
Siang hari, Rigel, Yuri dan Takumi memilih untuk berkeliling ke kota. Waktu luang mereka terbatas, sebanyak mungkin harus dihabiskan dengan bersenang-senang.
Tidak ada hal penting yang patut untuk diceritakan, hingga akhirnya malam hari tiba. Ketika semua tengah berkumpul untuk makan malam. Rigel membuat jadwal mendadak, dimana diskusi serius dilakukan tepat setelah makan malam.
Begitu dia menyebutkan tentang Naga malapetaka, Pahlawan dan yang lain sangat terkejut. Mereka belum lama mengalahkan White Tiger, namun harus menghadapi Naga malapetaka setelahnya. Tentu mereka bertanya-tanya, mengapa harus terburu-buru seperti ini. Namun jawaban Rigel tak pernah berubah—,
Lebih baik menyerang ketimbang diserang. Bila mereka menjadi pihak yang diserang, maka segalanya akan dikerahkan untuk bertahan. Kerusakan tak dapat dipungkiri saat mereka dipaksa berada dalam pihak defensif. Namun, akan lain halnya bila mereka menjadi pihak ofensif.
Tidak ada kerugian apapun selain pasukan yang menyerang. Mereka tidak perlu melindungi orang-orang lemah yang tidak dapat mengangkat pedang. Mereka hanya harus melindungi rekan dan nyawa di tangan mereka sendiri.
Semua dengan tidak sabar dan penasaran menanti. Rapat tidak hanya dihadiri Pahlawan. Tetapi Kandidat Kaisar, Tirith, Misa, Natalia dan sosok tak terduga, Naga berdarah murni, Red. Karena tubuhnya yang besar itu, rapat diadakan di halaman kerajaan.
Semua orang menjadi sangat khawatir dan gelisah, terhadap keberadaan Naga sekelas Pahlawan itu. Tidak ada orang bodoh yang tidak mengetahui seberapa berbahayanya seekor Naga, belum lagi berdarah murni. Mereka digagang dapat setara dengan seorang Pahlawan, meski kebenarannya belum dipastikan.
Demi menjaga kerahasian informasi, lingkungan dijaga ketat oleh prajurit seperti Gahdevi, Odin, Garfiel dan Fang. Tidak hanya itu, prajurit Region juga dikerahkan dan halaman belakang tersegel sepenuhnya. Tidak ada seorangpun diizinkan keluar atau masuk.
Hal ini dilakukan agar tidak ada kebocoran informasi, terutama kepada pihak iblis. Bila mana mereka mengetahui penaklukan ini, kekacauan mungkin tidak akan terhindarkan.
"Baiklah. Semua nampak terkendali, Ciel juga telah memperkuat penjagaannya. Mari kita langsung saja memulai diskusi."
"Meski kita baru saja mengalahkan White Tiger dan luka yang ditinggal belum pulih sepenuhnya, namun tidak ada banyak waktu untuk bersantai. Target selanjutnya adalah Naga malapetaka, Acnologia."
Tidak ada kejutan diantara Pahlawan, namun terdapat kejutan diantara Kandidat Kaisar Surgawi. Mereka tahu bahwa sudah tanggungjawab Pahlawan menghabisi kekacauan dunia, namun tidak menyangka bila penaklukan Naga akan menjadi secepat ini.
"Meskipun kekuatan tempurmu tidak ada duanya. Bukankah kau terlalu tergesa-gesa? Belum lagi menaklukkan Naga sama halnya melawan ras Naga, pertarungan tidak akan berlangsung mudah," ujar Rudeus, keringat dingin nampak muncul di dahinya.
Rigel tidak menjawab, dia justru melirik kepada Naga yang berbaring tepat di belakangnya. Red menyadari tatapan Rigel dan niatnya membawanya bertemu manusia.
"Tenang saja, manusia. Tergantung pada keadaannya, aku dan Naga lain yang merantau ke penjuru dunia akan turut andil dalam penaklukan kalian."
Seharusnya hal itu menjadi berita baik dari pihak mereka, namun Red mengatakan 'Tergantung keadaan'. Itu berarti terdapat kondisi tertentu yang diperlukan agar dia dapat turun tangan langsung dalam penyerangan. Jika begitu mereka tidak bisa terlalu bergantung padanya. Namun jika dia benar-benar membantu, maka tidak ada keperluan baginya melawan Naga murni lain.
Yang tersisa hanyalah membunuh Naga campuran dan sang malapetaka. Rudeus masih terlihat tidak nyaman dengan keberadaan Red, namun dia tidak terlihat gemetar ketakutan atau semacamnya.
"Kalian para Naga terkenal dengan harga diri yang sangat tinggi. Seharusnya hampir tidak mungkin kalian menerima bantuan manusia atas masalah kalian sendiri. Terkecuali, terdapat satu hal yang menguntungkan kalian atau mengikat kalian."
Kecurigaannya bukan tanpa dasar, melainkan berasal dari pengetahuannya. Dalam masa keemasannya, Rudeus terkenal dengan pejuang hebat dalam generasinya. Dia sendiri pernah berhadapan langsung dengan kematian dan berkali-kali pula lolos darinya.
Pengalamannya bersama Naga tidaklah sedikit, seringkali dia melarikan diri karena hampir mati, namun seringkali juga dia membunuh para Naga.
Red memandang lirih Rigel, seakan ingin mengkonfirmasi akankah aman mengatakan kebenarannya. Rigel mengangguk setuju, namun dia akan memotong percakapan nanti bila Red hendak membahas jaminannya.
"Aku mengikat kontrak dengannya," Red melirik Rigel, "Kontrak itu berisi, kalian manusia akan mengalahkan Acnologia demi keuntungan kalian dan aku. Sebagai gantinya, aku akan memiliki hutang budi yang dapat dia tagih kapanpun."
Daripada membeberkan informasi tentang bantuannya terhadap perang, memberitahukannya dengan hutang budi akan jauh lebih baik. Lagipula bila ada yang menguping, Rigel tidak akan mendapat kerugian yang besar. Bahkan Lucifer hanya dapat menerka-nerka saja bila dia mendapatkan informasi ini entah dari mana.
"Jadi begitulah. Red dan rekannya hanya akan ikut andil bila kita dapat mencapai kondisi tertentu. Namun, jangan terlalu berharap dan percaya diri hanya dengan bantuannya."
"Yah, mari kesampingkan. Sebelum memasuki pembahasan utama..., Natalia. Ceritakanlah sesuatu yang kusampaikan padamu."
Rigel hanya memberi Natalia potongan-potongan tidak lengkap dari informasi yang telah dia terima dari Red dan Sylph. Dia tidak terlalu pandai mengarang cerita dan semacamnya. Namun disaat seperti itulah keberadaan bawahan menjadi berarti. Entah seperti apa cerita yang dirangkai Natalia, setidaknya lebih mudah untuk dipahami.
"Ya!"
"Dari informasi yang didapat Pahlawan Rigel, terdapat ribuan pasukan Naga yang tercampur dari darah murni dan bukan. Menurut saya pribadi, akan jauh lebih baik beranggapan bahwa pasukan Naga lebih dari lima ribu."
Bahkan lima ribu bukan jumlah yang pasti. Jumlah ribuan bukanlah sesuatu yang remeh, mengingat mereka sekumpulan Naga. Monster yang terbilang paling kuat diantara monster. Ditambah, pemimpin mereka adalah sosok yang sangat mengerikan, sampai melampaui kekuatan seluruh Pahlawan.
"Jumlahnya memang terbilang tak masuk akal. Namun, yang paling mengerikannya adalah mereka dipimpin oleh Naga malapetaka, Acnologia. Menurut cerita Naga api, Red. Acnologia terlahir dengan elemen gelap dan cahaya, dimana hal itu menjadi anomali langka diantara para Naga. Dia jugalah yang memulai peperangan diantara ras Naga yang hampir menyebabkan kepunahan."
"Pada akhirnya, fraksi Naga api Red memilih mengakhiri perang karena terpukul mundur. Alhasil, beberapa berhasil melarikan diri namun sebagian tertinggal dan menjadi budak Acnologia. Mereka dipaksa untuk melakukan perkawinan silang, demi melahirkan lebih banyak pasukan Naga dibawah kendalinya."
Neraka jelas dirasakan ras Naga, mendapati perlakuan tercela seperti itu. Melahirkan Naga dengan darah murni bukan perkara mudah. Mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk mengisi telur dengan sihir dan menetaskannya juga tidak mudah. Semakin lama mereka menetas, maka semakin kuat pula mereka.
Karena alasan sederhana semacam itu, Acnologia meminta rasnya untuk kawin silang terhadap monster yang lebih rendah. Selain tidak perlu menunggu ratusan tahun untuk mengisi sihir, jumlah yang bisa mereka hasilkan lebih banyak. Semakin banyak pasukan, semakin kuat pula mereka.
"Meski samar, tindakannya dapat kuterka. Kemungkinan besar dia meminta rasku mempersembahkan darahnya kepada yang campuran untuk memperkuat gen Naga milik mereka. Semakin banyak gen Naga dalam nadinya, maka mereka dapat setara atau lebih kuat dari yang murni," lanjut Red seakan melengkapi pikiran Rigel.
"Tidak ada keraguan tentang itu. Karena hanya hal itu satu-satunya cara yang dapat dia lakukan untuk meningkatkan kekuatan individu."
Asoka yang mendengarkan secara rinci dan memproses informasi dalam ingatannya mulai mengusap dagu. Dia terus memeras otaknya, berusaha lebih baik mencerna apa yang dapat dia cerna.
"Tetapi, mengapa dia tidak melakukan tindakan radikal dan memilih diam selama bertahun-tahun? Aku yakin dengan kekuatannya, dia dapat meratakan dunia. Bahkan sebelum umat manusia memanggil para Pahlawan," ujar Asoka, memecah keheningan singkat yang terjadi.
"Entahlah. Sejujurnya aku juga sangat ingin tahu mengapa dia tidak melakukannya, sama halnya dengan malapetaka lain," jawab Rigel yang mulai memutar otaknya.
Pemikiran malapetaka memang tidak dapat dia pahami, namun tindakan mereka untuk berdiam di suatu tempat sangatlah tidak masuk akal. Hydra hanya melakukan teror di lautan sekitar Ruberios dan tanah Region sebelum dia membebaskannya. Yang aneh darinya adalah, mengapa dia membangun Territory dan hanya berdiam di lautan Region??
Tortoise dapat dimaklumi, mengingat dirinya disegel dalam waktu yang lama. Namun Phoenix, White Tiger dan Acnologia benar-benar membuatnya tidak habis pikir.
Kekuatan mereka sanggup membunuhnya dan Pahlawan lain, namun tindakan yang mereka lakukan dampaknya sangatlah minim. Meski bagus tidak banyak kekacauan yang disebabkan, namun mengerikan juga disisi lain.
"Mungkinkah mereka sedang menunggu sesuatu atau hidayah semacamnya?" tanya Petra dengan polos.
"Itu juga termasuk sebuah kemungkinan, namun kuharap mereka tidak menunggu apapun. Jika harus, perang akhir yang dapat terpikirkan," Ozaru menjawab tanpa penundaan.
"Bila mereka benar mengincar Ragnarok, maka perang salib empat arah tidak akan terhindarkan. Kebencian mereka terhadap manusia sungguh nyata. Bila kita mengabaikan keberadaan mereka, mungkin umat manusia tidak dapat bertahan." Marcel memberikan pernyataan jujurnya.
"Maka tidak baik kita menunda melenyapkan Acnologia, bila memang Ragnarok yang menjadi tujuannya."
Lantas menaklukkan mereka menjadi sebuah keperluan utama bagi umat manusia sebelum menemukan perang akhir.
Fakta bahwa Lucifer tidak melakukan banyak pergerakan berarti dapat disyukuri. Namun perasaan tidak enak tentangnya membakar dada Rigel. Lucifer itu mengerikan, dari segi kekuatan atau strateginya benar-benar mengerikan. Jika bisa, dia tidak ingin berpapasan dengan Lucifer dan iblis lainnya selama masa sulit ini.