
Bau garam menyengat di hidung Rigel, ombak ombak seolah menari dengan senang di pagi hari.
"Jadi ini, pelabuhan kekaisaran timur."
Rigel sudah sampai pelabuhan tepat saat matahari akan terbit. Meskipun hari masih pagi, ada cukup banyak orang yang sudah melakukan aktifitas mereka. Mayoritas dari orang orang itu adalah seorang nelayan dan beberapa pedagang. Pelabuhannya sangatlah indah, tidak kotor ataupun bau.
Rigel menarik nafas panjang dan merentangkan tangannya sambil berkata "Hmm, udara segar di pagi hari dan kota yang indah membuatku sangat bersemangat."
Rigel melakukan pemanasan untuk meregangkan tubuhnya yang pegal dan kaku karena bertarung dan terbang semalaman. Meskipun Rigel tidak tidur sedikitpun, dia tidak merasakan lelah atau ngantuk.
Rigel berjalan ke pelabuhan kekaisaran timur yang ramai oleh aktifitas para pedagang dan nelayan. Rigel memilih untuk mencari kapal yang akan di gunakannya untuk berlayar sebelum menteleportasikan semua orang.
Lima menit berlalu semenjak Rigel berjalan, dia akhirnya menemukan kapal kapal yang akan di gunakannya.
"Wahh, ini jauh lebih besar dari yang aku bayangkan."
Replika kapalnya mirip dengan kapal bajak laut. Di moncong depannya terdapat ukiran gadis cantik yang terbuat dari kayu. Namun, ada perbedaan yang membuat kapal ini berbeda dengan kapal yang lain. Di dunia yang mayoritas manusia memerlukan sihir untuk mendukung kehidupan jadi mereka tidak memiliki senjata yang menggunakan mesiu.
Berkat Ray, Misa dan Nisa, kapal ini sudah di persenjatai oleh senjata yang memungkinkan bagi bajak laut untuk menenggelamkan kapal musuh.
"Kapal ini akan menjadi kapal pertama yang memiliki persenjataan dari bumi, Meriam cannon."
Tanpa membuang waktu lagi, Rigel melompat ke atas kapal dan menandai kapal itu sebagai titik teleportasi. Rigel mengangguk dan mengaktifkan kemampuan teleportasinya.
"Teleport!"
Cahaya biru yang menyilaukan menutupi tubuh Rigel dan menghilang. Pemandangan yang di lihat Rigel mulai berubah dan dia berada di depan mansion Ainsworth.
Seorang demi human yang menjaga gerbang mansion terkejut saat melihat sosok Rigel yang muncul tiba tiba. Demi human itu langsung memberi hormat dan menyapa Rigel.
"Selamat pagi, tuan pahlawan. Silahkan lewat, tuan pahlawan."
"Ya, Terima kasih banyak."
Rigel berjalan melewati demi human yang nampaknya tersanjung karena dapat berbicara dengan seorang pahlawan.
Saat Rigel masuk kedalam, banyak orang yang sudah mempersiapkan diri mereka, bahkan ada beberapa manusia dan demi human sedang mengucapkan perpisahan dengan keluarga mereka.
'Pasti berat bagi mereka untuk meninggalkan orang yang mereka cintai.'
Tidak ada jaminan untuk semua orang dapat kembali hidup hidup. Bahkan Rigel tidak bisa menjamin keselamatannya sendiri. Di sisi lain, Takumi, Cold, Ray, Misa dan Nisa sudah bersiap dan mengemasi barang barang mereka.
"Ahh, kau sudah kembali, Rigel."
Sapa Misa.
"Selamat pagi, Rigel. Kerja bagus karena sudah menandakan teleport di pelabuhan." Ucap Takumi.
Cold, Ray dan Nisa juga menyapa Rigel saat mereka mulai berkumpul di ruang tengah. Tidak lama kemudian, Walther datang untuk menyambut Rigel.
"Selamat datang, Tuan Rigel. Nampaknya persiapanmu di sana sudah siap, ya?"
"Ya, bagaimana keadaan di sini? Semuanya beres?"
"Ya, kami semua sudah menyiapkan apa yang di perlukan. Namun, jika bisa aku memiliki satu permintaan untuk tuan Rigel dan tuan Takumi. Aku ingin kalian menyampaikan pidato untuk menyemangati para pejuang lain."
Walther mengatakan itu dengan khawatir. Rigel juga mengerti ke khawatiran Walther. Banyak dari manusia dan demi human memiliki keluarga yang tinggal di sini. Bahkan dalam perang sekalipun, di butuhkan moral pasukan yang tinggi agar meningkatkan kemungkinan hidup mereka.
"Menaikkan moral orang orang memang penting, baiklah. Sebelum berangkat kita kumpulkan semua orang yang akan berpartisipasi dalam penaklukan Hydra dan membebaskan pulau tempat Yurazania berada."
"Yah, seperti yang di katakan Rigel. Akan buruk bagi mereka bertempur tanpa moral yang tinggi."
"Terima kasih banyak, tuan Takumi, Tuan Rigel. Aku akan segera mengumpulkan semua orang!"
Walther tersenyum senang dan bergegas pergi untuk mengumpulkan semua orang. Cold, Ray, Rigel, Takumi, Misa dan Nisa tersenyum melihat Walther yang sangat antusias membantu semua orang.
"Sekali lagi, pandanganku mengenai para bangsawan mulai melunak. Aku tidak menyangka ada bangsawan yang baik hati dan pekerja keras sepertinya."
Selama ini, pandangan Rigel mengenai para bangsawan sangatlah buruk. Rigel menganggap mereka hanyalah sekumpulan orang egois dan rakus akan kekuasaan serta harta. Mereka hanya mementingkan kesejahteraan mereka sendiri di banding rakyatnya.
"Mungkin ini adalah bentuk kontribusi tuan Walther untuk membantu kita sebanyak mungkin karena dia adalah kepala keluarga Ainsworth, dia tidak bisa ikut dengan kita untuk bertarung."
"Aku tidak pernah tau jika Walther bisa bertarung. Selain itu, sepertinya aku tidak pernah bertemu dengan istri ataupun anaknya. Dia punya seorang putra atau putri, kan?"
Rigel bertanya kepada Cold yang kemungkinan sangat mengenal kepala keluarga Ainsworth, Walther.
"Ya, dia mempunyai seorang putri yang seumuran dengan kita dan dua orang anak laki laki kembar. Mereka tidak sedang berada di kediaman utama, mereka sedang berada di cabang lain. Kau pasti sudah melihat kapal yang akan kita gunakan, kan? Kapal itu telah di siapkan oleh putri tuan Walther, mungkin kita akan menemuinya nanti."
'Jadi begitu. Aku mengerti, karena keluarga Ainsworth memiliki berbagai cabang untuk berdagang, setiap cabang pasti terkadang memiliki keadaan khusus sehingga mengharuskan mereka untuk pergi.'
"Pasti repot ya, menjadi orang kaya."
"Yah, untuk sekarang, ayo kita berkumpul dengan pasukan lain dan memberikan beberapa kata penyemangat."
Lanjut Takumi sambil melambaikan tangannya.
"Benar seperti yang di katakan tuan Takumi. Tidak baik bagi kita untuk terus membuang buang waktu di sini."
Nisa pun setuju dengan Takumi. Rigel dan yang lainnya juga setuju dan mengikuti Takumi menuju tempat di mana pasukan telah di kumpulkan oleh Walther.
"Akhirnya kalian datang. Aku sudah meminta semua orang untuk berkumpul."
Walther datang menghampiri Rigel dan yang lainnya. Dia mengerjakan pekerjaannya dengan cepat dan terampil.
"Takumi, untuk hal ini kau lebih cocok dari pada aku. Cepatlah berikan beberapa kata penyemangat kepada mereka."
Rigel berbisik bisik dengan Takumi agar suaranya tidak banyak di dengar oleh orang lain. Takumi tampak bermasalah dan menggaruk rambut merahnya namun pada akhirnya dia mau untuk melakukannya.
"Untuk kalian semua orang orang pemberani yang berpartisipasi dalam mengalahkan Hydra. Aku, pahlawan tombak Kamada Takumi ada di sini untuk membantu kalian."
Para pejuang mulai memunculkan senyuman bahagia karena kehadiran dua orang pahlawan bersama mereka sehingga menaikan moral mereka namun—
"Apa kalian pikir hanya dengan kehadiran dua pahlawan, kemenangan kita sudah terjamin? Sayangnya tidak. Aku sendiri bahkan tidak bisa menjamin keselamatan untuk diriku sendiri. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa semua orang yang berada di sini dapat pulang hidup hidup."
Takumi berhenti sejenak dan menarik nafas panjang.
"Tetapi, semua orang di sini memiliki keluarga, semua orang memiliki orang yang mereka cintai. Karena itulah, hanya diri kita sendiri yang harus menjamin keselamatan diri kita! Harus kita sendiri yang menjamin kemenangan kita! Semua ini kita lakukan untuk orang yang kita cintai, demi anak kita nanti! Bukan Raja ataupun para dewa. Melainkan dengan tangan ini, kita akan meraih kemenangan bersama! Ayo acungkan senjata kalian, buang keraguan dan semua rasa takut lalu kembali ke orang yang kita cintai!"
"Yaaaa!!!!"
Semua pejuang mengangkat senjata modern mereka dan berteriak dengan semangat. Beberapa pejuang memegang kalung dan berbagai benda yang tampaknya pemberian dari orang yang mereka cintai. Semua orang mulai menguatkan tekad berkat pidato sempurna Takumi.
Takumi berjalan mundur ke tempat Rigel dan yang lainnya menunggu.
"Huhh, aku sangat gugup dan khawatir jika pidatoku malah memperburuk keadaan."
Takumi datang dengan tubuh membungkuk malas dan wajahnya terlihat lelah. Rigel tersenyum dan menepuk bahu Takumi.
"Kerja bagus, Takumi. Tidak ku sangka jika kau pintar dalam kata kata. Kau sengaja menaikan dan menurunkan moral pasukan, aku bahkan merinding mendengar pidatomu barusan."
Awal pidato, Takumi sengaja memberikan harapan kepada para prajurit namun menghancurkan harapan tersebut di kata kata selanjutnya, lalu menaikan moral dan tekad semua orang di kata kata terakhirnya.
"Aku bahkan hampir menangis saat pidatomu barusan, Tuan Takumi."
Nisa memuji Takumi, semua orang mengangguk setuju. Bahkan bagi Rigel sendiri, dia tidak akan bisa memberikan pidato sebagus itu.
"S-sudahlah! Jangan terlalu m-memujiku."
Takumi memerah karena malu terus menerus menerima pujian. Semua orang tertawa melihat Takumi yang bertingkah seperti seorang perawan.
"Yah, kalau begitu lebih baik kita memindahkan semua orang sekarang. Pertama, di mulai dari Takumi, Cold, Ray, Misa dan Nisa. Kita membutuhkan orang yang dapat memberikan perintah kepada para pasukan nanti."
"Kalau begitu, akan kudoakan keberhasilan kalian. Selain itu, aku mendapatkan surat dari putriku jika dia ingin membantu kalian untuk melawan Hydra."
Walther tersenyum namun matanya memancarkan ke khawatiran seorang ayah.
"Bukankah itu terlalu berbahaya? Kenapa kau tidak mencoba untuk menghentikan putrimu itu?"
"Sayangnya, putriku itu anak yang sangat keras kepala seperti ibunya. Meskipun aku melakukan segala cara, dia tidak akan mau mendengarkanku. Mungkin ini adalah permintaan yang cukup egois, jika saja putriku mati saat melawan Hydra, kumohon setidaknya tolong bawakan jasadnya kepadaku."
Walther menundukan kepalanya kepada Rigel dan Takumi. Awalnya Rigel berpikir jika Walther akan meminta Rigel untuk melarangnya ikut atau melindunginya. Namun sebaliknya, Walther tidak meminta hal itu. Dia hanya menginginkan jasad putrinya jika saja putrinya meninggal dalam pertarungan. Walther paham betul jika Rigel dan Takumi bahkan tidak dapat menjamin keselamatan diri mereka sendiri.
"Tenang saja. Meskipun aku tidak bisa menjamin nyawa setiap orang, namun aku akan bertarung sekuat mungkin untuk tidak ada korban di pihak kita."
"Ya. Keluarga Ainsworth mu juga termasuk keluarga yang kuat, jadi percayalah pada kekuatan putrimu karena hanya kau yang mengetahui seberapa kuat putrimu, kan?"
Takumi setuju dengan Rigel dan tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya.
"Jika saja kemungkinan terburuknya terjadi, aku akan melakukan sebisaku untuk membawa, setidaknya jasad putrimu."
Rigel menepuk bahu Walther yang gemetar. Walther mengangkat kepalanya dan berkata :
"Terima kasih banyak. Aku akan dan orang orang di sini akan senantiasa mendoakan keselamatan kalian."
"Hmm, kalau begitu ayo kita pergi. Aku hanya bisa membawa setidaknya enam orang termasuk diriku dalam sekali jalan. Jadi, aku dan Takumi akan memindahkan orang orang satu persatu."
Takumi mengangguk tegas. Cold, Ray, Misa dan Nisa juga mengangguk kepada Rigel sebagai isyarat jika mereka sudah siap. Rigel mengaktifkan skillnya dan cahaya biru terang menutupi tubuh mereka.
"Teleport!"