The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Penaklukan lantai 15 part 1



Arch Licht. Dia adalah penguasa dari para undead. Seorang raja dengan pasukan mayat hidup yang sulit untuk dikalahkan.


Meskipun berhasil membunuh pasukan undead, mereka akan muncul lagi secara perlahan dan karena itulah mereka dinamakan pasukan abadi.


Cara satu satunya mengalahkannya adalah dengan membunuh Arch Licht itu sendiri. Jadi, jika kami ingin menaklukan lantai ini, cara satu satunya adalah membunuh


Arch Licht.


"Hoi, Mirai. Apakah kau juga menghadapinya saat menaklukan lantai ini?!"


Rigel bertanya.


"Tidak, pada saat aku menaklukan lantau 16 dengan pasukan utama, kami hanya menghadapi beberapa cyclops raksasa."


Balas Mirai.


Labyrint ini memiliki sistemnya sendiri. Jika seorang bos lantai telah terbunuh, mereka akan digantikan dengan bos lantai yang baru setelah beberapa hari saat penaklukkan.


Karena Mirai dan Anastasia memiliki keterkejutan di wajahnya, aku berani bertaruh selama penaklukkan mereka mencapai lantai 23, mereka belum pernah menghadapi pasukan abadi ini.


Para pasukan penakluk memiliki keputus asaan di wajah mereka seolah tidak memiliki harapan untuk hidup di hari esok.


Dengan adanya pasukan penakluk, pasukan mayat hidup bukanlah masalah. Namun, yang paling merepotkan adalah dua ekor dragon Zombie yang berada di sekitar Arch Licht.


Karena lantai ini sangatlah luas dan langit langitnya sangat tinggi, aku mungkin dapat memegang dua ekor naga itu, namun jika begitu siapa yang akan menghadapi


Arch Licht?


Aku menoleh ke arah Anastasia yang masih bengong terkejut dengan kemunculan Arch Licht.


"Wakil kapten berikan perintahmu!"


Rigel berteriak.


Namun, anastasia tidak begeming sedikitpun, saat ini dia menjadi wadah kosong karena keterkejutannya.


"Anastasia!!"


Aku meneriakkan namanya yang menbuat semua orang mengalihkan perhatian kepadaku.


Akhirnya Anastasia mulai kembali ke kenyataan dan dia menatapku dengan keterkejutan.


"Berikanlah perintahmu."


Kata Rigel sambil memasang wajah dingin.


Anastasia menatap seluruh pasukan penakluk dan mengangguk.


"Semuanya jangan gentar! Kita akan menghadapinya bersama sama dan keluar hidup hidup bersama!"


Para pasukan penakluk mengangguk terhadap kalimat yang di ucapkan Anastasia. Aku tidak mahir dalam merangkai kata, namun kata kata Anastasia memberikan keberanian tertentu kepada para prajurit.


Lalu, Anastasia mulai memberikan perintah kepada kami.


"Para Vanguard bersiaplah di depan, tidak perlu susah payah mencoba membunuh prajurit kecil itu, target kita adalah Arch Licht yang mengendalikan mereka!


Jika kita berhasil mengamankan Arch Licht para keroco ini akan mati dengan sendirinya!"


Anastasia berteriak dengan tegas. Dengab kata kata itu, para Vanguard langsung membuat barikade di depan untuk menghadang pasukan Undead.


Dia memiliki keputusan yang sangat bagus karena berusaha membunuh pasukan undead hanyalah membuang tenaga dan sihir. Akan lebih logis jika kita mengincar bossnya.


Namun yang jadi masalah utamanya adalah.


"Apakah ada seseorang disini yang dapat menggunakan atribut cahaya atau menggunakan senjata suci?"


Rigel bertanya.


Untuk mengalahkan Arch Licht, hanya ada dua pilihan yang dapat di ambil. Pilihan pertama adalah memurnikan atau menghancurkan Arch Licht itu dengan elemen cahaya atau senjata beratribut suci.


Aku melihat ke arah para penyihir yang berada di lini belakang namun semuanya menggelengkan kepala bahkan para petarung lainnya tidak ada yang membawa atau menggunakan senjata suci.


Aku mengutuk dalam dalam, andaikan aku memiliki senjata ilahi, melawan Arch Licht hanyalah perkara mudah! Jadi, hanya tersisa pilihan terakhir ya?


"Aku, aku bisa menggunakan atribut elemen cahaya."


Suara seorang gadis yang memberikan sebuah harapan kepada semua orang. Aku menoleh ke sumber suara, suara itu berasap dari wakil ketua, Anastasia.


"Kalau begitu bagus! Sekarang yang menjadi tumor hanyalah kedua naga yang melindungi Arch Licht itu."


Kata Rigel.


Aku bersyukur untuk tidak mengambil pilihan kedua. Pilihan kedua adalah untuk membakar atau menghancurkan Arch Licht itu sampai tak bersisa hingga dia tidak bisa beregenerasi namun itu bukanlah hal yang mudah,


"Tapi, aku hanya bisa menggunakannya sekali saja karena kekuatannya sangat besar sehingga mana yang dibutuhkan juga besar. Sekali aku menggunakannya, aku mungkin tidak akan sadarkan diri selama beberapa jam."


Sialan! Jadi kita harus membuat keadaan dimana Arch Licht itu tidak bisa menghindar kemanapun. Ini jauh lebih rumit dari yang kupikirkan.


"Kalau begitu persiapkan seranganmu sampai waktunya tiba."


Kata Mirai.


Dengan Anastasia yang merapalkan mantra elemen cahaya, dia tidak bisa merapalkan mantra lain dan harus dilindungi sampai waktunya tiba dia hanya beban tambahan dipundak.


Dengan enggan Anastasia mengangguk karena tidak ada pilihan lain untuk dipilih. Lalu, masalah berikutnya adalah—


"Hei Rigel. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, bisakah?"


Mirai berkata padaku, tatapannya hanya terfokus oada dua ekor Dragon zombie dan para Vanguard yang mati matian menahan serangan pasukan Undead.


"Tanyakanlah apapun yang kau inginkan."


Balas Rigel.


"Jika apa yang dikatakan prajurit tadi sebelum memasuki lantai itu benar, apakah aku dapat berasumsi bahwa kau itu cukup kuat untuk memegang salah satu dari naga itu?"


Tanya Mirai.


Aku melirik naga yang pada awalnya hanyalah tulang belulang namun kini memiliki daging yang membusuk di tulangnya.


Bukan waktunya untuk bimbang saat ini!


"Entahlah, namun aku akan mencoba menahannya selama yang aku bisa. Lalu, bagaimana dengan naga yang satunya dan Arch Licht itu?"


Tanya Rigel.


Meskipun Rigel bisa memegang satu naga ditangannya, masih ada satu naga lagi yang harus ditangani. Misalnya saja Mirai menangani naga yang tersisa itu, maka tidak akan ada yang bisa berhadapan dengan Arch Licht.


Para petarung yang lainnya sibuk membantu para Vanguard untuk menghadapi pasukan undead bahkan jika kami menyuruh beberapa dari mereka menghadapi Arch Licht,


Itu sama saja mengirim mereka ke kematian mereka sendiri.


"Salah satu naganya biar para petinggi dan pasukan lainnya yang menghadapi. Aku akan menghadapi Arch Licht dan membuatnya dalam keadaan dimana dia tidak bisa menghindari serangan Anastasia."


Itu pilihan yang konyol! Aku tahu dia itu kuat, namun menghadapi Arch Licht seorang diri bukanlah sebuah pilihan.


Meskipun mahkluk itu hanya duduk dan menonton, bukan berarti dia itu lemah. Arch Licht memiliki kapasitas sihir yang besar dan sihir ranah kegelapan yang mengerikan.


Meskipun aku ingin membantah pilihan yang dibuat Mirai, namun tidak ada siapapun yang lebib sanggup menghadapi Arch Licht selain Mirai.


Aku hanya mengutuk pelan pelan.


"Setelah pertarungan ini berakhir, aku akan menerima ajakan minum darimu."


Kata Rigel.


Mirai tersenyum sebagai tanggapan. Aku berlari untuk menghampiri naga saat aku berlari,


Aku dapat mendengar Mirai mengucapkan sesuatu namun aku mengabaikan nya dan mefokuskan perhatianku kepada Dragon Zombie.


Aku mengulurkan tangan kananku dan mengakses index untuk menggunakan skillku.


Aku menghisap mana disekitar dan merubahnya menjadi Soul Potion. Aku dapat melihat perlahan Soul potionku yang berkurang bertambah.


"Skills Creator : ciptakan Api!"


Api keluar dari lengan kananku dan menerjang ke arah salah satu naga yang berada di belakang Arch Licht. Naga itu memperhatikanku dan mulai terbang menuju ke arahku.


Bagus, dia terpancing!


Aku berlari menjauh dari para pasukan yang lainnya sambil menggiribg naga itu untuk mengikutiku.


Woarrggh!


Naga itu mengaum dan melesat dengan cepat ke arahku seperti rudal.


Boom!


Suara hantaman keras menghantam tanah di bawah kami. Aku berhasil menghindarinya dengan melompat jauh ke belakang.


"Baiklah, mari kita bermain dasar kadal busuk."


Aku tersenyum mengejek untuk memprovokasi naga itu.


Penaklukan lantai 15 dimulai!