
Pertarungan para pahlawan berlanjut. Perhatian mereka awalnya sedikit teralihkan karena Parasit yang menyerang para prajurit. Namun mereka kembali fokus kepada Tortoise dan bertekad untuk menyelesaikan ini secepatnya.
Nadia masih menyerang Tortoise terus menerus seperti orang kerasukan. Pahlawan lain tidak tinggal diam, mereka mengerahkan kekuatan terbaik mereka untuk mengalahkannya. Tahap pertama dari rencana mereka adalah membuat cukup banyak luka pada Tortoise terlebih dahulu.
Tortoise tampak ingin mengeluarkan kekuatannya dan menyerang Nadia, namun Nanami mengulurkan cambuknya dan mengikat mulut Tortoise dengan cambuknya. Marcel dan Argo berlari dari sisi kiri dan kanan Tortoise. Mereka menjadikan kaki Tortoise sebagai pijakan untuk melompat. Argo melesat cepat ke leher Tortoise dan menikamkan pisaunya ke Tortoise.
"Knife Skill : Seribu sayatan!"
Cahaya tebasan kilat berkilau dan menggores sangat banyak luka di tempat Argo menyerang. Di sisi lain, Marcel yang melompat berputar di udara dan mengibaskan sabitnya ke Tortoise.
"Tornado Sabit!" Teriak Marcel.
Angin tornado yang di sertai tebasan Sabit berputar tepat di samping leher Tortoise dan memotongnya seperti gergaji. Tortoise hendak menyerang dan menggelengkan kepalanya karena mulutnya di tahan oleh Nanami.
"Tidak akan kubiarkan!" Ujar Nanami.
Mereka perlu mengulur waktu beberapa saat lagi, karena saat ini, ada tiga orang yang sedang menyiapkan serangan yang mungkin cukup untuk mengalahkan Tortoise.
"Nanami apa kau masih sanggup?!" Tanya Marcel kepada Nanami yang menahan Tortoise dengan cambuknya.
"E-entah bagaimana aku pasti bisa bertahan! Namun hanya butuh waktu sampai aku kelelahan..." Ujarnya sambil terus menahan Cambuknya.
Untuk seorang wanita, dia benar-benar tidak boleh di remehkan. Entah itu dari stamina dan kecantikannya. Sekarang bukan waktunya untuk hal itu. Marcel menatap Takumi dan Takatsumi yang sedang berfokus pada serangan andalan mereka. Jika serangan mereka berdua gagal, maka akan menjadi gilirannya untuk menggunakan jurus andalannya. Hal ini harus di lakukan untuk mencegah seluruh pahlawan kelelahan dalam waktu yang bersamaan. Di sisi lain, nampaknya Alexei telah siap kapanpun.
"... Sudah waktunya, ya..." Gumam Marcel. "Aland, bersiaplah! akan kita lakukan rencana itu sekarang!" Lanjut Marcel.
Marcel mengambil kuda-kuda ke belakang dengan Sabitnya yang dalam mode tempur. Senyuman bahagia terpampang di bibir Marcel, dia sudah menunggu cukup lama untuk saat ini tiba. Menyadari bahwa strateri akan masuk ke tahap dua, para pahlawan termasuk Nadia yang memberikan bekas cakaran di seluruh tubuh Tortoise mulai menjauh darinya. Marcel menarik kekuatan dari kaki dan tangannya.
"*W**ahai engkau hewan dungu yang terlumuri Dosa, atas perintahku Pahlawan sabit, aku memerintahkanmu untuk mati di sini!! Aku Grim Reaper akan mencabut nyawamu*!"
Aura ungu pekat yang sangat kuat muncul dari Marcel dan berkumpul di Sabitnya. Kekuatannya meningkat dua kali lebih kuat, energi ungu itu seakan melambangkan sosok lain yaitu, Malaikat maut. Sabit Marcel mulai berubah dari yang merah ke hitam an berubah menjadi ungu kehitaman. Mungkin ini tidak terlihat seperti kekuatan seorang pahlawan, namun kekuatan ini sangat cocok dengan Sabit miliknya.
Di sisi lain, Aland sudah mempersiapkan palunya dan mengambil ancang ancang kuat untuk melemparkan palunya. Dia memperhatikan Marcel dengan seksama, saat Marcel mulai berlari menuju Tortoise, Aland mengikutinya dari belakang.
*Grwwwrrr.............
Tortoise hanya bisa mengerang karena mulutnya di bekam oleh Nanami. Tortoise mengambil satu langkah maju dan berniat menginjak Marcel. Melihat itu, Argo tidak tinggal diam begitu saja. Dia melompat dari leher Tortoise dan dengan sangat kuat menebas kaki Tortoise.
*Clang.........
*Grrwwwrrrr........
Tortoise menyerang sakit. Argo berhasil mengiris sangat dalam kaki Tortoise dan membuat tubuh Argo terlumuri banyak darah dari Tortoise. Di jeda singkat ini, Marcel mengambil kesempatan untuk melompat tepat di samping leher Tortoise.
"Aaaaarrrggggghhhhhh...!!!" Marcel mengaum dan mengayunkan Sabitnya ke leher Tortoise dengan sangat kuat.
Bilah Sabitnya terlihat membesar, mencangkup seluruh leher Tortoise dan menghantam nya dengan sangat kuat. Kekuatannya cukup untuk menembus kulit keras Tortoise , namun itu tidak cukup kuat untuk memenggal kepalanya. Untuk itulah, Aland ada di sini.
"Hooorrrrraaaaahhhhh....!!" Aland Mengaum dan mengulurkan palunya ke ujung Sabitnya Marcel.
Sabit itu masuk semakin dalam ke leher Tortoise dan darah mau keluar dari sana. Tortoise mulai berontak sehingga Nanami harus melepaskan cambuknya dari mulut Tortoise.
*Graaaooorrr..........
Tortoise berteriak kencang, matanya mulai mengeluarkan sinar terang. Sepertinya dia hendak mengerahkan kekuatannya, namun hal itu sudah di duga. Di tengah pasukan, sihir besar yang di siapkan Alexei telah siap semenjak tadi dan menunggu saat yang tepat untuk di lemparkan. Sekaranglah saatnya.
"Holy Magic : ****light of heavenly judgment****!" Teriak Alexei.
Cahaya laser putih ke biruan muncul dari lingkaran sihir super besar itu dan menyerang Tortoise. Semua prajurit takjub dengan sihir hebat ini. Mereka belum pernah melihat yang seperti ini, bahkan para pahlawan baru melihat hal seperti ini. Cahaya itu menghantam wajah Tortoise dengan sangat kuat dan membatalkan serangan yang di siapkan Tortoise.
*Graooorrr........
Tortoise menjerit kesakitan dan marah karenannya. Baginya, ini sebuah penghinaan karena manusia seperti mereka dapat melakukan hal seperti ini padanya. Serangan tidak akan berakhir begitu saja. Sejak awal, ada dua orang lain yang sedang menyiapkan kekuatannya. Takatsumi yang sudah mengumpulkan energi dalam jumlah banyak membuka lebar matanya. Pedangnya telah berganti, menjadi sebuah pedang suci legendaris, Excalibur.
Pedang itu di tutupi cahaya emas karena energi yang telah di kumpulkan dalam jumlah besar. Dari jarak yang cukup jauh, Takatsumi mengayunkan pedang itu dari bawah ke atas dan sebuah bilah cahaya muncul dari tanah, menghempaskan kepala Tortoise ke langit.
Karena hempasan itu, Sabit Marcel mengiris semakin dalam leher Tortoise dan sudah mencapai setengah dari ketebalan lehernya. Ini masih belum cukup. Argo, Nadia dan Nanami tidak bisa diam dan menonton.
Nadia dan Argo menyerang leher Tortoise secara acak dengan kekuatan kuat mereka dan membantu Sabit Marcel mengiris semakin dalam. Di sisi lain, Nanami mengikatkan cambuknya di Sabit Marcel dan menariknya ke bawah. Takatsumi mengubah pegangannya dan menancapkan nya ke tanah.
"Haaarrrgggghhh...!!" Takatsumi mengaum.
Tanah di sekitarnya mulai retak dan retakan itu terus berjalan sampai ke bagian depan tempurung Tortoise. Sebuah ledakan cahaya berbentuk pedang muncul dari bawah tempurung Tortoise dan secara perlahan, Tortoise terangkat ke udara.
"I-ini kah, kekuatan sebenarnya dari pahlawan suci?" Gumam salah satu prajurit dari kejauhan.
"Hahaha... Meskipun kita memiliki pengalaman perang yang jauh lebih banyak dari mereka, tetapi kekuatan mereka sangat jauh dari genggaman manusia biasa..." Gumam Alexei.
Tidak ada satupun orang di dunia ini dapat membayangkan bahwa ada sesuatu yang dapat mengangkat Tortoise ke udara meskipun cuma sedikit. Namun di sini, Takatsumi dapat mengangkat sedikit tubuh bagian depan Tortoise ke udara. Meski dia tidak dapat melakukannya sampai menerbangkannya, setidaknya dia harus membuat Tortoise menatap langit.
"Urgh! Sedikit lagi..." Gumam Takumi, darah mulai keluar dari mulutnya.
Meski kekuatan ini sangatlah hebat, bukan berarti dia tidak menerima efek samping apapun. Kekuatan itu sangat membebani tubuhnya, jadi ini bukan sesuatu yang bisa di gunakan secara berulang kali.
Aland yang sedang menekan bilah Sabit Marcel mulai turun dan berdiri di bawah kepala Tortoise. Dia mengulurkan kedua tangannya ke udara bersama dengan palunya dan menggunakan skill.
"War Hammer!" Teriaknya.
Palunya raksasa yang terbuat dari Mana meluncur dari dalam tanah dan menghantam leher Tortoise dan berhasil membuatnya menatap langit.
"Persyaratannya telah terpenuhi, lakukanlah sekarang, Takumi...!!" Teriak Takatsumi, kepada seseorang yang berada tidak jauh di belakangnya.
Takumi yang sedang mengumpul kekuatan di tombaknya yang sejajar dengannya mulai membuka lebar matanya. Sebuah garis hijau terbentuk di kelopak matanya. Takumi mengangkat tombaknya tinggi-tinggi dan mengaktifkan kekuatannya...
"Tombak.... Penghakiman..." Gumamnya.
Sebuah tombak hijau raksasa muncul dari atas langit. Pemandangan itu membuat semua orang yang menyaksikannya gemetar ketakutan sekaligus kekaguman yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kekuatan semacam itu sangatlah jauh di luar jangkauan tangan manusia biasa.
Takumi mengayunkan Tombak di tangannya ke tanah dan tombak raksasa yang turun dari langit itu mengikutinya dan menusuk kepala Tortoise tanpa keraguan. Tortoise yang menatap langsung ke tombak itu tidak dapat melakukan apapun selain pasrah menerima kekuatan Tombak Takumi.
*Graaoowwwrrrr......
Jeritan keras Tortoise berlangsung sekejap mata dan kepalanya telah tertusuk dan di tembus oleh Tombak penghakiman Takumi. Meskipun mungkin Tortoise sudah di pastikan mati dengan serangan sekuat itu, para Pahlawan harus tetap memenggal kepalanya agar dia benar-benar mati.
"Calamity Claw!" Teriak Nadia, mengayunkan kedia cakarnya dan mengiris dalam leher Tortoise.
"Exterion!" Teriak Argo, cahaya tebasan muncul dan memotong leher Tortoise dalam sekali serang.
Darah yang mungkin saja dapat membuat lautan darah keluar dari leher Tortoise yang terpenggal. Benar-benar terpenggal menjadi dua bagian. Semua orang dia membeku, mereka bahkan tidak percaya bahwa ini benar-benar kemenangan mereka.
"K-kita menang... Kan?" Gumam salah satu kesatria.
"H-Hore!!" Sorak demi sorak muncul dari para prajurit.
Ada beberapa dari mereka yang saling merangkul dengan sangat senang dan ada beberapa dari mereka terharu dan menangis bahagia. Keajaiban benar-benar terjadi tepat di depan mata mereka. Hazama dan Petra yang telah membunuh Kelelawar raksasa menghembuskan nafas lega.
"Puhah! sangat melelahkan menggunakan tombak itu di level ku yang masih di pertengahan delapan ratus." ujar Takumi, melemaskan dirinya dan membiarkan tubuhnya terbaring di tanah.
Takumi menatap langit yang awannya berlubang karena kekuatan Tombaknya. Dia bersyukur bahwa masih bisa menatap langit indah setelah pertarungan ini.
"Oh iya, aku teringat tentang Rigel yang tidak yakin bahwa Tortoise tidak akan mati hanya dengan kepalanya yang di penggal... Apa mungkin dia hanya salah perkiraan?" Gumam Takumi. "Yah, biarlah... Kira-kira apa yang sedang di lakukan Yuri di Region ya..." Gumam Takumi.
Di sisi lain, Takatsumi yang kelelahan duduk di tanah dan menarik nafas karena kelelahan.
"Huh, ternyata ini jauh lebih mudah dari yang aku pikir." Ujar Aland.
"Kau benar, aku bahkan belum mengerahkan seluruh kekuatanku di sini. Sepertinya pertarungan ke depan juga akan lebih mudah dari ini..." Ujar Argo dengan sombong.
"Yah, mungkin Hydra yang di kalahkan si pengecut itu lebih mudah dari ini." Ujar Marcel.
Mereka mulai mengatakan kata-kata sombong yang meremehkan kekuatan Tortoise. Di sisi lain Nadia tampak meragukan sesuatu. Sama seperti Takumi yang berada di kejauhan, Nadia teringat akan kata-kata Rigel sebelumnya. Bahkan kemenangan ini terasa sedikit ganjil bagi Nadia. Jika Tortoise dapat mati hanya dengan seperti iki, seharusnya para pahlawan di masa lalu dapat mengalahkannya.
'Ini aneh... Di satu sisi, aku benar-benar ingin mengakui kemenangan ini namun di sisi lain, instingku berkata ini belum benar-benar berakhir. Namun, perasaan macam apa ini...' Batin Nadia, memegang dadanya, tempat hatinya berada.
Dengan kata-kata sombong Marcel dan yang lainnya, mereka tanpa sadar membangkitkan Flag kematian. Aura tekanan yang sangat kuat muncul dan membuat para pahlawan terkejut. Takumi yang terbaring di tanah bahkan terlihat sangat ngeri karenannya.
Di sisi lain, tempat Hazama berada, keadaan mulai kembali kacau. Para prajurit yang terkena Parasit mulai kembali menyerang prajurit lain.
"Apa yang terjadi?! bukankah Tortoise seharusnya sudah di kalahkan?!" Ujar Hazama.
"Jangan-jangan...?!" ujar Petra, menatap tempat Tortoise berada.
Para pahlawan yang bertarung dengan Tortoise menjauh darinya dan menatapnya dengan ketakutan. Daging tempat kepala Tortoise berada sebelumnya mulai menggeliat seakan ingin meledak. Namun kenyataannya, dagingnya justru membentuk kepala baru.
*Graowwwrrr..........
Tortoise kembali bangkit dari kematiannya dan mengaum dengan keras. Para pahlawan gemetar karena terkejut.
"O-oi, oii, apa gambar yang di tunjukan Alexdi sebuah kebohongan?!" Ujar Marcel.
"D-dia, apakah dia abadi atau semacamnya...??" Ujar Argo.
Nadia tidak salah, instingnya selalu tepat sasaran. Rigel benar, Tortoise tidak akan kalah meski kepalanya di penggal sekalipun.
"K-kau pasti bercanda! Monster sialan!" Takatsumi mengutuk selagi mencoba berdiri.
Tortoise menatap para pahlawan, wajahnya terlihat marah dan terlihat merendahkan para pahlawan. Di sisi lain, Nanami masih berada di dekat Tortoise, dia tidak dapat melarikan diri karena terlalu takut untuk melakukannya. Dia jatuh berlutut, kakinya gemetar lemah, wajahnya di penuhi ketakutan.
*Graoowwrrrr......
Tortoise mengaum lagi dan mendekatkan wajahnya denan wajah Nanami yang ketakutan. Nanami dapat merasakan nafas Tortoise, dia saling bertatapan dengan Tortoise.
"T-t-tol-ong a-ak-ku..." Ujar Nanami dengan lemah.
Takumi dengan cepat bangun dari tanah dan berlari menghampiri Nanami. Dia melewati para pahlawan lain yang hanya diam menonton dan tidak melakukan apapun. Tortoise membuka mulutnya dan hendak memakan Nanami. Meskipun dia tidak memiliki gigi, namun dengan kekuatannya itu dia mampu melumatkan Nanami.
"Nanami!!" Takumi berteriak dan melompat ke arah Nanami untuk menyelamatkannya.
Nanami menatap ke arah Takumi dengan air mata membanjiri wajahnya dan berkata "T-tolong aku, Takumi." Dengan suara yang gemetar dan lemah.
*Cruch!
Takumi terbelalak kaget, tepat di depan matanya, seseorang meninggal. Tortoise menggigit setengah badan Nanami dan menelannya. Darah Nanami terciprat di wajah Takumi, matanya terbelalak kaget. Wajah yang di buat Nanami terakhir kali, suaranya meminta tolong, dan ketakutan di wajahnya sama Persis dengan Tessia. Lagi-lagi, dia membiarkan seseorang mati tepat di depannya.
"Kuh! apanya yang pahlawan jika menyelamatkan seorang gadis saja aku tidak bisa!" Takumi mengutuk, selagi terbaring di tanah.
Tortoise menatap Takumi, dia terlihat sangat senang melihat penderitaan Takumi karena tidak bisa menolong rekannya. Tortoise mengangkat kaki kirinya, selanjutnya, dia hendak membunuh Takumi dengan merayakannya dengan tanah.
"Takumi! pergi dari sana!" Teriak Takatsumi.
Percuma, suara Takatsumi tidak lagi mencapai telinga Takumi. Dia terlalu putus asa untuk mendengar dan memperhatikan keadaan di sekitarnya. Kaki Tortoise tepat berada di atas Takumi, semua orang berfikir Takumi akan menjadi korban selanjutnya. Namun...
"TEMBAK!!" Teriak suara seseorang dari hutan yang berada tepat di belakang Takatsumi.
*Bom, Bom.........
"Itu, Basoka?!" Ujar Aland dengan kaget.
Dua buah peluru Basoka di luncurkan dan tepat mengenai kedua bola mata Tortoise.
*Bam.......
*Graoowwwwrrr......
Tortoise mengerang kesakitan dan kakinya melangkah mundur. Seseorang melompat ke arah Takumi dan membawanya pergi dari sana. Takumi menatap orang itu dengan bingung.
"Kau, Ozaru? kenapa kau ada di sini?" Tanya Takumi dengan bingung.
"Kita bicarakan itu nanti, sekarang kita harus menjauh dari sini." Ujar Ozaru selagi membawa Takumi pergi. "Kalian monyet bodoh juga pergi dari sini!" Lanjut Ozaru kepada pahlawan lainnya.
Tortoise berusaha mengeluarkan kekuatannya karena dia merasakan seseorang yang dapat benar-benar mengancamnya. Namun sebelum dia dapat bergerak dengan bebas, peluru demi peluru datang menghujani nya dari hutan.
"Senjata api seperti itu hanya bisa di ciptakan oleh Rigel, apa yang dilakukan pasukannya di sini? apa yang membuatnya berubah fikiran dan membantu kami? " Ujar Takatsumi dengan bingung.
Dia tidak memiliki waktu untuk berfikir. Untuk saat ini pilihan terbaik bagi pahlawan adalah mengikuti arahan Ozaru untuk segera menjauh dari sini. Takatsumi menatap ke arah mayat Nanami berada, sekilas dia melihat seseorang mengambil mayatnya. Namun kabut debu menutupinya langsung sehingga Takatsumi tidak tahu siapa itu. Pertarungan ini akan memasuki babak kedua!