
Dunia berwarna putih, semuanya berwarna seakan dunia hanya memiliki satu warna saja. Dimana aku?
Rigel tidak tahu berada di mana dia saat ini, dia tidak dapat melihat tangannya, kakinya atau bahkan tubuhnya. Suaranya tidak keluar dari tenggorokannya, dia tidak dapat merasakan tubuhnya. Hanya satu yang dapat di pastikan, bahwa dia ada.
Apa aku mati lagi? lalu ini di surga? atau neraka? jelas bukan keduanya. Lantas hanya sebuah tempat dengan kekosongan abadi ini, hanya sebuah kehampaan.
Pemikiran bahwa dia akan menghabiskan tahun-tahunnya di tempat hampa semacam ini muncul. Hal yang paling buruk, paling seram, paling suram, paling mengerikan, paling menyedihkan, paling menakutkan adalah menghabiskan waktu tanpa melakukan apapun, tanpa mendengar apapun, tanpa merasakan apapun, tanpa melihat apapun, tanpa memiliki tujuan apapun, tanpa memiliki hasrat apapun.
Dia ada namun juga tidak, dia merasakan namun juga tidak, dia melihat segalanya namun juga tidak, dia dengan jelas dapat mendengar namun juga tidak. Sebuah ke tidak pastian semacam ini, hanya akan di temukan di dalam kehampaan.
".... gel.... Rigel... Rigel."
Dia mendengar suara, sebuah suara serak dan berat yang memanggil namanya. Suara yang dia kenali baru-baru ini dan perlahan bayangan hitam terbentuk di hadapannya. Membentuk sebuah sosok yang baru-baru ini dikenali.
"Ini aku, Rigel. Aku, Karaka. Kedatanganku untuk memberitahumu sesuatu yang tak kau ketahui."
Bayangan itu membentuk jelas, seorang iblis dengan lengan empat. Yang uniknya kakinya tidak terbentuk dan hanya berupa asap yang bergabung. Jika dia dan Karaka berada di sini, Apa mungkin aku sudah mati?
"Memang di sayangkan, namun kau belum mati. Aku menarikmu ke alam bawah sadarku dengan sisa-sisa kekuatanku." Karaka berkata seakan dia mendengar apa yang baru saja Rigel katakan di dalam kepalanya.
Rigel hendak membalas ucapannya, namun suara tak kunjung keluar dari tenggorokannya. Bahkan tubuhnya tidak dapat di rasakan lagi olehnya.
"Kau tidak dapat bicara, atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hal fisik. Yah, mari lewatkan hal itu. Aku ke sini untuk memberikanmu informasi, anggap saja sebagai rasa terima kasihku atas pertarungan luar biasa itu." Karaka mengeluarkan senyuman yang berbeda dari dia yang biasanya. Rigel tetap diam, mau bagaimanapun dia memang hanya bisa diam.
"Hal ini tentang Lucifer, yang pergi masuk ke neraka. Tujuannya ke sana adalah mengambil sebuah senjata milik Dewa Hades yang berupa sebuah tangan kiri. Aku sendiri tidak tahu menahu manfaatnya, namun yang jelas itu sangatlah kuat. Mulai dari sekarang dan seterusnya, pertarungan yang akan kau alami jauh lebih buruk dari ini. Banyak dari rekanmu akan mati, satu persatu orang di sisimu akan menghilang."
Ntah itu sebuah kebenaran atau hanya gertakan biasa, namun tidak ada cerita lain tentang apa yang di lakukan Lucifer di Neraka selain ini. Dilema terjadi, untuk memutuskan cerita ini hitam atau putih. Tidak ada jawaban pasti, sebelum dia melihatnya secara langsung. Untuk saat ini cerita Karaka hanya akan menjadi abu-abu. Namun pernyataannya tentang rekan-rekannya mati akan di tanamkan baik-baik dalam benaknya.
Jika kenyataan bahwa Lucifer menerima tangan kiri Hades, maka cepat atau lambat Rigel akan bertarung dengannya sebagai sesama pemilik God Hand. Rigel memiliki Void di tangan kanannya dan itu bisa di sebut juga dengan God Hand, karena Void itu sendiri berasal dari seorang dewa. Kekuatannya sangat dahsyat dan super destruktif, dapat meniadakan segala hal yang ada, tanpa terkecuali Dewa.
"Kau adalah perwakilan umat manusia, saat perang nanti kau akan menjadi sosok yang bersanding dengan Lucifer dan malaikat tertinggi, Michael. Aku tidak tahu dengan jelas tentang ini, namun nampaknya kau juga memiliki sesuatu yang mengerikan di tangan kananmu itu. Ingatlah ini Rigel, kau lebih dari apa yang kau kira. Pahamilah baik-baik seberapa besar potensimu yang sebenarnya..." Sosok Karaka mulai berbayang dan perlahan menghilang dari hadapan Rigel.
"Sudah waktunya. Jangan lupakan apa yang aku katakan Rigel... kau... kuat... God Requiem... paham..." Sosoknya menghilang sebelum dia menyelesaikan pesan terakhirnya.
Dunia yang semula putih perlahan meredup menjadi sebuah kegelapan abadi yang menyelimutinya. Sesaat kemudian, Rigel dapat merasakan udara hangat menyelimutinya, terutamanya di lengan kanan. perlahan suara samar dunia masuk ke telinganya. Dia membuka matanya dan perlu menyesuaikan diri selama beberapa waktu. Dia membuka matanya, di sambut oleh langit-langit yang dia kenali dan rasa sakit di tubuhnya segera menjalar.
Rigel menoleh ke sekitar untuk mencari tahu siapa saja yang berada di sini. Saat dia melihat ke tangannya, dia melihat Tirith yang menjadikan telapak tangan Rigel sebagai bantal pipinya. Kelopak matanya terlihat lebam, nampaknya dia menangis dalam waktu lama.
Jika Tirith sudah berada di sini, yang berarti sudah cukup lama semenjak pertarunganku dengan Karaka. Rigel mengingat-ngingat kembali waktu pertarungannya dengan Karaka. Sebenarnya dia bukan lawan yang benar-benar sulit di tangani. Di karenakan saat itu Rigel tengah di penuhi amarah membara yang mencapai kepalanya, sehingga dia tidak dapat berpikir dengan benar-benar jernih. Hal itu benar-benar sebuah kesalahan fatal.
Rigel juga mengingat dengan jelas apa yang Karaka sampaikan sebelumnya, tentang Lucifer yang menerima tangan kiri Hades. Ntah itu sebuah kebenaran atau bukan, namun tidak mungkin Karaka akan repot-repot menemuinya untuk menceritakan sebuah kebohongan belaka. Bahkan dari perilakunya, sangat jelas bahwa Karaka bertindak atas kemauannya sendiri, bukan atas perintah orang lain.
Jika benar adanya Lucifer menerima tangan Hades, maka pertarungan antar pemilik God Hand tidak dapat terhindarkan. Rigel tidak mengetahui apapun tentang para malaikat, terutamanya Michael. Ntah dia juga memiliki God Hand atau tidak, namun kemungkinan terburuk adalah yang pertama. Mungkin skala pertarungannya akan jauh lebih luas dan dahsyat ketimbang yang aku bayangkan. Aku sendirian saja mustahil untuk menaklukkan perang. Nampaknya bukan hanya aku yang harus menjadi kuat, tetapi juga Pahlawan lain dan tentara umat manusia. Dan juga, Karaka berkata sesuatu tentang God Requiem.
Sebuah kekuatan yang membawa Rigel kembali ke dunia fana ini. Rigel awalnya menganggap bahwa itu hanyalah sebuah kekuatan yang dapat membangkitkannya kembali ke dunia ini. Dia mengabaikan fakta bahwa mungkin ada hal lain di balik itu semua. Seingatnya, God Requiem adalah lagu harapan para dewa. Lebih tepatnya, harapan apa yang mereka nyanyikan?
Beberapa pemikiran tentang nya langsung bermunculan di kepala Rigel, sampai sesuatu yang lembut di tangan kanan Rigel bergerak. Rigel menatapnya, itu Tirith yang terbangun dari tidurnya. Wajah dan rambutnya terlihat kusut.
"Selamat pagi, tidurmu nyenyak?" Rigel menyapanya dengan lembut.
"... Ya... Selamat pagi, Rigel..." Dia masih setengah sadar, sampai akhirnya terkejut sendiri, "Rigel?! Sejak kapan kau telah sadar?? "
"Sejak kau mulai mengeluarkan air liurmu."
Mendengar itu Tirith dengan cepat menyentuh pipinya dan menyadari bahwa memang ada sedikit jejak air liur dan membuatnya sedikit malu.
Rigel memutuskan untuk mengubah topik, "Yah, abaikan saja hal itu. Yang lebih penting, berapa lama aku tidak sadarkan diri? apa saja yang terjadi selagi aku tidak sadar?"
"U, um. Sudah hampir dua Minggu semenjak kau tidak sadar. Para pasukan iblis telah berhenti menyerang berkat para Pahlawan. Kerusakan akibat pertarungan secara perlahan telah di pulihkan. Untuk kematian Pahlawan pisau, masih belum di putuskan akankah membeberkannya kepada orang banyak atau tidak. Lalu, untuk salah satu rekanmu yang bernama Nisa..." Rigel menyela sebelum Tirith menyelesaikan.
"—Cukup. Aku telah mengerti garis besar ceritanya. Lantas, bagaimana reaksi Misa setelah mengetahui kematian saudara kembarnya?"
Tirith memasang wajah sedih, "Um, dia terlihat sangat sedih hingga mengurung diri selama beberapa hari. Namun sekarang dia sudah baik-baik saja dan perlahan bisa melepas kepergiannya."
"Lalu, bagaimana denganmu, kenapa kau ada di sini?"
"Aku mendengar bahwa kau tidak sadarkan diri, jadi aku memaksa tentaramu yang hendak kembali untuk membawaku bersama mereka untuk menemuimu dan menjadi orang yang merawatmu." Wajahnya sedikit merona saat mengatakan itu.
"Begitu, baguslah jika tidak ada hal lain yang terjadi."
Rigel menghela nafas lega.
"Masih ada satu hal lagi." Mendengar itu, Rigel kembali melirik Tirith dengan tertarik.
"Pahlawan Tongkat telah kembali sadar. Namun ntah kenapa dia yang saat ini jauh lebih bijaksana dan berwibawa. Sekarang, dia tengah membantu Yang mulia Asoka membereskan kekacauan."
"Huh? apa kau mengigau? tidak mungkin Monyet itu bisa memerintah sebuah negara." Rigel benar-benar tidak dapat mempercayai hal itu. Penilaiannya terhadap Ozaru adalah seorang Monyet bodoh yang tahu caranya berbicara dan menggunakan senjata.
Rigel berusaha bangun dari tempat tidurnya, namun rasa sakit menusuk seluruh tubuhnya bagaikan di hujani oleh ratusan jarum. Tirith dengan panik berdiri dan membaringkan Rigel kembali.
"Kau tidak boleh bangun dulu! luka di tubuhmu masih cukup parah meskipun telah di bantu dengan sihir. Sebagai perawat pribadimu, aku melarangmu keras untuk bergerak, apapun yang terjadi." Tirith membusungkan dadanya dengan kebanggaan yang tidak dimengerti Rigel.
Yang membuat Rigel tertarik, "Perawat pribadi, ya? kalau begitu kau akan membantuku dalam apapun yang berhubungan dengan tindakan fisik?"
Tirith dengan semangat mengangguk, Um! katakanlah apa keperluanmu maka aku akan menyiapkannya!"
Dia tampak sangat antusias memainkan peran sebagai perawat pribadi Rigel. Senyuman jahat tumbuh di bibir Rigel.
"Kalau begitu, bisakah kau menolongku melepaskan pakaianku? terasa sangat panas di dalam sini, dan pakaianku mungkin penuh dengan keringat."
Saat ini pakaian yang di gunakan Rigel hanyalah celana panjangnya. Tubuh bagian atasnya di penuhi perban sehingga dia tidak menggunakan bajunya.
"M-ma-maksudmu, pa-pakaian yang di b-bawah sana?" Ujarnya malu-malu dan merona.
"Tentu saja. Tenang saja, 'itu' tidak akan menggigitmu secara tiba-tiba." Senyuman senang muncul kembali di bibir Rigel. Sungguh hiburan menyenangkan untuk menggoda Tirith dengan hal kotor semacam itu, "Kenapa kau ragu? bukankah kau mengajakku melakukan hal itu saat lalu? dimana rasa kepercayaan dirimu pada waktu itu?" Rigel terus menggodanya tanpa henti sampai wajah Tirith benar-benar merah merona.
"B-b-b-baiklah..." Dengan malu-malu dan menutup matanya, Tirith meraih celana Rigel dan hendak menurunkannya sampai pintu terbuka.
"Wah-wah, nampaknya aku datang di saat yang tidak tepat ya. Aku akan kembali setengah jam lagi."
"Tu-tunggu! kau salah paham!" Tirith menghentikan Ozaru yang hendak menutup pintu dan pergi. Mendengar itu Ozaru berbalik dan berjalan masuk ke kamar Rigel.
"Yah, aku tidak akan mengatakan apapun karena ini musim semi. Sudah sewajarnya para betina ingin bercocok tanam dengan pria yang dia cintai." Ozaru berkata dengan acuh selagi tersenyum kecil.
Rigel dengan diam menatap Ozaru yang berjalan dengan tenang menuju ke sisinya. Memang benar bahwa ada perubahan besar yang terjadi pada Ozaru, terutamanya hawa kehadiran dan kharisma yang dia keluarkan.
Ozaru memulai, "Kau nampaknya telah mendengar dan menyadari bahwa perubahan terjadi padaku kan, Rigel." Ozaru tersenyum, melihat hal itu Rigel telah mengkonfirmasi sendiri bahwa apa yang di ceritakan Tirith benar.
Rigel mendengus, "Sepertinya memang benar adanya. Jadi, tidak mungkin kau datang ke sini hanya untuk itu kan? mungkinkah ini tentang ekormu yang menghilang? Rigel tersenyum sedikit mengejek. Dia memang tidak memiliki bahwa teori tentang ekornya berhubungan dengan perubahannya. Hal ini hanya di dasarkan insting dan ketajaman Rigel.
Ozaru mendengus senang dan sedikit geli, " Haha, tidak kusangka kau masih setajam ini meskipun dalam keadaan hampir mati."
"Yah, begitulah, dan juga, ini kali pertama aku mendengar sarkasme darimu, Ozaru." Rigel juga tertawa geli dan memandang gadis di sebelahnya, "Bisakah kau tinggalkan aku berdua dengan Ozaru, Tirith? sepertinya ini bukan pembicaraan yang dapat di dengar orang luar."
"Y-ya, baiklah. Aku akan menjaga di depan pintu, barangkali ada seseorang yang mendekat." Tirith tanpa mengatakan apapun lagi pergi ke luar ruangan Rigel.
Ruangan menjadi hening semenjak suara pintu tertutup. Rigel hanya diam dan menunggu Ozaru untuk berkata lebih dahulu. Ada beberapa kekhawatiran tumbuh di benak Rigel. Ozaru saat ini berbeda dengan yang dia kenali dulu, dia sekarang mungkin jauh lebih pintar ketimbang yang dulu. Buktinya adalah dia dapat memerintah Region, meski Rigel tidak tahu pasti apa yang di lakukannya.
Ada juga kekhawatiran tentang Ozaru memberontak atau menentang Rigel. Jika hal itu benar terjadi, maka akan sangat merepotkan menariknya kembali ke sisinya. Yang mengkhawatirkan adalah Takatsumi memanfaatkan pemberontakan Ozaru dan menariknya ke sisinya untuk melawan Rigel. Yah, kemungkinan hal itu tidak terjadi, dari raut wajah Ozaru dan suasananya, ini pembicaraan yang serius.
Rigel terus menunggu Ozaru yang sampai sekarang tak kunjung bicara. Nampaknya ini bukan sesuatu yang mudah baginya untuk di bicarakan. Setelah beberapa waktu dalam keheningan, akhirnya Ozaru membuka mulutnya.
"Seperti dugaanmu, hal yang ingin ku bicarakan denganmu menyangkut tentang perubahan pada sifatku ini. Perubahan ini bukan lah sesuatu tanpa sebab tidak jelas. Ini ada hubungannya dengan ekorku dan kutukan yang ku bawa semenjak lahir."
...___________End Arc Gate Of Underworld___________...