The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Menangkap umpan



"Target kita selanjutnya, si burung api, Phoenix."


Monster malapetaka yang menjadikan gunung api Vulcan sebagai rumahnya. Monster yang mungkin memiliki serang paling berbahaya dan merepotkan untuk di tangani.


Phoenix sendiri adalah burung api yang terkuat di jenisnya. Dari yang di ceritakan Sylph, ada banyak dari jenis burung api, namun Phoenix yang mendiami gunung api Vulcan yang bahkan tidak di tempat Phoenix lainnya. Jika ada, mungkin itu adalah monster-monster yang di buat oleh Phoenix itu sendiri dengan kekuatannya.


Gunung Vulcan adalah sebuah tempat dengan pegunungan api yang terus menerus mengeluarkan Lahar super panas dari perut bumi. Konsentrasi Mana di sana sangatlah tinggi, bahkan melebih hutan Peri. Udara pastinya akan terasa sangat tipis dan berbagai macam item yang dapat menangkal panas sangat di butuhkan untuk ekspedisi ke tempat itu. Manusia tidak akan bisa tahan untuk tinggal di situ, mereka akan lebih banyak kehilangan kandungan air dalam tubuh mereka dan tingkat kematian akan semakin tinggi.


"Jika itu burung api, maka kita memerlukan jubah tahan api, seperti jubah yang terbuat dari Salamander." Takumi mengungkapkan pemikirannya. Dia ingat pernah memakainya dulu, saat penaklukan Naga tahun lalu.


Jubah Salamander dapat menangkal serangan berelemen api dan jenis serangan panas lainnya. Hal itu akan sangat-sangat berguna dalam ekspedisi kali ini dan menjadi sebuah sumber daya yang di butuhkan. Tidak hanya bagian kulit Salamander saja yang di butuhkan, namun ada banyak lagi yang harus di butuhkan. Terutamanya menyimpan air dan menjaga suhu tubuh tetap normal.


Jika suhu tubuh Rigel meningkat dengan tinggi, dia akan kehilangan lebih banyak cairan dan energinya, bahkan sebelum pertempuran melawan Phoenix di mulai. Menyimpan tenaga sebanyak mungkin akan menjadi hal yang harus di utamakan.


Lalu, ada juga masalah dengan persediaan air. Meski bukan hal sulit untuk Rigel membuatnya, namun seperti sebelumnya, sebisa mungkin dia harus menghemat tenaganya bahkan jika itu hanya sedikit saja. Untuk hal-hal ini, tidak mungkin Rigel meminta Asoka menangani semuanya, karena itu pertemuan ini di adakan.


"Untuk itu, kita membutuhkan sesuatu yang dapat menjaga suhu tubuh dan persediaan air. Kalian sendiri seharusnya sudah tahu, bahwa menghemat tenaga adalah Prioritas paling utama. Kita tidak bisa meremehkan lawan yang akan kita hadapi, seperti Tortoise. Meski dia tidak memiliki serangan yang berarti, namun pertahanannya adalah nomor satu." Rigel berusaha menekankan pada mereka untuk tidak lagi meremehkan lawan-lawan yang akan mereka hadapi. Kelalaian sedikit saja dapat membawa semuanya ke dalam kematian.


"Jika itu menyangkut air, kupikir Raja Alexei dapat melakukan sesuatu tentang itu. Serahkan saja hal itu kepada Ruberios. Lalu untuk suhu tubuh, ada kemungkinan bahwa Perisai ku dapat melakukan sesuatu terhadapnya. Namun kita tidak boleh terlalu bergantung kepada Perisai ku, karena saat pertempuran tidak akan ada waktu bagiku untuk bertahan selagi menjaga suhu tubuh semua orang. Lebih bijak jika kita juga mencari sesuatu lain yang dapat mempertahankan suhu tubuh." Hazama dengan cermat memberikan sarannya. Dengan begini masalah air dapat teratasi dan hanya satu lagi...


"Yah, kalau begitu suhu tubuh menjadi bagian kami dari Kekaisaran Timur." Marcel menghela nafas dan mengajukan negaranya untuk mengurus masalah tentang suhu tubuh.


"Lalu, adakah hal lain yang kau butuhkan? Aku tidak yakin jika itu sudah mencangkup seluruhnya." Petra mengajukan pertanyaan dan dengan penasaran hal macam apa yang telah Rigel pikirkan.


"Tentu ada satu hal, namun aku tidak yakin apakah benda itu dapat benar-benar di gunakan kepada lahar atau tidak," Rigel menghitung kemungkinan keberhasilannya namun tetap saja, "Aku tidak tahu seberapa efektif benda itu terhadap lautan Lahar. Namun kupikir ada kemungkinan akan berhasil."


"Benda apa yang kamu maksud?" Petra memiringkan kepalanya dengan bingung dan menunggu penjelasan dari Rigel.


"Magic Item Iceland. Sebuah item sihir yang membantuku menghadapi Hydra pada saat itu. Benda itu sanggup membekukan seluruh lautan Territory Hydra sehingga membuatkan pijakan yang layak untukku bertarung dengannya. Aku berfikir bahwa benda yang sanggup melakukan itu mungkin juga memiliki kesempatan untuk membekukan lahar, meskipun hanya sedikit."


Jika saja Iceland dapat membekukan lahar meski hanya sesaat, maka pertarungan yang ada akan menjadi sedikit mudah dan mereka tidak perlu mengkhawatirkan akan terkena lahar panas itu.


"Lalu, kenapa kita tidak mencobanya saja?" Aland bertanya, namun bukan itu yang menjadi masalahnya.


"Masalahnya adalah benda itu sulit di dapatkan. Pada saat itu, berkat Merial yang memiliki koneksi luas dia dapat memiliki satu. Aku juga sudah memintanya untuk memberitahukan bahwa dia menginginkannya satu lagi, namun nyatanya item itu sangatlah sulit di dapat dan membutuhkan perjuangan berat."


"Singkatnya, benda ini kita kategorikan sebagai Rare Tier, kan?" Ujar Marcel, memejamkan mata dan menyilangkan tangan.


Rigel setuju dengannya, karena kelangkaan item untuk membuat Iceland. Untuk mendapatkannya, mereka harus pergi ke ujung dunia, kutub utara. Tempat yang hanya di penuhi Es dan monster bertipe Es seperti beruang kutub dan semacamnya. Ada dua benda yang harus mereka dapatkan, yaitu hati Naga Es yang tinggal di sana dan darah dari beruang kutub yang sedang mengandung.


Bagi Rigel atau Pahlawan lain, mengalahkan mereka bukanlah suatu masalah. Namun yang menjadi permasalahan adalah betapa sulitnya mencari kedua monster itu di dunia Es yang begitu luas. Selain itu, perjalanan kesana tidaklah mudah dan akan memakan waktu yang sangat lama untuk mencapai tempatnya, dan belum lagi pencarian Naga dan beruang yang sedang mengandung tidak akan sebentar. Ketimbang Rare Tier, mungkin Iceland bisa di kategorikan ke dalam God Tier karena selain kesulitan untuk mendapatkannya, kekuatannya yang dapat membekukan laut Territory adalah hal yang sangat luar biasa. Selain itu, tidak dapat di pastikan 100% bahwa Iceland akan berguna untuk membekukan Lahar super panas.


"Yah, mari kita lewatkan hal yang mustahil di dapatkan. Kembali ke Phoenix, aku ingin mengetahui alasan apa kau memilihnya terlebih dulu? dan juga kau pastinya memiliki semacam informasi tentang kekuatan Phoenix, kan?" Nadia mengutarakan pertanyaannya. Alasan dia percaya bahwa Rigel ntah bagaimana memiliki informasi tentang Phoenix, sama seperti Rigel yang tahu cara mengalahkan Tortoise.


"Pertanyaan bagus. Aku memiliki beberapa informasi menarik terkait dengan kekuatan dan kelemahan Phoenix. Untuk kemampuannya seperti yang kita duga bahwa itu pastinya berhubungan dengan api. Kemungkinan besar, kemampuan yang dia miliki adalah detonasi dengan skala yang sangat besar sampai-sampai dia mungkin menjadi monster malapetaka dengan daya serangan paling besar." Rigel berhenti sejenak untuk mengamati reaksi yang lain.


Di luar harapan, reaksi mereka datar dan Seakan-akan sama sekali tidak terkejut tentang hal itu. Mungkin mereka sudah terlalu banyak mendapatkan kejutan besar sehingga membuat mereka tidak lagi dapat di kejutkan dengan mudah.


Mengenai kekuatan burung api Phoenix, nampaknya akan menjadi yang paling sulit di tangani jika kekuatannya dapat menghasilkan ledakan lahar panas. Medan pertempuran juga sangat sulit, yang pastinya akan di kelilingi oleh lahar panas serta udara panas yang membuat mereka sedikit kesulitan untuk bernafas. Sudah sepatutnya rencana yang mereka persiapkan akan benar-benar matang.


"Kita harus bertarung di luar zona lahar yang memiliki udara panas sekaligus sangat menguntungkan Phoenix. Karena itu aku memiliki harapan bahwa Iceland dapat mengatasinya."


"Selanjutnya tentang kemampuannya yang lain. Saat kita berhasil membuat Phoenix sekarat, dia akan membelah dirinya menjadi dua bagian yang sama kuatnya. Aku sendiri tidak begitu mengetahui informasi lanjutan tentang hal macam apa yang bisa di lakukan Phoenix saat membagi dua dirinya. Namun yang pasti, untuk mengalahkannya kita harus membunuhnya secara bersamaan. Jika saja kita membunuh satu persatu, maka ledakan besar yang bahkan tidak dapat ku tangani akan muncul dan menyapu habis kita semua." Rigel menyipitkan matanya saat menjelaskannya kepada Pahlawan lain.


Rigel berusaha menekankan pada mereka bahwa kerja sama mereka akan sangat dituntut untuk menghadapi kasus kali ini. Berbeda dengan saat melakukannya terhadap Tortoise, burung Phoenix memiliki resiko yang nyata dan akan menjadi target yang sulit, karena dia tidak akan membiarkan dirinya terbunuh dengan begitu mudahnya.


Satu saja kesalahan yang di perbuat, maka nyawa mereka dapat menghilang kapanpun tanpa peringatan yang jelas. Pahlawan lain akan bertanggung jawab atas punggung yang lainnya. Mereka harus melindungi satu sama lain dan keluar sebagai pemenang.


"Aku mengerti. Kupikir Phoenix akan setidaknya lebih mudah di tangani dan kita hanya perlu membunuhnya saja. Namun jika semuanya menjadi serumit ini maka akan lain ceritanya." Marcel tidak bermaksud meremehkan Tortoise, namun memang benar bahwa Tortoise lebih mudah ketimbang Phoenix. Karena apa? targetnya tidak bergerak.


Membunuh dua target yang selalu berkeliaran sana sini secara bersamaan akan menjadi sesuatu yang sangat sulit ketimbang membunuh target yang sama sekali tidak bergerak.


Mereka nampak sudah memahami dengan jelas makna dari apa yang Rigel sampaikan. Segala informasi tentang Phoenix telah Rigel berikan kepada mereka dan dia tidak memiliki hal lain tentang Phoenix untuk di sampaikan.


"Nampaknya pembahasan mengenai Phoenix telah berakhir... Lalu, hal terakhir apa yang ingin kau bahas?" Mendengar ucapan Yuri, Pahlawan lain kembali memperhatikan dua orang di belakang Rigel yang diam dan menyimak pembahasan.


Rigel sedikit tersenyum, nampaknya sudah tiba waktunya untuk menyebar benih atau umpan, lebih tepatnya. Rigel menatap Merial dan Ray, mereka mengangguk seketika tatapan mereka bertemu dengan tatapan Rigel.


"Baiklah, kalau begitu, pembahasan selanjutnya adalah sesuatu yang hanya aku, Ozaru, ratu peri Sylph dan mereka berdua ketahui."


Semua memasang telinga baik-baik, jelas ini akan menjadi sebuah informasi yang teramat rahasia, karena hanya ada sedikit orang saja yang mengetahui tentangnya. Namun kenyataannya masih ada dua orang lagi yang mengetahui fakta ini, Tirith dan Takumi. Rigel sengaja untuk tidak mencantumkan nama mereka dalam daftar.


"Ini berhubungan dengan penelitian yang telah aku lakukan sejak lama. Penelitian ku adalah tentang membangkitkan Pahlawan, mungkin lebih tepatnya melahirkan Pahlawan baru."


Wajah penuh kejutan terukir jelas diantara Pahlawan lain dan itu sedikit menghibur bagi Rigel. Terutama Takatsumi, dialah yang memiliki wajah kejutan paling bagus dari semuanya. Dia mungkin berfikir bahwa Rigel telah melakukan hal yang dapat menggantikannya. Namun, dia tidak mengerti tentang tujuan Rigel mengungkapkannya. Jika Takatsumi menjadi Rigel, dia hanya perlu diam dan mempersiapkan rencana bagus untuk itu.


"Melahirkan Pahlawan baru... A-apa maksudmu? aku sama sekali tidak memahami kata-katamu..."


Ketimbang menjelaskannya dengan kata-kata yang tidak akan di pahami oleh beberapa orang yang tidak mengetahui banyak perumpamaan kata. Akan jauh lebih cepat untuk menunjukannya langsung di depan mata.


"Merial, Ray, lakukanlah..." Mendapat izin dari Rigel, Merial dan Ray mengangguk dan memperlihatkan senjata ilahi yang mereka miliki.


Sebuah kristal yang sama dengan yang ada pada senjata ilahi lainnya, dan bentuk yang mirip dengan cambuk Nanami dan pisau milik Argo. Kristal di senjata ilahi Pahlawan lain berkilau singkat, seolah menandakan bahwa itu benar-benar salah satu di antara mereka.


"Bagaimana bisa??" Hazama bergumam selagi dengan terkejut menatap Merial dan Ray yang kini merupakan seorang Pahlawan.


Mereka Pribumi, bagaimana bisa menjadi seorang Pahlawan? apakah ada sesuatu yang dapat membuat semua itu terjadi??" Batin Hazama. Namun dia yakin bahwa Rigel pasti akan dengan segera menjelaskannya.


"Aku telah meminta seseorang dari negaraku untuk meneliti sesuatu tentang Pahlawan, di mulai dari syarat pemanggilan hingga karena suatu keberuntungan kami menemukan catatan mengenai Pahlawan yang mati. Dalam catatan menyebutkan bahwa saat Pahlawan mati maka Divine Of Weapon Hero akan tetap melekat di tubuh Pahlawan yang mereka tempati, sehingga senjata Pahlawan tetap akan bersama mereka sampai tubuh mereka membusuk. Namun, ada sebuah cara untuk memindahkan Divine Of Weapon Hero dari Pahlawan yang mati ke orang lain. Tentunya, dengan syarat bahwa Pahlawan itu sudah tidak bernyawa lagi."


Mereka mendengarkan penjelasan Rigel dengan sangat seksama dan tertarik dengannya. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang mencoba meneliti sesuatu semacam itu. Rigel memiliki pandangan yang luas terhadap dunia ini. Berbeda dengan Pahlawan lain yang menganggap diri mereka eksistensi yang tinggi dan tidak pernah memperhatikan hal kecil semacam itu. Rigel telah melalui seratus tahun kehidupan, meski umurnya belum mencapai angka itu, namun jiwa dan mentalnya telah mencapainya sehingga dia jauh lebih bijaksana dari yang lainnya.


"Awalnya aku sendiri memiliki keraguan akan itu, namun karena dalam catatan tidak menyebutkan resiko apapun tentang ritualnya dan kebetulan bahwa Nanami mati sehingga tidak ada salahnya untukku mencobanya, dan ternyata hasilnya jauh lebih mengejutkan daripada yang kuduga. Mereka berdua adalah hasil dari ritual itu."


Rigel terus memperhatikan reaksi semua orang dan mengamati baik-baik perubahannya. Terutamanya Takatsumi yang nampaknya memikirkan sesuatu yang hanya dia ketahui sendiri.


Ayolah, tangkap umpan ini, bajingan kecil. Kesempatan yang bagus bukan? kau dapat melenyapkan semua orang dan menggantikan mereka yang dapat kau kendalikan semaumu...


Rigel terus menantikan datangnya pertanyaan sampai, "Pertanyaan," Takatsumi memutuskan untuk bertanya, "Bagaimana cara melakukan pemanggilan itu?"


penebaran umpan berhasil di lakukan dan hari pembalasan akan tiba.