The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Latih tanding Leo dengan Tirith



Matahari telah mencapai puncaknya dan teriknya sinar matahari menyengat kulit. Saat ini Rigel telah berada di ruang pelatihan Britannia dan mengambil tempat duduk yang nyaman untuknya. Tidak jauh dari tempatnya duduk, terdapat Altucray yang tidak ingin dekat-dekat dengan Rigel.


Dia tidak memperdulikan Altucray, dia hanya fokus dan menantikan latih tanding antara Tirith dan Leo yang akan segera berlangsung saat ini juga. Leo cukup kuat, setidaknya dia dapat membunuh dua ekor Minatour sendirian dan untuk Tirith, Rigel sama sekali belum mengetahui kekuatannya dan sedikit tertarik untuk mengetahuinya.


"Mari kita lihat apa saja yang dapat kau lakukan, Tirith." Rigel bergumam. Dia menyilangkan kedua tangannya dan tersenyum tipis.


"Kau sudah siap?" Tirith menyiapkan senjata kayunya dan menatap Leo.


"Ya, aku siap." Leo setuju dan sepenuhnya memfokuskan diri kepada musuh di depannya. Kali ini tidak hanya pendengaran, tetapi dia juga akan mengamati keadaan di sekitarnya seperti yang Rigel ajarkan sebelumnya.


"Aku akan mengeluarkan kemampuan terbaikku dan tidak akan menahan diri, jadi kau tidak perlu sungkan menyerangku." Ujar Tirith, menekankan pada Leo untuk tidak menahan diri.


"Memang itu tujuanku." Leo membalas dengan acuh.


Konsentrasinya sudah sepenuhnya terfokus kepada lawannya. Dia tidak lagi memperdulikan apa dan siapa yang menontonnya, yang dia perlu perhatikan adalah lawan di hadapannya.


Tidak hanya Tirith, tetapi Rigel dan bahkan Altucray terkejut dengan konsentrasi Leo yang sangat tinggi. Rigel berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengeluarkan suara yang dapat mengacaukan konsentrasi Leo.


Leo dan Tirith saling menatap satu sama lain, senyuman di bibir mereka masing-masing telah menghilang dan yang ada di depan mereka sekarang adalah musuh yang harus mereka kalahkan. Tirith mulai memasang kuda-kudanya dan Leo berusaha untuk memperhatikan Tirith tanpa terlewatkan sedetikpun.


"Kumulai..." Meninggalkan kata-kata semacam itu, sosok Tirith berkedip dan menghilang. Rigel sedikit terpukau dengan kecepatan Tirith, namun itu tidak cukup cepat untuk Rigel kehilangan jejaknya.


Leo tetap tenang dan tidak panik hanya karena Tirith menghilang dari layar pandangnya. Dia memfokuskan pendengarannya dan mengamati setiap sisi yang menjadi kemungkinan tempat Tirith akan menyerang. Menarik nafas dengan tenang dan Leo mendengar suara kecil serta bayangan cepat melintas menyerang dari belakang.


"Di sana!..." Leo berbalik dan menahan laju Pedang kayu Tirith yang mencoba menyerang punggung Leo. Tirith tersenyum masam sekaligus kagum bahwa Leo dapat merasakannya.


"Boleh juga, namun ada baiknya untuk tidak mengeluarkan suara semacam itu ketika hendak menyerang ataupun bertahan..." Tirith melompat mundur dan berusaha mengambil jarak dari Leo. Namun tidak akan berjalan semudah itu.


Leo tidak akan ingin menjadi orang yang selalu menerima serangan Tirith, sekarang waktunya untuk unjuk gigi. Leo menggunakan Burst Step dan dengan cepat memotong jarak dirinya dengan Tirith. Leo mengirimkan tiga ayunan kuat namun dengan mudahnya berhasil di gagalkan Tirith.


Tidak sampai di situ, Leo dengan cepat berputar dang mengirimkan satu tendangan kuat yang membuat Tirith terdorong mundur. Akhirnya dia menyadari maksud Rigel untuk tidak memberikan Leo sedikit belas kasihan. Kemampuan Leo sendiri cukup memumpuni dan dia selalu memiliki trik kecil dari setiap serangannya.


"Seranganmu terlalu melebar dan sangat mudah untuk di baca. Berusahalah untuk menutupi niatmu dan mencoba menyerang bagian yang kau inginkan tanpa bisa di tebak lawanmu."


Suatu saat Leo akan menjadi kesatria Pedang yang sangat berbakat, namun untuk mencapai tempat tinggi itu, dia yang sekarang masih memiliki banyak celah dari setiap serangannya dan Tirith memberitahukan setiap kekurangan Leo.


Mendengar apa yang di katakan Tirith, Leo membenarkannya di dalam hati. Memang benar bahwa setiap serangan miliknya selalu meninggalkan celah yang besar untuk serangan balik. Perlahan dia mengerti alasan Rigel mengirimnya ke sini karena dia dapat mempelajari banyak hal ketimbang terus bersama Rigel yang sangat jarang memiliki waktu luang untuk melatihnya bermain pedang.


"Sekarang, cobalah untuk menghadapi ini," Tirith mulai menyalurkan Mana ke seluruh tubuhnya, nampaknya dia mulai serius, "Bunga Pedang..."


Tirith dengan cepat bergerak berputar di sekitar Leo dengan sangat cepat. Leo memandang ke kiri dan kanan, dia tidak dapat menentukan dari mana serangan Tirith akan mendarat.


*PAK......


Sebuah pukulan yang cukup keras mendarat di punggungnya, Leo berbalik dan tidak menemukan siapapun sampai lagi-lagi punggungnya mendapatkan sebuah pukulan. Gerakan Tirith terlalu cepat sehingga sulit bagi Leo mencarinya.


Gerakannya memang cepat, namun pasti ada trik di balik kecepatannya! pikirkanlah dengan kepalamu, Leo! Batin Leo.


Leo mengamati baik-baik bayangan hitam yang terus bergerak mengitarinya. Dia mengamatinya untuk mencari tahu akankah ada saat ketika bayanan itu melambat atau membentuk suatu pola tersendiri. Lagi-lagi Leo mendapatkan pukulan keras, kali ini pukulan itu mendarat di paha kirinya dan sedikit menggoyahkan postur tubuhnya. Leo kembali membetulkan posturnya selagi tetap mengamati pergerakan Tirith.


Tunggu, setiap gerakannya aneh, kenapa dia hanya mengitariku? Seakan-akan dia membentuk suatu pola tertentu.


Leo perlahan memahaminya dengan baik dan sengaja menerima beberapa serangan lagi dari Tirith. Dia harus menerima dua sampai tiga serangan yang cukup menyakitkan dari Tirith, namun hal itu membuahkan hasil.


Tirith yang melaju dengan cepat mencoba mengakhirinya dengan membenturkan pedangnya ke Leher Leo, namun...


*TAK!


Tidak terduga, Leo berbalik dan menahan serangan Tirith dengan senyuman lebar di bibirnya. Leo mendorong mundur Tirith dan kembali memotong jarak dengan Burst Step tanpa memberikan Tirith sedikit waktu untuk kembali memperbaiki postur tubuhnya.


"Haa!" Leo berteriak dan mengincar pergelangan tangan Tirith dengan tujuan membuat pedang di tangannya terhempas.


"Sayang sekali..." Ujar Tirith, memutar pergelangan tangannya dan membenturkan gagang pedangnya ke leher Leo sebelum Leo berhasil menghempaskan pedangnya, "Niatmu dapat terbaca dengan jelas."


Leo berlutut selagi memegang lehernya yang kesakitan sementara Tirith tersenyum bangga akan sesuatu. Dia menyadari bahwa Leo memang memiliki bakat yang sangat baik, namun seperti yang dia katakan sebelumnya, Leo masih memiliki banyak celah di setiap serangannya dan harus belajar lebih banyak lagi.


Rigel tidak dapat mengatakan apa-apa selain berdecak dengan kagum atas pertunjukan yang baru saja dia lihat. Kekuatan Tirith juga jauh melebihi ekspektasi nya dan nampaknya Tirith masih memiliki banyak hal yang belum dia perlihatkan kepada Rigel.


Sepertinya memang bukan keputusan yang salah mengirim Leo ke Britannia. Jika saja Altucray tidak berniat memberikan sedikitpun pengetahuannya kepada Leo, maka masih ada Tirith sosok yang dapat menggantikannya.


"Sepertinya pertandingan telah berakhir, seharusnya kau mempelajari banyak hal dari pertarungan ini, Leo." Rigel bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan menghampiri Leo.


Ada banyak jenis orang dengan karakter yang berbeda-beda dan memiliki ilmu yang berbeda pula. Leo seharusnya menyadarinya, bahwa berguru tidak harus bertumpu pada satu orang. Para pendekar pedang yang telah mencapai tempat tinggi pastinya memiliki lebih dari satu guru yang mendidik mereka. Seni berpedang tidak akan ada habisnya, seni berpedang sama luasnya dengan langit biru yang hampir tidak ada habisnya.


"Tetapi sangat mengejutkan bahwa kamu memiliki stamina yang sama denganku, Leo. Di masa depan kau pasti akan menjadi orang yang berada di tempat tinggi dalam seni berpedang." Tirith juga memuji Leo.


Meski Leo yang saat ini masih belum cukup mampu untuk mengalahkan Tirith karena banyaknya kekurangan yang dia miliki. Namun hanya menjadi masalah waktu saja sampai Leo benar-benar berdiri sejajar dengan Tirith. Setidaknya Rigel memiliki harapan besar bahwa Leo dapat menjadi sosok yang benar-benar kuat dan memiliki bakat alami sebagai pendekar pedang.


"Mulai saat ini, kau akan berada di bawah pengawasan Tirith dan pak tua di sana itu. Aku akan meninggalkanmu selama beberapa waktu, setidaknya sampai Phoenix di kalahkan."


Takumi dan yang lain telah melakukan perjalanannya, setidaknya akan membutuhkan waktu paling lambat 8 hari untuk mencapai pegunungan Vulcan dengan kereta Naga. Rigel juga tengah menyiapkan jubah Salamander yang cukup kuat untuk menahan serangan Phoenix. Untuk hal yang dapat menjaga suhu tubuh, masih belum ada kabar baik dari Hazama ataupun Marcel.


"Jika bisa aku juga ingin ikut dalam penaklukan Phoenix, namun aku sadar bahwa kemampuanku belum mencukupi untuk ikut andil dalamnya." Ujar Leo dengan kecewa.


Tidak ada orang lain selain dirinya sendiri yang tahu betul tentang kekuatannya. Leo sadar betul bahwa dia hanya akan terbunuh dengan mudah jika tetap memaksakan diri untuk ikut berpartisipasi dalam penaklukan Phoenix. Selain itu, dia pastinya hanya akan menghambat Rigel dan Pahlawan lainnya.


"Jadilah sekuat mungkin sebelum aku memulai ekspedisi, jika kau cukup kuat untuk memotong janggut pak tua itu, aku akan mengizinkanmu untuk ikut serta." Ujar Rigel dengan senyuman mengejek.


Altucray jelas merasa tidak senang dengan hal itu karena bukan hal mudah untuk memanjangkan janggutnya. Bagi seorang Raja sepertinya, janggut melambangkan martabat dan kebanggaan tersendiri. Rigel dengan jelas tidak memahami kebanggaan macam apa yang bisa di dapat hanya dari janggut jelek semacam itu. Rigel hanya melihat janggut itu sebagai pengganggu dan hanya akan menyulitkan saat bertarung.


"Yah, jika begitu kau akan tinggal di sini untuk berlatih, Leo. Aku akan pergi untuk menemui seseorang terlebih dahulu, sampai jumpa dan jadilah lebih kuat selagi aku tidak memperhatikanmu. Ahh dan juga Tirith, kau sempat memberikan belas kasihan dan hukumanmu akan menunggu saat kau kembali."


Tirith tidak tahu hal seperti apa yang akan Rigel lakukan sebagai bentuk hukumannya, dia sedikit takut dan ntah mengapa dia juga sedikit menantikann ya.


"Sebelum aku pergi, Pak tua, dimana bangsawan Ainsworth bernama Walther tinggal saat ini?"


Rigel tidak melihat keberadaan Walther di ruang tahta, jika begitu berarti dia sedang tidak berada di kastil kerajaan ini. Rigel tidak tahu di mana Walther saat ini karena dengan banyaknya cabang dan Mansion yang dia miliki, jelas akan sulit untuk mencarinya.


Altucray menyipitkan matanya terhadap Rigel yang memandangnya seakan melihat sampah. Dia tahu bahwa bangsawan Ainsworth berkontribusi besar terhadap penaklukan Hydra dan kelahiran kerajaan Region. Tidak hanya itu, bangsawan Ainsworth juga menjadi orang yang membesarkan pangeran kerajaan Yurazania yang kini menjadi Raja Region tanpa sepengetahuannya.


Jelas bahwa Altucray tidak menyukai bangsawan Ainsworth dan ingin melenyapkan nya, namun dia tidak dapat melakukannya karena keluarga Ainsworth menjadi bangsawan paling berjasa di bagian perdagangan sekaligus militer.


"Ntahlah, mungkin dia berada di cabang yang di tinggali istrinya. Tempat itu berada di bagian paling timur ibukota Pendragon." Ujar Altucray.


Puas mendapatkan apa yang dia cari, Rigel melambaikan tangannya dan berjalan menuju ibu kota seorang diri. Selama tinggal di Britannia, Rigel tidak benar-benar menjelajahi ibukotanya dengan baik karena banyaknya hal yang menghalanginya untuk bersantai. Rigel sedikit tertarik untuk mengetahui hal-hal yang belum pernah dia lihat di negara ini.


Kehadiran Rigel sebagai Pahlawan Creator yang telah mengalahkan Hydra seorang diri serta menjadi orang yang paling berjasa saat melawan Tortoise dan invasi para iblis pastinya akan membuat ibukota pecah dengan keramaian. Akan sulit bagi Rigel melihat-lihat jika semua orang tahu identitasnya.


Bahkan jika dia menyamar menggunakan topeng, dengan cepat dirinya akan terungkap karena rambut dan lengan kirinya sangatlah mencolok. Jika ingin menyamar, maka penyamaran Rigel harus benar-benar totalitas yang membuat dirinya tidak akan di kenali orang-orang.


Rigel pergi ke taman kerajaan Britannia. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang di sekitar sana, Rigel membuat sebuah rambut palsu berwarna hitam panjang yang menutupi mata kirinya yang berbeda.


Untuk tangan kiri mekanik miliknya, Rigel memilih untuk membalut nya dengan sebuah perban seakan-akan sedang mengalami patah tulang yang cukup parah. Rigel juga menggunakan sebuah jubah panjang yang menutupi pakaiannya.


"Persiapan selesai, mari kita terjun langsung ke ibukota Pendragon." Gumam Rigel.


Meski penampilannya berubah drastis dan sama sekali tidak terlihat seperti dirinya yang sebelumnya, namun dapat di jamin penampilannya saat ini cukup menawan untuk membuat istana harem miliknya sendiri. Yah, tentunya Rigel yang sekarang tidak akan tertarik untuk melakukan hal bodoh semacam itu.


Rigel tiba di ibukota yang selalu tampak ramai dan seperti biasanya tidak ada Demi-human karena diskriminasi antara manusia dan Demi-human masih tetap berlanjut. Rigel memang memiliki niat untuk menghilangkannya, namun tentunya tidak dalam waktu dekat ini karena masih ada beberapa hal mendesak yang harus di lakukannya.


"Lihat-lihat! Pemuda itu sangat menawan!"


"Apa mungkin dia berasal dari keluarga bangsawan?"


"Benar! Nah, apa kalian pikir aku dapat berkencan dengannya??"


"Ntahlah, mungkin dia jauh lebih tertarik padaku."


Selagi Rigel mengamati daerah sekitar, bisik-bisik para gadis yang berada di pinggir bar minum menembus telinga Rigel. Mereka tidak tahu bahwa orang yang mereka bicarakan adalah seorang Pahlawan. Rigel tersenyum dan menghampiri para gadis itu.


"Permisi, para wanita cantik, bisakah kalian memberitahu dimana letak mansion cabang dari keluarga Ainsworth?" Ujar Rigel


Para gadis itu merona karena dapat melihat Rigel dan berbicara dengannya secara langsung.


"Y-ya, tidak jauh di depan sana, kamu akan melihat sebuah mansion yang cukup besar. Di situlah cabang bangsawan Ainsworth."


Rigel meraih tangan gadis itu dan menendusnya, "Terima kasih, Nona." gadis itu merah padam dan seakan-akan bisa pingsan kapanpun.


Rigel hendak pergi dan meninggalkan para gadis itu, namun salah satu dari mereka menghentikannya.


"Um, tunggu! jika berkenan, maukah kamu menceritakan tentang dirimu selagi makan siang?" Ujar gadis itu dengan malu.


Rigel hanya tersenyum lembut, "Maaf karena saat ini ada banyak hal yang harus kulakukan. Jika kita bertemu lagi, aku akan mengajak kalian bermain. Sampai jumpa." Meninggalkan para gadis itu, Rigel pergi menuju mansion tempat Walther berada saat ini.