
Uap panas berkumpul, bentrokan antara air dan lahar panas terjadi. Membuat dunia berguncang akan ledakan besar yang terjadi. Guncangannya cukup besar untuk mencapai tiga negara besar.
"Getaran ini, apakah pertarungan Rigel dengan Phoenix?" Ujar Asoka selagi menatap keluar dengan khawatir.
Tidak hanya dia, tetapi Altucray, Tirith, Alexei dan Rudeus sama dengannya. Ini Hari yang besar, wajar semua menjadi gugup dengan pertempuran kali ini meski mereka tidak turun langsung.
*DUAR!
Ledakan besar terjadi dari dalam Territory Phoenix, beruntung bahwa para Pahlawan telah berada di Perisai terkuat Hazama. Namun ntah nasib seperti apa yang menanti Rigel, dikarenakan dia satu-satunya orang yang tak berada dalam Perisai.
Ledakannya cukup besar untuk menghancurkan sebuah gunung dan itu terjadi selama beberapa menit, sampai Territory hancur dan dunia kembali ke awal semula.
Uap yang terbentuk menyebar menutupi pengelihatan semua orang. Yang pasti, para Pahlawan yang bersama dengan Hazama telah di jamin berhasil bertahan.
Perisai Hazama perlahan memudar dan menghilang, memperlihatkan sosok Pahlawan yang sehat sentosa.
"... Akan ku katakan, orang itu benar-benar gila..." Aland tidak memiliki hal lain yang terpikirkan selain kegilaan.
Neraka penuh lahar benar-benar di hancurkan, menyisakan bebatuan granit yang hancur akibat ledakan.
"Aku setuju denganmu. Seberapa jauh kegilaannya?" Ujar Petra.
"Aku penasaran hal hebat seperti apa yang dia sembunyikan." Hanya Nadia yang terlihat menantikan aksi gila Rigel.
Selagi mereka berbincang, Ray dan Merial saling mengangguk dan pergi dsri tempat tuk mencari Rigel. Takumi tentu tidak diam saja, dia mengikuti di belakang sampai akhirnya semua orang mulai bergegas.
"Apa kalian melihat sesuatu?!" Ujar Ray dengan tergesa-gesa.
"Aku belum melihatnya sama sekali." Balas Merial.
Pencarian di tengah batu granit yang mengeluarkan uap panas terus berlangsung, sampai Yuri berteriak.
"Di sana! aku melihatnya!"
Melihat arah dimana Yuri menunjuk, mereka melihat seorang pria yang berdiri dan sedikit terengah-engah. Rambutnya tampak samar, namun dapat di tebak itu putih dan juga tangan kirinya yang unik. Tidak salah lagi, hanya Rigel yang berpenampilan seperti itu.
"Rigel!" Serempak berteriak dan berlari ke arahnya.
Dua menoleh dan bersyukur bahwa yang lain tidak terluka. Ledakannya jauh lebih besar dari perkiraan, namun setidaknya dia berhasil selamat tanpa menerima sedikitpun kerusakan selain pada pakaian yang digunakan.
"Rigel, tangan kananmu..." Yuri menatap diam.
Sebuah Rune biru terukir jelas di tangan Rigel. Kekuatan yang sama yang dia gunakan untuk menghadapi Tortoise.
"Tsk! Rune aneh itu lagi..." Gumam Takatsumi selagi mendecakkan lidah.
Dia telah berkali-kali menyaksikan Rigel menggunakan Rune biru. Setiap kali itu aktif, kekuatan tak masuk akal mengalir dalam diri Rigel. Yang menjadi alasan terbesar Takatsumi belum melakukan apapun, karena dia berniat memantau seperti apa saja kekuatan Rigel.
Diluar dugaan, kekuatannya sangat tidak masuk akal... Namun, kekuatan besar tentu memiliki bayaran, kuyakin dia tak bisa terus bergantung pada kekuatan itu. Batin Takatsumi.
"Kau baik-baik saja, Tuan Rigel?!" Merial bertanya dengan khawatir.
"Ya... Ntah bagaiman aku terselamatkan. Lebih dari itu, burung di depan sana terlihat sangat marah." Pandangannya menuju satu tempat.
Tempat di mana burung api tergeletak dan berusaha bangkit. Niat membunuh keluar, tanpa dicoba untuk di sembunyikan. Tidak ada waktu untuk beristirahat, karena pertarungan sebenarnya baru akan di mulai.
"Kuharap dia mati saja!" Takumi mengutuk.
"Bersiaplah! Ini belum benar-benar berakhir, maka dari itu kita akhiri sebelum hal buruk lainnya mendekat!" Ujar Ozaru.
Rigel membetulkan posisinya. Saat ini dia telah menggunakan Void tahap pertama, demi mencegah dirinya terluka oleh uap dan ledakan. Dia menghilangkan segala macam hal yang mendekatinya selama ledakan, tanpa terkecuali udara. Untuk alasan itu dia begitu terengah-engah karena kehabisan nafas, bukan karena lelah.
"Kita harus melakukannya dengan cepat, kekuatan di tanganku memiliki batasan." Ujar Rigel.
Tentunya itu sebuah kebohongan yang di buat-buat. Namun dalam keadaan ini tidak akan ada yang menyadari bahwa itu sebuah kebohongan.
Memang lebih cepat dari rencana, namun aku harus mempertahankan Void sampai saat tertentu. Batin Rigel.
Bahkan dalam keadaan genting, tak luput dia memperdulikan rencana yang di kerjaannya sejak lama. Membuatnya mengeluarkan taring dan menampilkan kebusukan orang itu, Rigel harus berhasil bagaimanapun caranya.
"Phoenix nampaknya juga kelelahan, ini saat yang tepat, ayo!" Marcel memimpin penyerangan dan berlari menuju Phoenix, yang berusaha bangkit.
"Manusia rendahan, kalian sudah keterlaluan! akan ku berikan hukuman langit kepada kalian!"
Phoenix mulai bersinar, suhu udara semakin naik dan naik. Rigel mendapat firasat buruk, begitu pula Hazama. Sesuatu terasa tidak pada tempatnya dan keringat dingin menjalar di punggung.
"Semua berlindung!" Hazama melangkah di depan semua orang dan mengulurkan Perisainya yang mengeluarkan cahaya berbentuk bintang biru.
Cahaya yang menyelimuti Phoenix berkumpul menjadi bola api yang seukuran genggaman tangan, namun jangan menilainya dari ukuran. Bola Cahaya itu melesat langsung menuju Perisai Hazama dalam kecepatan yang gila.
Bola Cahaya itu mulai membesar selagi Hazama berusaha keras menahannya.
"Ergh! Sangat kuat dan begitu panas!" Hazama mengerang.
Jubah Salamander yang dikenakan mulai terbakar bersama kulit di tangannya. Bola Cahaya itu semakin dan semakin membesar, seakan-akan hendak menelan dunia.
Hazama tidak akan sanggup menahan. Seiring dengan ukurannya yang membesar, suhu nya juga meningkat tajam. Hanya masalah waktu sampai daging dan tangan Hazama hangus terbakar. Di tengah situasi tanpa harapan, Rigel mengambil langkah dan mengulurkan tangan kanannya.
"Apa yang kau lakukan, Rigel?!!" Hazama membentak.
Namun dia menghiraukan nya begitu saja, tanpa perduli apa yang di ucapkan orang-orang di sekitarnya. Ini adalah pilihannya, Rigel tidak akan mau menuruti perintah orang. Ketimbang mati dan menyesal, lebih baik membuat pilihannya sendiri dan mati tanpa penyesalan.
"Kembalilah menuju kehampaan!"
Rune mulai bersinar, mengalirkan kekuatannya pada Rigel dan menghapuskan segala hukum alam yang ada. Serangan Phoenix lenyap, menjadi hamparan butiran energi.
Semua terkesima menatapnya. Serangan yang begitu susah payah di tahan Hazama, begitu mudahnya di atasi oleh Rigel dengan kekuatan misteri di tangan kanannya.
"Itu... Lenyap begitu, saja..." Hazama bergumam, tak dapat memproses apa yang dia lihat.
"Apa-apaan kekuatanmu, benar-benar Cheat!" Aland berseru.
"Tidak ada waktu tuk terkejut, ini kesempatan!" Ozaru berteriak dan berlari menuju Phoenix, di ikuti Ray, Merial dan Takumi.
Mendecakkan lidah, Takatsumi menyusul begitu juga Pahlawan yang lain. Syukurlah bahwa mereka tidak mencoba mengorek informasi, akan sangat merepotkan tuk menjelaskannya.
'Kekuatan itu, jadi begitu. Waktunya telah tiba ya, manusia rendahan, kalian akan lenyap di sini!"
"Kau sudah mengatakannya berkali-kali namun kami tidak kunjung kau lenyapkan." Marcel mencoba memprovokasi, namun itu pilihan buruk dan hanya akan membangkitkan death flag.
Ozaru memutar tongkatnya dan mengayunkan nya menuju kepala Phoenix. Tongkatnya mulai memanjang hingga mencapai kepala Phoenix dan menghempaskan nya kembali ke tanah.
"Aku tahu itu!" Takatsumi membalas.
Dia menggenggam pedang dengan kedua tangan dan menurunkan tingginya sampai ke pinggang. Pedangnya mulai berkilau dan menusuk dada Phoenix dengan cepat.
*KIEK!
Phoenix menjerit dan berusaha melindungi dirinya dengan mengaktifkan kembali perisainya dan menaikan suhu tubuhnya.
"Tidak akan semudah itu! Orion Hammer!" Aland mengaum dan menjatuhkan palu raksasa kepada Phoenix.
Marcel dan Petra berlari beriringan, mereka berniat melancarkan serangan kombinasi. Petra memutar kipasnya dan menciptakan tornado sementara Marcel memutar sabitnya untuk membentuk bilah-bilah cahaya.
Tornado mengarah menuju Phoenix dan menggores tubuhnya hingga menciptakan luka. Cairan berwarna keemasan seperti lahar panas keluar dari tubuh Phoenix. Sepertinya cairan itu adalah darah milik Phoenix.
Tidak ingin kehilangan kesempatan, Rigel melesat dan mengulurkan tinju kiri di sertai Asura punch dan memukul tepat di dada Phoenix yang membuatnya terhempas. Dari sepersekian detik, darah keemasan beterbangan di depan Rigel. Dengan cepat dia membuat botol kaca yang cukup besar dan menangkap banyak dari darah Phoenix dan menaruhnya ke dalam penyimpanan. Tujuannya telah terpenuhi.
Phoenix yang terhempas jauh mencoba bangkit dan terbang, namun diantara Pahlawan terdapat satu penembak paling ahli, melampaui Rigel.
"Panah penghancur!"
Tiga buah panah raksasa melesat menuju Phoenix dan menghancurkan satu sayapnya dalam satu tembakan.
Sayap Phoenix memiliki lubang yang besar dan sangat tidak memungkinkan baginya untuk terbang. Mereka tidak akan melepaskan kesempatan ini begitu saja.
"Keparat!"
"Memanjanglah Nyoibo!" Tongkat Ozaru memanjang dan membesar, dia mengayunkan nya dan membuat Phoenix kembali terbaring di tanah.
"Cambuk berduri! Ikat dia!" Merial mengubah Cambuknya menjadi akar jalar berwarna ungu dengan Duri kecil dan mengikat Phoenix.
"Lakukan sekarang, Ray!" Merial berteriak, Ray melompat maju dengan dua belati di tangannya.
Ray mengatupkan giginya dengan erat, mengalirkan seluruh kekuatan pada kedua tangannya, Ray mulai berputar di angkasa.
"Exterion!" Kilatan muncul dan Ray melesat dengan sangat cepat. Dia memberikan luka yang sangat dalam kepada Phoenix, darah keemasan mulai mengalir keluar dari tubuh Phoenix.
"Calamity Claw!"
Nadia berlari dan menyilangkan kedua cakarnya. Raut wajahnya berubah terlihat seperti hewan buas dan mencabik tubuh Phoenix dari leher hingga pundaknya.
Rigel juga tidak ingin tertinggal bagiannya, dia merentangkan kedua tangannya dan sedikit melompat. Saat menapakan kakinya kembali ke tanah, duri-duri besi raksasa muncul menembus tubuh Phoenix. Dengan cepat Rigel melompat dan melemparkan Asura Punch raksasa ke arah Phoenix.
Besi-besi hancur, Phoenix kembali terkubur di tanah selagi pergerakannya tetap di tahan oleh Cambuk Merial.
Seperti yang aku duga, Merial sama sekali tidak mengalami kesulitan menggunakan cambuk. Untuk bagian pendukung, dia benar-benar membantu. Batin Rigel.
*KIEK!
Phoenix kembali menjerit, darah di tubuhnya sudah keluar begitu banyak. Dirinya mulai melemah, bahkan hampir tidak lagi sanggup membuat Perisai ataupun meningkatkan suhu tubuhnya.
"Kurang ajar... Aku adalah Phoenix, Raja burung yang Agung... Mustahil aku di kalahkan manusia hina seperti kalian!"
Tekad untuk hidup terlukis jelas pada matanya yang menatap tajam. Kebenciannya terhadap manusia tidak dapat di mengerti dan begitu sulit di jelaskan. Hal seperti apa yang di lakukan manusia, hingga membangkitkan kebencian monster malapetaka dan telah mengakar begitu dalam.
"Kebencianmu benar-benar tidak beralasan, sama halnya dengan Hydra."
Phoenix tidak berbeda dengan Hydra, begitu membenci manusia, namun tidak melakukan hal yang terlampau berlebihan. Tentunya akan sangat aneh jika di lihat dari sisi lain.
"Takumi, selesaikanlah dan biarkan dia berubah menjadi dua." Rigel beralih pada Takumi di belakang.
"Ya! Sekarang giliranku!"
Takumi memutar tombaknya dan mulai mengumpulkan energi pada bilah tombak. Mana di atmosfer berkumpul pada bilahnya, cahaya kehijauan mengeluarkan kilat nya, kekuatan dari tombak Ilahi yang dapat menembus apapun.
"Jiwaku bilah tombak ku, ragaku bilah tombak ku dan ragaku bilah tombak ku. Atas pengadilan dari langit aku akan menghakimimu dengan tombak yang berasal dari jiwa, raga dan hati," Takumi mendorong tombaknya ke angkasa, "Tombak Penghakiman!"
Langit bergemuruh, tombak hijau raksasa turun dari langit, arah kejatuhannya langsung menuju Phoenix. Melihat itu, Phoenix mulai memberontak dan Merial mulai kewalahan menahan pergerakan monster sebesar itu.
"Aku tidak akan mati semudah ini!"
Phoenix menciptakan Perisainya dengan putus asa mengalirkan kekuatannya. Tentunya itu usaha sia-sia, mengingat Tombak Penghakiman dapat menembus ruang dimensi dan melewati Perisai itu dengan ruang yang terbuka.
"Apa-apaan itu?!"
...Wajar Phoenix terkejut, bahkan saat awal melihatnya Rigel juga sama seperti itu. ...
*SRING!
Tombak Penghakiman jatuh tepat pada Phoenix yang tidak lagitu berdaya. Ledakan terjadi, Merial menarik kembali Cambuknya dan tidak mengurangi sedikitpun kewaspadaan, sama halnya dengan Pahlawan lain.
Meskipun ini akhir, namun bukanlah sebuah akhir. Jika benar apa yang di beritakan Sylph kepadanya, maka Phoenix masih belum di kalahkan.
Tubuh Phoenix yang tertancap tombak raksasa mulai bercahaya, bergelombang bagaikan gelembung sabun.
"Sepertinya benar apa yang kau katakan, Rigel. Tidak akan menjadi semudah ini untuk mengalahkan ayam panggang itu." Ujar Marcel.
Gelembung cahaya itu mulai berpecah menjadi dua dan melesat jauh ke angkasa, membentuk dua burung merak yang ukurannya sedikit lebih kecil dari sebelumnya.
"Dia benar-benar membelah diri menjadi dua." Hazama tersenyum masam.
"Setidaknya belum ada yang memiliki luka serius, kita masih memegang keuntungan." Ujar Ozaru dengan santay.
"Manusia... Kuakui kekuatan kalian cukup memumpuni, untuk membunuhku..." 2x.
Dua burung kini berbicara selagi berputar-putar di angkasa. Rigel hanya diam mengamati apa yang sedang di lakukan burung-burung itu. Meskipun terlihat hanya ingin berbicara, namun rasa pahit di lidahnya tak kunjung hilang.
"Kalian berhasil mendesak ku cukup jauh, sampai aku memecah dua tubuhku. Namun cukup sampai di sini saja keberuntungan kalian, tidak akan kubiarkan harga diriku turun lebih dari ini... Waktu istirahatku sudah cukup, kini akan aku bumi hanguskan dunia ini beserta isinya! Dimulai dari kalian."
Tanah mulai bergetar dan lahar yang berada di perut bumi merangkak keluar. Tentu memang aneh, namun yang lebih aneh mereka mengejar Pahlawan lain layaknya memiliki pemikirannya sendiri.
Tidak hanya itu, monster yang ada di sekitar bermunculan, mengincar Rigel dan Pahlawan lain.
"Apa-apaan ini?!!! kenapa mereka baru bermunculan sekarang?!" Marcel mengutuk.
"Sepertinya semua monster tunduk padanya dan dia menahan para monster ini turun tangan, karena harga diri!" Takatsumi menyerukan pendapatnya.
Babak ketiga, pertarungan penghabisan akan segera di mulai!