The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Salamander Merah



Rigel telah tiba di kediaman cabang Ainsworth dan mendapatkan sambutan yang tidak hangat dari bocah bernama Razan yang merupakan anak laki-laki Walther. Mendengar apa yang dikatakan bocah bernama Razan, Natalia dan Walther tampak gemetar dan takut menyinggung Rigel.


"Ma-maafkan kami atas apa yang dikatakan putraku, Tuan Rigel! Razan! minta maaflah kepada Tuan Rigel!" Walther memarahi Razan yang tidak mengerti apapun.


"Untuk apa aku melakukan itu, Ayahanda?" Razen berkata dengan acuh. Di sisi lain saudara kembarnya yang bernama Razen menghampiri Rigel.


"U-umm, Tuan Pahlawan, mohon maafkan saudaraku yang bodoh itu. Umm, bisakah aku menyentuh tangan kirimu yang unik itu?" Razen bertanya dengan malu.


Tampak jelas jika dia kagum kepada Rigel, Satu-satunya Pahlawan yang memiliki kekuatan dan persenjataan unik yang tidak pernah ada di dunia ini. Rigel hanya tersenyum dan mengizinkan Razen menyentuh tangan kirinya dan menekankan kepada Walther dan istrinya bahwa dia tidak merasa terganggu oleh sikap Razan.


Walther mempersilahkan Rigel duduk dan mereka menyiapkan secangkir kopi dan beberapa manisan dari buah-buahan. Ada beberapa diantara mereka yang dapat di temukan di bumi seperti Apel dan Anggur. Namun Rigel tidak mengetahui buah unik yang berwarna abu-abu dari dunia ini. Rasanya asam manis dan Rigel cukup menyukainya.


"Jadi, dari yang saya dengar, anda mencari jubah Salamander dalam jumlah besar sebelum memulai menaklukan Phoenix dan kalau tidak salah Kekaisaran Timur juga mencari sesuatu yang dapat mengatasi suhu tubuh, kan?"


Seperti yang di harapkan dari seorang bangsawan pedagang yang memiliki koneksi luas. Dia telah mengetahui maksud dan tujuan Rigel dan apa-apa saja yang di butuhkan nya untuk melakukan ekspedisi ke pegunungan Vulcan.


Menghemat tenaga sangatlah di perlukan, dan peningkatan suhu tubuh dapat mengurangi banyak cairan tubuh, sehingga Rigel menjadikannya prioritas untuk di tangani.


Jika benar bahwa Hazama dapat melakukan sesuatu dengan Perisainya, maka kabar baik. Namun tentunya tidak ada yang salah dengan melakukan antisipasi dan mencari item sihir yang dapat mengatasinya.


Rigel meminum kopinya dengan elegan dan tersenyum, "tidak ada lagi hal yang harus kukatakan, karena kalian sudah mengetahuinya. Jadi, aku menginginkan satu terlebih dahulu untuk mengetahui seberapa bagus kualitas yang di miliki jubah itu."


Mendengar itu, Natalia dan Walther saling memandang dan memikirkan sesuatu. Mereka memahami bahwa kualitas dan seberapa tahan jubah Salamander dapat mengatasi serangan api dari Phoenix.


"Menurut perkiraan saya, Tuan Rigel. Kemungkinan jubah Salamander biasa hanya bisa menahan sekitar 25% dari kekuatan serangan Phoenix. Mari kita anggap satu serangan Phoenix setara dengan delapan semburan kuat seekor Naga. Jubah Salamander mungkin hanya dapat menahan dua serangan dan akan hancur di serangan ketiga." Ujar Natalia.


Jika benar begitu maka tidak ada artinya memiliki banyak dari jubah Salamander karena mereka hanya akan hancur dengan begitu mudahnya. Rigel berpikir bahwa ini jalan buntu, dia tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan Void dan membuat Hazama bekerja lebih keras untuk menahan seluruh serangan Phoenix. Tentunya hal itu akan merubah cukup banyak dari rencana Rigel namun dia tidak memiliki jalan lain.


"Memang tidak semudah yang di harapkan ya..." Rigel bergumam dengan lelah.


"Namun, Tuan Rigel. Saya mungkin mengetahui sesuatu yang dapat mengatasi serangan Phoenix, namun tentunya tidak akan mudah bagi kami mendapatkannya selain Tuan Rigel atau Tuan Pahlawan yang lainnya."


Saat harapan buntu dan perlahan redup, secercah harapan kembali bersinar dan itu berasal dari Natalia. Memang tidak salah Rigel datang kemari, dia merasa terbekahi karena mengenal bangsawan pedagang seperti keluarga Ainsworth. Meskipun ini kali pertama Rigel berjumpa dengan Natalia, dia tidak memiliki kecurigaan padanya, dikarenakan dia juga menjadi orang yang merawat Asoka.


"Hoh? katakan tentang apa itu?" Rigel bertanya dengan tertarik dan mengambil cemilan buah lagi.


"Ya. Dari jenis Salamander, terdapat satu jenis Salamander yang lebih besar dan kuat. Ketahanannya pada suhu panas sangat tinggi. Bila Salamander biasa terjatuh ke lahar panas akan mati, maka Salamander merah dapat bertahan selama 2 jam di layar panas. Salamander ini di kenal dengan Salamander Merah di karenakan api merah yang terus menerus membakar kulitnya dan dapat di yakini bahwa ketahanannya berkali-kali lebih kuat ketimbang Salamander biasa."


Kulit Salamander merah berkemungkinan dapat menahan setidaknya dua serangan Phoenix. Itu lebih baik ketimbang tidak memiliki apapun yang dapat menahannya.


"Dimana aku bisa menemukan Salamander Merah itu?"


Seolah menunggu pertanyaan itu, Natalia tersenyum dengan senang.


"Untuk itu tenang saja, Tuan Rigel. Kebetulan saya pernah mengunjungi tempat yang menjadi rumah Salamander Merah, dan saya dapat mengantarkan anda ke sana dalam sekejap dengan sihir Spatial milik saya."


Sihir Spatial, sebuah sihir yang memanfaatkan ruang dunia untuk melakukan perjalanan singkat ke tempat yang sudah di kunjungi. Perbedaannya dengan teleportasi adalah sihir Spatial memotong ruang dimensi dan menciptakan sebuah portal yang terhubung dengan tempat yang di inginkan. Sihir Spatial adalah sihir yang sama di gunakan Lucifer untuk berpindah tempat.


Berbeda dengan teleportasi yang merubah tubuh seseorang menjadi partikel cahaya kecil yang mengarungi ruang dan waktu ke tempat tujuan, sehingga menjadi perjalanan super singkat.


Walther memang pernah berkata bahwa istrinya memiliki sihir Spatial yang termasuk sihir kuno dan langka di dunia ini.


"Kalau begitu sudah di putuskan, antarkan aku ke tempat Salamander Merah. Waktu tidak akan berhenti dan menunggu, jadi mari kita pergi sekarang setelah kau menyelesaikan persiapanmu."


Natalia tersenyum dan membungkuk hormat. Dia pergi meninggalkan Rigel dan Walther serta bocah kembar yang sedari tadi menyimak percakapan selagi memakan cemilan.


"Aku ingin sekali ikut dalam perjalanan kalian, namun ada begitu banyak pekerjaan yang harus di lakukan yang tidak dapat di tunda." Walther tampak kecewa.


"Terima kasih atas niat baikmu, namun aku sendiri sudah cukup untuk mengatasi Salamander itu. Selain itu, aku memiliki pekerjaan lain yang ingin kuserahkan padamu."


Walther mengangkat alisnya dengan tertarik tentang pekerjaan seperti apa yang akan Rigel serahkan kepadanya. Rigel melanjutkan ucapannya.


"Aku ingin kau mencarikan pandai besi dan pengerajin yang ahli dalam membuat item sihir. Tentunya dengan kekuatanku, keberadaan mereka tidak di perlukan, namun aku menginginkan Region mandiri dan dapat membuat hal hebat tanpa perlu campur tangan dariku."


Rigel tidak berniat membuat mereka mempelajari cara membuat senjata api, karena tentunya peperangan akan terjadi di kemudian hari. Setidaknya Rigel menginginkan mereka bisa membuat alat-alat yang dapat membantu kehidupan berjalan lebih mudah. Mendengar permintaan Rigel, Walther mulai berpikir.


Rigel tahu tentang Dwarf, namun dia hampir tidak pernah mendengar sedikitpun hal tentang mereka semenjak datang ke dunia ini. Di bumi, Dwarf atau yang di kenal ras Kurcaci sering di temukan dalam game dengan peran sebagai pandai besi. Mereka di kenal memiliki hubungan yang buruk dengan Elf, namun Rigel tidak dapat memastikannya langsung. Jika keberadaan Dwarf benar-benar ada, maka dia tidak akan lagi terkejut mengenai ras Elf.


"Aku mengetahui tentang mereka, namun aku tidak pernah melihat satupun dari mereka. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?"


Walther memasang ekspresi yang rumit dan tidak di mengerti Rigel. Di lihat dari reaksi yang di milikinya, tentunya ini bukan pembicaraan yang ringan.


"... Mereka seperti Demi-humam, tidak, mungkin lebih buruk. Dwarf selalu menjadi budak yang banyak di minati orang-orang setelah Elf. Mereka terkenal karena dapat menciptakan senjata hebat dan item sihir berkualitas tinggi. Karena hal itu, jumlah mereka saat ini sangatlah sedikit sehingga sulit untuk di temui. Mungkin akan butuh beberapa waktu sampai aku mendapatkan informasi tentang mereka."


Yah, dunia ini memang seperti ini. Yang lemah akan menjadi mangsa yang kuat dan yang kuat akan terus menjadi kuat. Hukum rimba tidak hanya berlaku di hutan rimba, tetapi setiap kehidupan di dunia memiliki hukum rimbanya masing-masing.


"Yah, kau tidak harus menemukannya, bahkan jika itu hanyalah sebuah kabar burung aku akan berterima kasih untuk itu."


Bersamaan dengan itu, Natalia telah kembali dan selesai melakukan persiapannya. Rigel berharap lebih, dia tidak menduga jika Natalia hanya menggunakan jubah sihir dan pakaian yang sedikit terbuka. Dia juga membawa sebuah buku berwarna biru dengan ukiran unik pada sampulnya. Rigel tidak tahu pasti buku apa itu, namun yang jelas buku itu memiliki energi sihir.


Seakan menyadari Rigel memandang buku di tangannya dengan tertarik, Natalia mulai menjelaskannya


"Apa anda tertarik dengan buku ini, Tuan Rigel? Buku ini di kenal dengan Grimoire, sebuah buku yang menyimpan rapalan mantra dari sihir kuat. Aku menyimpan rapalan mantra dari sihir Spatial agar bisa di wariskan dan selain sihir Spatial, terdapat berbagai jenis sihir lain yang terkandung di dalamnya."


Meski hampir tidak ada bedanya dengan merapal sendiri tanpa membaca, namun sihir yang di keluarkan jelas berbeda. Sihir dari merapal mantra di Grimoire lebih sedikit di keluarkan dan serangan yang di hasilkan jauh lebih kuat ketimbang merapal tanpa Grimoire.


"Yah, kalau begitu tidak ada lagi alasan yang membuat kita harus tetap tinggal. Mari pergi ke tempat yang kau maksud sekarang juga." Rigel menghabiskan kopinya dan beranjak bangun dari tempat duduknya.


Walther juga berdiri dengan senyuman di bibirnya dan mendoakan keselamatan Rigel serta istrinya, Natalia. Razan dan Razen juga sama dengan Walther.


"Ibunda, janji akan kembali dengan selamat, ya?" Ujar Razan.


"Berjanjilah padaku juga. Aku tidak mau melihat ibu kembali hampir mati seperti Ayahanda." Lanjut Razen yang lebih muda.


Natalia mengeluarkan senyuman keibuan dan membelai lembut kepala dua anak laki-lakinya. Dia menundukan agar sejajar dengan wajah kedua anaknya.


"Tenang saja, Razan, Razen. Ibu tidak akan terluka, lagipula ada Tuan Rigel yang sangat kuat melindungi ibu, jadi tidak perlu ada yang di khawatirkan.x Natalia dengan lembut mencium anaknya dan kembali kepada Rigel.


Melihat pemandangan ibu dan anak sedikit—sangat membuat Rigel iri hati. Dia tidak pernah merasakan sesuatu seperti cinta seorang ibu dan benar-benar tertarik untuk merasakannya. Satu-satunya yang di miliki Rigel tentang ibunya adalah ingatan yang di ingatkan Azartooth, dan juga mimpi tentang ujian di pohon roh.


" Mari kita per—.... Tuan Rigel? ada apa? kenapa anda terlihat sangat sedih?" Natalia bertanya dengan khawatir. Walther dan bocah kembar itu juga menatap Rigel dengan prihatin.


Tidak di sangka bahwa kesedihannya akan bocor ke luar, namun meski begitu tidak ada sedikitpun air mata yang keluar. Rigel mengabaikannya dan kembali memasang ekspresi datarnya yang terlihat dingin kembali.


"Tidak, aku hanya teringat akan sesuatu. Tidak perlu ada yang di khawatirkan. Yah, mari kita pergi sekarang juga." Rigel langsung berbalik dan berjalan menuju keluar.


Natalia mengangguk dan mengikuti di belakang. Berdasarkan intuisinya, Rigel telah melalui berbagai penderitaan dan hal-hal paling menyakitkan yang tidak akan mampu di tahan oleh banyak manusia. Di balik sosok yang penuh kemegahan seperti Rigel terdapat hati yang berlubang dan kesedihan mendalam yang tak terlukiskan. Dia penasaran hal semacam apa saja yang telah di laluinya, namun dia tahu bahwa Rigel tidak akan dengan mudah mengatakannya.


Setibanya di luar, Natalia merapalkan mantra tanpa suara dan membentuk sebuah portal berwarna putih. Rigel terkesima dengan pemandangan di depannya, portal ini tidak begitu beda jauh dengan milik Lucifer. Yang membedakan mereka hanyalah warnanya saja.


Walther, Razan dan Razen berdiri jauh di belakang mereka dan mengantarkan kepergiannya dengan senyuman di bibir. Rigel menoleh ke arah mereka dan melambaikan tangannya.


"Kami pergi dulu, dan saat kembali akan ku bawakan banyak kulit Salamander Merah." Rigel tanpa ragu memasuki Portal dan di ikuti oleh Natalia.


"Kalau begitu, kuserahkan sisanya padamu, Sayang." Ujar Natalia kepada Walther.


"Ya... Berhati-hatilah."


Meninggalkan kata-kata itu, Natalia pergi bersama Rigel ke tempat Salamander Merah berada. Rigel terkejut dengan pemandangan air terjun api di depannya.


Berpindah tempat melalui sihir Spatial sungguh pengalaman yang baru bagi Rigel. Rasanya seolah-olah dia menggunakan pintu kemana saja milik kucing yang di ketahui semua orang di bumi.


Air terjun larva menghiasi pemandangan sekitar, tanah berwarna hitam selayaknya terbakar namun yang uniknya Rigel tidak merasakan hawa panas menusuk kulitnya. Jika di lihat kembali, nampaknya ini berada di sebuah perut gunung, dikarenakan bebatuan menjulang yang seakan mengurung Rigel.


Tidak lama setelahnya, Natalia muncul dari portal dan berdiri di belakang Rigel selagi tetap mempertahankan etika seorang bangsawan. Rigel memang tidak menyukai hal-hal yang sungguh merepotkan seperti itu, namun dia masih belum memiliki niat membuat Natalia berhenti bertingkah seperti itu.


"Sarang dari Salamander Merah tidak berada jauh di depan sana, Tuan Rigel. Selain Salamander Merah, terdapat jenis lain dari Salamander dan ada juga monster lain selain mereka. Seperti Kelelawar Api, Chimera Api dan berbagai monster dengan afinitas api lainnya." Natalia mulai menjelaskan, sementara Rigel mulai mengamati daerah sekitarnya.


Tidak ada gunanya berdiam diri seperti orang dungu, Rigel dan Natalia melanjutkan perjalanan ke tempat sarang Salamander Merah berada.