The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Rigel & Tirith



Malam ini sinar bulan bersinar terang, langit tidak berawan sehingga bintang bintang dapat terlihat dengan jelas. Dari waktunya, Rigel tahu bahwa orang yang dia cari ada di sana.


Rigel menyusup ke dalam istana dan pergi menuju halaman istana. Benar saja, gadis yang dia cari ada di sana. Tirith meletakan teh dan camilan yang dia bawa. Dia menggelar karpet seolah ingin piknik di malam hari.


Rigel tidak langsung memperlihatkan dirinya, dia menunggu Tirith untuk duduk dan menggodanya. Saat Tirith hendak duduk, Rigel menggunakan skill miliknya dan menciptakan mainan yang dia taruh di tahta raja saat itu.


Pret.


"Kya!"


Tirith terkejut saat merasakan ada sebuah benda asing yang dia duduki. Tirith mengambil benda itu dan bingung dari mana asalnya.


'Sudah lama aku tidak melihat seberapa imutnya dia.'


Saat Rigel mengatakan itu, kristal merah muda di dadanya mengeluarkan kilauan seolah setuju dan marah karena itu. Kristal itu berasal dari inti jiwa Priscilla yang tersisa.


Rigel keluar dari tempatnya bersembunyi dan berjalan menghampiri Tirith.


"Yaampun, bagaimana bisa seorang tuan putri yang cantik dan anggun buang angin seperti itu?! Apa kata dunia jika ada banyak orang yang menyaksikannya?"


Rigel mengatakan hal itu dengan lantang dan merentangkan kedua tangannya. Tirith menoleh ke arahnya dan terkejut saat melihat sosok Rigel yang tersenyum senang. Tirith mulai bangkit dan berdiri, dia mengangkat piyama tidurnya dan berlari menghampiri Rigel.


"Rigel!"


Tirith jatuh ke pelukan hangat Rigel. Rigel memeluknya balik, aroma tubuh dan shampo yang di gunakan Tirith menggelitik hidung Rigel.


"Apakah segitu besarnya kau merindukanku?"


"Tentu saja bodoh! Kupikir kau awalnya mati namun setelah setahun kau baru menunjukan dirimu dan langsung pergi begitu saja! Kau bilang kau akan tetap hidup dan membawaku bersamamu! Kau pengingkar janji, dasar bodoh, idiot, bodoh!"


Tirith mulai mengucapkan sumpah serapah yang dia ketahui sambil menangis di pelukan Rigel. Rigel hanya diam dan mengusap rambut ke emasan milik Tirith dengan lembut.


"Maafkan aku untuk itu, karena ada banyak hal yang sudah berubah saat ini. Lalu, aku tidak mengingkari janjiku padamu, lihat buktinya aku masih hidup dan kau memelukku dan menangis."


"Aku akan memaafkanmu soal itu, namun aku tidak akan memaafkanmu karena menaruh benda aneh itu!"


Tirith mencubit pinggang Rigel dengan tangannya, dia masih berada di pelukannya.


"Itu sakit tahu."


Tirith mengangkat wajahnya untuk menatap Rigel yang lebih tinggi darinya. Matanya yang biru jernih memancarkan sinar bulan dan wajahnya yang habis menangis sangat imut bagi Rigel.


"Itu adalah hukumanmu karena melakukan itu."


"Baiklah baiklah, bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?"


Tirith mengangguk dan mengajak Rigel untuk duduk di tempatnya duduk sebelumnya. Tirith memberikan secangkir teh kepada Rigel.


"Ne, Rigel. Aku ingin tahu kenapa rambutmu berubah menjadi putih? Lalu, tangan kirimu itu..."


Tirith terlihat sedih saat melihat tangan kiri palsu yang Rigel gunakan. Rigel hanya tersenyum melihat wajah Tirith.


"Untuk rambutku aku sendiri juga tidak mengetahui alasannya dan tidak perduli dengan itu. Untuk tangan kiri ini, aku menemukannya saat mengalahkan monster aneh dengan baju zirah. Aku menggunakan pengetahuan dari duniaku dan hasilnya aku mendapatkan pengganti lengan logam yang terbuat dari Adamantite ini."


Rigel menggerak gerakan lengan kirinya dan tersenyum kepada Tirith untuk menyampaikan bahwa dia baik baik saja dengan lengan buatan ini, Tirith membalas senyuman Rigel dengan senyuman.


"Apakah kau menemuiku untuk mengucapkan salam perpisahan, Rigel?"


Tirith bertanya dengan sedih.


"Itu benar, namun alasan utamaku adalah karena aku merindukanmu dan sangat ingin menggodamu."


"Dasar kau ini, pahlawan nakal."


Tirith menarik telinga Rigel seperti seorang ibu yang memarahi anaknya. Namun Rigel menikmatinya, bukan berarti dia masokis. Ada kehangatan tersendiri saat Rigel bercengkrama dengan Tirith seperti ini.


"Kalau begitu aku juga ingin melakukan hal yang ingin ku lakukan sebagai gantinya."


Ucap Tirith, menutup matanya dan membuat wajah yang terlihat angkuh.


"Apa itu? Membuat anak?"


"Bu-bukan itu!"


Wajah Tirith memerah lagi karena mendengar Rigel mengucapkan hal itu. Tirith bangun dan mengubah posisi duduknya. Dia menekuk kakinya seperti posisi duduk orang jepang, Tirith menepuk pahanya.


"Aku akan memberikanmu sebuah kehormatan dengan berbaring di pangkuanku."


Tirith memasang wajah sombong yang sangat cocok dengan gelar keluarga kerajaan miliknya. Wajah Rigel memerah dan mengikuti permintaan Tirith untuk berbaring di pangkuannya. Saat Rigel berbaring, wajah Tirith mulai memerah dan dia tersenyum sambil mengelus rambut putih Rigel.


"B-bagaimana rasanya?"


"Hmm, ini yang terbaik. Jika kau selalu membiarkanku begini, aku mungkin tidak menginginkan apapun selain berbaring di pangkuanmu."


"Hehe, meskipun penampilanmu banya berubah, kau masih sama seperti Rigel yang ku kenal. Aku bersyukur karena itu."


Rigel sangat bersyukur karena benar untuk menemui Tirith malam ini.


'Seratus tahun aku berlatih untuk menjadi kuat. Namun, ini adalah hadiah terbaik yang aku dapatkan.'


Pikir Rigel.


Ada keheningan singkat di antara Rigel dan Tirith. Mungkin mereka bingung hal apa yang harus di bicarakan.


"Rigel, apakah kau tidak bisa menetao saja di istana seperti sebelumnya? Batalkan saja rencanamu untuk mengalahkan monster malapetaka, aku tidak ingin kehilanganmu lagi."


Tirith mengatakan itu, dia tidak melihat wajah Rigel, dia melihat ke tempat yang jauh di sana. Rigel hanya menatap Tirith dalam diam.


"Maaf ya, permintaanku sangatlah egois. Seharusnya memang sudah tugasmu untuk melakukan itu karena kau seorang pahlawan."


Tirith terkekeh dan menyeka air mata yang keluar di matanya. Rigel yang berada di pangkuan Tirith, dengan enggan bangun.


"Meskipun aku masih ingin lebih lama berada di pangkuanmu, namun ada sesuatu yang ingun aku tunjukan padamu, ayo."


Rigel mengulurkan tangan kanannya kepada Tirith. Tirith meraih tangan Rigel dan berdiri, lalu tanpa peringatan, Rigel mengangkat Tirith dan menggendongnya di pelukannya. Tirith sedikit menjerit karena terkejut, wajahnya memerah saat Rigel menggendongnya.


"Peganganlah yang erat, Tirith."


Tirith dengan canggung meraih leher Rigel dan mengalungkan tangannya. Rigel tersenyum dan mengumpulkan kekuatannya di telapak kakinya dan terbang dengan cepat ke udara.


"Kyaaaa!!!"


Tirith berteriak dan memejamkan matanya, pelukannya mengencang karena takut.


"Rapatkanlah mulutmu jika tidak ingin serangga masuk ke dalam mulutmu."


Tirith mengikuti instruksi Rigel dan menutup mulutnya namun genggamannya di leher Rigel masih kuat. Setelah beberapa lama terbang dan menembus awan putih, Rigel akhirnya sampai. Rigel dan Tirith berada cukup tinggi dari permukaan. Ini adalah Titik tertinggi yang bisa Rigel capai, karena semakin tinggi mereka berada semakin tipis udara yang ada.


"Kita sudah sampai, Tirith. Bukalah matamu."


Tirith perlahan membuka matanya dan terkejut dengan apa yang dia lihat. Matanya berkilau karena senang dan takjub dengan apa yang dia lihat.


"Waahh~, ini sangat indah Rigel! Bintangnya bersinar lebih terang dan bulannya bahkan terlihat lebih besar dari atas ini!"


Rigel tersenyum melihat Tirith yang sangat ambisius melihat bintang dan bulan. Jelas saja karena di ketinggian ini, tidak ada awan yang menghalangi pandangan sehingga bintang dan bulan dapat terlihat dengan jelas.


"Sebelumnya aku pernah mengatakan bahwa aku akan membawamu melihat bintang dari dekat, kan? Ini masih sangat terlalu jauh namun pemandangan di sini lebih baik dari pada di bawah sana, kan?"


"Ya! Di atas sini sangat indah! Bagaimana caramu bisa terbang, Rigel?! Seharusnya tidak ada sihir terbang di dunia ini!"


"Ini rahasia."


Tirith mulai cemberut dan mengalihkan wajahnya dari Rigel.


"Aku mencintaimu, Tirith."


Tirith kembali memandang Rigel dengan tatapan terkejut dan wajahnya memerah. Rigel menatap Tirith langsung ke matanya.


"Karena aku mencintaimu, aku akan terus melangkah maju. Tak perduli lawan seperti apa yang aku hadapi, tak perduli sekuat apa mereka, aku akan berjuang keras untuk tetap hidup, agar aku dapat membuat tempat yang indah untuk kita."


"Karena itu sudah janjimu untuk tetap hidup."


Wajah Tirith dan Rigel mulai saling mendekat dan bibir mereka bersentuhan. Rigel dapat merasakan nafas Tirith, dia merasakan rasa manis teh dari bibirnya.


Setelah beberapa saat mereka berciuman dan melihat bintang, Rigel dan Tirith turun dari langit dan mereka berpisah.


"Kalau begitu, aku pergi dulu, Tirith. Meskipun ini perpisahan, namun ini hanya sebentar. Sampai jumpa."


"Berhati hatilah, Rigel. Sampai jumpa."


Rigel pergi dengan menaiki dinding istana dan berjalan menuju titik pertemuannya dengan Takumi


***


"Akhirnya kau datang juga, Rigel. Apa kau sudah melakukan hal yang kau ingin lakukan?"


"Ya. Ayo kita pergi, Takumi."


Rigel sudah selesai bersalaman dengan Tirith dan dia berangkat pergi untuk menemui Takumi. Pertarungan Rigel dan yang lainnya melawan Hydra, salah satu dari konster malapetaka sudah dekat.


Rigel lebih memilih menggunakan teleport menuju ke tempat pasukan miliknya menunggu.


"Berhati hatilah, Rigel."


Ucap Tirith yang berada di istana dan terus menatap arah tempat Rigel pergi.