The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Pahlawan Vs Tortoise IV



Pertarungan pahlawan, bersama tentara persatuan telah tiba. Mereka berniat menjadikan pertempuran ini sebagai pertempuran terakhirnya dan menghabisi Tortoise sekarang juga. Semakin lama dia hidup, semakin tebal pula pertahanan yang dia miliki. Karena hal itu mereka tidak bisa membiarkan Tortoise hidup lebih lama lagi dari ini.


"Baiklah, ini akan menjadi pertarungan yang mendebarkan..." Ujar Marcel dengan senyuman si bibirnya, "Tetap pada rencana, kita akan membunuh mahkluk keparat ini!" lanjut Marcel.


Matahari mulai bersinar, perlahan menyinari pepohonan dan sinarnya mencapai Tortoise yang akhirnya terbangun dari tidurnya. Para Tentara Persatuan yang baru pertama kali melihat monster dalam ukuran yang gila ini menatapnya dengan takjub sekaligus takut.


"B-besar sekali!" Teriak salah satu prajurit.


"Jadi inikah, Tortoise dalam legenda... Benar-benar sebuah bencana..." Gumam Alexei dengan wajah terpukau.


"Bagaimana bisa ada mahkluk semacam ini..." Gumam Altucray.


"Hahaha, ini sangat mendebarkan dan memacu adrenalinku setelah sekian lama!" Ujar Rudeus dengan sangat bersemangat.


*BaDumb... BaDumb.... BaDumb....


Jantung semua orang memompa secara satu irama, mereka mulai merasakan ketegangan saat Tortoise sedang mencoba untuk berdiri. Para tentara kembali menguatkan pegangan senjatanya, mereka mau berkeringat dingin karena kematian bisa menjemput mereka kapan saja. Jarak mereka dengan Tortoise cukup jauh, namun tidak akan begitu jauh bagi Tortoise.


Dia telah berdiri tegak, Tortoise telah berdiri sepenuhnya. Para pahlawan telah bersiap untuk mengambil langkah, namun sesuatu yang tidak perm,ah terjadi sebelumnya mengganggu mereka.


"... D-dia hanya diam dan menatap??" Gumam Takumi dengan terkejut.


"A-apa yang terjadi?!" Ujar Petra dengan sedikit panik.


"Diamlah sebentar dan tunggu apa yang akan dia lakukan!" Hazama menaikan suaranya dan membungkam semua orang.


*Huuuuhhhhh~......


Takumi menghembuskan nafas dari mulutnya secara perlahan untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia telah sepenuhnya fokus terhadap Tortoise yang sama sekali belum bergerak meskipun sudah bangun dari tidurnya.


Secara mengejutkan, Tortoise menoleh ke kiri dan kanan seakan menyadari bahwa ada lebih banyak manusia yang berada di sekitarnya. Tortoise kembali menatap ke arah para pahlawan dan perlahan, dia membuka mulutnya....


*Grooooaaaarrrr.............


Suara Tortoise yang memekakkan telinga semua orang. Mau tidak mau para Tentara harus menutup telinga mereka karena suara bising dari auman Tortoise.


"Ugh! apa-apaan ini?!" Takumi mengutuk.


Apakah Tortoise akhirnya akan menggunakan kekuatannya? pertanyaan seperti itu terus berputar di kepala Takumi. Kalau memang benar, maka apa alasannya? apakah karena ada lebih banyak nyawa di sini?? Sangat memilukan dan tidak di mengerti.


Aumannya hanya berlangsung selama beberapa saat dan dia berhenti. Suaranya memang berhenti, namun mulutnya tetaplah terbuka lebar. Sesuatu pasti akan terjadi dari dalam mulutnya.


"Sebaiknya kau menyiapkan kekuatan itu, Alexei." Ujar Altucray, pandangannya masih tertuju pada Tortoise.


"Sepertinya kau benar, Altucray... Para prajurit, serukan lah doa kalian kepada Tuhan agar dia memberi kita kekuatan!" Ujar Alexei, merentangkan kedua tangannya ke langit.


Sebuah lingkaran sihir super besar terbentuk di langit, tepat dimana kedua tangan Alexei berada. Lingkaran sihir itu menghadap ke Tortoise seakan siap nyerangnya kapanpun. Para prajurit menutup mata mereka dan mulai berdoa. Tidak hanya orang yang berada di medan pertempuran saja, tetapi semua orang yang menyaksikan dari jauh juga berdoa, termasuk Tirith yang berada di Britannia, menggantikan ayahnya menjaga kerajaan.


Tirith bersama orang-orang penting kerajaan menyaksikan pertarungan melalui bola kristal Orb. Bola itu hampir seperti sebuah bola yang di gunakan untuk meramal. Tirith menyaksikannya dengan seksama dan menyadari bahwa Rigel dan Yuri termasuk pahlawan tongkat tidak ada di antara para pahlawan lain. Namun dia mengalihkan pemikirannya dan berharap bahwa Tortoise berhasil di kalahkan.


Kembali ke pertarungan. para pahlawan dapat merasakan energi kuat berkumpul di sekitar Alexei. Dia perlahan membuat lingkaran sihir lainnya yang ukurannya lebih kecil dari yang pertama dan seterusnya.


"Heh, entah kapan terakhir kali aku melihat sihir hebatmu ini..." Ujar Rudeus, dahinya sedikit berkeringat.


"Datang!" Ujar Marcel, pandangannya tertuju pada sesuatu yang mulai keluar dari mulut Tortoise.


Ratusan, atau ribuan kelelawar yang ukurannya sebesar Elang muncul dari dalam mulut Tortoise dan mengarah langsung ke arah para pahlawan dan semua orang yang ada di sini tanpa terkecuali.


"Kampret! kenapa dia tidak mengeluarkan monster kelelawar itu saat kita menghadapinya?!" Argo mengutuk.


"Tidak ada waktu untuk mengeluh! pertarungan telah di mulai!" Teriak Marcel, dengan cepat berlari menuju Tortoise dan menebas kelelawar yang menuju ke arahnya.


"Ya!" Ujar para pahlawan secara serempak.


Semua pahlawan selain Hazama dan Petra berlari menuju Tortoise. Tugas Hazama dan Petra adalah melindungi para prajurit dan juga Alexei yang sedang mempersiapkan sihirnya. Seperti rencana, sebagian besar prajurit akan berhenti berdoa dan melindungi setengahnya lagi untuk tetap berdoa. Sihir yang sedang di siapkan adalah sebuah sihir Suci yang sangat kuat bahkan sanggup untuk menghancurkan sebuah negara. Namun untuk menggunakan sihir itu membutuhkan waktu cukup lama dan juga butuh banyak doa dari orang-orang yang menganut agama Ruberios.


"Tugas kita adalah melindungi Raja Alexei dan Tentara yang sedang berdoa, serahkan saja Tortoise pada pahlawan lainnya!" Teriak Hazama.


"Ya!" Jawab prajurit secara serempak.


"Raja Rudeus dan Raja Altucray, tolong bantu para prajurit menghadapi mahkluk itu, serahkan saja Raja Alexei padaku. Aku akan melindungi kalian juga dari sini..." Ujar Hazama, "Dan untuk kau, Petra... Aku ingin kau menghadapi yang besar itu." Lanjut Hazama.


Hazama menunjuk ke arah Kelelawar besar yang mungkin seukuran dengan seekor Naga. Jika para prajurit yang menghadapi itu, pastinya akan butuh cukup banyak orang, jadi Petra adalah orang yang tepat untuk tugas itu.


"Baiklah!" Jawab Petra, dengan cepat pergi dan menghampiri kelelawar raksasa itu.


Hazama menarik nafasnya dan menggunakan skill miliknya, "Shield Skill : Wall Shield!" Ujar nya.


Sebuah dinding kubus cahaya terbentuk dan mengurung Alexei di dalamnya. Perisai ini berguna untuk melindungi satu orang dan jika perisai dinding itu di serang, Hazama dapat merasakannya. Dengan begini, memungkinkan Hazama untuk melindungi para prajurit yang bertarung ataupun sedang berdoa.


"Baiklah... Mari kita bereskan mahkluk kecil ini dan membantu mengalahkan Tortoise!" Ujar Hazama, berbicara sendiri.


Di sisi lain, Pahlawan yang bertugas melawan Tortoise telah berada di posisi masing-masing. Mereka berpencar dan mengepung Tortoise dari segala arah.


Takumi yang berlari di sisi kiri Tortoise mulai menyiapkan skillnya.


"Spear Skill : Giant Spear..." Ujar Takumi, menggunakan Skill.


Sebuah tombak besar cahaya berwarna hijau terbentuk tepat di atas Tombak ilahinya dan mengikutinya. Takumi mengubah pegangannya dan bersiap melemparkan tombaknya.


"Javelin... Strike!!" Tombak ilahi beserta Tombak cahaya Raksasa Takumi melesat menuju bola mata Tortoise, sasaran paling empuk dari yang lainnya.


Tombak Takumi meluncur dengan cepat menuju mata Tortoise. Tombak itu melaju dengan cukup cepat, namun Tortoise menyadari bahwa ada sesuatu yang mendekat ke arahnya. Saat tombak itu hampir mencapainya, Takumi berteleportasi ke tombak ilahinya. Waktu seakan berjalan lambat, Tombak raksasa Takumi masih meluncur menuju mata Tortoise. Sementara Takumi mengambil Tombak ilahinya dan berputar lalu menghantarkannya ke kepala Tortoise dengan sangat keras.


*Clang........


*Crush!......... ........


*Graaoooorrr...........


Kedua Tombak nya mendarat di tubuh Tortoise pada waktu yang bersamaan. Tortoise mulai menjerit kesakitan dan Takumi melompat menjauh dari sana, karena serangannya belum berakhir sampai di situ. Aland menuju bagian bawah rahang Tortoise dan melemparkan palunya dengan kekuatan yang Gila.


*Bang!


Palunya menghantam Tortoise dengan kekuatan dan hantaman yang gila. Rahang Tortoise terdorong dan membungkam teriakannya yang bising itu.


Nadia berlari kencang dan menyilangkan cakarnya yang mirip dengan cakar X Man.


"Claw Skill : Kemarahan Macan!" Mata Nadia berubah warna menjadi merah dan wajahnya di selimuti energi sihir yang menyerupai seekor Macan marah.


Nadia menyayat tubuh Tortoise seakan sedang berselancar dengan cakarnya. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan dapat memberikan goresan yang cukup dalam di sekitar tubuh Tortoise. Nadia terus menerus menyerangnya seakan sudah hilang akal dan terus menyayat tubuh Tortoise.


Tortoise mengaum keras dan dengan auman nya, beberapa Kelelawar yang keluar dari mulutnya berbalik dan mulai menyerang para pahlawan. Melihat hal itu, Hazama menyadari sesuatu yang tidak terfikir kan olehnya.


"Para kelelawar itu, juga di kendalikan melalui parasit?! Sialan, ini gawat..." Ujar Hazama, berbalik menghadap pasukannya.


Dia hendak mengatakan bahwa tidak perlu membunuh para Kelelawar itu karena Parasit yang mengendalikan mereka akan berpindah. Namun dia sudah terlambat, para prajurit sudah membunuh cukup banyak kelelawar itu.


"SEMUANYA BERLINDUNGLAH....!!!" Hazama berteriak keras.


Raja Altucray dan Rudeus yang telah berpengalaman dalam pertempuran dengan cepat melompat mundur dan menghampiri Hazama untuk melindungi diri mereka. Berbeda dengan prajurit lain, mereka hanya menatap ke arah Hazama dengan bingung sampai sesuatu mulai keluar dari tengkuk Kelelawar. Meski tahu dia tidak dapat melindungi semua orang, Hazama tetap bersikeras untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang.


"Shield Skill : Holy Field Barrier!!" Ujar Hazama, menggunakan Skill.


Pelindung cahaya muncul dan melindungi cukup banyak orang, namun tetap saja dia tidak bisa melindungi hampir setengah pasukan yang bertarung.


*Duck........


"Oaaarrgghhg....!!"


"Arrgh!!"


"T-tolong aku!"


Jeritan demi jeritan terdengar. Parasit yang berada di tubuh monster yang mati telah berpindah ke tubuh para Prajurit dan membuat mereka menjadi sangat kesakitan. Raja Altucray dan Rudeus serta Petra yang melawan Kelelawar besar menatap dengan sangat terkejut. Mereka tidak berfikir bahwa kelelawar itu juga memiliki parasit. Beberapa prajurit yang tidak tertular Parasit mengambil langkah mundur dengan sedikit takut.


Tidak butuh waktu lama bagi Parasit itu untuk mengendalikan prajurit yang memiliki Mana sedikit. Prajurit yang di kendalikan parasit menghampiri prajurit lain yang tidak tertular dan membunuhnya.


*Crush.....


"Aaahhhh!!!" Teriak prajurit kesakitan.


Hazama menatap, dia hampir tak bergeming sedikitpun. Kepalanya kosong, dia tidak dapat memikirkan apapun lagi.


"Kenapa... kenapa jadi seperti ini... tidak... seharusnya tidak begini... Kan?...." Gumam Hazama.


"Pahlawan Perisai! kita harus melakukan sesuatu!" Teriak Altucray.


"Hazama! Sadarlah, ini sebuah pertempuran!" Teriak Petra.


Mendengar teriakan Petra, Hazama kembali tersadar dan menatap dengan bingung namun dengan cepat mendapatkan pemikirannya kembali.


"Tahan mereka yang terkena Parasit dan buat Monster kelelawar itu tidak bisa menyerang atau hancurkan tengkuknya bersama Parasit itu! " Ujar Hazama kepada para prajurit.


"Baik!" Jawab prajurit secara serempak.


Keadaan telah menjadi di luar kendali. Para prajurit semakin sibuk untuk menahan mereka yang di kendalikan parasit agar tidak membunuh satu sama lain. Belum lagi, masih ada cukup banyak Kelelawar yang masih berkeliaran dan mereka harus mengalahkannya dengan cara membunuh Kelelawar dan parasit itu secara bersamaan. Pahlawan lain nampaknya masih berusaha mengikis ketebalan kulit Tortoise, dan bahkan serangan Alexei masih membutuhkan sedikit waktu lagi untuk di luncurkan. Jika kondisi ini terus berlangsung seperti ini, hanya perlu menunggu waktu sampai seluruh prajurit kewalahan menghadapi prajurit lainnya.


"Tch! Aku berharap ini tidak akan menjadi lebih buruk lagi!" Gumam Hazama dengan kesal.


Di sisi lain, di Kerajaan Britannia. Tirith bersama beberapa bangsawan di Britannia menyaksikan pertempuran melalui Kristal Orb. Semua orang berkeringat dingin saat menyaksikan bahwa para prajurit bertarung satu sama lainnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa mereka menyerang satu sama lain?!" Tanya Tirith kepada orang yang berada di sekitarnya.


"Entahlah, Tuan Putri. Aku sendiri tidak mengetahuinya. Namun dari yang terlihat, nampaknya ada sesuatu yang mengendalikan Para prajurit." Ujar Walther.


Walther tetap berada di Britannia, meskipun pintu Region terbuka lebar untuknya, dia masih tetap memilih untuk tinggal di Britannia karena mau bagaimanapun, itu adalah tanah tempatnya terlahir, dan tempatnya akan mati.


"Di kendalikan? apakah maksudmu Tortoise itu mengendalikan mereka?!" Tanya Tirith.


"Ya, Tuan Putri. Dari yang aku perhatikan, sesaat sebelum mereka saling bertarung, aku melihat seperti ada tempurung kura-kura kecil yang keluar dari monster kelelawar itu dan menyerang Tentara. Kemungkinan besar, tempurung itulah yang menjadi penyebabnya..." Ujar Walther.


"Tidak mungkin.... Jika begitu, bukankah pertarungan mereka kana menjadi lebih sulit?... Kemana Rigel, dan Yuri serta Tentara dari Region? Aku belum melihat mereka sama sekali..." Gumam Tirith.


"Untuk itu... Aku mendengarnya dari Putriku bahwa para pahlawan menolak bekerja sama dengan Tuan Rigel. Karena itu, Tuan Rigel tidak ikut bertarung bersama mereka dan memikirkan rencananya sendiri untuk menghadapi Tortoise kalau saja para pahlawan tidak berhasil mengalahkannya..." Jawab Walther dengan sedikit sedih.


"Apakah para pahlawan itu bertengkar?" Ujar bangsawan lain.


"Aku tidak percaya itu. Bagaimana bisa mereka bertengkar di kondisi seperti ini??" Ujar Bangsawan lain.


Mata Tirith tertunduk. Dia tahu bahwa memang ada perselisihan antara Rigel dan Takatsumi serta pahlawan lain. Namun dia tidak menyangka akan separah ini jadinya. Entah bagaimana Tirith yakin bahwa Rigel dapat melakukan sesuatu tentang para prajurit yang di kendalikan. Buktinya, dia mendengar bahwa Yuri berhasil di sembuhkan oleh Rigel. Tirith menguatkan tekadnya.


"Tuan Ainsworth, bisakah kau menghubungi putrimu? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Rigel..." Ujar Tirith dengan penuh tekad di matanya.


Walther terkejut, dia belum pernah melihat Tuan Putri seantusias ini akan sesuatu. Namun, dengan kecewa dia harus mengatakan ini.


"Maaf Tuan Putri... Sayangnya aku tidak dapat menghubungi Putriku." Ujar Walther, Tirith terlihat sedikit kecewa karena jawabannya.


"Namun, dia berkata bahwa ada cukup banyak dari pasukan Region bersiaga di laut untuk membawa para pengungsi. Kupikir, kemungkinan saja Putriku atau rekannya ada di sana." Lanjut Walther.


Wajah Tirith kembali di penuhi harapan dan antusiasnya. Dia dengan cepat berdiri dan melakukan persiapan.


"Tuan Ainsworth, aku ingin kau menggantikanku menjaga kerajaan ini untuk sementara selagi aku pergi menemui Rigel. Untuk kalian yang ingin pergi dari sini dan mengungsi aku persilahkan kalian pergi. Siapkan kereta Naga, aku akan pergi seorang diri!" Ujar Tirith.


Setelah mengatakan hal itu, dia langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil barang-barang miliknua.


'Aku tidak yakin apakah aku dapat membujuk Rigel atau tidak, namun setidaknya aku harus mencoba!' Batin Tirith, selagi pergi ke kamarnya dengan tergesa-gesa.


Pertempuran akan memasuki bagian klimaksnya, dan legenda baru tentang pahlawan Creator akan terukir.