan memberikan tendangan kuat di dada.


"Takumi!! Kau baik saja??"


Rigel langsung mengambil langkah defensif terhadap Takumi yang terdorong mundur dan penuh celah. Dari yang terlihat, nampaknya pukulan White Tiger tidaklah main-main dan sangat berbahaya, bahkan tanpa cakarnya sekalipun.


Takumi memegang dadanya selagi mengerang kesakitan, wajahnya sendiri terlihat sangat menderita karena rasa sakit yang dideritanya. Dirinya hampir tidak dapat berdiri sebabnya, namun dia melakukan yang terbaik untuk kembali bangkit dan bertarung.


"Ya, nampaknya beberapa tulang rusukku patah, namun ini tidak akan menggangu pertarunganku."


Apanya yang baik-baik saja, tadinya dia ingin mengatakan itu. Namun mengingat kondisi mereka seperti ini, patah tulang rusuk masih dapat ditoleransi.


Namun tetap saja, Rigel penasaran mengapa White Tiger nampak sama sekali tidak melemah atau kelelahan sedikitpun. Dia memiliki keyakinan bahwa Ozaru bertarung dengan sungguh-sungguh dan seharusnya lebih dari mampu memberikan kerusakan berat kepadanya. Namun, kekuatan White Tiger sama sekali tidak berbeda dari awal, malah nampaknya serangannya jauh lebih kuat.


Meski White Tiger tidak lagi secepat cahaya, namun dia masih terbilang cepat. Keuntungannya adalah kecepatannya saat ini dapat diikuti Takumi dan Yuri, hal itu patut disyukuri.


"Dari semua pertukaran itu, dia nampak baik-baik saja. Apa yang harus kita lakukan??"


Yuri juga memperhatikan anomali monster yang berada di depannya. Dia tahu bahwa Takumi tidaklah lemah, namun dia seakan tidak ada apa-apanya dihadapan White Tiger. Belum lagi, seharusnya Rigel telah memberikannya kerusakan buruk diawal, namun nampaknya jejak kelelahan tidak tampak pada White Tiger.


Membunuhnya lebih sulit ketimbang Tortoise, hal itu tidak terbantahkan kali ini. Namun, entah mengapa Rigel tidak terlalu setuju dengan gagasan itu.


"Karena hal itulah aku membenci manusia yang sulit disingkirkan seperti kalian. Lantas tidak ada lagi keraguan untuk mengeluarkan kekuatan penuh."


"Heh!! Sejak awal kau berkata untuk serius, namun nyatanya seriusmu tidak kunjung datang," Takumi mengejek selagi memasang kuda-kuda ofensif.


Rigel hendak memperingati, bahwa perkataanya barusan dapat membangkitkan flag yang tidak diperlukan. Namun sayangnya hal itu sudah terlambat.


"Tidak, kayaknya. Kali ini aku benar-benar serius, cobalah untuk tida mati."


Lantas sesuai perkataannya, ratusan pasukan macan muncul dari pohon besar di belakangnya dan siap mengoyak tubuh mereka dengan taring tajamnya itu. Meski mereka nampak lebih lemah, namun satu dari mereka kemungkinan setara dengan lima petualang pemula.


"Kau puas setelah membangkitkan flag kehancuran??" tanya Yuri dengan sedikit sinis dan geram.


"..., aku tarik kembali kata-kataku."


Yah, bahkan menariknya tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi. Setidaknya kini mereka perlu melakukan penanganan terhadap pasukannya.


"Yah, mau tidak mau memang harus kulakukan, ya. Kalau begitu..., Bangkitlah."


Suara yang dingin disertai perintah diserukan kepada pasukan kematian yang senantiasa menunggu panggilan tuannya di alam baka. Corps hitam, pasukan terkuat dari tentara kematian yang dimiliki Rigel, para Naga campuran. Meski jumlahnya lebih sedikit dari pasukan macan, namun untuk saat ini sudah cukup.


Tentunya Rigel memiliki yang lebih kuat lagi, namun semakin kuat yang dipanggil semakin banyak Mana yang diperlukan. Kendati dia memanggil Hydra, maka tidak ada energi baginya untuk ikut bertarung. Setidaknya dia membutuhkan waktu 15 menit untuk mengumpulkan energi alam, namun tentunya White Tiger tidak sebodoh itu untuk membiarkannya.


"Ini..., prajurit yang kau gunakan saat invasi iblis, ya," gumam Takumi dengan terkejut.


"..., dari mana kau mendapatkan kekuatan semacam ini, Rigel??"


Bahkan jika dia bertanya, Yuri tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang diinginkan. Sama halnya tentang pertanyaan satu tahun yang Rigel lalui di dasar jurang.


"Undead Knight..., begitu, Necromancer, kayaknya. Sebagai Pahlawan yang dianggap suci oleh manusia, kau memiliki kekuatan yang mengerikan. Kau tidak akan pernah pergi ke surga, kau akan bersama kami pendosa ke neraka. Nampaknya memang tidak salah bila kau menjadi prioritas utama untuk dibunuh."


"Aku tidak pernah mengatakan diriku suci, salah mereka yang beranggapan seperti itu."


Lagipula Pahlawan adalah manusia yang menodai tangannya dengan darah demi manusia lainnya, lantas tidak ada hal yang patut dianggap suci selain tujuan yang mulia itu.


"Tidak sekalipun aku menganggap diriku suci, bahkan tidak sekalipun diriku berpikir menuju surga."


Karena surga adalah tempat untuk manusia suci yang terbebas dari dosa, berbeda dengan neraka yang merupakan tempatnya kebatilan. Lantas Rigel yang paling mengenal dirinya sendiri ketimbang orang lain menyadari bahwa dia sama sekali tidak memiliki kualifikasi ke sana. Maka dari itu, tujuan akhirnya telah ditentukan.


Meski tahu tujuan akhirnya adalah neraka, mengapa dia tetap bertarung? mengapa dia tetap berdiri di garis depan?? padahal dia tidak akan mendapatkan tempat seindah surga, jadi seharusnya tidak ada yang mendorong dirinya untuk bertarung lebih jauh.


"Karena aku tahu tidak pantas pergi ke surga, maka aku akan menumpuk lebih banyak dosa dan kebahagiaan sebelum pergi ke tempat selanjutnya..., sekarang Takumi!!"


"Terima kasih atas waktunya!! Tombak Penghakiman!!"


Sebuah tombak raksasa yang mampu memotong dimensi ruang jatuh dari angkasa dan jatuh langsung menuju White Tiger. Kendati dia melarikan diri ke tempat jauh, namun Tombak Penghakiman Takumi tidak akan membiarkan mangsanya lolos, bahkan jika harus mengejar sampai ke ujung dunia.


"Hand Of Midas...," Rigel menggunakan tangan Mana keemasannya untuk menahan White Tiger, mencegahnya berlari menuju Rigel dan yang lain untuk bunuh diri bersama.


"Panah Kehancuran!!" Yuri di lain sisi menembakan panah cahaya raksasa dan meledak langsung begitu menyentuh White Tiger.


"Brengsek, hal seperti ini tidak akan cukup!! Kemarahan Raja!!"


Dia mengaum, melepaskan tangan Mana Rigel dan berniat menghancurkan langsung serangan Takumi dengan kekuatan penuh. Bila dia berhasil melakukannya, maka buntu sudah rencananya dan hanya tersisa menggunakan kekuatan penuh Yuri saja.


Kergh!! Jika saja Misil dan Nuklir mampu menembus Territory..., batinnya.


Memang disayangkan bahwa dia tidak dapat mengirim senjata modern dikarenakan tengah berada dalam Territory dan juga, kordinasinya saat ini tidak diketahui. Lagipula terlalu beresiko menggunakannya, barangkali itu meledak tepat di tempat Pahlawan berada.


White Tiger mengulurkan tangannya ke jalur jatuhnya tombak, energi terkumpul dalam jumlah besar diantara kedua telapak tangannya. Dengan kekuatan sebesar itu, tidak perlu diragukan lagi serangannya akan gagal. Selain itu, pasukan macan nya tidak tinggal diam saja dan berkumpul disekitar untuk meminimalisir kerusakan. Rigel berpikir itu aneh, karena mereka tidak nampak melindungi White Tiger, namun sesuatu yang lainnya.


Rigel mencurigai pohon besar di belakang para White Tiger, dikarenakan padukan macan seolah membuat barikade untuk melindunginya.


"Ikat dia!!"


Suara gadis datang dari sisi lain, begitu menoleh dia menemukan Merial yang datang bersama Ray dan Petra. Bala bantuan yang sungguh mengejutkan dan datang di waktu yang tepat. Merial dengan sigap melilit dan menarik salah satu lengan White Tiger untuk menghindari dia menghancurkan tombak Takumi.


Kurang ajar!!"


White Tiger memberontak sampai akhir dan tetap kukuh untuk menghancurkannya. Merial saja tidak cukup kuat untuk menahan kekuatan gila White Tiger, lantas yang dapat dilakukannya hanya membeli waktu beberapa detik lagi.


"Gravity Down!!"


Teriakan lain kembali bergema dan kali ini regu terakhir yang berisikan Marcel, Nadia dan Aland bergabung. Dengan menghantamkan palunya, Aland membuat gravitasi disekitar White Tiger memberat hingga membuatnya berlutut.


Tombak Takumi membelah dimensi ruang, hingga akhirnya muncul tepat di atas kepala White Tiger dan mengguncang seisi Territory, hingga cukup kuat untuk memberikan kerusakan besar kepada Territory kabut keabadian ini.


Hal ini kesempatan yang langka. Sebelum Territory nya kembali diperbaiki, ada baiknya Rigel menghancurkannya. Lagipula Ozaru telah absen dari pertarungan, sehingga tidak perlu khawatir akan sinar bulan.


"Kalau begitu kita lakukan ini...," dengan tangan kanannya, dia mengumpulkan seluruh Mana alam dengan kecepatan gila dan mengulurkan tangan ke langit.


Senyuman terbentuk di bibir, lantas dia akan menggunakan teknik Manipulasi Mana yang jarang dia gunakan, " Mana..., Explode!!"


Ledakan besar kembali terjadi. Yang satu berkat tombak yang menghantam bumi dan yang satunya lagi berkat bola Mana yang menghantam dinding Territory.