
Gahdevi berubah menjadi raksasa berotot dengan tampang sangar dan beringas. Tidak akan ada yang pernah menduga, bahwa orang yang terlihat penuh energi dan penyayang seperti Gahdevi nyatanya adalah seorang raksasa.
Rigel tentu tertarik menjadikannya bawahan seperti Odin, namun kesetiaan Gahdevi akan dipertanyakan.
"Huaarghh!!"
Gahdevi memukul mundur Marionette dan bertarung sengit dengannya. Sering kali Marionette mengirimkan ratusan bilah pedang dan ledakan Mana untuk melukai Gahdevi, namun luka yang dibuat berhasil pulih dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Meski tahu bahwa kekuatan fisik tidak akan berguna terhadap Marionette, tujuan Gahdevi terpampang jelas. Dia berniat membeli waktu untuk Rigel memikirkan cara membunuh Marionette atau mengulur untuk bala bantuan tiba.
Setidaknya, jika dia berhasil memperkecil tubuh Marionette. Aku dapat mengatasinya dengan dominasi Void, tapi...,
Dia memandang Gleipnir Chain milik Gahdevi dan mengambilnya. Kekuatannya sangat besar, dapat dipastikan bahwa Gleipnir barang tingkat tinggi, God tier.
Hmm? Energiku perlahan tersedot oleh rantai ini..., batinnya.
Rigel melilitkan rantainya ke tangan kanannya dan bersamaan dengan itu, rune Void menghilang. Sungguh sebuah kejutan bahwa Void yang merupakan eksistensi kemustahilan dapat disegel oleh Gleipnir Chain. Rigel melepaskan rantai di tangannya dan rune Void kembali menyala.
"Jadi begitu. Aku telah memahami mekanismenya."
Jika rantai ini sendiri dapat menyegel Void, maka bukannya mustahil untuk menyegel jiwa. Ide cemerlang tumbuh di kepalanya. Mungkin bagus mencoba memanfaatkan rantai itu untuk mengalahkan Marionette.
"Rigel!"
Sebuah suara yang dia sudah akrab mendengarnya muncul. Dia menoleh ke sumber suara dan menemukan Asoka dalam wujud Beastman bersama dengan Odin.
"Bagaimana dengan tentara dan para budak?"
Tidak perlu mempertanyakan alasan mereka datang ke sini. Sudah jelas bila mereka datang sebagai bala bantuan. Karena itu, Rigel lebih memilih menanyakan tentang kondisi para budak.
Bukannya dia benar-benar perduli terhadap mereka yang bahkan tidak dia ketahui namanya. Namun akan sangat disayangkan bila kehilangan mereka. Dimasa depan, mereka akan menjadi sumber daya tak tergantikan.
"Aku telah menyuruh Leo dan para tentara mengawal mereka kembali ke Region, menggunakan Lift teleport. Aku yakin langsung pergi ke Region adalah jalan aman untuk keselamatan," ujar Asoka selagi menatap pertarungan dua raksasa. Dia mungkin terkejut dengan kenapa ada dua raksasa, namun memilih menanyakannya nanti. Selama tahu bahwa sala satunya adalah kawan, maka sudah cukup.
Kembali ke Region bukanlah pilihan buruk, justru itu keputusan bagus. Namun kekhawatiran adanya mata-mata diantara mereka tidak bisa lepas dari kepalanya. Bahkan jika hanya ada satu, dia tidak bisa membiarkannya lepas begitu saja.
Karena Ozaru ada di sana, mungkin aku tidak perlu khawatir. Selama dia memantau pergerakan aneh, maka semua akan baik saja..., batinnya selagi menghela nafas.
"Baiklah. Kalian datang tepat waktu, selagi Gahdevi membeli waktu, kita akan membahas rencana untuk melawan Marionette."
"Raksasa itu Gahdevi?! Aku tidak pernah menduga bahwa dia adalah ras raksasa yang sama langkanya dengan Hakurou dan Yurazania clan."
Rigel tidak pernah tahu bahwa ada ras raksasa. Dia akan meminta rincian lebih lanjut terhadap hal itu.
"Kesampingkan hal itu, apa rencananya?"
Rigel mengangguk terhadap pertanyaan Asoka dan menunjukan rantai di tangannya.
"Kita akan menggunakan rantai ini untuk menyegel jiwa Marionette tetap di dalam wadahnya. Rantai ini bernama Gleipnir, awalnya ini sesuatu yang digunakan Gahdevi yang nampaknya untuk mempertahankan wujud humanoidnya. Aku telah menguji rantai ini dan benda ini berhasil menyegel rune biru di tanganku. Jadi, ada kemungkinan 100% bahwa jiwa Marionette tidak dapat meloloskan diri."
Void adalah kekuatan yang eksistensinya sebuah kemustahilan. Namun Gleipnir mampu menyegelnya, itu sendiri sudah cukup hebat. Entah Void bisa melenyapkan Gleipnir atau tidak, namun Rigel tidak berniat mencaritahu.
"Jadi, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membiarkan dua raksasa itu bertarung habis-habisan dan membuat ukuran Marionette lebih kecil untuk mempermudah dominasiku."
Rencananya sangat simple, namun efektif. Bagian sulitnya adalah memasangkan rantai di tubuh Marionette. Karena itu dibutuhkan keadaan dimana Marionette tidak dapat memberikan perlawanan berarti.
"Aku mengerti. Lalu, kita mulai saja?"
Rigel mengangguk terhadap tanggapan Asoka dan dengan senang melompat maju. Mereka bergabung dalam pertempuran dua raksasa, namun tetap berada di posisi aman.
Marionette saling menghantamkan tinju dengan Gahdevi. Pada kesempatan itu, Rigel mengambil kesempatan dengan melemparkan Asura Punch dan sedikit menghancurkan pergelangan tangan Marionette.
"Huuuarrgh!!" Gahdevi mengaum dan menghancurkan tangan Marionette.
"Kalian para babi, selalu, selalu dan selalu saja mengganggu!!"
Marionette hendak melakukan serangan balasan, namun secara mengejutkan tubuhnya goyah, hampir kehilangan keseimbangan. Di sana, terdapat Asoka dan Odin yang menyerang kedua kaki Marionette.
Asoka menggunakan cakar tajam nan kuatnya untuk menghancurkannya, sementara pedang Odin cukup mampu menebas kakinya. Mendapati kesempatan itu, Gahdevi melingkari tangannya di tubuh Marionette dan mendorongnya kembali ke tanah dengan kuat.
BOOM!!
"HAAAAA!!"
Asoka berteriak dan menciptakan gelombang suara tajam yang menghancurkan lengan Marionette. Di lain sisi, Odin berputar secara vertikal dan memotong habis lengan lain Marionette.
"Kalian babi benar-benar bodoh! Bahkan jika kalian menghabiskan seumur hidup menghancurkan tubuhku, aku tidak akan mati, Hahaha!!"
"Tentu saja kami tahu," Rigel berlari melalui punggung Gahdevi dan melompat setinggi mungkin.
Begitu menyadari Rigel hendak melakukan sesuatu, Gahdevi, Asoka dan Odin langsung menjauh dari Marionette. Rigel memutar Gleipnir dan melemparkannya langsung. Rantai itu secara otomatis melilit dada Marionette dan terikat dengan erat begitu Rigel mengaktifkannya.
"Hyaaa!! apa-apaan rantai kotor, menjijikan, bau, busuk dan tolol ini?!!"
Dari yang terlihat, Gleipnir memiliki semacam efek destruktif kepada jiwa Marionette. Sepertinya benar, bahwa tidak ada yang tidak bisa ditanah oleh rantai kemustahilan, Gleipnir.
"Dengan begini, kau tidak bisa pergi kemanapun," Rigel berdiri di dadanya dan menatap Marionette dengan rendah.
Marionette hendak memberontak dengan membentuk bilah pedang, namun sayangnya kemampuan sihir juga tersegel oleh Gleipnir. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran tentang itu.
"Apa yang akan kita lakukan terhadapnya? Haruskah mengorek informas darinya?" tanya Odin.
"Memang bagus, namun mustahil bertanya kepada orang gila ini. Akan lebih baik kita membunuhnya langsung. Untuk kalian berdua, sebaiknya cari dimana tiga hadiah utama turnament diletakan."
Rigel meletakan tangannya kepada tubuh raksasa Marionette dan mengalirkan energi Void secara perlahan.
"Dominasi...,"
Retakan biru perlahan menyebar luas diseluruh tubuh raksasa Marionette. Perlahan, tumpukan boneka dan tanah yang membentuk tubuh raksasa Marionette lepas dan memperlihatkan jiwa wanita cantik dengan pakaian merah.
Rigel, Odin, Asoka dan bahkan Gahdevi terpesona terhadap bayangan jiwa wanita di depan mereka. Tubuhnya begitu ramping dan bagus, warna mata kemerahan sementara rambut hitam yang mempesona. Tidak ada kata lain selain cantik untuk menggambarkannya.
"Tidak kusangka orang gila yang selama ini kami hadapi dapat terlihat secantik ini," Rigel memuji dengan sungguh dan tersenyum.
Mendengar pujiannya, Marionette sedikit tertunduk. Dia tidak dapat melihat wajahnya karema tertutupi rambut, namun yang pasti Marionette sedikit memerah.
"Aku..., aku tidak akan pernah memaafkanmu, Aludra..., kau merebut kebebasanku, keluargaku, temanku, sahabatku, orang tuaku, tubuhku, bahkan hatiku...,"
Suaranya terdengar begitu bergetar, selagi tubuhnya perlahan dipenuhi retakan biru akibat dominasi Void Rigel yang tetap dia lanjutkan.
"Kau bajingan diantara bajingan lain... kau mengacaukan dunia, kau mengacaukan manusia, kau mengacaukan alam..., kau adalah orang yang paling dibenci..., namun kenapa..., aku tidak bisa tidak mencintaimu!!"
Isi hatinya terungkap. Perkataan tentang dia membencin pria bernama Aludra hanyalah sebuah alasan untuknya tidak mengingat perasaan sesungguhnya. Berkatnya dia gila, berkatnya dia rusak dan berkatnya dia menjadi seperti ini.
"Sayangnya aku bukan orang yang dipanggil Aludra..., namun, aku akan mendoakanmu mendapatkan kehidupan lebih baik dikehidupan selanjutnya..., Lenyaplah," dominasi selesai, tubuh Marionette sepenuhnya memiliki garis biru dan hancur secara bertahap bagaikan pasir.
Pertarungan telah berakhir, membawa kemanangan pada Rigel dan yang lain. Ada tambahan misteri yang harus dipecahkan oleh Rigel, mengenai pria bernama Aludra yang mengundang keingintahuannya.
Gahdevi jatuh berbaring di tanah. Tubuhnya perlahan bersinar dan pecah menjadi partikel cahaya yang indah. Di tenganya, menampilkan seorang pria yang hampir tidak mengenakan pakaian apapun yang menutupi tubuhnya. Meski tubuhnya lebih kecil dari sebelumnya, dia masih jauh lebih besar dari manusia biasa.
Mungkinkah alasannya menggunakan Gleipnir pada tubuhnya sendiri adalah untuk menyegel tubuh raksasanya??..., batin Rigel.
Gahdevi nampaknya pingsan akibat kelelahan. Untuk masalahnya dapat dikesampingkan. Sekarang ada kebutuhan baginya mencari buku ensiklopedia dan dua hadiah utama lainnya.
"Kita akan membahas kerugian nanti, sekarang prioritas adalah mencari tiga hadiah utama arena pertarungan. Apa kau tahu dimana biasanya itu berada?"
Rigel bertanya kepada Odin yang telah sering memenangkan Fight To End. Dia tentunya telah melihat tempat dan bagaimana cara membukanya.
"Tentu aku mengetahuinya. Namun kita memerlukan Ganesha atau tuan tanah untuk membukanya."
"Sayangnya, kedua orang itu telah tewas."
Odin tentu terkejut mendengarnya, namun dia kembali ke dirinya dengan cepat.
"Begitu ya. Kalau begitu kita hanya perlu mencari topeng miliknya dan pergi ke atas, rumah tuan tanah berada. Melihat kerusakan tempat ini, nampaknya akan sulit mencarinya. Beruntung bahwa topeng itu tidak dapat dihancurkan dengan mudah," Odin berkata dan menghela nafas lega.
Kerusakan tempat ini tidak bisa dibilang ringan. Bahkan tempat ini sekarang lebih mirip tempat pembuangan sampah ketimbang kota pada awalnya.
Mau tidak mau, mereka harus menggali diantara tumpukan puing-puing untuk menemukan topeng Ganesha. Butuh waktu lama untuk mencari, sampai akhinya Rigel muak dan meminta pasukan kematiannya untuk mencari topeng.
Begitu menemukan topengnya, Rigel dan yang lain pergi ke atas untuk mengambil tiga hadiah utama sebelum jatuh ke tangan orang yang salah. Gahdevi telah tersadar dan memasangkan Gleipnir di tempat seperti sebelumnya. Benar saja, rantai itu berfungsi menaham kekuatannya dan membuat tubuhnya seukuran manusia normal.
"Jadi, kastil ini milik tuan tanah tempat busuk ini?"
"Ya..., seharusnya ada banyak orang yang berjaga di sini, namun dari yang terlihat..., sepertinya mereka telah disapu bersih oleh Marionette...," ujar Odin.
Rigel memandang sekeliling. Interiornya tidak terduga begitu sederhana, namun terkesan norak dengan pernak-pernik emas yang menghiasi pilar.
Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka tiba disebuah tempat yang terlihat seperti brankas raksasa. Odin melangkah maju dan meletakan topeng di tangannya ke tengah berangkas itu.
Pintu itu sedikit mengeluarkan asap dan perlahan terbuka lebar, memperlihatkan tiga hadiah utama. Rigel tidak menduga bahwa Dwarf juga diletakan di dalam brankas. Namun dari yang terlihat, mereka baik-baik saja.
Asoka berlari dan membebaskan Dwarf dari kandang selagi mengatakan bahwa mereka telah aman dan bebas dari perbudakan.
Odin dan Gahdevi sama-sama tertarik dengan pedang sihir kemerahan yang sedikit lebih besar dari yang biasanya. Meski begitu, hanya satu hal yang menarik perhatian Rigel.
Sebuah buku tua kecoklatan yang tampak usang. Sampulnya tidak memiliki dekorasi atau hiasan apapun, hanya ada sampul kosong dari kulit. Tampilan luarnya memang tampak mengecewakan, namun jangan menilai buku dari sampulnya.
"Jadi seperti ini buku Pengetahuan. Aku membayangkan sesuatu yang lebih hebat, seperti buku itu teebuat dari emas," gumam Gahdevi.
Rigel sependapat. Tidak akan ada orang yang tidak berpikir seperti itu bila mendengar artifak hebat seperti buku pengetahuan. Rigel melangkah dan hendak mengambilnya untuk mengetahui isinya.
Mari kita lihat, asal usul batu ramalan, teka-teki peninggalan Pahlawan, pria misterius Aludra dan juga..., asal mula Ragnarok..., batin Rigel.
Jantungnya berdegub kencang, memacu darah lebih cepat dari biasanya. Akhinya, segala misteri yang dia sudah muak untuk coba pecahkan akan terungkap melalui buku ini.
!!!!
"MENDEKAT PADAKU!!"
Rigel berteriak dan serempak semua orang termasuk para dwarf berdiri di sekitar Rigel. Odin dan Gahdevi membawa God Sword bersama mereka dan melompat ke tempat Rigel berada dengan waspada.
"Tahap tiga : Kelahiran Para Dewa!"
Rigel mengangkat tinggi-tinggi tangannya dan menciptakan perisai kuat untuk melindungi orang di sekitarnya. Tidak lama kemudian, hujan cahaya membanjiri mereka. Bangunan dan segala hal yang masuk ke dalam cahaya itu lenyap tak bersisa hingga akhirnya kota Darkness lenyap seutuhnya.
"HAAAARRRRRGGGGGHHHH!!!"
Rigel mengaum selagi menahan hujan cahaya yang berniat melenyapkan mereka bersama dengan kota Darkness.
DUAR!!
Kota Darkness tersapu habis, beserta hutan di sekitarnya, akibat serangan cahaya misterius. Berkat itu, mereka harus menuliskan ulang peta, karena kota Darkness telah lenyap dari peradaban.
Rigel terengah-engah, tubuhnya terasa panas seakan dipanggang dalam waktu lama. Asoka dan yang lain nampak baik saja. Dia bersyukur bahwa Asoka memutuskan mengirim prajurit dan para budak kembali ke Region.
Tidak ada apapun yang tersisa selain tanah lapang dan cekungan bundar yang cukup dalam, kecuali tempat Rigel dan yang lainnya berada. Melihat hal ini, bahkan Artifak seperti buku ramalan tidak akan bertahan terhadap serangan gila seperti itu. Rigel benar-bemar merasakan kesal bahwa gagal mengungkap misteri dunia, namun dia lebih kesal terhadap orang yang menggunakan serangan gila sebelumnya.
PROK, PROK PROK PROK.
Tepuk tangan bergema di sekitar, Rigel menoleh dan menemukan sosok berjubah yang melayang di udara. Rigel tidak dapat mengetahui apakah dia pria atau wanita, karena jubahnya menutupi seluruh penampilannya.
"Bagus sekali, manusia~..., kau cukup hebat dapat bertahan dari seranganku... Ahh~, nampaknya kau tidak lemah seperti yang kuharapkan."
Rigel menatap dengan penuh kemarahan terhadap sosok yang melayang di udara. Dari suaranya, nampaknya dia adalah seorang pria, namun Rigel tidak pernah mendengarnya dimanapun. Meski tahu pertanyaannya tidak akan dijawab, Rigel tetap menanyakannya.
"Kau..., siapa?!!"