The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Welcome to Hell



Pertarunganku melawan sepuluh juta pasukan terus berlanjut. Entah sudah berapa banyak dan berapa lama aku terus bertarung untuk mengembangkan kekuatan kunci ini, sampai sampai banyak gunung mayat tercipta di sekitarku. Tanpa makan ataupun tidur, bahkan istirahat sebentar pun tidak. Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya makanan.


Azartooth dan Satan hanya menatap pertarungan solo ku dari kejauhan, ini hanyalah pembantaian satu pihak meskipun beberapa dari mahkluk aneh ini lebih kuat dari dugaanku. Selain itu, aku merasakan ada sesuatu yang salah dengan pendengaranku.


Terkadang, saat aku membunuh mereka, ada satu mahkluk yang terasa menggumamkan namaku dengan sedih. Entah memang hanya perasaanku, atau ada sesuatu yang salah tentang hal ini.


"Haaa!!!!"


Rigel mengaum.


Terus, terus dan terus. Aku harus membunuh semua monster monster ini.


Aku harus membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh,membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh membunuh, membunuh, membunuh, membunuh, MEMBUNUH MEREKA SEMUA!!


"HAHAHAHAHA, AYOLAH KALIAN PARA MONSTER SIALAN! MAJULAH DAN IZINKAN AKU MERASAKAN HANGATNYA DARAH MENJIJIKAN MILIK KALIAN!!"


Rigel berteriak.


Sesuatu mulai berubah dari dalam diriku, mungkin karena terlalu banyak membunuh monster ini sehingga memberatkan batin dan hatiku. Pada awalnya aku membenci membunuh bahkan aku benci untuk membunuh monster, namun saat ini berbeda.


Saat ini Justru, aku menikmatinya, aku menikmati jeritan mereka, aku menikmati tangisan mereka, aku menikmati darah mereka, aku menikmati membunuh mereka, aku menikmati membantai mereka!


"Ahh~, apakah ini yang namanya sadistic? Atau mungkin psikopat? Aku tidak perduli yang mana di antara keduanya. Oii, ada apa mahkluk menjijikan? Kenapa kalian berhenti menyerangku?! CEPATLAH BERBARIS UNTUK KEMATIAN KALIAN AGAR AKU BISA KEMBALI SIALAN!"


Ucap Rigel.


Aku langsung menerjang ke arah sekumpulan pasukan monster yang seperti manusia yabg menggunakan satu set armor, namun yang membedakannya mereka memiliki darah, mereka tidak seperti mahkluk yang dikendalikan oleh sihir.


Aku kembali mengaktifkan kekuatan dari kunciku. Saat ini, aku sudah berhasil mengendalikan kekuatan dahsyat dari kelima kunci. Ratusan serangan sihir dan anak panah berterbangan ke arahku, jumlahnya lebih dari yang bisa aku tangani jika itu aku yang sebelumnya.


"Tahap satu : Kehampaan!"


Ucap Rigel, mengaktifkan rune di tangannya.


Rune biru yang terasa gatal terbentuk di tangan kananku dan dunia mulai berubah menjadi sebuah dunia tanpa warna. Aku bukannya menghentikan waktu di sekitarku, waktu terus berjalan namun saat aku mengaktifkan kekuatan Void tahap pertama, dunia yang aku lihat menjadi lambat. Sangat sangat lambat seolah akan berhenti.


"Kembalilah menjadi sebuah kehampaan."


Gumam Rigel.


Rune di tangan kananku bersinar terang dan saat aku melambaikan tanganku, semua serangan yang menuju ke arahku dibatalkan dan menghilang seolah tidak pernah ada. Dunia langsung kembali seperti sedia kala.


Para monster yang baru saja melontarkan sihir ke arahku mulai kebingungan karena serangan mereka lenyap begitu saja.


"Ayolah, berapa banyak jumlah kalian yang tersisa? Aku mulai lelah membunuh kalian semua, tahu~."


Ucap Rigel.


Tubuhku dipenuhi dengan darah. Tanah yang awalnya keras dan tampak gersang kini berubah menjadi merah karena darah yang disebabkan oleh tumpukan mayat yang aku buat.


"Berapa banyak yang sudah mati? Seratus? Seribu? Atau mungkin sejuta? AKU TIDAK TAHU, TUMPUKAN MAYAT KALIAN SANGAT MENGGANGGU!"


Ucap Rigel.


Aku berbalik ke arah pasukan monster yang tersisa, mereka saat ini melangkah mundur dan diam seolah sedang ketakutan bahkan ada beberapa yang ragu. Aku menyeringai seperti seorang sadistic pada umumnya. Di belakangku terdapat banyak gunung mayat yang bahkan aku tidak tahu butuh berapa mayat untuk menciptakan gunung ini.


Jumlah mereka masih cukup banyak, sialan.


"Tahap dua : penciptaan dunia!"


Ucap Rigel.


Di tangan kananku yang terulur, elemen pencipta dunia terbentuk dengan liar. Kekuatan yang kuciptakan menggunakan kunci lebih kuat dari pada yang kuciptakan menggunakan skill Creatorku.


"Selamat tinggal~."


Ucap Rigel.


Energi yang terbentuk di tangan kananku melesat ke arah pasukan monster yang tersisa dan meledak.


Bang!


Ledakannya sangat besar, sangat kuat sampai aku tidak bisa untuk tidak terkejut.


"Rargh! Rargh!"


Seorang monster merengek menangis karena temannya terbunuh tepat di depan matanya. Monster itu meletakan mayat temannya yang mendingin di pangkuannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi namun aku yakin dia menangis.


BaDum!


"Arghh!! Apa yang terjadi!"


Ucap Rigel, merengek kesakitan.


Kepalaku terasa sangat sakit, dadaku seolah ditusuk oleh sesuatu yang tidak terlihat. Pendengaran dan penglihatanku mulai kabur. Lalu, monster yang memangku tubuh temannya. Sosoknya berkedip dan menampilkan wujud orang yang kukenal.


Dia mulai bangkit dan meletakan tubuh yang berada di pangkuannya ke tanah, sosoknya mulai berkedip lagi menjadi orang yang sama.


"Ada apa ini? Ada apa? Apakah kau menggunakan ilusi kepadaku untuk melihat teman temanku? Apa apaan ini, aku tidak akan memaafkanmu sialan!!!"


Ucap Rigel.


Lalu, pendengaranku mulai kabur lagi dan kali ini aku mendengar suara amarah seorang gadis yang kukenal.


"Keparat kau, RIGELLL!!!!!!"


Itu adalah suara Priscilla yang berteriak marah, suaranya dipenuhi oleh kemarahan dan kebencian. Tidak, ini mungkin termasuk halusinasi yang dia ciptakan.


"Kau bahkan sampai meniru suara Priscilla, DASAR MONSTER SIALAN!!!"


Rigel berteriak.


Wujud monster yang kuhadapi terus berkedip menjadi wujud Priscilla yang berubah menjadi sosok yang menyerupai ratu peri.


"JANGAN KAU COBA MENODAI WUJUD TEMANKU DENGAN MENIRUNYA!!!"


Rigel mengaum.


Monster yang terus berkedip menjadi Priscilla itu mengambil sebuah pedang yang tertancap ditanah, lalu dia melesat terbang ke arahku dengan cepat. Aku menciptakan sebuah pedang di tangan kiriku dan melesat langsung ke arahnya.


"Haarrgghhh!!"


Sebuah teriakan yang terdengar putus asa diciptakan monster itu, suaranya persis menyerupai Priscilla.


"Sudah kubilang JANGAN KAU GUNAKAN SUARA DAN TUBUH TEMANKU!!"


Rigel mengaum.


Monster itu terbang menjauh dan dia mengulurkan kedua tangannya ke arahku. Ledakan laser berwarna putih kehijauan melesat ke arahku. Aku terus menghindarinya, ada saat ketika aku dengan terpaksa harus menahan serangannya itu.


Monster itu terus menerus menyerangku dengan putus asa, tidak perduli dengan sekutunya sendiri yang terkena serangannya. Monster itu mulai kelelahan dan berdiru di salah satu gunung mayat. Aku juga berdiri di salah satu gunung mayat dan berhadapan langsung dengannya.


Monster yang terus berkedip itu melesat ke arahku, kedua tangannya terulur lebar ke arahku seolah ingin mencengkram kepalaku.


"Usaha yang sia sia, monster sialan."


Ucap Rigel.


Saat monster itu semakin dekat denganku, aku menggunakan Creator skillku dan pedang yang berada di tangan kiriku memanjang dan menembus tubuh monster itu.


Meskipun tubuhnya tertusuk, monster itu terus melesat ke arahku dan akhirnya kedua tangannya yang terulur mencapaiku dan memegang pipiku, lalu


Aku dapat merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirku. Lidahnya terjulur masuk dan menyentuh lidahku, rasanya seperti darah. Lalu, layar pandangku mulai berubah dan kembali normal, memperlihatkan Priscilla yang sedang menciumku.


"J-jadi benar bahwa kau terkena sebuah ilusi selama ini."


Ucap Priscilla dengan lemah.


"K-kau, b-benar benar Priscilla, lalu pasukan itu berarti..."


Bukan dia yang memberiku sebuah ilusi yang akan melihat orang orang yang kukenal, namun Azartooth yang memberiku sebuah ilusi agar melihat mereka sebagai monster.


"Ti-tidak, tidak! A-apa yang telah aku lakukan, a-aku—"


Aku mulai kehilangan kendali atas diriku, pemandangan yang kulihat, mayat yang bertumpuk disekitarku, mereka semua adalah orang orang yang berasal dari Labyrint. Jauh disana, aku dapat melihat tubuh Mirai yang kubelah dua, kepala Braund yang kupenggal serta mayat yabg sebelumnya di baringkan oleh Priscilla, itu adalah Anastasia.


Aku membunuh mereka semua, aku menghancurkan mereka semua, aku mengambil nyawa mereka semua, aku membunuh Braund, aku membunuh Mirai, aku membunuh Anastasia, aku membunuh Priscilla.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan ak—"


Saat aku sibuk menangis dan meminta maaf kepada semua orang, sebuah sentuhan hangat dari bibir dan lidah Priscilla menyentuh mulutku. Rasanya seperti darah, namun menenangkan hatiku.


"Tenangkan lah dirimu Rigel. Kami semua tahu bahwa kau pasti terkena sebuah ilusi, andaikan kami menyadari lebih cepat bahwa orang yang menjadi musuh kami adalah kau, aku pasti akan melakukan sesuatu untuk pria bodoh sepertimu."


Ucap Priscilla.


Wajahnya sangat tenang, dia menunjukkan wajah yang biasa saja seolah tidaj terjadi apapun meskipun tubuhnya telah tertembus pedang. Priscilla masih di dalam wujud peri, jadi dia masih bisa menyembuhkan diri. Aku menghilangkan pedang di tangan kiriku tanpa mencabutnya agar Priscilla tidak merasakan sakit.


"Ahh~, sial. Seharusnya aku melakukan hal ini sejak sangat lama."


Ucap Priscilla, tangannya mengalung dileherku.


Aku juga memeluk tubuhnya dengan kedua tanganku dan mengalirkan mana kedalam dirinya berharap membantu tubuhnya untuk pulih.


"Percuma saja, Rigel. Aku tidak dapat menyembuhkan diriku lagi karena inti jiwaku sudah sangat kecil dan bisa menghilang kapan saja. Setidaknya, biarkanlah aku terus seperti ini, aku ingin sedikit lebih lama seperti ini."


Ucap Priscilla, dia mencium bibirku lagi dan lagi.


Aku tidak mecegahnya atau apapun karena aku hanya bisa menyalahkan diriku yang membunuh mereka semua.


"Priscilla, maafkan aku. Andaikan saja aku berfikir terlebih dahulu, hal ini tidak akan terjadi."


Ucap Rigel sambil menangis dan memeluk tubuh Priscilla yang mulai mendingin.


"Rigel, lihatlah mataku."


Ucap Priscilla.


Aku mengikuti instruksinya dan menatap Priscilla yang menatapku dengan lembut. Wajah Priscilla memerah karena malu.


"Apakah wajahku menunjukan bahwa aku membencimu? Tidak, kan? Mereka semua juga sama. Leywin yang kau panggil Braund, Mirai, Anastasia dan juga orang lainnya tidak membencimu, Rigel. Sejak awal kami memang sudah mati dan terjebak di tempat ini tanpa alasan yang jelas. Jadi, tidak usah dipikirkan dan biarkan aku bermesraan denganmu meskipun hanya sesaat."


Ucap Priscilla.


Dia memeluk tubuhku yang kotor karena darah yang menempel ditubuhku. Wujud Peri Priscilla mulai menghilang dan dia kembali ke wujud wanita dewasanya. Aku dapat merasakan sentuhan dan kehangatan lembut yang berasal dari dadanya.


"Aku mencintaimu, Rigel. Sejak awal kita bertemu, kau adalah orang yang menarik minat para peri sehingga membuatku penasaran dengan siapa kau sebenarnya dan dari rasa penasaran menjadi sebuah rasa kekaguman dan berakhir menjadi cinta."


Ucap Priscilla.


Aku mencoba yang terbaik untuk tersenyum meskipun air mata terus membanjiri pipiku.


"Sayangnya, ingatanku telah kembali dan aku sudah mengingat siapa gadis yang kucintai."


Ucap Rigel, membelai rambut Priscilla yang berantakan.


"Kalau begitu sangat disayangkan. Padahal aku ingin melakukan sesuatu yang lebih intim lagi daripada berciuman. Namun aku sudah tidak memiliki banyak waktu lagi."


Ucap Priscilla.


Priscilla tersenyum selagi masih memelukku dengan erat. Aku tidak dapat membantu apapun selain menemani Priscilla di saat saat terakhirnya.


"Rigel, aku akan mengatakan hal terakhir sebagai atasanmu, pemimpin serikat Region."


Ucap Priscilla, suaranya kian melemah.


"Aku perintahkan kau untuk melindungi umat manusia, bebaskanlah dunia ini dari peperangan yang disebabkan para dewa. Aku tahu bahwa kau mendapatkan berkah dari ratu peri yang membuat para peri tertarik padamu, itu karena kau adalah sosok Pahlawan yang akan melindungi manusia."


Ucap Priscilla.


Tangannya yang awalnya hangat kini menjadi dingin dan membelai pipiku dengan lembut. Keadaannya kian melemah dan dia tampak sekuat tenaga untuk mempertahankan kesadarannya.


"Kau adalah pahlawan pencipta, Creator hero. Aku ingin kau menciptakan sebuah dunia yang damai, tempat dimana semua orang dapat tersenyum tanpa memperdulikan ras mereka. Lalu, bahagiakanlah gadis yang sangat beruntung karena dicintai olehmu. Lalu yang terakhir, jangan pernah menyalahkan dirimu atas kematian kami, karena kami akan menjadi kekuatanmu dan mengawasimu dari tempat yang jauh."


"Jadi, angkatlah kepalamu dan teruslah menatap dan mewujudkan masa depan. Buatlah dunia menjadi sebuah tempat yang nyaman dan suatu saat, kita akan bertemu lagi dan aku berharap akan menjadi seorang gadis yang kau cintai nanti, Amatsumi Rigel."


Tangan Priscilla yang berada di pipiku mulai melemah dan jatuh, matanya yang indah kini tertutup, menyisakan beberapa air mata keluar dari matanya. Namun, bibirnya yang bersimbah darah tersenyum.


"Aku, seseorang yang terpilih menjadi salah satu dari 12 pahlawan, Creator Hero. Aku akan mewujudkan semua harapan dan perintah yang kau berikan kepadaku, wahai ketua serikat Region dan juga putri ratu peri, Priscilla flamesword."


Ucap Rigel.


Air mata masih terus mengalir dimataku. Aku mencoba yang terbaik dan menunjukkan senyuman terbaik yang kubisa selagi menangis.


"Kami semua akan selalu berada di belakangmu dan mendukungmu melalui neraka dunia serta takdir yang merenggut segalanya. Apa yang kita cintai dan benci akan melebur menjadi satu dan hanya menyisakan seorang pria menjerit dalam keheningan."


Suara Priscilla menggema di dunia dan di belakang Rigel yang berduka di tubuh dingin Priscilla, terdapat bayangan dari semua orang yang berasal dari labyrint. Tumpukan mayat dan pedang yang menancap di tanah, ulah dari seorang pria yang ditipu oleh dewa, selamat datang di neraka.