
Selagi Rigel pergi menolong Merial dan yang lainnya, Takumi berhadapan satu lawan satu dengan Hydra. Bahkan dengan kekuatan kutukan ini, Takumi hampir tidak dapat mengikuti kecepatan Hydra yang menggunakan wujud Humanoidnya. Mungkin karena laut Territory Hydra telah di bekukan, sehingga membuat gerakannya sangat terbatas jika dia menggunakan wujud monster ular kepala dua.
Saat ini, Takumi terus di desak oleh Hydra yang memiliki kecepatan dua kali lipat lebih cepat darinya. Mereka terus beradu pukulan dengan kecepatan yang mustahil untuk di lihat oleh manusia normal.
Bang...!!!
Takumi berhasil mendapatkan tombaknya kepada Hydra. Namun, kulitnya sangatlah keras sehingga sulit untuk di tembus begitu saja. Takumi mendecakkan lidahnya dan mulai melompat mundur untuk menciptakan banyak tombak cahaya berwarna hijau. Tombak tombak itu dengan cepat melesat dan menerjangnya. Hydra terus menghindar ke kanan dan kiri selagi menjauh dari jangkauan serangan Takumi.
Melihat itu, Takumi menciptakan sebuah tombak yang lebih besar dari yang lainnya lalu, Takumi melompat dan berdiri di atas tombak raksasa itu sambil mengacungkan tombaknya ke depan. Saat Takumi melakukan itu, Tombak raksasa yang dia tunggangi mulai melesat menuju Hydra yang sedang berlari menjauh.
Woosh!!
Hydra yang awalnya terus berlari mulai berhenti. Nampaknya dia berniat untuk menghadang langsung Takumi. Hydra mengulurkan kedua tangannya dengan tenang dan menggunakan skillnya.
"Kekuasaan Air Poseidon : kegelapan lautan dalam...!!!"
Kumpulan air hitam berkumpul di tangan Hydra dan saat Takumi beserta tombak raksasanya mencapai Hydra, air hitam itu menyebar dan menelan Takumi beserta tombak raksasanya. Takumi terkejut, karena awalnya dia berfikir jika Hydra akan mencoba untuk menghancurkan tombak raksasanya. Karena itulah Takumi berani nekat untuk langsung menyerangnya secara terang terangan. Tetapi dugaannya salah. Hydra tidak mencoba untuk melawannya, justru dia mencoba menelannya. Air hitam pekat itu dengan cepat menelan Takumi dan tombak raksasanya, hanya menyisakan kegelapan abadi.
"Meh, kau memang kuat, namun kau terlalu mudah untuk di tebak, Pahlawan... Kau pasti berharap jika aku akan berusaha menghancurkan tombak gila milikmu itu. Sayangnya aku bukanlah orang bodoh... Sekarang matilah di dalam penjara Kegelapan laut dalam...!!!"
Hydra tersenyum mengejek dan penuh dengan kemenangan. Meskipun kekuatan ini terlihat lemah, namun nyatanya Kegelapan laut dalam adalah kekuatan yang cukup mengerikan. Meskipun tidak memiliki daya serang, namun Kegelapan laut dalam dapat menjadi alat penyiksaan yang bagus.
'Euk...!!! Aku tidak bisa bernafas, kepalaku terasa sangat pusing...' batin Takumi.
Takumi tidak dapat bernafas, kepalanya pusing seolah sedang berada di dalam lautan. Kepalanya serasa di hancurkan. Hanya kegelapan abadi yang dapat dia lihat. Di saat seperti inilah, manusia akan sangat sangat merindukan udara, merindukan nikmatnya bernafas. Takumi hampir putus asa, apapun yang dia lakukam tidak dapat membuatnya bebas dari penjara Kegelapan laut dalam milik Hydra.
Apakah aku akan mati disini...? Apakah ini akhir dari perjalananku...?? Ahh~ padahal masih banyak cita citaku yang belum dapat kuwujudkan...
Takumi mengulurkan tangannya, dengan harapan ada cahaya, seseorang yang menarik uluran tangannya dan membebaskannya dari kegelapan abadi ini. Lalu, Rune hijau yang menyelimuti tubuhnya perlahan menghilang dan mengembalikan tubuhnya ke keadaan semula, sekaligus efek samping dari kekuatan kutukan.
Nah, kakak... Maafkan aku karena mungkin aku akan menyusulmu terlalu cepat... Aku belum memiliki bisa mengenalkan istri ataupun anakku karena aku belum membina rumah tangga... Ahh~ aku merindukanmu kakak, sebentar lagi kita akan kembali bersama...
Tubuh Takumi mulai melemas karena kekurangan oksigen dan terlalu banyak menelan air. Tangannya yang terulur melambai lambai seolah olah mengucapkan selamat tinggal. Saat Takumi berfikir jika dia akan mati dan menyatu dengan kegelapan abadi, seberkas cahaya biru, namun redup perlahan datang dan menghampirinya. Takumi yang sudah kehilangan semangat hidupnya, kini secara perlahan mulai mengembalikan tekad untuk tetap melihat langit.
Sebuah tangan yang di sinari rune berwarna biru meraih tangan kanannya yang terulur lemah. Tangan dengan rune biru itu dengan kuat menariknya dari kegelapan dan membawanya keluar dari tempat itu...
"Gahk...!!! Uhuk, uhuk, uhuk..."
Takumi terbatuk batuk sekaligus memuntahkan semua air yang dia telan. Dia bernafas dengan kasar seperti seseorang yang habis berlari kilometer jauhnya. Takumi bersujud selagi mengeluarkan air berwarna hitam itu.
Nampaknya air itu tidak mengandung racun. Air hitam itu kemungkinan berisi kutukan dan sesuatu yang dapat menyerap serta mengacaukan aliran mana seseorang. Beruntungnya Takumi memiliki Divine yang memblokir semua kutukan dari luar kecuali senjata miliknya. Syukurlah aku tepat waktu...
Sosok yang menyelamatkan Takumi, tidak lain dan tidak bukan adalah seorang pria berambut putih dengan lengan kiri palsu. Dia hanya memiliki satu mata di bagian kanannya, bola matanya yang berwarna biru bersinar terang karena marah. Dia adalah Amatsumi Rigel, salah satu pahlawan dunia ini, Pahlawan Creator.
"Sialan, kupikir awalnya aku akan berhasil menghilangkan satu pengganggu, namun pengganggu lainnya datang dan membantu pengganggu itu. Kau benar benar menyusahkan dan mengesalkan, Manusia. Tidak bisakah kau mati tanpa perlu untukku membunuhmu...?"
Hydra mengatakan itu dengan malas, dia meregangkan lehernya yang terlihat seakan akan sedang sakit. Rigel hanya diam dan menatap Hydra dalam diam selagi Rigel sedang memikirkan rencana yang sangat bagus untuk membunuh bajingan ini.
Rigel berkata kepada Takumi yang nafasnya masih terengah engah namun fokusnya tetap kepada Hydra. Takumi yang saat ini banyak skillnya tidak dapat digunakan, serta kondisi tubuh yang lemas dan dipenuhi kutukan pemalas, tidak akan lagi dapat bertarung.
Dengan bantuan tombaknya, Takumi berjalan dengan malas dan terhuyung huyung karena rasa sakit di kepalanya. Kini, hanya menyisakan Rigel dan Hydra di tempat. Rigel sudah memikirkan sebuah cara yang bisa dia lakukan untuk menghadapi monster ini.
"Sekarang hanya tinggal kau dan aku, manusia... Apa yang akan kau lakukan sekarang...? Sekutumu yang merepotkan itu sudah tidak bertarung lagi. Apakah kau akan bersujud kepadaku dan meminta pengampunan untuk nyawamu...?? Atau mungkin kau ingin melawanku dengan kekuatan besar di tangan kananmu itu...???"
Hydra menyeringai lebar, seakan memberitahu Rigel jika dia sudah mengetahui tentang keberadaan Void di lengan kanannya. Rigel hanya diam tanpa menjawab, dia tetap memasang poker face agar Hydra tidak dapat mengkonfirmasi apapun darinya.
"Oii, aku akan terlihat sakit jiwa jika kau hanya diam tanpa membalas perkataanku... Setidaknya katakanlah sesuatu."
Rigel memejamkan mata dan perlahan membukanya sambil berkata "Akan kubuat kau pergi ke neraka..." dan Rigel mulai mengaktifkan tahap selanjutnya dari Void.
......Tahap kedua : penciptaan Alam......
Garis rune di tangan Rigel bertambah segaris lagi dan mulai menjulur ke tubuh Rigel untuk mengalirkan kekuatannya. Hydra menyipitkan matanya, senyuman di mulutnya yang mengerikan menghilang dari wajahnya. Kerutan mulai muncul di wajahnya yang setengah berbeda. Dia nampaknya menyadari jika kekuatan Rigel meningkat secara tidak masuk akal.
"... Hmhmhm... Hahaha.. HAHAHAHA...!!!"
Hydra mulai tertawa dengan sangat keras dan menggila. Rigel menatap Hydra dengan bingung dan berfikir 'Apa yang membuatnya tertawa?' Lalu Rigel hanya menganggapnya Gila sampai Hydra mulai mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Hahahaha... Jadi kau adalah orangnya... Sosok yang di pilih dan dibangkitkan oleh para dewa menggunakan nyanyian harapan, God Requiem. Tidak kusangka jika aku akan bertemu denganmu secara langsung..."
Dari mana dia mengetahui sesuatu tentang God Requiem?? Seharusnya tidak ada yang mengetahui hal ini, dan lagi dia tahu bahwa orang itu adalah aku...
Rigel tidak mengerti. Seharusnya hal ini tetaplah rahasia karena dia tidak pernah membicarakannya kepada siapapun, termaksud Tirith. Hanya Rigel, dan orang orang yang tidak akan pernah mrnginjakan kaki disini lagi saja yang mengetahui hal itu.
"Aku menyadarinya, Manusia... Karena aku adalah salah satu dari ras naga paling tinggi yang dapat berhubungan dengan tanah para dewa... Tidak hanya aku, bahkan mungkin si kadal terbang itu juga menyadarinya..."
Rigel terus diam dan sekeras mungkin tidak mengeluarkan ekspresi apapun agar tidak membocorkan informasi yang tidak di perlukan. Untuk kadal yang dimaksud Hydra, kemungkinan adalah Naga yang menjadi monster malapetaka sepertinya.
"Saat kekuatanmu meningkat baru saja, aku merasa pernah bertemu dengan kekuatan ini padahal ini adalah pertama kalinya kita bertemu... Aku pernah bertemu dengan seorang dewa yang memiliki kekuatan seperti itu saat para dewa mulai berdatangan untuk membantu manusia bertahan hidup... Kekuatan itu sangatlah dahsyat, bahkan aku tidak dapat menyainginya saat berhadapan dengan orang itu... Tetapi, nampaknya kau belum dapat mengendalikan kekuatan itu sepenuhnya. Jadi itu bukanlah ancaman untukku selama aku jauh lebih unggul darimu..."
Kepercayaan diri yang tak tergoyahkan, keyakinan yang kuat akan kemenangan, menganggap semua orang yang berada didepannya lemah, semua itu sangat cocok dengan Hydra sekarang ini. Rigel dan Hydra sama sama berjalan, mendekati satu sama lain...
"Karena kau sudah mengetahuinya, tidak ada pilihan lain selain membunuhmu beserta rahasia ini bersamamu. Ayo kita akhiri ini, Hydra..."
Rigel menatap Hydra dengan dingin, begitu juga sebaliknya...
"Hahaha... Coba saja jika kau bisa... Manusia!!!"
Hydra mulai mengaum dan memotong jarak dengan cepat menuju Rigel. Menginjak Es di bawahnya dengan keras, Rigel melesat cepat hanya dengan satu langkah kecil di kakinya. Langkah tersebut menghancurkan Es tempatnya berpijak sebelumnya. Pertarungan ini akan menjadi pertarungan terakhir diantara mereka...
Note : maaf ya karena thor baru update. Karena tadi siang thor pergi untuk melihat film anime yang sedang Booming tayang di bioskop😂