
Memberikan Like sebelum membaca tidak akan membuat Rugi...
____________________________________________
"Lama tidak berjumpa, Rigel."
Setibanya Rigel di taman kerajaan, dia di sambut dengan Tirith yang nampak telah menunggu ke hadirannya. Tirith tidak lagi duduk minum teh menatap bintang seperti sebelumnya, dia nampaknya sudah berdiri sejak lama sebelum Rigel datang.
"Ya... Lama tidak jumpa..."
Jika Tirith sudah tahu bahwa Rigel akan datang, maka dia tahu apa yang ingin di bicarakan dengannya. Rigel menundukan matanya dengan sedih, dia enggan menatap Tirith yang berada di depannya. Keheningan terjadi di antara mereka berdua sampai Rigel mengatakan sesuatu.
"Jadi itu benar ya, apa yang di katakan Takatsumi padaku bahwa kau akan melanjutkan pertunangan dengannya." Ujar Rigel, masih tidak menatap Tirith.
"... Ya. Pertunanganku dengan pahlawan Pedang akan di langsungkan beberapa bulanh yang akan datang."
Hatinya yang sudah hampir hancur, kini di hancurkan dengan mudah oleh gadis yang dia cintai. Rigel mencengkram dadanya dan gemetar, namun tidak ada tetesan air mata yang keluar.
Sakit, meskipun dia tidak mendapatkan luka ataupun darah, sesuatu seakan menusuk menembus dadanya. Kesedihan, kebencian dan kemarahan memuncak dalam benak Rigel, namun dia tidak dapat mengeluarkan apapun.
"... Kenapa??... Kenapa kau melakukan ini kepadaku, Tirith...?? Bukankah kau bilang mencintaiku...?? Bukankah kau ingin membawamu pergi bersamaku...?? Bukankah kau ingin melihat bintang bersamaku...?? Bukankah kau ingin mendampingiku... ?? mengapa...??"
Rigel menundukan kepalanya seakan putus asa. Dia tidak lagi mengerti untuk alasan apa Tirith melakukan ini. Di sisi lain, Tirith memandang Rigel dengan sedikit sedih, namun dia tetap berusaha untuk tegar.
"Aku memang mencintaimu, Rigel... aku bahkan mencintaimu lebih dari apa yang aku sadari. Namun maaf, kita tidak bisa bersama... aku akan bertunangan dengan pahlawan pedang lalu menikah tidak lama setelahnya..."
Tirith membalikan tubuhnya seolah enggan untuk menatap sosok Rigel yang sudah sangat rapuh. Rigel sedih, namun dia tidak dapat menangis karena air matanya terkuras habis selagi berada di Labyrint neraka.
"Kau... benar, pasti si brengsek itu mengancammu atau sesuatu kan??"
"Rigel..."
"Berani-beraninya dia melakukan hal itu, aku tidak lagi bisa mentolerinya..."
"Rigel."
Rigel terus menerus berbicara seorang diri, suara Tirith yang terus memanggilnya bahkan tidak mencapai telinganya. Rigel sedang kacau saat ini, dia tidak lagi dapat memproses apapun yang ada di kepalanya, hatinya yang sangat rapuh sudah di kuasai oleh kebencian kepada Takatsumi dan kesedihan.
"Dimana orang itu sekarang... akan aku habisi dia sekarang juga, aku tidak lagi perduli jika itu mengurangi kekuatan tempur manusia... aku tidak akan pernah memaafkann—"
"Rigel...!!!"
Untuk pertama kalinya bagi Rigel mendengar Tirith membentaknya. Tirith sengaja menaikkan suaranya untuk mendapatkan kembali fokus Rigel yang hampir kehilangan kendali. Rigel tertegun dengan teriakan Tirith dan membuat kesadarannya kembali ke kenyataan.
"Tidak ada paksaan apapun darinya, ini murni pilihanku Rigel... aku sendiri yang memutuskan untuk melanjutkan pertunangan ini."
Semua pemikiran bahwa ada keadaan tertentu yang memaksa Tirith untuk tetap bertunangan dengan Takatsumi langsung hancur seketika Tirith mengatakannya. Rigel menatap kosong Tirith yang enggan melihat wajahnya.
"Begitu, ya... Kau mengingkari janjimu padaku... Seratus tahun— tidak, bagimu mungkin hanya satu tahun berlalu.. Ahh~, aku melalui banyak hal di neraka itu hanya untukmu namun ini balasan yang kudapat?? Hahaha, sungguh busuk dunia ini..."
Rigel mendengarkan kepalanya menatap langit sementara Tirith berusaha sebaik mungkin untuk tetap tegar. Bahkan bagi Tirith, melakukan ini kepada Rigel adalah hal tersulit dalam hidupnya. Alasan Tirith tidak mau melihat wajah Rigel karena dia tidak kuasa, bahkan dia tidak dapat membayangkan seperti apa ekspresi Rigel saat ini. Satu hal yang pasti, ekspresinya bukan kebahagiaan, melainkan kesedihan.
"... jadi, tolong jangan ganggu kehidupanku lagi... Tuan Creator..."
Satu anak panah terakhir menikam langsung ke hati Rigel. Tirith tidak lagi memanggilnya dengan namanya, melainkan gelar pahlawannya. Bahkan dengan itu saja sudah cukup untuk memperparah sakit hati yang di Terima Rigel.
'Kumohon pergilah, Rigel... jika kau tidak pergi, bendungan yang kubuat akan segera runtuh.' Batin Tirith.
Bahu Tirith mulai gemetar namun Rigel tidak mencoba untuk memperhatikan Tirith. Rigel tetap menatap kelangit, dia melihat ribuan bintang bersinar terang seakan mengejek Rigel yang sedang di campakkan.
"... Begitu, ya... Terima kasih, Tirith..."
Tirith tertegun mendengar Rigel yang seharusnya bersedih tetapi malah berterima kasih, dia tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti ini sampai Rigel melanjutkan kata-katanya.
"Terima kasih karena telah mengajarkanku arti kata cinta, terima kasih karena membuatku dapat merasakan rasanya di cintai, terima kasih karena telah mengajarkanku bagaimana rasanya mencintai seseorang, Terima kasih karena telah memperdulikan pria sepertiku, terima kasih karena telah mencintaiku, terima kasih untuk segalanya dan juga.... Selamat tinggal, Tirith... Kau adalah cinta pertamaku, aku akan tetap mengingatmu... aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi, semoga kau bahagia, tuan Putri..."
Pukulan terakhir untuk Tirith, sama sepertinya yang tidak lagu memanggil Rigel dengan namanya, begitu juga Rigel yang tidak lagi memanggilnya dengan namanya melainkan gelarnya.
Rigel menatap Tirith yang masih enggan melihat wajahnya. Meski tahu mungkin Tirit tidak akan melihatnya, Rigel akan tetap melakukannya. Rigel memejamkan matanya dan—
"Selamat tinggal, tuan Putri yang pernah kucintai..."
beberapa waktu setelah Rigel pergi, Tirith tetap berdiam diri di tempat yang sama seperti sebelumnya. Dia tahu bahwa ada seseorang yang sudah mengawasinya sejak lama. Tidak jauh dari taman, seorang pria berambut biru tua muncul dan perlahan berjalan ke taman.
"Akhirnya dia pergi... Kau melakukannya dengan baik, Tirith... Aku bahkan hampir tidak bisa menahan senyumku saat melihat Rigel di campakkan oleh gadis yang dia cintai... Ahh~ padahal kupikir dia akan menangis, namun dia sama sekali tidak mengeluarkan air mata, dia hanya mengeluarkan senyuman menjijikannya."
"Apakah kau sudah puas, pahlawan pedang...?? aku telah melakukan apa yang kau inginkan!!" Ujar Tirith dengan nada kemarahan.
Takatsumi berdiri di belakang Tirith dan meraih rambut pirang nya lalu mencium aroma rambut Tirith.
"Ya, aku sangat puas, Tirith... dengan ini aku tidak mempunyai alasan lagi untuk membunuh, Rigel... Berkat kau yang telah menyelamatkan nyawanya...Hahahahaha..."
Takatsumi pergi dari taman dan menyisakan tawa jahatnya bergema di halaman. Tirith jatuh berlutut setelah beberapa saat Takatsumi pergi. Bendungan yang telah di bangun dengan kokoh mulai runtuh, air matanya mulai membanjirinya.
"Maafkan aku, Rigel... Aku terpaksa harus melakukan ini... jika tidak... dia akan membunuhmu..."
***
Kembali ke satu hari sebelum ke berangkatan Takatsumi dan pahlawan Britannia lain pergi ke tempat Rigel. Takatsumi pergi menemui Tirith yang seperti biasanya menikmati teh sembari menatap bintang seorang diri.
Tirith menyadari bahwa ada seseorang yang sedang berjalan mendekatinya. Dia menoleh untuk melihat siapa itu dan menemukan Takatsumi berjalan ke arahnya. Tirith dengan canggung berdiri dan berhadapan dengan Takatsumi. Semenjak pertunangannya yang sebelumnya di batalkan karena kemunculan Rigel, Takatsumi dan Tirith tidak pernah berbicara lagi sedikitpun.
"Emm, anu... Maafkan aku karena—"
Kata-kata Tirith di potong langsung oleh Takatsumi yang tersenyum ke arahnya.
"Tidak perlu meminta maaf, Tirith... aku tidak apa-apa... Justru aku terkejut bahwa dia masih hidup..."
"Kau benar!! Aku bahkan sama-sekali tidak menduga bahwa dia masih hidup... Aku tidak tahu apa yang dia lakukan selama setahun itu..."
Saat pembicaraannya membahas Rigel, Tirith dengan semangat membicarakannya. Di sisi lain, Takatsumi hanya berjalan dengan tenang dan berdiri di samping Tirith.
"Ya... aku bahkan tidak menduga jika dia masih hidup, padahal seharusnya dia sudah mati di tanganku..."
Mata Tirith terbuka lebar, terkejut karena pernyataan yang di buat Takatsumi. Awalnya dia berfikir ini hanyalah sebuah gurauan, namun setelah melihat langsung ke mata Takatsumi yang menjadi menyeramkan, dia langsung mengerti jika ini bukan sebuah gurauan.
"K-kau yang membunuh Rigel, Takatsumi...??"
"Ya... Semua yang terjadi di jurang itu adalah skenario yang aku buat, meskipun kemunculan Diablo diluar rencana, namun hasilnya tetap seperti keinginanku..."
Tirith akhirnya memahaminya dengan jela. Saat-saat kematian Rigel hanya di saksikan oleh ayahnya dan juga Takatsumi.
"Apakah, ayah juga terlibat di dalam rencanamu..."
Jika iya, Tirith tidak percaya bahwa ayahnya berusaha membunuh pria yang di cintai oleh Putri nya dan juga, dia tidak percaya bahwa pahlawan mencoba membunuh pahlawan lainnya.
"Entahlah... bisa jadi Raja turut andil dalam rencanaku dan bisa juga tidak, kuserahkan itu pada imajinasimu..."
Selagi mengatakan itu, Takatsumi menarik pedang dari sarungnya dan mengubahnya menjadi bentuk lain. Pedangnya bercahaya ke emasan, bahkan tanpa perlu melihat langsung ke arah pedangnya, Tirith dapat mengetahuinya dari aura yang di keluarkan pedang itu.
"B-bagaimana b-bisa kau memiliki p-pedang Excalibur...?!"
Pedang Excalibur, sebuah pedang suci yang di gunakan leluhur Tirith, pendiri kerajaan Britania, Arthur pendragon. Pedang itu seharusnya sudah hancur menjadi serpihan kecil karena di gunakan sebagai energi untuk pelindung sihir kerajaan.
"Kesampingkan bagaimana caraku mendapatkannya... Kau tahukan, seberapa kuat pedang ini...?? Dengan pedang ini, aku bisa saja membunuh Rigel dari tempat yang jauh dengan syarat aku harus mengetahui lokasi target... Lalu besok, aku akan pergi ke tempatnya dan syaratnya terpenuhi..."
Tirith tidak dapat berkata apa-apa dan hanya menunggu Takatsumi menyelesaikan kata-katanya.
"Mari kita buat kesepakatan... Bertunanganlah denganku, kau harus mencampakkan Rigel saat dia menemuimu dan dengan begitu, aku tidak akan membunuhnya...Pikirkanlah jawabanmu dengan matang, Tirith..."
Takatsumi menaruh kembali pedangnya dan berjalan pergi dari sana.
"Bisakah aku bertanya, kenapa kau sangat ingin membunuh Rigel...???"
Takatsumi berhenti dalam perjalanannya dan berkata :
"Kau salah paham akan satu hal... Tidak hanya Rigel, tetapi Yuri, Takumi dan pahlawan lainnya juga akan kubunuh... Hanya ada satu pahlawan yang akan menyelamatkan dunia, yaitu aku..."
Alasan yang sangat kekanak-kanakan dan tidak masuk akal, namun dengan ini tujuan Takatsumi menjadi sangat jelas. Dia adalah orang yang secepatnya harus di bereskan...