The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Kehangatan yang Nostalgia



Penggantian Pahlawan telah selesai. Kini Ray telah resmi menerima berkah Pahlawan dan menjadi seorang Pahlawan yang akan bertarung bersama Rigel. Perbedaan besar dapat dengan jelas Ray rasakan. Tubuhnya jauh lebih ringan dari sebelumnya, dan energi sihir yang dia miliki meningkat berkali-kali lipat banyaknya.


"Cobalah kau periksa bagaimana skill dan senjata-senjata belati yang kau miliki."


Ray mengangguk dan mengakses senjata ilahi lebih jauh lagi. Di mulai dari level, skill dan senjata yang dapat di akses sangat berlimpah. Terutama pada level, yang jauh melampaui level miliknya saat lalu.


"Luar biasa, levelku sudah mencapai angka sembilan ratus, dan ada banyak sekali Skill serta perubahan senjata yang kumiliki. Nampaknya hal ini adalah sesuatu yang sudah di capai Pahlawan Argo sebelumnya." Ray dengan kagum menyerukan penemuannya. Rigel mengangguk-angguk dan mulai memahami sesuatu.


Terlihat sangat jelas, bahwa ala yang sudah di capai Pahlawan sebelumnya akan terwariskan kepada Pahlawan selanjutnya. Buktinya bahwa Merial dan Ray tidak perlu bersusah payah untuk memulai dari awal lagi. Namun aku sedikit terganggu dengan satu hal, ini tentang Pahlawan sebelum kami.


Apa yang mereka capai sebelumnya? jika benar bahwa kemampuan generasi sebelumnya dapat terwariskan, lantas kenapa Rigel dan yang lain harus memulai dari awal? Nampaknya misteri ini akan tetap menjadi misteri.


"Yah, kita patut bersyukur bahwa kau tidak harus memulai dari awal lagi. Sekarang, masih ada hal lain yang harus kulakukan, kau kembalilah ke Region dan minta Leo untuk menemuiku nanti. Ahh, dan satu hal lagi, beritahukan Pahlawan lain bahwa aku ingin mengadakan pertemuan."


"Baiklah kalau begitu. Akan ku lakukan sebaik mungkin, aku permisi." Ray menggunakan Lift teleport dan kembali ke Region untuk melaksanakan apa yang di minta oleh Rigel.


Rigel keluar dari kuil pembangkit kembali dan menghirup udara segar, selagi para cahaya kecil peri menghampirinya. Benih sudah mulai di tebar, hingga menunggu bagaimana tupai mengambil umpannya. Pengganti akan di siapkan dan warisan akan di teruskan padanya. Kendali bintang telah berada di genggaman tangannya, hanya perlu menghilangkan satu bintang redup saja, yaitu Takatsumi. Pemilihan kaisar surgawi tidak di perlukan lagi, dua kandidat lain telah jatuh ke dalam kubangan lumpur, sementara dua lainnya berada atas kendalinya, sehingga tidak perlu ada yang di khawatirkan.


"Satu-persatu penghalang jalanku akan tersingkirkan, dan semakin banyak pion dalam genggaman tangan. Sekarang, mari kita lihat bagaimana dengannya." Rigel menatap langit dan berjalan dengan santai menuju pohon Roh, tempat Tirith melalui ujian.


Ujian telah berlansung, Tirith tiba di sebuah tempat yang sangat gelap dan di sinari oleh kemerlap cahaya kecil. Ntah itu langit-langit atau tanah tempat berpijak tidak dapat di ketahui, bahkan tidak jelas apakah dia melayang atau menapaki sesuatu. Semuanya berwarna sama, kegelapan yang di hiasi kemerlap cahaya kecil seperti bintang.


"Dimana aku?" Dia bergumam selagi menatap daerah sekitar dan tidak menemukan hal apapun yang mencolok dari ini. Sampai sebuah suara seakan bergema di dunia gelap dan cahaya kecil ini.


Ujian akan di mulai... Ujian hanya memiliki satu bentuk kesatuan namun memiliki banyak jalan bercabang bagai akar pohon...


Dia kembali menatap sekelilingnya, untuk mencari dari mana asal suara yang terdengar seperti seorang gadis. Suaranya bergema di seluruh tempat ini, mustahil mencari keberadaan atau tempat asal suara ini. Tidak ada pilihan lain selain menyerah mencari, karena nampaknya sosok ini tidak berniat mengungkap keberadaannya. Apakah ini suara dari pohon Roh? Hanya hal semacam itu yang dapat terpikirkan olehnya.


Akar pohon akan menuntunmu ke satu tempat, tubuh pohon... Tubuh pohon akan menghasilkan daun dan buah kecerdasan... Hanya ada satu ujian!... Hadapilah segalanya! Masa lalu! Masa depan! dan masa yang tidak akan pernah kau capai! Hadapilah segalanya maka buah kecerdasan akan muncul... Ujian di mulai.


Dalam sekejap, dunia mulai berganti. Dunia yang awalnya bak langit malam kini berganti menjadi sebuah pemandangan menyedihkan dalam ingatannya. Pemandangan dari ingatan yang tidak ingin dia ingatkan. Pemandangan seorang iblis dan Pahlawan sedang memainkan permainan mengambil barang dari guci terkutuk. Demi kebebasan dirinya dan yang lain, pria itu rela berkorban dan membiarkan dirinya terluka berat.


"Ini... ujiannya?" Tirith bergumam, ekspresinya menggambarkan kengerian dan ketakutan tiada akhir, "Menghadapi, Masa lalu?" Benar, itu adalah masa lalu yang tidak dia harapkan akan muncul di sini. Masa lalu dimana pemandangan terburuk, pria yang dia cintai menemui ajalnya.


Pria itu perlahan mengambil sesuatu dari dalam guci terkutuk. Pada pilihan pertama, dia beruntung bahwa mendapatkan kristal dengan sihir berlimpah di dalamnya, pada pilihan kedua, dia mendapat sebuah kertas berlubang hitam yang menyuruhnya melihat ke dalam lubang itu dan membuatnya kehilangan mata.


"Jangan! Rigel!" Dia berlari menghampiri Rigel dan berusaha meraih tangannya untuk menghentikannya mengambil isi dari guci terkutuk itu.


"Tidak bisa... kusentuh?"


Kedua tangannya menembus tangan Rigel, tidak hanya tangan, tetapi seluruh tubuhnya tidak dapat di sentuh, seolah itu hanyalah sebuah ilusi optik belaka. Dia memahami, tidak perduli seberapa keras berusaha, suaranya, tangannya, tangisannya tidak akan pernah mencapainya. Jika ini sebuah ujian maka ada makna tersirat di balik semuanya, dia hanya harus menyaksikannya sampai akhir, dengan gemetar di tubuhnya.


Pada pilihan ketiganya, dia kehilanganmu tangan kirinya dan meninggalkan rasa sakit tak terlukiskan. Tidak lama kemudian, Raja—Ayahnya beserta pasukan tiba sesaat kepergian iblis yang hanya memiliki setengah tubuh tersisa. Lagi-lagi Rigel harus tersiksa, dia harus menghadapi kematiannya pada hari itu juga, atas tuduhan kehilangan divine protection dan menjadi Pahlawan tersesat. Rigel berpegangan pada tepi jurang, menatap semua orang yang hadir dan meminta pertolongan tanpa arti.


Teriakannya masih dapat dengan jelas dia ingat, bahkan bergema di telinganya. Perlahan tetesan air mulai jatuh. Tirith berderai air mata, dia tetap berdiri dan menatap ilusi di depannya selagi air mata sedikit mengganggu pengelihatannya. Sampai dunia kembali berubah menjadi sebuah langit malam.


Gadis yang tegar... Masa lalumu berakhir sampai sini. Sekarang hadapilah masa depanmu!


Dunia kembali berganti, menjadi sebuah pemandangan di sebuah kota—Kerajaan yang penuh hiruk-pikuk kebahagiaan di mana-mana. Bendera menghiasi sepanjang jalan, bunga-bunga cantik menjadi hiasan di setiap rumah. Semua orang berkumpul di satu tempat, Kerajaan Region untuk menyaksikan pengikatan janji seorang Pahlawan dan seorang putri Kerajaan.


Banyak orang dari penjuru dunia datang menghadiri pernikahan ini, dimulai dari kaum bangsawan hingga rakyat jelata bahkan ada juga demi-human yang menghadirinya. Tidak hanya itu, para Pahlawan lain juga menghadiri pernikahan dengan pakaian formal yang mereka kenakan. Senyuman bahagia jelas terukir di wajah semua orang, kedamaian tampak menyebar di hati banyak orang. Ayahnya duduk di kursi bagian depan,bersama dengan raja lainnya dengan tidak sabar menunggu kehadiran putri tercintanya menaiki podium yang di hiasi pernak-pernik dan bunga berwarna putih.


Raja Alexei berdiri di tengah podium, nampaknya dia akan menjadi pendeta pada pernikahan ini.


"Ini... Pernikahanku?" Gumam Tirith yang menyaksikan ilusi di depan matanya. Sesaat kemudian, mempelai pria datang dan menaiki podium. Pria berambut putih yang mengenakan pakaian kesatria berwarna putih, yang sering di gunakan dalam acara pernikahan. Rambut serta pakaiannya sangat serasi dan di tambah beberapa hiasan berwarna emas dan merah.


Tidak lama kemudian, soso mempelai wanita, gadis berambut keemasan datang dan menaiki podium. Mengenakan pakaian pengantin berwarna putih yang sangat anggun dan sebuah tudung putih transparan menutupi rambutnya. Bibirnya sedikit kemerahan, dan di tangannya dia memegang seikat bunga cantik.


Tirith yang menyaksikan ilusi indah, benar-benar indah ini mulai merona dan terharu. Jika benar memang masa depan seperti ini akan terjadi, maka dia tidak akan sabar menunggu harinya tiba. Namun, mau bagaimanapun ini hanyalah sebuah ujian.


Kedua pengantin menaiki panggung, senyuman kebahagiaan pecah dari keduanya, tidak hanya mereka, tetapi itu juga menular kepada orang yang menyaksikannya.


Alexei langsung membacakan kata-kata suci yang akan mengikat kedua pasangan itu, dia akhirnya mengeluarkan sepasang cincin dari sakunya dan meminta pasangan itu memasang cincinnya di jari satu sama lain.


Tiba masa dimana mereka akan saling berciuman, saat semua sedang menantikan bibir mereka saling bersentuhan, langit mulai berwarna merah. Suara pintu terbuka bergema keras dari langit. Dalam sepersekian detik, sesaat mereka hampir berciuman, darah berwarna merah menodai gaun indah pengantin wanita.


Tirith pengantin wanita memegang kepala Rigel dengan tangannya dan mulai mengucap sumpah serapah. Sementara pada Pahlawan lain bergegas menyerang si penyerang dengan penuh amarah membara. Menatap kelangit, mereka menemukan gerbang surga terbuka, yang berarti malaikat telah turun ke bumi.


"Ragnarok... Baru dimulai?" Tirith yang menatap ilusi melihat langit dengan tidak percaya. Pasukan Malaikat mulai turun bersamaan dengan pasukan iblis muncul. Peperangan pecah dan membunuh setiap orang yang ada, sampai pemandangan mulai berganti menjadi langit malam yang bercahaya kecil lagi. Tirith sudah terisak karena tangis, dia tidak sanggup untuk menyaksikan lagi, namun dia tetap harus melaluinya sebagai ujian.


"Hiks... Hiks... Berapa waktu lagi yang harus kulalui untuk keluar dari penderitaan ini?" Dia berlutut lemas sampai suara lainnya datang.


Masa depanmu selesai sampai sini... Selanjutnya... Hadapilah masa yang tidak akan pernah bisa kau gapai...


Pemandangan kembali berubah, menjadi pemandangan nostalgia di sebuah kerajaan tempatnya tinggal, Britannia. Dia tengah duduk di kursi tempatnya biasa duduk, dan di hadapannya terdapat empat Pahlawan yang dia kenal serta satu kursi tambahan di dekatnya. Seharusnya kursi itu telah di singkirkan sejak lama, namun anehnya itu tetap di biarkan.


"Maaf aku terlambat!" Dari kejauhan, muncul seorang wanita berambut pirang dengan umur kepala tiga. Rambutnya sedikit berantakan dan dia jelas terburu-buru untuk datang ke sini.


"Elizabeth, kau terlambat! dan juga rambutmu berantakan!" Altucray memarahi gadis yang datang itu.


"Aku sedikit ketiduran tadi, tehe~."


Pahlawan lain tertawa karena itu, namun hanya satu sosok yang terlihat sedih, lebih ke terkejut. Air mata kembali jatuh, sosok yang sudah lama tidak dia lihat, orang yang paling di cintai Tirith setelah ayahnya, "Ibu...??"


Elizabeth menatap putrinya dengan bingung selagi berjalan menghampirinya, "Kenapa putriku? kenapa kau menangis? Jika begini kamu tidak akan bisa menikahi salah satu dari pahlawan itu, lo." Dia mengusap air mata di pipi Tirith dengan lembut.


Kehangatan yang telah sangat lama tak di rasakan, sungguh sebuah rasa yang sangat nostalgia. Meski tahu ini hanya ujian belaka, namun sungguh berat, ujian ini yang terberat baginya. Elizabeth dan yang lain memandang Tirith dengan khwatir.


"Tidak... Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Ya, aku baik-baik saja..." Tirith tersenyum kepada mereka.


Malam hari, di taman kerajaan, Tirith sedang berdua bersama ibunya menatap bintang-bintang di langit malam. Sampai Rigel datang dan mengungkapkan pengetahuannya tentang bintang di langit.


"Pahlawan Rigel sepertinya tahu banyak tentang bintang, ya..."


"Ah, tidak juga, Ratu. Kebetulan aku juga menyukai bintang-bintang itu dan hanya mengingat beberapa nama dari mereka saja."


"Ya, tetap saja itu mengagumkan. Jika berkenan, bisakah kau berhenti memanggilku ratu? Panggil saja aku ibu, atau calon mertuamu. Lagipula kalian pasti akan menikah kan?" Elizabeth tersenyum jahil dan berusaha mencomblangi Rigel dan Tirith.


"Ibu! Jika Ayah melihatnya, kamu bisa kena marah!" Tirith merona dan memarahi ibunya, sampai mereka akhirnya tertawa bersama-sama.


Menyenangkan, benar-benar menyenangkan. Apakah tidak apa jika aku tetap tinggal? aku tidak perduli lagi dengan yang lain, dunia ini tidak akan melepaskanku, atau begitulah yang kuharap.


Keinginan untuk tetap tinggal melekat erat padanya, namun tanggung jawabnya di dunia nyata masih melekat juga. Rigel asli menunggu, bukan Rigel ilusi. Dia tidak boleh melarikan diri dari kenyataan, mau bagaimanapun keindahan ini hanyalah ilusi belaka.


Tirith beranjak bangun dan melepaskan diri dari pelukan Ibunya, "Sepertinya sudah waktunya..."


Ibunya dan Rigel ilusi menatapnya dengan bingung, "Ada apa, putriku? malam belum larut, dan masih ada banyak cerita yang akan di ceritakan Pahlawan Rigel."


"Kemana kau akan pergi, Tirith?" Rigel bertanya.


Tirith tidak mencoba berbalik, dia menggenggam gaunnya selagi gemetar, "Tempat yang jauh... Tempat yang sangat jauh dari surga ini. Masih ada orang yang menungguku di sana, aku tidak bisa meninggalkan mereka..."


Rigel dan Elizabeth mulai berdiri, Rigel bertanya, "Berapa lama kau akan pergi dan seberapa jauh itu?"


"Mungkin... Selamanya. Sebuah tempat paling jauh, yang tidak akan bisa kalian gapai..." Tirith semakin gemetar, "Ibu...Maafkan aku, mungkin... ini kali terakhir aku melihatmu, namun kau harus melihatku sampai akhir... Aku menyayangimu, sangat menyayangimu sampai-sampai aku tidak akan pernah bisa melupakanmu... Aku ingin menetap di sini, namun jika begitu sama artinya dengan menyerah, maka aku akan menolak... Maaf..."


Elizabeth menghampiri Tirith dan memeluknya dengan lembut dari belakang, "Ya... Ibu tahu itu karena ibu juga sangggggaaat menyayangimu, lebih dari harta benda yang ada di dunia ini."


"Aku mungkin akan membuatmu kecewa kedepannya, namun tetaplah awasi aku dari surga..." Air mata Tirith mulai berjatuhan, saat kehangatan tubuh ibunya dapat dia rasakan dengan jelas.


"Ya... Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengawasimu, tidak peduli berapa kali aku kecewa dan tidak peduli seberapa kecil harapan yang kamu miliki, aku akan tetap mengawasimu, sebagai seorang ibu. Pergilah, Tirith... Ibu akan menyaksikan perjalananmu dari sini..."


Dunia kembali menjadi seperti langit malam. Sampai akhir, kehangatan tubuh Elizabeth masih membekas jelas di tubuh Tirith.


Ujian telah di selesaikan, Tirith kembali ke waktu semula dan seketika tubuhnya jatuh, dia mendarat di sebuah pelukan hangat lain. Menatap kepada siapa dia mendarat, Tirith menemukan Rigel memeluknya, "Kerja bagus. Selamat datang kembali, Tirith."


"... Ya... Aku kembali..."