The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Latih tanding



Kulit Salamander telah tersedia dan saat ini sedang di proses untuk di buat menjadi jubah tahan panas. Rigel tidak yakin seberapa ampuh jubah itu menahan serangan Phoenix, namun setidaknya dia berharap jubahnya dapat menahan 3~4 serangan Phoenix. Jika itu tidak dapat bertahan sampai tiga serangan, mau tidak mau Rigel harus menyiapkan jubah Salamander lebih banyak dari yang seharusnya.


Rigel sendiri tidak terlalu membutuhkannya karena dia bisa saja menghilangkan segala serangan Phoenix, namun tentunya tenaga yang harus dia keluarkan sepadan dengan seberapa banyak serangan yang di lancarkan Phoenix. Jadi setidaknya Rigel juga harus mengenakannya jika ingin menyimpan banyak tenaganya.


"Mungkin aku harus mengetes seberapa kuat jubah itu dan meminta Red mengeluarkan nafas api miliknya."


Meski kekuatan milik Red mungkin tidak sebanding dengan Phoenix, namun setidaknya cukup kuat untuk membumi hanguskan sebuah kota. Jika saja jubah Salamander tidak cukup efektif menahan serangan Red, alhasil serangan Phoenix juga tidak akan dapat di tangani olehnya.


Setidaknya butuh beberapa waktu untuk membuat satu jubah Salamander dan nampaknya saat ini para pekerja belum selesai membuat satu dari mereka. Mungkin untuk saat ini Rigel akan meminta Merial memberitahu keluarganya yang bangsawan pedagang bahwa Rigel menginginkan satu jubah untuk percobaan.


Mansion keluarga Ainsworth yang berada di Britannia telah terbakar habis yang berkemungkinan ulah Takatsumi. Rigel tidak tahu di mana Walther tinggal namun pastinya tidak akan berada di luar Britannia karena dia masih aktif melanjutkan pekerjaannya di Britannia.


Mungkin bukan sebuah pilihan buruk untuk mencoba mendatanginya langsung ke Britannia. Selain itu, Rigel memikirkan mungkin menitipkan Leo kepada Altucray adalah hal yang bagus. Meskipun dia seorang pak tua sampah, namun kemampuan berpedang nya pasti bukan isapan jempol belaka. Darah Pendragon mengalir dalam nadinya, pastinya dia berbakat dalam menggunakan pedang.


Rigel memutuskan untuk mencari Leo terlebih dahulu dan membawanya pergi ke Britannia untuk mendapat pengajaran langsung dari Altucray. Tempat pertama yang Rigel tujuan adalah arena pelatihan, karena Leo pastinya berada di sana untuk berlatih.


Sesampainya di sana, benar saja bahwa Leo tengah berlatih menggunakan pedang kayu seorang diri. Leo belum menyadari bahwa Rigel berada di dalam arena pelatihan. Dia terlalu fokus dalam mengayunkan pedangnya sehingga tidak memperhatikan sekitarnya.


Rigel tersenyum dan memiliki sebuah pemikiran. Rigel menyembunyikan hawa kehadirannya dan mengambil pedang kayu terdekat tanpa mencoba mengekspos dirinya. Mari lihat seberapa hebat ketajaman yang kau miliki, Leo.


Rigel mengambil dua pedang kayu dan melemparkan salah satunya ke punggung Leo. Dengan cepat Leo berbalik dan menghentikan laju pedang yang mendekatinya. Dia mencari siapa sosok yang mencoba menyerangnya namun tak kunjung menemukannya. Leo memfokuskan diri pada pertahanan dan mempertajam pendengarannya.


*TAK.


Mendengar sebuah langkah kaki, Leo berbalik dan mengacungkan pedang kayunya, namun dia tidak menemukan siapapun di sana, sampai sebuah pedang kayu mendarat di lehernya.


"Jika ini pertarungan sungguhan, kau sudah di pastikan mati, Leo."


Leo mulai berkeringat dan mengangkat kedua tangannya seakan menyerah. Dia tersenyum lelah dan pasrah karena tidak dapat menyadari dari mana musuh akan menyerang. Beruntungnya bahwa ini hanyalah pelatihan belaka.


"Kau terlalu fokus mendengarkan suara di sekitarmu sehingga lupa memperhatikan sekitar. Dalam medan perang akan ada begitu banyak suara untuk di dengar, suara keputus'asaan dan kematian akan bercampur." Rigel melepaskan pedang kayunya dan membuat Leo berhadapan dengannya.


Mendengarkan suara di sekitar memang perlu jika musuh menyembunyikan diri. Namun bukan berarti seseorang harus mengabaikan keadaan sekitar karena bisa saja musuh melemparkan senjatanya atau menyerang diam-diam seperti yang Rigel lakukan.


"Bukan pilihan yang buruk untukmu memfokuskan dirimu pada pendengaran dan pertahanan. Untuk saat ini, ikutlah denganku, aku akan membawamu pergi ke seseorang yang dapat mengajarimu ilmu berpedang padamu."


"Seseorang? kanapa bukan kau saja Ayah?" Leo bertanya.


Menurutnya, jika ada seseorang yang pantas mengajarinya maka Rigel lah orangnya. Namun terlihat jelas bahwa Rigel tidak begitu memahami ilmu berpedang, bahkan dia tidak begitu ahli memainkannya. Mempelajari seni berpedang tidak akan ada habisnya seperti menyelam ke lautan dalam.


"Jika itu trik dan strategi, maka akan kulakukan. Namun seni berpedang bukanlah ke ahlianku, ada orang yang jauh lebih cocok dariku untuk bermain pedang. Manusia pandai dalam bidangnya masing-masing dan setidaknya mereka memiliki satu hal yang mereka tekuni."


Rigel tidak menekuni jalan berpedang, namun dia ahli dalam membuat siasat dan berbagai trik kecil dalam bertarung. Manusia tidak bisa melakukan segalanya, bukan berarti mereka tidak bisa melakukan apapun, mereka hanya belum menemukan sesuatu yang mereka miliki.


Leo berada di jalan pedang dan akan tetap berada di jalur itu. Dia tidak akan bisa menyebrang ke sisi lain, namun dia bisa menguasai hal lainnya.


"Kalau begitu, siapa orang yang akan menjadi guruku? apa mungkin dia Pahlawan Pedang?" Tanya Leo.


Jika menyangkut berpedang, maka Pahlawan Pedang akan menjadi sosok yang terpikirkan oleh Leo. Bahkan jika Leo menginginkannya, Rigel tidak dapat menerimanya karena Takatsumi akan dapat menerka apa yang Rigel rencanakan. Selain itu, besar kemungkinan bahwa dia akan mencoba membunuh Leo saat melatihnya. Memang sebuah keuntungan bagi Leo karena dia dapat mempelajari setiap jurus yang Takatsumi miliki, namun Rigel tidak berniat mengambil resiko karena Leo termasuk pejuang yang akan berharga di masa depan.


"Tentu saja bukan dia, kamu akan melihat saat melihatnya. Tidak perlu membuang waktu lagi, mari kita pergi."


Rigel dan Leo pergi ke Britannia menggunakan Teleportasi milik Rigel. Dari kelihatannya, Takumi dan Pahlawan yang berasal dari Britannia telah memulai perjalanan panjang mereka menuju pegunungan api Vulcan, tempat Phoenix tinggal. Dengan begini tidak perlu ada lagi hal yang di khawatirkan jika Rigel menitipkan Leo kepada Altucray. Dia tidak akan pernah bisa mencoba membunuh Leo karena peraturan yang telah Rigel tanamkan pada segel budak Altucray.


Rigel sampai di taman kerajaan Britannia yang perlahan telah di pulihkan. Beberapa pelayan lewat dan tidak lagi terkejut saat melihat Rigel muncul dan hilang di Britannia secara tiba-tiba. Bagi mereka hal semacam itu sudah menjadi hal biasa dan mereka hanya memikirkan bahwa Rigel mungkin berniat menemui Tirith. Namun, mereka tertarik dengan bocah berumur sekitaran 14 tahun yang datang bersama Rigel.


Awalnya mereka berfikir bahwa bocah itu anak dari Rigel dan Tirith, namun kembali mengurungkan pemikiran itu setelah melihat kuping binatang di kepalanya. Yang jelas, bocah itu bukan hasil dari hubungan Tirith dengan Rigel.


Rigel dan Leo pergi ke ruang tahta karena ingin menemui Raja Britannia, Altucray. Benar saja, di sana terdapat Altucray yang tengah duduk dengan bosan di tahtanya yang sudah di perbaiki. Sepertinya sebagai seorang Raja dia banyak sekali waktu menganggur di hari-hari yang dijalaninya. Karena Rigel masuk melalui pintu belakang, Altucray jadi tidak menyadari keberadaan Rigel dan Leo yang mendekatinya.


"Kau tampak sangat jelek dan super menjijikan daripada biasanya." Ujar Rigel selagi menendang kepala Altucray dan mengusirnya dari tahta.


"Bajingan! Apa orang tuamu tidak mengajari tata krama?!!!" Altucray marah selagi mengusap kepala dan berusaha bangun.


Altucray hendak menyerang Rigel namun segel budak di lehernya bereaksi dan memberikannya setruman bertegangan tinggi yang membuatnya mengurungkan niat.


"Kau memang benar-benar harus kuberikan pelajaran karena berusaha menyerang tuanmu. Huh, setelah pertarungan melawan Phoenix akan kuberikan kau hukuman. Untuk saat ini, aku membawakanmu seorang murid untuk mengisi waktu luangmu." Ujar Rigel.


Altucray menatap bocah Demi-human yang di bawa Rigel dengan kedengkian di sorot matanya. Sejak awal dia sudah membenci seorang Demi-human dan memperlakukan mereka dengan tidak adil. Sekarang dia di haruskan melatih salah satu dari mereka? mana mungkin dia bersedia.


"Kau tahu aku tidak menyukai Demi-human dan kau mau dia berada dalam pengawasanku? aku mungkin akan membunuhnya saat melatihnya." Altucray tidak mencoba menutupi kebenciannya.


Leo menajamkan matanya saat merasakan aura kebencian keluar jelas dari Altucray. Di sisi lain Rigel hanya menatap Altucray dengan sorot mata kebosanan.


"Lantas kenapa? memangnya aku perduli dengan apa yang kau sukai atau kau benci? aku benar-benar tidak memperdulikannya bahkan sedetikpun. Karena dia akan berlatih di bawah bimbinganmu, kau boleh melakukan apapun kepadanya. Namun jika kau mencoba membunuhnya di balik layar, maka segel budak di lehermu akan aktif dan menyengatmu."


Rigel yakin bahwa Leo tidak akan terbunuh dengan begitu mudahnya saat dalam keadaan siap. Namun akan beda jika itu di balik layar, misalnya saja Altucray meracuni makanannya. Tentunya Leo tidak dapat melakukan apapun terhadap hal semacam itu.


Jika Altucray tidak mengeluarkan segenap kemampuannya, maka Leo tidak akan mendapatkan apapun darinya. Rigel percaya bahwa kemampuan Leo cukup untuk bertahan dari pelatihan Altucray.


"Lalu tenang saja, jika kau benar-benar membunuh Leo, maka aku akan mengikat burung beserta dirimu dan mengaraknya ke penjuru negerjahat, " Rigel tersenyum jahat, "Kau juga harus menjelaskan kekurangan dari penguasaan Leo dalam menggunakan pedang."


Meski tidak mau melakukannya, Altucray tidak memiliki tempat untuk menolak karena ini perintah, bukan permintaan. Altucray hanya bisa memendam baik-baik kemarahan dan kebencian yang di miliki nya. Tidak ada yang lebih buruk ketimbang memiliki amarah dan kebencian tak terbalaskan dan Rigel sangat tahu itu, sampai saat ini.


Meski satu tahun berlalu semenjak dia bangkit kembali dari Neraka, Rigel sama sekali tidak melupakan kebenciannya kepada Takatsumi dan perasaan ingin membunuhnya semakin kuat setiap melihat wajahnya. Hal itu semakin tak tertahankan setiap kali Rigel menahannya.


"Rigel? sejak kapan kau tiba?" Dari pintu tempat Rigel datang, seorang gadis berambut pirang memasuki ruangan. Gadis itu adalah seorang tuan Putri, Tirith Vi Britannia Pendragon.


Dia mengenakan pakaian terbuka yang dapat membuatnya bergerak dengan bebas. Pakaian yang di gunakannya memperlihatkan seluruh bagian tangan sampai ketiaknya. Nampak jelas bahwa Tirith pastinya melakukan sesuatu yang menguras tenaga dan Rigel berfikir itu adalah latihan pedang karena telapak tangannya sedikit merah.


Rigel juga ingat bahwa Merial pernah mengatakan bahwa Tirith tidak hanya tuan putri yang anggun, tetapi sangat ahli bermain pedang dan memang memiliki bakat alami dalam bidang itu. Bahkan Merial sendiri mengakui tidak dapat mengalahkan Tirith dalam adu pedang.


Tidak hanya itu, saat Rigel sekarat melawan Naga dua tahun lalu, Tirith juga mengenakan pakaian tempur dan membawa sebuah Pedang. Rigel berpikir bahwa itu hanyalah hiasan untuk menggertak dan membuatnya tidak terlihat lemah, namun rupanya bukan itu tujuannya. Dia tidak pernah melihat Tirith bermain-main dengan pedangnya dan itu sedikit membuatnya tertarik untuk melihatnya sekarang juga.


Rigel tersenyum karena memikirkan sebuah hal bagus dan dapat mengekspos kemampuan berpedang Tirith.


"Waktu yang tepat, Tirith. Aku ingin kau latih tanding dengan Leo bermain pedang dan memberikannya sedikit pelajaran dalam seni berpedang." Ujar Rigel.


Tirith mengelap keringatnya dengan handuk di tangannya. Meski sedikit malu karena Rigel harus melihatnya yang berkeringat dan sedikita mengeluarkan bau badan.


"Latih tanding denganku? bukankah seharusnya kau jauh lebih baik ketimbang aku?" Tirith menoleh ke arah Leo yang hanya tersenyum tipis.


"Tidak, tidak. Aku tidak benar-benar mempelajari seni berpedang dari seorang guru, aku mempelajarinya dari pertempuran nyata dan kuyakin apa yang kuajarkan pada Leo hanya akan membuatnya bingung. Karena hal itu, kau dan pak tua di sana jauh lebih baik untuk mendidik Leo."


Rigel tidak pernah berguru pada siapapun selain Azartooth dan dia hanya mempelajari pemanfaatan Mana, bukan berpedang. Sejak awal Rigel memang tidak pernah memiliki sedikitpun ketertarikan pada sebuah pedang dan lebih menyukai bertarung dengan tinju di sertai beberapa trik dan Skill miliknya. Memang terlihat aneh sekaligus unik, namun bertarung sebebas-bebasnya adalah sebutan yang sangat cocok untuk Rigel.


Meskipun begitu, Rigel juga memperhatikan dimana tempat dia akan bertarung. Apa dampak yang akan di hasilkan dan seberapa besar kerusakan yang akan terjadi. Rigel akan memperhitungkannya dengan matang sebelum menggunakan Skill-Skill yang menjadi andalannya, terutamanya Solar Eclipse. Skill dengan kerusakan dan dampak terbesar yang dapat menghilangkan sebuah pulau dari peta.


"Aku sendiri tidak masalah untuk melakukannya. Bagaimana dengan Leo?" Tirith mengalihkan perhatiannya kepada Leo.


Leo sedikit tertegun, "Y-ya, aku juga tidak apa-apa selama Ayah mengizinkan. Lalu, mohon jangan sungkan untuk menyerang ku menggunakan Skill yang kamu milik!" Leo menunduk kepada Tirith.


"Jika begitu tunggu apa lagi? mari kita langsung saja memulai latih tandingannya. Tirith, aku ingin kau mengerahkan yang terbaik dan jangan ragu untuk melukai Leo. Jika kau ragu dan menunjukan sedikit saja belas kasihan kepada Leo, maka aku akan menarikmu ke ranjang dan memberimu hukuman kecil." Senyuman lebar tumbuh di bibir Rigel.


Memang terdengar kejam karena Tirith harus mengerahkan kekuatannya kepada bocah seperti Leo yang baru saja terjun ke dunia berpedang. Rigel tahu apa yang sedang dia lakukan. Keyakinan bahwa Leo akan mencuri seni pedang milik Tirith dalam latih tanding ini cukup kuat dan selain itu Rigel juga ingin mengetahui sejauh mana kekuatan Tirith.


Note.


Mohon maaf atas keterlambatan Updatenya. Lalu, selamat menunaikan ibadah puasa bagi kalian yang menjalankannya!