The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Perpisahan singkat



POV SAKURA YURI.


Satu minggu telah berlalu saat hari pemakaman Rigel. Semua orang sudah mulai bisa melupakan sosok Creator Hero dan melanjutkan hari harinya yang biasa.


Dalam waktu satu minggu tersebut, banyak hal yang telah berubah dari kami. Terutamanya putri Tirith.


Dia masih mengurung diri dikamarnya hingga saat ini meskipun Raja Altucray dan Takatsumi telah melakukan apapun untuknya.


Membicarakan Takatsumi, saat ini dia secara aktif membantu raja mengenai keributan yang terjadi karena kematian salah satu pahlawan. Namun, akhir akhir ini dia selalu tampak pucat saat bangun di pagi hari.


Sekarang ini aku sangat jarang berinteraksi dengan para pahlawan lain saat ini, karena semua orang memiliki ambisinya masing masing.


Untuk mantan party Rigel, aku tidak terlalu mengenal mereka namun dari yang kudengar mereka membeli banyak budak manusia maupun demi-human dengan dukungan dari salah satu bangsawan.


Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan namun salah satu dari mereka pernah mengatakan bahwa itu adalah janji antara dirinya dengan Rigel.


Waktu terus berlalu dengan cepat hingga tanpa disadari hari ini tiba.


"Apa kau benar benar akan pergi, Takumi?"


Tanya Yuri.


"Ya. Aku harus menjadi kuat jika aku ingin membalaskan kematian Rigel."


Ekspresinya menjadi pahit saat membicarakan Rigel. Aku paham betul apa yang dirasakan Takumi.


Saat ini, aku sedang berada di depan gerbang istana untuk mengantarkan kepergian Takumi. Semenjak hari pemakaman Rigel dia bertekat untuk membalaskan kematiannya.


Untuk melakukan itu, dia harus menjadi lebih kuat agar suatu saat dia dapat membunuh iblis Diablo itu. Melihat Takumi yang penuh tekad aku tidak bisa berkata apa apa.


Membayangkan iblis keparat itu menyeringai saja sudah membuat seluruh tubuhku menggigil ketakutan.


Aku berusaha menahan Takumi untuk tetap tinggal meskipun aku sangat tahu, lebih dari siapapun... Bahwa sudah terlambat mencoba membujuknya.


"Aku tidak hanya mengembara untuk menjadi kuat saja,Yuri. Dalam pengembaraanku, aku akan membantu rakyat yang kesusahan di perjalananku. Bukan berarti aku tidak akan kembali ke sini,


Aku akan kembali saat aku memiliki keperluan mendesak. Jadi kau tidak usah khawatir."


Takumi mengusap hidungnya dan menunjukan senyuman yang ramah kepadaku.


"Aku hanya tidak ingin kehilangan teman temanku lagi. Kembalilah dengan utuh, Takumi."


Aku berusaha menunjukan senyuman terbaik yang bisa kutunjukan kepada Takumi. Melihat senyumanku, Takumi mengacungkan jempolnya kepadaku.


"Tenang saja, aku tidak akan mati sebelum memutilasi iblis ******** itu. Kalau begitu, aku akan pergi sekarang."


Takumi memakai jubahnya dan menutupi wajahnya dengan tudungnya,dan menaiki pedati yang diberikan raja kepadanya.


Aku melambaikan tangan kepadanya dan dia juga melambai kepadaku.


Haa!


Dia mencambuk naga tanah yang menarik pedatinya. Aku terus melambaikan tangan meskipun sosoknya dan pedati yang ditungganginya tidak terlihat lagi.


"Kau bodoh, Takumi. Aki hanya tidak ingin teman teman disekitarku pergi satu persatu."


Air mataku keluar seolah bendungan yang kubuat untuk menahannya kini hancur. Angin kencang mulai berhembus, kristal bulat di tengah panahku berkedip Seolah berusaha menghiburku.


Setelah beberapa saat untuk menenangkan diriku, aku sekali lagi menoleh ketempat Takumi pergi dan mulai berjalan kembali menuju istana.