The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Mengamati Bintang



Begitu rapat dibubarkan, Rigel berpisah dengan Pahlawan lain. Tirith saat ini berjalan dengan Rigel yang tanpa tujuan pasti. Keheningan terjadi, namun bagi Tirith itu waktu yang cukup membahagiakan, bersama dengan yang dicintainya.


"Sepertinya kau akan semakin sibuk, ya...," Tirith berkata dengan sedih dan sedikit kesepian.


Waktu yang dia miliki bersama Rigel tidak banyak. Dia selalu memiliki hal yang dilakukan dan hampir tidak banyak waktu istirahat yang dia miliki. Sesekali, Tirith benar-benar menginginkan waktu dimana hanya menjadi milik mereka berdua. Namun dia tidak ingin menjadi egois. Dikarenakan Rigel seorang Pahlawan, dia tidak dapat meninggalkan kewajibannya.


Lalu, ada hal yang membuat Tirith sedikit khawatir, tentang pembicaraan para pria di pemandian. Pembicaraan itu berupa kembali ke dunia lamanya dan Tirith takut Rigel memilih kembali ketimbang hidup di dunia ini.


"Ya, mau tidak mau aku memang harus melakukannya, jika menginginkan kehidupan damai."


Menginginkan kehidupan damai, namun akan selalu ada sesuatu yang harus dikerjakan dan masalah yang selalu datang begitu masalah lain selesai. Bahkan jika dia berhasil menaklukkan White Tiger, masih ada Naga malapetaka yang tersisa untuk diurus. Dia tidak tahu kapan Ragnarok terjadi, namun benar-benar berharap itu adalah puncak final dari masalah.


Setelahnya, dia ingin menikmati hidupnya yang tersisa bersama semua orang. Memang, apa yang terjadi dengan pertengkaran para dewa setelah perang membuatnya penasaran, namun apapun itu, dia berharap tidak mendapat getahnya.


"Begitu, ya," Tirith bergumam sedikit sedih, "Aku mendoakan keselamatanmu," lanjutnya.


Meski tidak mempercayai bahwa doa dapat menyelamatkan nyawanya, namun dia tetap menghargainya karena mungkin keajaiban benar-benar terjadi dengan berdoa. Entah itu kepada dewa, atau sosok yang lebih tinggi dari dewa.


Rigel menyadari bahwa Tirith nampaknya gelisah akan sesuatu dan hendak membicarakan hal yang entah penting atau tidak. Namun dia menahan diri untuk mengatakannya. Bahkan jika dia memberikan peluang bagi Tirith mengatakannya, dia tidak yakin Tirith akan mengatakannya langsung.


"Benar juga, aku belum pernah menunjukkan itu kepadamu, ya..."


"Apa maksudmu??" Tirith bertanya kebingungan.


Meski sudah lama dia membuatnya, Rigel hampir tidak pernah mengingat tempat itu. Meskipun waktunya sangat mendesak, setidaknya dia mungkin bisa menunjukkannya pada Tirith saat ini.


"Ya, ikutlah denganku."


Rigel meraih Tirith kedalam pelukannya tanpa peringatan dan pergi menuju tempat yang sudah lama dia buat di kota namun belum pernah digunakan siapapun. Ada juga kemungkinan tempat itu hancur saat invasi iblis, namun mari lihat terlebih dahulu.


Dalam sekejap mereka menghilang dan pemandangan di depan mereka berubah seketika. Rigel memandang tempat yang menjadi tujuannya, Observatorium.


Tidak terduga tempat itu masih tampak bagus dan utuh, tanpa tanda kehancuran dan goresan sedikitpun. Tempat dimana dia dapat mengamati bintang lebih jauh dari pada mata telanjang.


Sebuah tempat bundar dengan kubah bundar di langit-langitnya. Tirith tahu tempat itu, namun tidak pernah mengetahui kegunaannya. Lagipula menurut Merial, tidak ada seorangpun selain Rigel yang pernah memasukinya.


Bagi mereka, segala hal yang diciptakan Rigel sangatlah asing dan mereka takut dapat menciptakan kekacauan besar dengan salah menggunakan benda. Wajar, karena mereka sangat takut secara tidak sadar menembakan misil dan nuklir.


Yah, kekhawatiran seperti itu seharusnya tidak akan pernah terjadi, karena hanya Rigel dan Leo saja yang memiliki akses mengaktifkannya.


"Tempat apa ini??"


"Kau akan tahu setelah melihatnya. Padahal aku berniat menjadikannya sebagai daya tarik antariksa, namun entah mengapa semua tampak takut untuk memasukinya, bahkan Asoka sekalipun."


Tirith hanya tertawa masam terhadap perkataan Rigel. Tanpa membuang waktu, mereka memasuki tempat itu. Pintunya terbuka secara otomatis yang membuat Tirith bingung sihir seperti apa yang menggerakkannya.


Begitu tiba di dalam, tempat itu tampak kosong. Hanya terdapat sebuah teleskop yang cukup besar di tengah ruangan dan sebuah bangku.


Rigel berjalan menuju teleskop itu dan duduk di bangku. Tirith hanya menatap dengan bingung sampai Rigel memberi tanda untuk Tirith duduk di pangkuannya. Dengan canggung dan sedikit malu, Tirith mematuhi Rigel dan dengan penasaran menatap benda di depannya.


"Apa yang akan kita lakukan di sini, Rigel??"


"Tunggulah sebentar lagi dan kau akan tahu...,"


Mengabaikan keingintahuan Tirith, Rigel mengakses Ciel untuk melakukan beberapa pengaturan tertentu.


Pengaturan itu berupa arah kemana teleskop mengamati. Akan berbahaya bila dia mengamati matahari karena hal itu dapat menyebabkan kebutaan. Karena itu, menggunakan kordinat matahari berada, dia dapat menghindari hal itu.


Pemberitahuan dari Ciel telah tiba dan Rigel mencobanya untuk berjaga-jaga dan sudutnya sudah benar.


"Kau cobalah lihat melalui benda itu. Tenang saja, itu tidak akan menggigit," Rigel mengarahkan Tirith untuk melakukan hal sama seperti yang dia lakukan.


Tirith dengan ragu mengikuti instruksi Rigel dan melihat melalui benda itu. Di sana, dia melihat langit hitam yang disinari cahaya redup dan beberapa komet yang melintas.


Tiada kata yang keluar dari mulutnya, namun air mata menjawab semua kekagumannya. Pengelihatannya sedikit kabur akibat air mata yang terus berjatuhan, bahkan tanpa perintah darinya.


Tangisan itu bukanlah sebuah kesedihan, melainkan kekaguman akan dunia yang nyatanya begitu luas dan membuat manusia setara dengan sebuah debu dibagi tujuh.


Meski itu kali pertama baginya melihatnya, dia langsung tahu bahwa itu adalah bintang-bintang dan luar angkasa yang pernah diceritakan Rigel. Mereka jauh lebih mempesona ketimbang imajinasi. Sepintas, mereka tampak seperti debu bercahaya yang menghiasi kain hitam super besar.


"Jadi ini, luar angkasa yang pernah kau ceritakan..., sungguh menawan," ujarnya, tetap menatap pada kaca teleskop bintang.


"Ya..., dan tempat ini disebut dengan Observatorium. Tempat dimana orang-orang dapat mengamati dan mempelajari segala hal tentang bintang."


Alasan Rigel menunjukkannya sederhana, dia masih mengingat janjinya kepada Tirith untuk menunjukkan bintang. Mau bagaimanapun, Rigel tidak akan pernah mengingkari janji miliknya sendiri. Meski seharusnya dia sudah melakukannya, namun tidak ada salahnya melakukan lagi.


Mereka begitu menawan dan begitu misteri. Segala hal yang berkaitan dengan bintang dan angkasa adalah sesuatu yang berada jauh dalam genggaman pemahaman manusia. Bahkan mungkin sampai kini, mereka masih mempelajarinya untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.


"Berbicara tentang bintang, aku teringat akan perkataan para ilmuwan, bila kita melihat cahaya bintang, itu adalah cahaya dari masa lalu."


Mendengar perkataanya hanya membuatnya semakin bingung dan tidak memahaminya. Wajar baginya karena tiada penelitian semacam itu dan dunia ini dapat dibilang masih purba. Mereka hidup dengan sihir dan menggunakannya untuk mempermudah hidup. Berbeda dengan bumi, dimana tiada sihir sehingga mereka secara perlahan membangun peradaban dan menggunakan kepintaran untuk mempermudah kehidupan.


Proses yang begitu lama, begitu panjang dan memakan waktu. Butuh waktu dua juta tahun hingga mereka hidup dengan teknologi mutakhir.


"Cahaya dari masa lalu??"


"Ya..., Cahaya itu berasal dari bintang-bintang yang meledak, namun cahaya itu masih perlu waktu jutaan tahun untuk mencapai dunia ini."


Hal itu menjadi pembuktian bahwa jarak antar planet saling berjauhan satu sama lain.


"Dunia sungguh penuh misteri, ya," Tirith bergumam.


"Mengenai itu, Rigel...," Tirith memanggil namanya dan tubuhnya sedikit gemetar. Jelas dia nampak takut akan sesuatu— lebih tepatnya kehilangan sesuatu.


"Ada apa??"


Tirith beralih dan membenamkan wajahnya sepenuhnya di dada Rigel.


"Setelah semua berakhir, apakah kau akan kembali? Ke dunia tempatmu seharusnya berada??"


Tentunya itu pertanyaan tak terduga dari Tirith. Rigel kini memahami apa yang nampaknya Tirith khawatirkan. Itu adalah tentang Rigel kembali ke bumi atau tidaknya.


Dia sendiri tidak tahu, apakah benar-benar ada jalan kembali ke bumi atau tidak. Tergantung pada keadaannya, dia mungkin memilih kembali ke bumi, namun pilihan itu sendiri masih belum pasti. Jika dia kembali, mungkin dia dapat menemui ibunya, namun terdapat rasa takut besar bahwa dia tidak diakui anak. Lantas, hatinya akan hancur dan tidak ada lagi yang dia perlukan selain kematian.


Selain itu, dirinya yang saat ini benar-benar berbeda dengan yang dulu. Dia yang awalnya memiliki rambut hitam, namun sekarang telah memutih dan tidak ada lagi jejak kelembutan dari sorot matanya.


"Apa kau akan pergi? Kau akan meninggalkanku sendiri??"


Rigel tak kunjung menjawab, sehingga Tirith mengajukan pertanyaan lain. Dia benar-benar tidak ingin ditinggalkan dalam kesendirian. Dia benci sendiri, dia benci kesepian dan dia benci ditinggalkan.


"..., Sejujurnya aku tidak tahu. Di beberapa tempat, aku ingin kembali dan menjumpai ibuku, namun aku takut dia tidak ingin mengakui aku sebagai anaknya."


Dia tahu ibunya menyayangi dirinya, dari ingatan yang diperlihatkan Azartooth padanya. Namun tetap saja dia masih merasakan takut akan tidak diakui.


"Jadi, kau akan kembali??"


Tirith bertanya lagi untuk memastikannya. Saat ini, tidak ada hal lain yang ingin dia ketahui selain jawaban atas pertanyaannya.


Matanya berkaca-kaca dan terlihat lucu baginya. Rigel meraih dagunya dan menekankan bibirnya ke milik Tirith dengan lembut. Tirith tentunya terkejut dengan tindakan Rigel yang begitu tiba-tiba.


"Aku tidak akan pergi kemanapun, bahkan jika aku pergi, aku akan berjanji untuk kembali."


Tidak akan ada yang dapat menghentikannya, selain sosok yang jauh lebih tinggi dan masa hidupnya yang telah tercatat dalam buku kematian.


Selain itu, tidak ada jaminan bahwa ada cara untuk kembali. Diantara Pahlawan, mungkin ada beberapa yang merindukan rumah mereka di bumi. Tapi, sebagian besar Pahlawan nampak memiliki masa lalu menyedihkan.


"Apa kau sangat takut aku meninggalkanmu??" Rigel mencoba menggoda Tirith, namun reaksinya diluar dugaan.


"Yaa! Tentu saja!! Apa kau sebodoh itu sampai-sampai tidak memahaminya?!!" Tirith memeluk Rigel dengan erat dan bendungan air matanya hancur, menyebabkan matanya banjir.


Niatnya untuk menggoda hancur seketika begitu melihat reaksi yang tidak diharapkan. Rigel hanya menghela nafas lelah dan mencium Tirith kembali. Entah bagaimana, dia nampaknya ketagihan melakukannya. Tidak hanya lembut, bibirnya terasa sedikit manis dan dia tidak membenci sensasi hangat yang dia terima.


Tirith mulai cemberut selagi menyeka air matanya dengan tangan.


"Mengapa kau selalu menciumku? Seharusnya kau menyeka air mataku disaat seperti ini, hmpf!"


Rigel hanya tersenyum dan mengusap sedikit mata Tirith dengan sedikit senang.


"Memangnya kau tidak suka aku melakukannya??"


Tentunya yang dia inginkan hanyalah menggoda dan menggodanya saja. Cepat atau lambat, dapat dipastikan itu akan menjadi hobi baru yang dimiliki Rigel.


Selama dia bersama Tirith, dia seakan melupakan tugas, beban dan dunia ini. Di sisi lain, terdapat perasaan kesepian dimana Priscilla tidak hadir. Perasaanya kepada Priscilla juga masih ambigu, antara mencintainya sebagai wanita seperti Tirith atau hanya sebatas teman dan sahabat perjuangan. Jika harus memilih, kemungkinan besar yang terakhir.


"Bukannya aku tidak menyukainya," balas Tirith dengan sedikit bermasalah.


"Kalau begitu mau pergi ke kamar??"


Tirith merona begitu Rigel membisikan kata-kata itu kepadanya. Tentunya, Rigel hanya menggodanya dan tidak berniat melakukannya karena ada banyak masalah di depan mata.


"Heh, sejak kapan kau sangat bernafsu, Tirith? Aku tidak akan melakukannya, untuk sekarang. Mari kita kembali, aku perlu menyiapkan beberapa pengaturan untuk mengalahkan White Tiger."


Mengabaikan Tirith yang marah karena terus digoda, Rigel membawanya keluar dari Observatorium untuk melakukan pekerjaannya.


Dimulai dari mengatur tempat kosong yang bagus baginya menyimpan senjata di sana dan memposisikan Garfiel sebagai umpan, hingga akhirnya kartu akhir dimana Ozaru akan mengamuk dan mengalahkan White Tiger.


Tentunya kartu terakhir tidak dapat diandalkan, karena jika salah perkiraan, Rigel harus menghadapi Ozaru dan White Tiger bersamaan jika mereka tidak bertempur satu sama lain.


Jika bisa, aku berharap ada awan yang menghalangi bulan purnama sehingga tidak perlu ada kekhawatiran bahwa Ozaru akan berubah selagi bertarung, batin Rigel.


"Tunggu..., benar juga. Mengapa aku tidak terpikirkan sebelumnya...," Rigel bergumam.


Jika terdapat awan yang menghalangi bulan serta sinarnya, maka bukannya mustahil bagi Ozaru ikut bertarung tanpa perlu merubah wujudnya. Kekuatan Ozaru sangat diperlukan dan ketidak hadirannya akan menjadi kerugian besar.


Hazama sendiri masih belum pulih, sementara pengganti Pahlawan pedang belum dilakukan, karena Leo masih belum siap menerima gelar itu. Kemungkinan, jika dia ikut dalam penaklukan White Tiger, mungkin dia akan mendapat pengalaman, namun setara dengan resikonya juga.


Untuk itu, Rigel akan mempertimbangkannya nanti, sekaligus membuat beberapa pengaturan lainnya seperti penempatan Pahlawan dan yang lainnya.


"Ada apa Rigel??" Tirith menatapnya dengan bingung.


"Tidak..., aku hanya terpikirkan sesuatu yang mungkin dapat berguna dalam pertarungan melawan White Tiger nanti," dia mengelak memberitahu dan kembali melanjutkan perjalanan.


Rencana yang terpikirkan adalah menciptakan awan tebal untuk menutupi bulan, misalnya seperti hujan atau semacamnya. Jika beruntung, hujan akan turun secara ajaib. Namun jika tidak, maka dia harus memanfaatkan kekuasaan air Poseidon.


Pertama, mari cari tempat yang cocok untuk mengeksekusi dan memikirkan rencananya. Mengenai kecepatannya memang belum ada pencegahan langsung. Memasang jebakan akan percuma karena dengan kecepatannya dia dapat melewatinya tanpa banyak usaha.


Kampret lah, setidaknya tenggat waktu tiga hari patut untuk di syukuri.


Rigel keluar dari Observatorium bersama dengan Tirith dan kembali ke istana untuk beristirahat selagi bisa.