The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Sebuah cerita



POV KAMADA TAKUMI.


Siang berganti malam. Bulan menggantikan tugas matahari dan menyinari malam yang sunyi.


Saat ini, aku sedang duduk di atas dinding luar desa yang berfungsi sebagai penghalang untuk para monster agar tidak mendekati pemukiman.


Aku sedang menatap bulan yang bersinar putih ke biruan. Dampak kerusakan yang ditimbulkan manticore cukup parah.


Meskipun mayat orang orang desa yang meninggal telah dibereskan sejak lama, namun kerusakan pada bangunan butuh waktu cukup lama untuk dibereskan.


Sebelum aku memulai petualanganku, aku hanya bermalas malasan di istana dengan aman dan nyaman namun, aku tidak pernah tahu jika ada banyak orang mati karena monster setiap hari.


Karena dibumi, tidak ada sihir ataupun monster jadi aku selalu membayangkan betapa menyenangkannya jika aku bisa menggunakan sihir.


Kupikir dunia dengan sihir dan monster yang hanya ada dalam game akan menyenangkan. Namun kenyataanya lebih kejam daripada yang kupikirkan.


Di dunia dengan sihir, yang lemah akan ditindas oleh yang lebih kuat dan yang lebih kuat akan memangsa yang lebih lemah untuk kesenangan.


Dengan sihir, memiliki budak yang setia bukanlah hal yang mustahil, bahkan di dunia ini ada banyak Pasar gelap yang menjual budak dari berbagai ras termasuk wanita.


"Dunia ini tidak seperti yang kubayangkan, bahkan jika mengingat kematian Rigel, itu sangatlah menyedihkan."


Gumam Takumi sedih.


Saat aku sudah terbawa arus pikiranku sendiri sehingga tidak memperhatikan daerah sekitar, aku dapat mendengar beberapa langkah kaki menuju kearahku.


"Kau tidak bisa tidur, tuan pahlawan?"


Suara lembut seorang gadis berbicara denganku.


Gadis itu adalah penduduk desa ini, Tessia. Dia gadis feminim yang cantik meskipun hanya rakyat jelata.


Rambutnya diwarnai merah ke hitaman dan matanya memancarkan sebuah kelembutan khusus. Dia sedang mengenakan piyama tidur dan selimut di punggungnya agar tidak kedinginan.


"Tidak juga. Aku hanya ingin menghirup beberapa udara segar. Bagaimana denganmu?"


Dia Menghampiriku dan duduk di sampingku.


"Belakangan ini aku sering bermimpi buruk, jadi aku keluar untuk mencuci muka dan aku melihatmu sendirian disini."


Ucapnya sambil menyeka helai rambut ditelinganya.


"Mimpi buruk?" Tanya Takumi.


Tessia mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Aku bermimpi tentang orang tuaku yang dibunuh para bandit."


Aku diam dan mendengarkan Tessia bercerita. Aku tau ini bukanlah topik yang ringan untuk dibahas.


Aku tahu, dulu desa ini diserang sekelompok bandit dari cerita Bell yang kehilangan orang tuanya dalam peristiwa itu.


Dari yang kupikirkan, sepertinya Bell, Tessia dan teman-temannya yang lain adalah anak anak yang kehilangan orang tuanya dalam peristiwa itu.


"Orang tuaku rela membuang nyawanya untuk melindungiku. Mereka dibunuh dengan kejam tepat didepan mataku. Aku hanya bisa menyaksikan mereka terbunuh dan menangis dalam diam."


"Aku begitu ketakutan dan berharap seseorang akan datang menyelamatkan kami namun, seseorang itu tidak pernah datang."


"Kemana pak tua Ozen itu? bukankah mereka seharusnya lawan yang mudah untuk pendekar seperti dia?" tanyaku.


"Dia belum berada di desa ini saat itu. Dia datang 4 hari setelah kekacauan. Tampaknya, pada saat itu dia memang sedang mengejar bandit bandit itu dari ibukota.


Dia menundukkan kepalanya kepada warga desa yang tersisa dan dengan sangat menyesal mengakui bahwa itu adalah kesalahannya membiarkan mereka kabur terlalu lama.


Saat dia melihat kami, anak anak yang kehilangan orang tua, guru mengeluarkan air matanya. Bukan untuk orang atau keluarga yang dicintainya, namun untuk kami orang asing yang baru saja bertemu."


Tessia tersenyum nostalgia sembari melanjutkan ceritanya.


"Setelah itu, dia memutuskan untuk tinggal beberapa waktu di desa ini untuk melindungi kami dari para monster yang menyerang saat desa kami ditengah kehancuran.


Saat melihatnya bertarung melawan monster, kami terkagum kagum dengan kemampuannya dalam menggunakan pedang ataupun senjata lainnya."


"Dia melindungi kami dari monster, membantu warga membangun kembali desa yang hancur serta merawat kami anak anak serta melatih kami untuk menghadapi penjahat dan melindungi desa dari monster."


Dari cerita Tessia, nampaknya sebelum datang ke desa ini, pak tua Ozen adalah pendekar yang berasal dsri Britannia.


Dengan kekuatan bela diri serta seni menggunakan senjatanya, dia pasti pejuang unggul pada masanya. Bahkan aku sendiri cukup kewalahan menghadapi Ozen.


Karena kekuatan Divine Protection of Soul-Earth miliknya yang menarik kekuatan dari bumi selama dia masih menginjak tanah, membuatnya menjadi benteng berjalan yang sangat kuat.


"Yah, itu sangat buruk. Pelatihannya tidak main main, dia membuat kami merasakan neraka di dunia ini."


Tessia tersenyum senang. Akupun mengikutinya dengan ikut tersenyum. Kami terus membicarakan berbagai hal tentang masa masa pelatihannya dengan pak tua ozen.


"Aku sudah dengar jika salah satu dari pahlawan yang berasal dari Britannia telah meninggal."


Aku hanya diam tanpa membalas pernyataan Tessia. Jika mengingat tentang Rigel, wajahnya tersenyum muncul dikepalaku.


Tidak hanya wajah Rigel, tetapi seringai ******* yang membuat Rigel menjadi pahlawan tersesat juga muncul dikepalaku, Dia adalah Diablo. Darahku selalu mendidih jika teringat tentang iblis itu.


"Kalau tidak salah dia adalah Creator Hero, kan? Siapa namanya?"


Tanya Tessia. Aku menjawab.


"Amatsumi Rigel."


Dia mengangkat kepalanya dan menatap kearahku, langsung ke mataku.


"Amatsumi Rigel, ya? Dia memiliki nama yang bagus. Orang macam apa dia sebenarnya?"


Mau tidak mau aku harus menjawab Tessia yang tertarik dengan sangat penasaran.


"Dia orang yang baik, dia cukup tampan dan selalu membuat lelucuon yang cukup buruk. Setiap dimalam hari seperti ini,


Dia selalu ke taman kerajaan untuk bermain atau menggoda tuan putri yang selalu datang untuk melihat bintang bintanh dilangit.


Terkadang aku selalu bersamanya membahas beberapa hal yang tidak penting.Aku tidak terlalu banyak tahu tentangnya, namun dia adalah pria yang menyenangkan sekaligus


Sahabat pertama yang kumiliki."


Ucap Takumi dengan sedih.


Tessia hanya diam mendengarkan cerita Takumi. Bagi Tessia, Takumi juga memiliki beberapa sisi misterius di dalam dirinya yang tidak di ketahui Tessia.


Meskipun Takumi tampak seperti pria yang banyak tersenyum, namun senyumannya tidak pernah mencapai hatinya, pikir Tessia.


Lalu, Takumi tanpa sadar terus melanjutkan ceritanya.


"Diantara kami pahlawan, dia adalah yang terlemah, tidak memiliki senjata suci dan hanya dapat menciptakan barang barang umum yang dapat dibuat manusia.


Namun, hanya dialah yang paling tabah dari


kami, meski dia direndahkan oleh para bangsawan dan raja, dia tidak terganggu sama sekali.


Dia juga orang yang tersenyum paling lebar diantara kami. Namun, karena iblis sialan itu dia harus mati secepat ini. Untuk alasan inilah aku akan berpetualang kepenjuru tempat untuk menjadi kuat dan membunuh iblis itu."


Ada api kebencian yang membara di mata Takumi. Emosi yang kuat merembes keluar, bahkan Tessia dapat merasakannya dengan jelas.


Namun, Tessia tetap diam. Dari cerita Takumi tentang Rigel, wajah Bell muncul di dalam kepalanya. Sifat Bell tampak sangat mirip dengan Rigel.


Dari itu, Tessia memiliki satu kesimpulan. Orang yang tersenyum paling lebar selalu memiliki luka paling dalam.


Bell selalu terlihat bahagia namun dibaliknya terdapat hati yang remuk. Tessia tahu apa yang di saksikan Bell saat bandit menyerang jadi dia tidak ragu untuk mengambil kesimpulan itu.


Takumi menoleh ke Tessia seakan telah kembali ke kenyataan.


"Maaf ya, Tessia. Aku malah terbawa emosi saat membicaran tentang hal ini." Takumi tersenyum.


Tessia juga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ahh, tidak apa apa, lagi pula aku yang ingin mendengarkan cerita tentang pahlawan itu."


Ucap Tessia "Hari sudah larut, bagaimana kalau kita kembali?" lanjutnya.


Takumi mengangguk dan mengikuti Tessia untuk kembali ke rumah pak tua Ozen.


Lalu—


!!!


Takumi merasakan aura jahat yang mencengkram dan menjijikan muncul di dekat gerbang desa.


Boom!


Sebuah ledakan besar muncul tepat di dekat gerbang desa. Ledakan api yang cukup besar bahkan terlihat dari tempat Takumi dan Tessia berada.


Takumi memandang Tessia begitu juga sebaliknya. Mereka sama sama mengangguk dan langsung menuju ke tempat kejadian.