
Begitu menyelesaikan pembicaraan dengan Sylph, Rigel memutuskan tuk kembali ke Region. Hari sudah gelap begitu dia kembali dan nampaknya semua orang sudah berkumpul. Bahkan Asoka telah menyiapkan apapun yang mungkin dibutuhkan.
Mengenai para budak yang Rigel bawa, nampaknya tidak perlu ada yang dikhawatirkan karena Tirith dan Natalia mengkoordinasikan mereka dengan baik. Dia tentu bersyukur, dapat memiliki rekan yang bekerja dengan baik secara gratis.
"Sepertinya para Pahlawan itu telah tiba. Mungkin aku harus menarik tarif bila mereka ingin bersenang-senang di sini."
Mari pikirkan itu nanti, saat ini Rigel memilih menyegarkan diri di pemandian yang lama dia tidak lakukan. Keadaan memang mendesak, namun bukan berarti dia tidak dapat memanjakan dirinya beberapa saat sebelum pertemuan dan pertempuran.
Begitu dia membuka pakaian dan masuk ke pemandian, Rigel menemukan wajah yang tidak terduga.
"Yo, tidak ku sangka kau datang."
"Hal bodoh apa yang kau ocehkan, ini negaraku, sudah sepantasnya aku tinggal di sini."
Di sana, dia menemukan Takumi, Ray, Marcel, Aland dan Ozaru tengah berendam di air yang dingin itu.
Rigel menghela nafas panjang dan ikut berendam bersama mereka. Sesekali tidak apa berendam bersama pria dan membahas hal diluar pertarungan.
"Meski ini air dingin namun tetap terasa nyaman. Seandainya saja ada Onsen di sini~," ujar Takumi, menenggelamkan seluruh tubuh selain kepalanya.
Onsen, mungkin yang dia maksud adalah pemandian air panas. Yah, Takumi berasal dari jepang, berbeda dengan Rigel yang berasal dari Indonesia. Dia belum pernah merasakan seperti apa pemandian air panas, namun dia tertarik membuatnya.
"Akan kupikirkan itu nanti. Jika kau ingin pemandian air panas, maka aku dapat menjadikannya panas," dia menciptakan bola api di tangan kanannya dan merendamnya di air untuk mengubah suhunya.
Saat suhu air meningkat, wajah mereka berubah dan nampak sangat menikmatinya. Melihat itu, Rigel sedikit kesal dan memanaskannya lebih jauh lagi.
"Woyy! Terlalu panas! Apa kau berniat merebus kami?!!" Marcel berteriak selagi melompat dari bak mandi.
"Yah, kesampingkan itu. Aku tidak menduga kalian datang secepat ini."
"Yah, kesempatan langka untuk mengunjungi negaramu. Sesekali tidak apa bersantai, kan," Aland menjawab selagi bersandar di tepi.
"Selain itu, aku tidak menduga akan ada kesempatan dimana kita dapat berbicara dengan santai, seperti halnya yang dilakukan anak muda normal seperti kita," Marcel menambahkan.
Jika di lihat dari umur, mereka memang nampaknya tidak memiliki perbedaan besar. Tahun ini Rigel akan menginjak umur 20 tahun.
Mereka saling bersandar di tepi kolam air terjun, menatap langit malam yang dihiasi sinar bintang. Tidak akan ada yang tahu apakah mereka dapat melihat langit malam seperti ini lagi.
Rigel sendiri tidak menyangka, akan tiba hari dimana mereka dapat melakukan pembicaraan santai seperti ini. Kali ini dia tidak perlu menjaga jarak dengan yang lain. Dikarenakan dirinya sudah memastikan bahwa tiada penghianat yang sama seperti Takatsumi.
Absennya Hazama memang disayangkan, namun patut disyukuri bahwa mereka bertahan sejauh ini. Nanami, Argo dan Takatsumi adalah Pahlawan yang gugur dalam pertarungan, begitulah yang akan dikatakan pada dunia. Meski tentang kebangkitan Pahlawan belum disebarkan, hanya masalah waktu sampai itu terjadi.
"Aku berpikir apakah kita dapat berkumpul seperti ini, setelah semuanya selesai," Takumi bergumam lirih.
Mengecualikan Ray, mereka adalah orang-orang yang dipanggil dari dunia yang sama, meski dengan garis waktu dan dimensi berbeda. Selain Ozaru, hampir semua orang datang dari zaman modern. Mereka dapat dikatakan sahabat dari dunia yang sama.
"Ya, pertarungan semakin sulit dan sulit. Aku berharap ini semua berakhir," Ray ikut bergabung dan setuju dengan Takumi.
Mengingat pertarungan selama ini, semakin lama semakin sulit. Situasi yang dihadapi Pahlawan kini tidak lagi semudah membalikan telapak tangan, justru sesulit membalikan sebuah mobil dengan telapak tangan.
Dimulai dari Tortoise, pertarungan semakin parah dan kacau. Invasi iblis meninggalkan cukup banyak luka yang diderita, menaklukkan Phoenix juga benar-benar bukan perkara mudah. Lalu kini, mereka harus berhadapan dengan White Tiger, Naga dan bahkan sosok misterius yang menculik Priscilla.
"Aku penasaran, akan ada berapa banyak dari kita setelah pertarungan akhir," ujar Ozaru yang menyandarkan kepalanya menggunakan tangan.
"Ragnarok, ya," Marcel melengkapi.
Entah kapan itu terjadi, namun peperangan itu sudah pasti akan terjadi. Peperangan yang melibatkan manusia, iblis dan malaikat..., tentunya akan menjadi perang terbesar yang belum pernah ada di dunia.
Rigel hampir tidak pernah memikirkannya karena dia tidak memiliki niat untuk kembali. Mau bagaimanapun, tidak ada bedanya baginya apakah kembali ke bumi atau tidak. Di bumi, Rigel hampir tidak memiliki apapun untuk dikasihi. Panti asuhan yang merawatnya begitu kejam, membuat masa kecilnya seperti neraka.
Berbeda dengan di bumi, kehidupan Rigel di dunia ini cukup baik, meskipun awalnya sangat pahit dan tidak menyenangkan. Dia harus dikhianati dan berjuang menaklukkan Labyrinth dan berperang melawan rekannya selama hampir 100 tahun lamanya. Begitu keluar dan menyelesaikan pelatihannya, dia harus mengumpulkan pasukan dan melawan Hydra demi pembebasan pulau Yurazania yang kini menjadi wilayah Region.
"Memangnya kau ingin kembali ke bumi??" Rigel bertanya kepada Aland.
"Sejujurnya, tidak. Kehidupanku di sana sungguh buruk sampai-sampai aku muak dengan diriku sendiri. Namun, yah, begitulah. Aku bersyukur dapat datang ke dunia ini dan ingin menetap sampai kematian menjemput."
Yang lainnya juga tidak perlu dipertanyakan. Mereka nampak sepemikiran dengan Aland, karena sama halnya dengan Rigel. Mereka tidak memiliki apapun untuk dikasihi di sana. Sehingga tidak ada kebutuhan untuk mereka kembali ke bumi.
"Yah, jika begitu berjuanglah sekuat tenaga untuk tidak terbunuh dan memenangkan peperangan," Rigel menambah.
Ozaru terkekeh dan setuju dengan Rigel, "Kau benar. Tidak akan ada yang berakhir jika tidak ada yang mengakhirinya."
Mereka bersama-sama sedikit tertawa dan menekankan kuat-kuat tekad untuk tetap hidup demi berkumpul dan merangkul tangan sebagai sahabat.
"Omong-omong...," Takumi menyela, "Aku tidak berniat membahas ini, namun akan kukatakan. Bagaimana caramu membesarkan milikmu sampai seukuran itu, Rigel??"
Takumi menatap ************ Rigel dengan tertarik, bukan dalam artian lain. Dia penasaran dengan ukurannya yang lebih besar dari yang lain.
"Geh! kupikir apa yang ingin kau bicarakan, namun rupanya tentang itu, toh. Yah, meski konyol, sejujurnya aku tertarik mendengarkan," Marcel ikut bergabung bersama Takumi. Bahkan Aland juga nampaknya tertarik karena miliknya adalah yang paling kecil.
Ray dan Ozaru di sisi lain hanya cekikikan melihat Rigel yang bermasalah dengan tiga orang idiot itu.
"Kupikir sikap konyol kalian telah menghilang, namun nyatanya tidak," Rigel berkata dengan lelah, "Namun akan kuberitahu," Takumi dan yang lain mendekat kepada Rigel agar tidak tertinggal satupun perkataannya.
"Yang kecil tetaplah kecil, karena milik kalian sudah ditakdirkan untuk kecil sampai kulitnya keriput," tentunya Rigel tidak tahu bagaimana cara memperbesarnya, karena itu besar dengan sendirinya.
Mendengar hal itu, mereka bertiga berdiri dengan marah, terutama Aland yang miliknya terlihat menyedihkan.
"Kau bajingan! Jangan menjadi sombong hanya karena memiliki T-rex yang menggantung loyo itu!!" ujar Aland dengan Nada kencang.
"Itu benar! itu benar! Bagi kita para pria, kebesaran tombak kejantanan sama dengannya harga diri terbesar kita!! Jika kau tahu cara ampuh memperbesarnya, maka katakan sekarang!!" bahkan Marcel bertingkah konyol.
"Jika kau tidak mengatakannya, aku akan mengumbar aib tentang anu mu yang hampir terbakar!!"
Mungkin yang dimaksud Takumi adalah kejadian saat pertama kali mereka menghadapi Naga. Waktu itu Rigel benar-benar lemah, sehingga diaa melakukan hal berbahaya dengan menggunakan batu peledak untuk meledakan Naga. Pada akhirnya, dia juga terkena imbas dan membuat itu hampir terbakar.
"K-Kau!! Baiklah, baiklah kampret sialan!! Kalian onani saja menggunakan cabai sampai lumpuh dan kujamin itu akan membesar!"
Tentunya itu bukanlah jawabannya. Jika mereka melakukan itu, neraka akan menghampiri mereka dan hal itu tidak patut untuk dicoba.
"Dasar, membicarakan itu hanya membuat kepalaku sakit. Aku akan kembali duluan. Kalian jangan terlalu lama karena akan ada rapat penting nanti," Rigel tidak benar-benar kesal dan memberikan sedikit senyumannya.
Mereka membalas senyuman Rigel dengan ramah. Meski memang terlihat konyol, namun begitulah adanya teman lelaki. Terkadang mereka akan melakukan hal gila dan konyol, namun justru itu menjadi arti penting dari persahabatan diantara pria.
Sebagai catatan, dibalik pemandian pria, terdapat dinding yang menghalangi pemandian pria dan wanita. Mereka tidak menyadari, bahwa para gadis-gadis merapatkan telinga di dinding untuk menguping pembicaraan bodoh mereka.
"J-Jadi Rigel yang terbesar. Kau pasti mengalami masa sulit saat melakukannya, ya Tirith," Yuri bergumam.
Mendengar itu Tirith dengan cepat merona dan berusaha menyangkalnya, namun gagal. Dia berjongkok untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah padam.
Hari semakin larut dan udara dingin mulai menusuk kulit. Semua memutuskan untuk menyudahi mandi mereka dan saatnya menghadiri rapat di ruang pertemuan.