
Cuit cuit cuit.
Woosh.
Aku dapat mendengar suara angin dan suara burung bernyanyi di sekitarku. Aku membuka mataku dan mendapati bahwa aku sedang berbaring di rumput.
Rigel mencoba duduk di tempat dan saat dia duduk, kepalanya dihantam oleh rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.
"Arghh! Kepalaku terasa sangat sakit."
Rigek bergumam.
Ingatanku kacau, aku hanya dapat mengingat beberapa hal seperti aku memasuki labyrint neraka dengan tujuan untuk mengambil kunci dari empat pangeran labyrint neraka dan mendapatkan ingatanku kembali.
Aku masih mengingat bahwa aku adalah seorang pahlawan dan karena temanku menghianatiku, aku harus mati dan bertemu orang itu lalu menjalani pelatihan ini untuk menjadi kuat.
Aku juga dapat mengingat dengan jelas kata kata pria itu yang wajahnya samar samar di ingatanku. Pria itu memberitahuku beberapa hal tentang labyrint neraka dan memberikanku sebuah peringatan.
Aku melihat daerah sekitar dan aku menemukan sesuatu yang mengejutkanku.
"A-apakah aku benar benar berada di dalam labyrint Neraka?"
Gumam Rigel sambil terkejut.
Saat ini aku sedang berada di tengah hamparan padang rumput yang hijau dan dihiasi dengan bunga bunga yang tumbuh disekitar.
Aku meragukan penglihatanku dan mengusapnya beberapa kali serta mencubit pipiku jikalau saat ini aku sedang bermimpi.
Ini bukanlah mimpi,tempat ini lebih seperti surga daripada labyrint neraka. Aku mulai teringat dengan perkataan pria itu.
Tentang Labyrint neraka bukanlah tempat penyiksaan dan penuh api seperti yang kubayangkan. Dan juga pria itu memperingatkanku bahwa,
Tempat ini adalah sebuah tempat yang dipenuhi iblis dan banyak jiwa yang dipenuhi tipu muslihat, hanya ada banyak bintik hitam ditempat ini.
Aku tidak mengerti apa yang dia maksud dengan bintik hitam, namun aku akan tetap berwaspada dengan jiwa dan iblis yang dipenuhi tipu muslihat.
Disaat aku sedang sibuk memecahkan makna dari peringatan orang itu, aku tidak menyadari bahwa ada orang lain selain aku yang berada disini.
"Anu, permisi apakah kau baru saja tiba disini?"
Aku menoleh kesumber suara. Di sampingku ada seorang gadis dengan rambut coklat yang sedang membawa karangan bunga diranjangnya.
Dilihat dari pakaian gadis itu, dia terlihat seperti gadis desa.
Namun, hanya karena dia gadis desa yang cantik, aku tidak boleh lengah karena mau bagaimanapun, ini tetaplah labyrint neraka.
Aku akan menanyakannya beberapa hal untuk mengorek informasi darinya.
"Apa maksudmu dengan baru tiba disini?"
Tanya Rigel.
Gadis itu menggaruk pipinya dan berkata.
"Yah, karena kau tidak mengenakan apapun untuk menutupi tubuhmu, jadi kupikir kau adalah jiwa yang baru saja datang kesini."
Ucap gadis itu.
Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dari gadis itu namun, Gadis itu sesekali melirik ke arah selangkanganku, wajahnya sedikit merah.
Aku melihat ke arah tubuhku, dan menyadari bahwa saat ini aku tidak mengenakan apapun yang menutupi tubuhku, aku telanjang bulat.
Jika aku masih berada di EarthLand, aku mungkin sudah dicap sebagai orang cabul.
Saking sibuknya aku memilah milah informasi dikepalaku yang berantakan, sampai sampai aku tidak menyadari bahwa tubuhku tanpa busana, sialan!
Aku langsung menekuk lututku dan memeluknya untuk menutupi tubuhku dan wajahku yang memerah karena malu.
"A-anu, bisakah kau memberiku sesuatu untuk menutupi tubuhku?"
Ucapku dengan malu malu dan melirik gadis itu. Gadis itu tertawa riang dan membawakanku sebuah pakaian untukku kenakan.
"Terima kasih, berkat kau aku tidak dicap sebagai orang cabul."
Ucap Rigel.
Aku sudah mengenakan pakaian yang di berikan gadis itu untukku. Meskipun ukurannya sedikit lebih besar, namun pakaian ini dapat membuatku bergerak dengan bebas.
"Sama sama, untung saja tidak banyak orang yang datang ke sini. Ah, kau dapat memanggilku Dandan."
Ucap Dandan.
"Panggil saja aku Rigel. Omong omong, apa maksudmu tadi dengan jiwa yang baru tiba disini? Apa ada banyak orang yang datang kesini dan telanjang sepertiku?"
Tanya Rigel.
"Ya, namun tidak ada banyak jiwa yang selalu mampir kesini. Terkadang dalam satu tahun, hanya ada sekitar 100 orang yang datang ke tempat ini."
"100 orang pertahun? Bukankah itu terlalu sedikit, memangnya tempat macam apa ini?"
Tanyaku.
Aku sengaja bertingkah seolah tidak mengetahui apapun mengenai tempat ini untuk mengorek informasi lebih lanjut,
"Yah, agak sulit untuk menjelaskannya. Bagaimana kalau kau kerumahku? Kita akan membicarakannya sambil minum teh, bagaimana?"
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan mengikuti Dandan menuju kerumahnya.
***
Aku telah sampai dirumah dandan, rumahnya tidak besar dan hanya tampak seperti rumah biasa pada umumnya.
Aku tidak menyangka jika ada kota dan banyak orang di labyrint Neraka ini. Di tengah tengah kota, terdapat sebuah pilar batu yang sangat besar seolah menghubungkan kota dengan langit.
Aku menjadi teringat akan sebuah anime yang menceritakan tentang seorang pemuda yang terjebak dalam sebuah game dan diharuskan menyelesaikan 100 lantai jika ingin keluar dari game itu.
Aku merasa saat ini aku seperti tokoh utama dalam anime tersebut. Aku harus menyelesaikan 100 lantai dalam waktu paling lambat 90tahun.
Aku penasaran Akankah aku akan menjadi tua atau tidak di dalam labyrint ini. Yah, aku akan mengorek banyak informasi dari Dandan.
Dandan menuntunku masuk kedalam rumahnya. Aku melihat lihat kedalam, tidak ada yang spesial di dalam rumahnya selain beberapa vas bunga dan beberapa hiasan dinding.
Nampaknya Dandan tinggal seorang diri di rumah ini.
"Silahkan buat dirimu nyaman, aku akan membuatkanmu, teh."
Ucap Dandan sambil tersenyum.
"Ah, tidak usah repot repot."
Ucap Rigel.
Tidak butuh waktu lama untuk Dandan kembali ke ruang tempatku berada. Dia membawa dua cangkir yang cukup cantik dan teko berisi teh.
"Silahkan diminum, maafkan aku jika teh ini tidak terasa lembut karena ini hanya teh murah."
Ucap Dandan dengan menyesal.
"Ah, tidak apa apa. Mau kualitas tinggi ataupun rendah, Daun tetaplah daun mereka memiliki rasa yang sama bagiku."
Ucapku sambil menggaruk rambutku yang telah memanjang.
Bagiku, mereka hanyalah daun kering yang direbus dan dipadukan dengan gula untuk mempermanis rasanya. Aku tidak tahu kenapa ada banyak orang yang dapat membedakan rasa dan kualitas dari daun.
"Ahaha, yah, aku juga sebenarnya tidak terlalu mengerti perbedaan dari mereka." ucapnya dan dia melanjutkan.
"Meskipun aku tahu ini terdengar tidak sopan tapi aku ingin menanyakan ini padamu, Rigel. Apa yang terjadi dengan tangan kiri dan mata kirimu? Sebelumnya aku juga melihat luka bakar di badanmu."
Dandan bertanya.
Aku mengangkat kepalaku menatap langit langit yang berdebu sembari mencoba mengingat alasan aku kehilangan mata dan tangan kiriku.
Sekeras apapun aku berfikir, aku tidak dapat mengingatnya.
"Sejujurnya aku sama sekali tidak dapat mengingatnya. Ingatanku agak kabur, yang aku ingat hanyalah namaku dan aku yang bekerja sebagai petualang, selebihnya aku tidak tahu."
Ucap Rigel.
Dandan mengangguk seolah memahami sesuatu, meskipun aku tidak menjawan pertanyaannya secara langsung.
Aku yakin dia pasti berfikir jika aku kehilangan tangan dan mata kiriku karena monster. Yah, jujur saja aku bahkan tidak mengingatnya, itu sebuah kejujuran.
Namun tentang aku yang hanya mengingat nama dan pekerjaanku saja, itu sebuah Kebohongan.
"Lalu, maukah kau menjelaskanku tempat apa ini?"
Tanya Rigel.
"Kau mungkin bisa menyebutnya Neraka atau Surga atau bahkan gabungan dari keduanya. Tempat ini adalah sebuah tempat untuk jiwa jiwa yang tidak dapat memasuki surga ataupun neraka."
Aku menajamkan tatapanku kepada Dandan.
"Apa maksudmu?"
Aku tidak mengerti kenapa ada jiwa yang tidak dapat memasuki surga ataupun neraka? Seharusnya setelah mahkluk hidup mati, mereka akan langsung di tentukan Akankah ke neraka atau ke surga.
Jika mahkluk itu memiliki dosa yang lebih berat, maka dia akan pergi ke Neraka. Sementara sebaliknya, jika amal baikmu lebih banyak, kau akan pergi ke surga.
Namun, aku tidak mengetahui jika ada jiwa yang tidak dapat memasuki keduanya. Dandan mulai melanjutkan ceritanya.
"Seperti yang kau tahu, setiap mahkluk hidup yang mati seharusnya sudah di tentukan akankah mereka pergi ke surga atau neraka. Namun, ada beberapa kasus dimana jiwa tidak dapat memasuki keduanya.
Aku juga tidak mengetahui alasan kenapa ada jiwa yang tidak daoat memasuki kedua gerbang. Namun aku berasumsi itu mungkin karena dosa dan kebaikanmu seimbang dan kau dilemparkan kesini."
Aku mengangguk diam diam. Meskipun itu hanya sebuah asumsi, itu cukup masuk akal karena hanya ada sedikit kemungkinan yang dapat dipikirkan dan fakta bahwa hanya sedikit jiwa yang datang ketempat ini.
Dandan terus melanjutkan penjelasannya mengenai labyrint ini dan terkadang aku menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya.
Menurut cerita dari Dandan, penuaan tidak akan terjadi disini karena orang yang datang kesini tidak memiliki tubuh fisik namun masih memungkinkan untuk berhubungan intim.
Meskipun masih dapat untuk berhubungan intim, namun para wanita tidak dapat mengandung seorang anak.
Dandan juga menceritakan beberapa hal tidak berguna lainnya namub dia tidak pernah menceritakan bagian mana yang menjadi neraka di tempat ini dan juga mengenai makna dari setiap lantai yang ada.
Karena hari sudah mulai gelap, aku memutuskan untuk tidak bertanya mengenai tingkatan lantai dan bermalam di rumah Dandan.