
Dia telah menyelesaikan urusannya bersama Sylph. dan kembali ke Region untuk melihat keadaan. Dikarenakan dia tidak bersemangat untuk bertapa, kembali menjadi sebuah pilihan yang tersisa.
Kini terdapat cukup banyak kesatria elite yang tengah mendapatkan pelatihan langsung dari Natalia, Odin, dan Gahdevi.Mereka masing-masing memiliki peran berbeda-beda dalam mengajar.
Sesuai dengan keahlian masing-masing. Odin mengajar mereka seni berpedangnya, Natalia bagian sihir dan Gahdevi dalam pertahanan. Untuk penembak jitu jarak jauh, tidak lagi diperlukan karena sudah terdapat banyak militer elite yang ahli dengan senjata api. Jadi, cukup serahkan bagian itu kepada mereka.
"Ingatlah untuk tetap berwaspada kepada sekeliling. Amati rekan, musuh dan zona pertempuran. Sebagai petarung jarak dekat, kita diharuskan menjadi penyerangan utama dalam sebuah raid! Jangan pernah sedetikpun membiarkan konsentrasi buyar!!"
"Yes, sir!!"
Pelatihan berjalan lancar, tidak ada kebutuhan baginya untuk muncul diantara mereka karena hanya mengganggu konsentrasi mereka saja.
Karena tujuannya hanya mengamati sesaat, dia tidak tahu hal lain apa yang harus dilakukan, hingga akhirnya memutuskan pergi menuju Kekaisaran Timur.
Pemandangan di depannya silih berganti, sebuah kerajaan indah nian mempesona. Dirinya berdiri di tembok besar yang menjadi pembatas kerajaan dan ibukota yang calak.
Pemandangan ratusan kesatria berlatih sungguh memukau dan memanjakan mata. Ada jauh lebih banyak orang-orang yang berlatih, bila dibandingkan dengan Region. Tidak salah menyebutnya dengan negara termaju kedua, setelah dilengserkan dari nomor satu oleh Region.
Cuacanya tidak buruk. Tidak panas ataupun dingin, udara terasa lembab dan segar tanpa pencemaran. Lantas, yang paling menakjubkan adalah rumah-rumah di ibukota yang dibangun secara rapih, tidak berantakan.
"Kota yang bagus..., mungkin lain kali aku harus menyurvei beberapa negara lainnya. Demi membangun Region sebagai tempat terbaik di dunia..." gumamnya, tersenyum lembut selagi menatap kesatria yang tengah berlatih.
Perhatiannya dicuri oleh seseorang yang hanya berkeliling dan memberi arahan kepada para kesatria. Tubuhnya dua kali lebih besar dari Rigel, dengan luka-luka yang tergores hampir di seluruh tubuhnya.
Bagi para kesatria sepertinya, luka adalah sebuah penghargaan yang diraih dari pertarungan mematikan dan peperangan. Luka-luka itu menunjukkan dengan jelas, seberapa banyak pertarungan mengerikan yang telah dia menangkan.
Rigel sendiri tidak ragu akan kekuatan orang itu, mungkin menyamai Asoka dengan wujud transformasi. Mungkin tidak akan menjadi masalah bila dia mengetesnya sedikit. Karena itu, dia sedikit mengeluarkan niat membunuhnya untuk mencaritahu akankah dia menyadarinya atau tidak.
Orang itu—Rudeus yang tengah diuji berhenti berjalan, namun tidak menatap ke belakangnya atau lebih tepatnya asal dari niat membunuh yang tipis. Dia terus melanjutkan perjalanannya, hingga menghilang diantara para prajurit. Rigel sedikit terkejut, bahwa dia benar-benar menyadarinya, namun apa yang membuatnya terkejut adalah...
"Hahaha, sepertinya raja memang bukan gelar kosong belaka..." ujar Rigel, tersenyum mengejek dan menoleh ke belakangnya untuk menghadapnya.
"Akan memalukan bagiku tidak menyadari niat membunuh sekecil apapun itu. Sepertinya kau tengah mengujiku, tuan Rigel."
Sesaat Rudeus menghilang diantara para kesatria, Rigel sudah menyadari bahwa Rudeus berlari dan berusaha mendekatinya dari belakang. Dengan tubuh sebesar itu, sangat mengejutkan dia dapat bergerak secepat itu.
"Lengkara bila aku tidak mencoba untuk mengetahui seberapa tajam dirimu. Namun hasilnya diluar perkiraan."
Niatnya hanya untuk mengetahui apakah dia dapat menyadarinya atau tidak. Namun tidak menduga bila Rudeus akan bertindak dengan menghampirinya.
Hal ini jelas menunjukkan bahwa Rudeus cukup kuat untuk mengalahkan seekor Naga seorang diri. Patut bila banyak orang takut akan mengusiknya. Mungkin Rigel juga akan melakukan hal sama kepada Alexei bila ada kesempatan.
"Jadi, hal apa yang membawamu kemari?" tanyanya dengan hormat tanpa formalitas.
Rigel tidak berpikir bahwa Rudeus memiliki rasa hormat padanya, justru dia berpikir sebaliknya. Karena kesan terakhir yang dia miliki pada Rigel nampak bukan rasa hormat.
"Tidak terduga kau memiliki rasa hormat kepadaku. Aku justru berpikir sebaliknya."
Rudeus tersenyum masam dan sedikit menunduk selagi meletakan tangan di dadanya, "Awalnya memang begitu. Aku tidak menyukainya karena kalian generasi muda bertingkah seakan kalian yang paling kuat. Namun, setelah melihat pertarungan yang terjadi. Pemikiran ku berubah dan mengagumi dirimu. Alhasil aku menyadari, bahwa generasi silih berganti."
Yang tua akan tersingkir dan digantikan oleh yang muda. Seiring berjalannya waktu, orang tua akan menjadi roda gigi yang berputar dikalangan masyarakat. Sesuatu yang seperti itu.
Mengenai cara bicaranya yang tanpa formalitas, tidak perlu dipermasalahkan. Mungkin dirinya sudah menyadari bahwa Rigel tidak menyukai sesuatu seperti itu.
"Bagus jika begitu. Mengenai tujuanku kemari, aku ingin memberikan beberapa hadiah yang sedikit berbahaya dan aku yakin kau tahu benda ini..." Rigel menyeringai dan memikirkan seberapa terkejut mereka nanti.
"Hadiah?" Rudeus bergumam lirih selagi menantikan sesuatu yang akan ditunjukkan Rigel.
"Kalau begitu, langsung saja kita mulai demonstrasi nya..." tanpa penundaan, dia melompat tinggi dan menghantam tanah dengan keras, membuat perhatian semua orang teralihkan.
Awan debu terbentuk, membuat Rigel tertutupi sepenuhnya. Dengan kedatangannya yang hebat itu, semua orang yang ada menjadi berwaspada dan dengan segera mengelilinginya.
"Dasar. Datang dengan megah dan membuat keributan..., aku sangat menyukai hal itu..." Rudeus tersenyum lebar karena menganggapnya lucu.
"Tetap waspada!" tutur seorang prajurit.
Memang sedikit diluar perkiraan, namun setidaknya dia dapat mengetahui seberapa cakap orang-orang ini. Alhasil, dia mengambil dua buah belati yang terbuat dari gigi Hydra. Meski tidak sekuat yang dimiliki Ray, namun ini jauh lebih baik dari yang lainnya.
Cling! Clang!
Saat awan debu menghilang, dirinya melesat menuju dua orang terdekat, memotong pedang mereka dengan begitu mudahnya. Dua orang itu terkejut dan tidak memahami kejadian yang baru terjadi, dikarenakan kecepatannya itu.
Rigel kembali ke posisi sebelumnya, membiarkan dirinya terekspos jelas oleh kebanyakan orang.
"Angkat senjata kalian dan serang aku sekuat mungkin!"
Semua terkesima dan menatap dengan penuh kejutan. Seorang Pahlawan yang tengah dikepung oleh ratusan orang, Amatsumi Rigel.
"Pa-pahlawan Creator!" seru seorang prajurit, diikuti seruan lainnya. Namun Rigel tidak akan memberikannya waktu untuk kekaguman semacam itu.
"Aku akan melatih kalian para kadet untuk hari ini saja. Seranglah aku sekuat tenaga, jangan mengkhawatirkan apapun karena serangan kalian tidak akan membunuhku. Mulai!"
Para Kesatria hanya terperangah dengan pergantian kejadian yang tiba-tiba ini. Namun, beberapa merasa semangat dan dengan ceroboh melangkah maju.
Rigel menatap diam, menyaksikan tiga orang pertama hendak menyerangnya dari tiga arah. Gerakan mereka terlihat lambat, hampir seperti seorang bayi.
Mereka mengirimkan tiga serangan, namun dengan sangat mudahnya dihindari Rigel. Dia memberikan pukulan ringan dengan gagang belati dan membuat mereka jatuh tersungkur.
"Lakukanlah dengan sungguh-sungguh! Gerakan kalian terlihat sangat lambat dan penuh celah!"
Rigel berinisiatif dengan memulai serangannya lebih dulu dan menjatuhkan tiga prajurit didekatnya.
"Hehe, kesempatan langka mendapatkan pelatihan dari Pahlawan! Teman-teman, ayo lakukan bersama!!" seru seseorang yang tampak seperti petualang.
Petualang itu bersama dengan rekannya membentuk posisi bertarung yang dia akui cukup terkoordinasi. Dua petarung, satu pelindung, dua penyihir dan satu pendukung. Kombinasi yang sempurna, meski terdapat celah jelas di bagian belakang.
Dua petarung penggunaan kapak panjang dan pedang melesat menujunya. Orang dengan kapak mengirimkan ayunan kuat. Rigel tidak menahannya, namun mengambil satu langkah mundur dan menghindari jangkauan serangan.
Namun nampaknya hal itu merupakan sebuah tipuan, karena pengguna pedang di belakangnya memanfaatkan tubuh besar rekannya untuk menyembunyikan diri. Dia berlari dengan niat menikam perut Rigel tanpa keraguan.
Clang!
Dengan satu ayunan keras, pedangnya terpotong dengan sangat rapih.
"Gerakan yang sangat cemerlang, namun akan jauh lebih baik kau tidak menunjukkan niatmu untuk menembus perutku."
Dia tidak dapat menahan keterkejutannya,
hingga tanpa disadari gagang belati Rigel hampir mencapai punggungnya. Namun, sebuah sihir api terbang menuju Rigel.
Tidak perlu bersusah payah, dia hanya menampar kecil bola api yang nampak sangat lemah itu, selagi membiarkan pengguna pedang itu mundur.
"Hah?! Bagaimana mungkin??" penyihir itu terkejut, menyadari serangannya dibatalkan dengan satu tamparan lembut.
"Apa kau benar-benar menggunakan sihir? Api itu hanya pemantik api bagiku. Gunakanlah yang lebih kuat selagi mengirit pengeluaran Mana."
"Ba-baik!"
Mereka sekali lagi memperbaiki posisi tempurnya. Selagi berhadapan dengan mereka, tanpa disadari ratusan tentara dan petualang telah mengambil posisi untuk menyerangnya habis-habisan.
Dia tahu dengan betul harus menyiapkan kekuatan penuh sebelum Raid tiba. Namun, dia tidak bisa berhenti ditengah terhadap kejadian menarik ini. Alhasil, dia menyeringai senang, terutama dengan kedatangannya tamu.
"Sepertinya kau juga menikmatinya. Sangat disayangkan bila aku melewati kesenangan ini, jadi..., izinkan aku bergabung, tuan Rigel."
"Rudeus ya? Boleh jadi. Tunjukkanlah kemampuan mu sebagai raja. Tidak hanya dia, tetapi kalian semua lakukanlah yang terbaik!"
"Yes, sir!"
Rudeus sejak awal telah menggunakan armor ringan, dia hanya perlu mengambil pedang besarnya saja.
"Jangan ragu untuk menyerangnya, bahkan jika Pahlawan Rigel terluka, dia tidak akan terbunuh! Serang dia dengan segenap kekuatan kalian dan anggaplah ini pertarungan hidup dan mati kalian!"
"Yes, sir!"
Lihat? semua hal menjadi semakin menarik. Bahkan dengan kondisinya yang belum benar-benar pulih dari hasil melawan White Tiger, dia memiliki keyakinan tidak akan terluka dari pertarungan ini.
"Jika begitu..., cobalah untuk bernafas."
'Kehehehe, seperti yang diharapkan dari seorang Pahlawan!' batin Rudeus, menyeringai senang.
Sudah lama sekali, sejak terakhir kali dia mendapati tekanan super mengerikan seperti ini. Bukan ketakutan, justru kerinduan akan Medan perang tak tertahankan. Dirinya bersukacita atas pertarungan dimana tidak perlu baginya menahan diri.
"Bila terhadapnya sudah gentar, saat perang Ragnarok tiba kalian tidak akan berguna! Maju dan serang Pahlawan Rigel yang meluangkan waktu untuk kita!!" Rudeus memimpin serangan dengan memulainya dahulu.
Kesatria lain tertegun, mereka ingat bahwa akan ada peperangan yang melibatkan seluruh umat manusia. Bila ingin masa depan mereka terjaga, mereka harus bertarung.
Satu-persatu mengangkat senjata, perisai dan tongkat sihir masing-masing, lalu menerjang bersama-sama.
Rigel ikut berlari dan Rudeus menjadi yang pertama dihadapi. Dengan kekuatan besarnya, Rudeus menyapu udara dengan pedang besarnya hingga membentuk bilah angin besar yang menghantam tembok dengan kuat.
Rigel melompat, menggunakan pedang besar Rudeus sebagai pijakan tangan kanannya dan memutar kakinya untuk menghantam wajah Rudeus.
Namun, serangannya telah terbaca karena Rudeus menggunakan tangannya untuk menahan dan mencengkram kakinya. Kesatria lain ikut andil dan menyerang dengan usaha terbaik. Namun dengan seringai mengejek, Rigel melompat ke belakang punggung besar Rudeus, membawa kakinya bersama dengan Rudeus yang dengan keras kepala mencengkram pergelangan kakinya.
Meski tubuhnya kecil, kekuatannya sangat tidak masuk akal. Dengan gerakan sederhana seperti itu, dia mampu membawa tubuh besar Rudeus ke udara bersamanya. Rudeus dengan enggan melepaskan pegangannya untuk menghindari dirinya terbanting.
Rigel memilih mengalahkan orang-orang disekitarnya dengan mematahkan pedang mereka dan memukul punggung mereka dengan gagang belati miliknya.
Rudeus berbalik dan mengayunkan pedangnya secara luas. Meski ukurannya besar dan membutuhkan tempat luas, yang hebatnya adalah dia mengayunkan tanpa kena satu orangpun prajurit. Menunjukkan jelas kecakapannya bermain pedang besar itu.
Rigel mengulurkan kedua belatinya dan menahan laju pedangnya. Dirinya sedikit terdorong mundur akan kekuatan besar yang menghantamnya, namun tidak cukup kuat untuk membuat celah pada dirinya.
Para kesatria memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang punggung Rigel yang terbuka lebar, namun sebuah dinding tanah besar terbentuk dan melindungi punggungnya. Dia mengumpulkan kekuatan yang tersebar ke satu titik di tangannya dan mendorong pedang Rudeus menjauh darinya. Rudeus terdorong mundur, seakan kekuatannya hanya setara dengan bayi yang baru lahir.
"Sepertinya memang mustahil mengalahkan dirimu. Bahkan dengan jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit ini..." kekagumannya kepada pemuda di hadapannya tidak berkurang, malah justru sebaliknya. Dia semakin menghormatinya.
Rudeus hanya akan mengakui dan hormat kepada mereka yang terbilang kuat saja, tidak pada yang lemah. Untuk apa seekor singa tunduk kepada tikus? karena dia seekor singa bijak, maka dia tidak akan tunduk kepada tikus.
"Bahkan seekor Naga dapat kalah dengan sekawanan singa yang bekerja sama untuk menumbangkannya. Hanya saja..." terdapat penundaan dari kata-katanya.
Dia menyeringai dengan senangnya, melebarkan tatapannya yang terlihat sinis,
"Kalian hanya terlihat seperti seekor tikus bagiku."
Dia menghempaskan Rudeus dan mengacungkan belati tepat di arterinya. Rudeus melepaskan pedangnya, mengakui bahwa dia menyerah dan mengakui Rigel sebagai pemenangnya.
Meski kata-katanya terdengar merendahkan, namun apa yang dikatakannya sebuah kenyataan. Dengan jumlah yang ratusan kali lebih banyak, mereka sama sekali tidak bisa melukai satu orang. Menggores kulit, membuatnya kotor juga tidak.
Jika memang mereka seekor singa, maka seharusnya mereka bisa memberikan luka yang berarti padanya. Namun kenyataannya jauh lebih buruk dari ini.
"Kuh, tuan Pahlawan memang hebat. Bahkan dengan seratus orang lebih ini tidak dapat membuatnya terluka sedikitpun..." tutur seorang petualang selagi jatuh terbaring di tanah.
"Yeah, jika dia terluka dengan mudah, maka melawan malapetaka akan jauh lebih sulit..." tutur petualang lainnya.
Dalam beberapa waktu ini mereka merasakan jurang besar antara mereka dengan Rigel. Bahkan jika mereka membawa lebih banyak orang lagi, dengan kekuatan penuhnya, Rigel tetap tak tertandingi.
Hanya mereka pilar iblis, malapetaka dan mungkin Seraphim yang dapat mengimbangi para Pahlawan.
"Keberadaan mereka sendiri hampir seperti dewa..." tutur seorang prajurit dengan armor lengkap.
"Jadi, apakah ini yang engkau maksud dari hadiah?" tanya Rudeus selagi membersihkan tubuhnya dari kotoran.
"Tentu saja bukan. Aku akan menyiapkannya sekarang."
Memfokuskan kekuatan pada lengan kirinya, dia membayangkan bentuk benda yang hendak dia ciptakan dan terwujud dengan ajaibnya.
Tidak hanya satu, namun benda itu berserakan di tempat yang awalnya hanya sebuah tanah kosong. Rudeus lagi-lagi terkagum akan pemandangan yang belum dia lihat selama hidupnya.
"Ini..." dia pernah melihat benda-benda itu. Sesuatu yang pernah digunakan tentara Region saat pembukaan paruh kedua melawan Tortoise.
Benda aneh nan unik yang mengerikan. Kekuatannya nyaris tidak bisa dibandingkan dengan anak panah yang diisi dengan sihir. Rudeus berpikir bahwa benda itu tidak akan disebar luaskan, namun kenyataannya malah sebaliknya.
"Seperti yang kau ketahui. Senjata ini hanya ada di duniaku dan Region. Meski aku tidak tahu berguna atau tidak melawan Naga murni atau tidak. Namun patut untuk dicoba. Aku akan mengirimkan beberapa orang yang terbilang bagus dalam bidang ini..." dia memandang langit, tidak menyangka hari mulai gelap dan sudah waktunya dia melakukan hal itu.
"Sudah waktunya mengakhiri semua ini, karena hari sudah gelap."
Rudeus ikut menatap langit, menyadari bahwa matahari mulai terbenam dan selimut hitam perlahan muncul.
"Benar juga. Jika begitu, maukah kau menyantap makan malam di sini? Akan kuminta pelayan menghidangkan makanan terbaik negeriku."
Tidak baik menolaknya, lagipula dia belum memakan apapun. Jadi tidak ada salahnya merasakan keramah tamahan Kekaisaran Timur.
"Yea..., bukan pilihan buruk. Izinkan aku membersihkan tubuhku juga."
"Dengan senang hati..." ujar Rudeus, selagi memanggil beberapa pelayan untuk menyiapkan apa yang diminta.
[***]
Selingan waktu beberapa jam, Rigel menuju hutan roh untuk melakukan hal yang telah dijanjikan. Dia telah puas menghabiskan waktu di Kekaisaran Timur selagi menikmati kenyamanan yang diberikan oleh mereka. Dimulai dari makanan lezat, pemandian yang nyaman dan fasilitas lainnya.
Dia akui bahwa gelar negara maju bukan sekedar omong kosong belaka. Nyatanya dia benar-benar dimanjakan saat berada di sana meski dalam waktu singkat. Rudeus tentu menawarkan untuknya menginap di sana, namun sangat disayangkan dia harus menolaknya.
Dia tiba di hutan roh yang sejuk dan memiliki Mana alam berlimpah di dalamnya. Hanya ada roh monster dan peri kecil di hutan ini, sehingga tidak ada jejak kehadiran manusia.
"Jadi kau benar-benar datang, ya..." Sylph menyambut kedatangannya dengan senyuman lembut dan pipinya yang tersipu.
Mungkin karena hal yang akan selanjutnya mereka lakukan membuat ekspresi tertentu tentang sesuatu yang akan mereka lakukan selanjutnya. Meski sedikit, dia juga merasakan hal yang sama.
"J-jadi, dimana kita harus melakukannya??" entah bagaimana dia merasa grogi begitu melihat Sylph grogi.
Sylph semakin merona yang membuatnya semakin calak, "Lewat sini, Pahlawan Rigel."
Dirinya memandu jalan menuju sebuah tempat yang berada jauh di dalam hutan. Satu-satunya tempat yang memiliki rumah kayu yang dipenuhi lumut dan tempat yang tidak memiliki peri atau monster roh disekitarnya.
Baginya hal itu sangat tidak biasa. Mengingat tempat ini menjadi sarang para peri dan monster roh, tidak ada pemikiran bahwa terdapat sebuah tempat yang tidak ditinggali peri.
Rigel berpikir mungkin Sylph telah menyuruh mereka menjauh, namun kenyataannya Mana di tempat ini jauh lebih tipis dari keseluruhan hutan. Seakan ada sebuah garis pemisah diantaranya.
"Tempat ini adalah zona khusus dimana tidak ada satupun orang selain aku dan manusia bisa memasukinya. Di tempat ini, aku menyesatkan setiap orang yang menerobos masuk lalu mengembalikannya. Di tempat ini pula, aku membesarkan anak yang kudapat dari manusia dengan penuh cinta..." wajahnya yang awalnya merona dan malu-malu, kini menampilkan raut kesedihan.
Kesedihannya benar-benar nyata nan menyentuh hati. Mengingat dirinya menjalani kesepian selama ribuan tahun lamanya.
Mereka memasuki rumah kecil itu. Dalamnya cukup terawat, sangat bersih sampai mata tidak percaya bahwa itu sudah bertahun-tahun tidak ditinggali. Meski tampilan luar tampak usang dan sempit, kenyataannya bagian dalam begitu mewah dan luas, seakan ilusi mata.
Rigel mengamati bagian dalamnya dan menemukan mainan bayi, pakaian anak-anak dan beberapa barang bagi anak kecil lainnya. Sepertinya memang benar bahwa Priscilla dibesarkan di sini.
"Priscilla saat ini masih hidup dan aku meyakini itu. Tidak bisa kubayangkan untuk kehilangan dirinya kedua kalinya. Untuk kali ini..." Sylph berbalik dan mendekati Rigel dengan sedikit melayang di udara berkat sayap kupu-kupu di punggungnya.
"Tidak akan kubiarkan kesalahan yang sama terjadi dua kali. Karena itu, mohon, lakukanlah itu denganku."
Sylph mendorong wajahnya mendekati Rigel, mengalungkan tangannya ke pundak Rigel. Mereka bisa merasakan nafas satu sama lain. Aroma nektar dan kopi dapat tercium dari keduanya. Waktu seakan berhenti, ketika dua bibir lembut nan hangat saling bersentuhan. Rasa manis yang dirasakannya, dari mencium Sylph.
Sylph menariknya ke kasur, membiarkan sayap indahnya menghilang selagi terbaring di kasur dengan wajah penuh merona. Rigel perlahan membuka pakaian bagian atasnya, menampilkan lambang daun hijau terukir jelas di dadanya.
Sylph perlahan mengalungi Rigel dengan tangannya, pancaran kebahagiaan dan detak jantung berdetak keras seakan dapat didengarnya.
"Lambang daun itu menjadi bukti otoritas akan kehendak para peri. Saat ini lambang itu hanya lambang biasa, tanpa otoritas. Karena itu, untuk memberikan otoritas, diperlukan sesuatu semacam ini. Dengan tujuh malam dan sentuhan sebanyak mungkin..." Sylph menjelaskan kepada Rigel yang nampak penasaran. Dia juga perlahan membuka pakaian bagian dadanya dan Rigel menatapnya.
Bukan kepada hal lain yang tergantung di sana, melainkan lambang daun yang sama terukir di dadanya.
"Lakukanlah sesukamu, karena aku tidak memiliki pengalaman tentang ini. Jamah tubuhku sebanyak mungkin, untuk membagikan otoritas yang ada padaku. Perlakukan aku dengan lembut..." dia menambahkan permintaan pribadi di akhir kalimat.
Rigel dengan sedikit kecanggungan memulai dari bibirnya, perlahan membiarkannya bersentuhan lidah. Meraba bagian tubuh tertentu, menjamah seluruhnya hingga titik akhir dari hubungan intim.
"Emh..." suara lembut berasal dari Sylph. Wajahnya memerah, disatu sisi sedikit sakit, dilain sisi. menikmati.
"Bolehkah aku..., memanggilmu Rigel??"
"...Boleh..., Sylph."
Lambang dalam dada semakin bersinar ketika pasangan itu melalui malam yang panjang dengan panas nan bergairah. Entah berapa lama waktu yang berlalu, dia tidak tahu. Namun yang pasti itu berlangsung cukup lama, hingga benihnya keluar.