The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Penghancuran gate of underworld



Angin berhembus dengan sangat kencang. Langit bergemuruh keras sebanyak empat kali. Rigel meledakan empat pesawat yang masing-masing punya satu Nuklir. Ledakannya sampai mengguncangkan dunia. Semua orang bahkan dapat menyaksikan, dan mendengar dengan jelas hasil dari ledakannya.


Para pilar iblis yang berpencar menatap arah ledakan itu, mereka mengkonfirmasi bahwa asalnya dari gerbang dunia bawah. Tanpa perlu lama dan membuang waktu, mereka meninggalkan apa yang sedang di kerjakan dan pergi menuju lokasi itu.


"Lokasinya berada di dekat gerbang itu... Hehehe, mungkinkah itu alasanmu meminta waktu satu minggu, Rigel? kau ingin mengurus gerbang itu lebih dahulu? Wahahaha, ini merepotkan... Aku menjadi semakin, semakin, semakin dan semakin ingin bertarung denganmu... Mungkin aku akan membuat beberapa kekacauan dan memancing amarahmu." Senyuman bengis terukir di wajah Karaka.


Dia tengah menatap awan asap akibat ledakan Nuklir itu. Karaka langsung bergegas menuju sebuah kerajaan yang tidak berada jauh dari tempatnya berada.


"Baiklah, sekarang mungkin sudah saatnya aku turun tangan..." Rigel tersenyum dan mengaktifkan lift teleportasi yang dia buat.


Teleportasi Pahlawan hanya bisa berpindah ke tempat yang pernah dia kunjungi. Berbeda dengan Lift teleport. Rigel hanya perlu memasukkan kordinat pasti dari tempat yang ingin dia kunjungi. Benda itu terbuat juga karena adanya bantuan dari Ciel, maha karya yang dapat di buat oleh Rigel. Dengan keberadaan Ciel sendiri, Rigel hampir tidak pernah mengakses Index. Dia bahkan nyaris lupa bahwa itu benar-benar ada.


Setelah memasukkan kordinat yang di berikan Petra sebelumnya, Rigel dengan cepat berpindah dan sudah ada di lokasi ledakan. Dia tidak dapat melihat apa-apa. Awan debu masih beterbangan sehingga membuat pengelihatan menjadi minim.


"Emh? aku masih dapat merasakannya... Haha, ternyata kau masih hidup ya, Dante... Aku mengakui ketangkasanmu."


Meskipun dia memuji Dante, Rigel tidak merasa benar-benar ingin memujinya. Dante masih hidup setelah merasakan langsung empat ledakan Nuklir dari jarak yang sangat-sangat dekat. Tubuhnya hangus di beberapa bagian, dia merentangkan tangannya dan benar-benar melindungi gerbang neraka itu.


"Kau sampai sebegitu kerasnya melindungi gerbang jelek itu... Pasti ada seseuatu di sana, atau mungkin Lucifer sedang berada di dalam sana?" Rigel mencoba mengorek informasi, meski tahu bahwa itu percuma.


Dante menghela nafas dari mulutnya. Bahkan nafasnya berwarna kehitaman karena hangus terbakar atau sesuatu. Yah, tidak perduli seberapa parah kerusakan di deritanya, dia hanya akan memulihkan tubuhnya perlahan.


"... Khak!... Kau... Jadi, kau... bajingan yang melakukan ini... Tidak akan kumaafkan, kau... Jika ingin menghancurkan gerbang ini, HADAPILAH AKU!" Dante membuka matanya lebar-lebar dan mengulurkan kedua tangannya menuju Rigel.


Tangan raksasa yang seharusnya tidak dapat di lihat, namun dengan sangat jelas dapat di lihat Rigel. Melihat dua tangan raksasa melesat ke arahnya, Rigel hanya diam dan mendengus, "Hand Of Midas..."


Dua buah tangan keemasan yang sama besarnya muncul dan menahan tangan ungu kehitaman itu. Rigel memahami satu hal. Unseen Relevation Dante dengan Mana manipulasi miliknya tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama dapat membentuk senjata, atau apapun yang mereka inginkan. Rigel bahkan dapat membuat sebuah kastil dari Mana.


Yang menjadi perbedaan dasar dari keduanya adalah, Unseen Relevation dapat menghilangkan wujudnya, sementara Mana manipulasi tidak dapat melakukannya.


"Baiklah, sepertinya aku harus membunuhmu lebih cepat. Jangan sampai kejadian yang sama seperti saat melawan Diablo terjadi." Rigel mengulurkan tangan kirinya dan menembakan Material Buster.


Dante membuat dua tangan raksasa lain dan menggunakannya untuk melindungi dirinya. Selagi dia sibuk dengan itu, tak terduga bahwa Rigel sudah berada di sampingnya.


"Matilah..." Tangan kiri Rigel bersinar terang dan mengeluarkan laser kuat.


Dante tidak sempat bereaksi dan harus menerima serangan itu secara langsung, "Arrrggghhh!" Dia mengaum kesakitan.


Tubuh bagian bawahnya telah hangus menjadi debu dan perlahan membakar bagian atasnya. Rigel meningkatkan kekuatan serangannya, tetapi sebuah serangan kuat melesat dari dalam gerbang. Mau tidak mau dia harus menghentikan serangannya dan melompat mundur. Bukan berarti dia menyerah terhadap Dante, Rigel tanpa ragu mengaktifkan kekuatan Voidnya.


"Tahap satu : Kehampaan... Kembalilah menuju kehampaan!" Rune biru bersinar dan serangan Rigel mengarah langsung ke Dante.


Sesuatu nampak mencoba melindungi dirinya, namun percuma saja. Di hadapan Void, apapun yang sudah menjadi target tidak akan lolos. Serangan Rigel berhasil mengenai Dante dan membunuhnya. Dengan begini, Rigel telah mengalahkan satu dari pilar iblis dengan sangat mudah.


Rigel tidak merasakan senang, justru dia menjadi lebih waspada terhadap sosok yang menyerangnya dari balik gerbang. Bersamaan dengan itu, Rigel dapat mendengar langkah kaki dari belakangnya.


"Rigel! bagaimana dengan Dante??"


Orang-orang itu adalah Takumi dan Pahlawan lain rupanya. Mereka berlari menghampiri Rigel yang tidak berusaha menoleh ke arah mereka. Takumi menatap sesuatu yang Rigel tatap. Nampaknya ada sesuatu yang akan keluar dari sana dan membuat Rigel menjadi sangat waspada.


"Dante telah aku kalahkan, namun nampaknya ada orang yang berusaha menyerangku dari gerbang itu." Rigel menjelaskan situasi.


Pahlawan lain berwaspada setelah mendengar itu. Tidak ada waktu bagi mereka untuk merayakan kematian Dante.


"Wah, wah... Nampaknya jadi riuh sekali, ya."


Sosok yang keluar dari gerbang dunia bawah seorang iblis yang pernah Rigel jumpai. Dia sudah menduga, bahwa Lucifer pasti akan memasuki gerbang dunia bawah karena sesuatu. Menyadari bahwa Pahlawan berada di sini lebih cepat dari yang dia duga, Lucifer tersenyum.


"Sepertinya kalian sudah mengetahui rencana kecil yang kubuat ya..."


Rigel mendengus tertawa, "Ya, aku merasa sangat bodoh. Setelah mengetahui apa yang terjadi seribu tahun lalu dan kau yang melepas segel gerbang itu, hahaha, aku tidak berniat tertipu kedua kalinya."


Mendengar pernyataan berani Rigel, Lucifer tersenyum. Dia tidak terkejut dengan itu, justru dia telah menduga bahwa cepat atau lambat taktik semacam itu akan ketahuan. Lucifer mengalihkan pandangannya ke tempat Dante berada sebelumnya.


"Aku tidak menduga jika kau menggunakan strategi ku untuk mengelabui Dante. Dia bawahan paling setia dan yang sudah lama melayani ku. Memang sangat di sayangkan atas kematiannya, kini aku hanya memiliki sepuluh iblis tersisa." Senyuman Lucifer menghilang.


Rigel menatap tajam Lucifer, "Kami masih unggul dalam jumlah. Cepat atau lambat, aku pasti akan membunuh anak buahmu satu persatu."


Rigel sedang memprovokasi Lucifer. Meski dia tidak yakin akankah memiliki kemungkinan menang yang tinggi atau tidak. Namun dari apa yang dia ingat, kekuatan Lucifer belum kembali sepenuhnya. Ada baiknya untuk membunuh Lucifer selagi masih lemah.


"Unggul dalam jumlah? Haha, sayangnya itu tidak akan terjadi, Pahlawan. Dan juga, kau nampaknya salah paham akan satu hal." Lucifer menunduk dan berjalan perlahan mendekati Rigel dan yang lain. Dia perlahan mengangkat wajahnya dan menunjukkan Ekspres beringasnya.


"Aku sama sekali tidak perduli dengan jumlah kalian atau pilar iblis. Di hadapanku, kalian hanyalah seekor monyet yang berusaha mengambil pisang dari seekor Singa. Aku ini kuat, bahkan jika kalian membantai pilar iblis ku, itu tidak berpengaruh apapun padaku." Lucifer mengeluarkan hawa membunuh yang membuat semua Pahlawan merinding.


Takumi dan yang lain hampir tidak bisa bergerak saat di hadapkan hawa membunuh dan haus darah sekuat itu. Rigel berkeringat dingin, dia tidak takut atau apapun, dia hanya tersenyum terhadap tekanan Lucifer. Sampai akhirnya, dia merasakan firasat buruk.


"Menghindar!" Rigel memperingatkan semua orang. Meski tidak mengerti apapun, mereka dengan patuh mencoba menghindar.


Benar saja, Duri tajam berwarna hitam muncul dari tempat mereka berpijak sebelumnya. Beruntunglah Rigel memiliki insting yang tajam dan akan berdering saat dia terancam bahaya.


"Berhati-hati—" Ucapan Rigel terpotong dengan pemandangan di depannya.


"Satu sudah tumbang."


"Argo!" Takumi berteriak.


Ntah apa yang terjadi, dalam sekejap Lucifer sudah berada di tempat Argo dan menggunakan tangan kirinya untuk melubangi jantung Argo. Lucifer menggenggam jantung Argo dan menghancurkannya di depan semua orang.


Takumi dengan murka melompat langsung menuju Lucifer, namun lagi-lagi dia menghilang dari tempatnya berada. Rigel bahkan tidak dapat mengikuti kecepatannya, apakah mungkin itu teleportasi?


"Hazama! siapkan perisai!" Rigel berteriak kepada Hazama.


Hazama tanpa membuang waktu menyiapkan perisainya, "Shield Area!"


Area Perlindungan mulai menyebar untuk melindungi Pahlawan lain, namun di saat yang bersamaan, Lucifer sudah berada di belakang Hazama.


Hazama bereaksi dan berusaha melindungi dirinya menggunakan Perisai, dia tahu tidak akan sempat.


*Pack!


Rigel dengan cepat meluncur dan mengulurkan tendangannya tepat di wajah Lucifer yang memandang Rigel. Lucifer langsung menghilang lagi dan menuju target terlemah, Yuri.


Di saat yang bersamaan, sesaat Lucifer muncul, Rigel langsung berada di sana. Lucifer merasa heran dengan Rigel yang memiliki reaksi tercepat dari yang lainnya.


"Sepertinya kau benar-benar mencari mati ya..." Lucifer berkata dengan dengki kepada Rigel.


"Sayangnya aku tidak ingin mati dua kali." Rigel menolak tawaran Lucifer dan meluncur tendang lain.


Lucifer tersenyum dan dengan sangat cepat sudah berada di belakang Rigel.


Apa?! bagaimana mungkin dia bisa berada di sana?! Jika teleportasi, seharusnya aku sudah merasakan jejak sihir darinya!


Rigel menggertakan giginya dan berbalik untuk melindungi punggungnya. Lucifer tanpa ragu mengulurkan tinjunya dan membuat Rigel terhempas ke tanah.


"Rigel!" Takumi dan yang lain melangkah maju dan mencoba menyerang Lucifer yang terus berpindah tempat dengan gila.


"Apa kau baik-baik saja??" Hazama berlari menghampirinya.


"... Ya, aku baik-baik saja... Yang lebih penting, kecepatannya itu tidak masuk akal. Itu juga bukanlah sebuah teleportasi jarak dekat... Pastinya sesuatu yang lain."


Rigel mengamati baik-baik pergerakan Lucifer yang sangat aneh. Jika itu memang bukan pergerakan alami ataupun teleportasi jarak dekat, lantas hanya satu hal yang dapat terpikirkan.


Rigel merangkak bangun dan dengan cepat melesat menuju Lucifer, meski tahu bahwa dia tidak akan bisa mengejarnya. Menyadari bahwa Rigel mendekatinya, Lucifer mulai berpindah dan menghilang. Ada satu hal yang ingin Rigel pastikan dengan ini.


"Void, Tahap dua : Penciptaan Dunia!" Rune biru muncul dari tangan kanan Rigel dan menyinari sekitar.


Di tahap ke dua ini, hukum waktu tidak akan berguna. Rigel bisa menghentikan waktu atau memperlambat dalam batas waktu tertentu. Jika kecepatan murni dan teleportasi bukan trik di balik kecepatan Lucifer, hanya satu jawaban yang dapat di pikirkan.


Dunia berwarna hitam putih dan segala benda dan mahkluk hidup yang ada tidak lagi bergerak. Hanya menyisakan Rigel dan satu orang yang berpindah ke arahnya.


"Jadi ternyata benar! Kau tidak berteleportasi atau kecepatanmu. Kau menghentikan waktu sesaat dan berpindah di dalam waktu yang terhenti!" Rigel berkata selagi menatap Lucifer yang terkejut.


Dia tidak menduga jika Rigel dapat bergerak di waktu yang terhenti ini. Trik yang di milikinya telah terungkapkan oleh Rigel. Meski dia masih bisa melakukannya, namun Rigel pasti akan menghalanginya. Tidak ada pilihan, Lucifer langsung mundur dan waktu secara bersamaan kembali ke semula.


Lucifer diam dan menatap Rigel. Dia tidak tahu apa lagi yang di miliki Rigel selain menghentikan waktu, yang pasti ada banyak kejutan yang di milikinya.


"Yah, lagipula aku sudah membunuh satu dari kalian. Urusanku dengan gerbang ini telah selesai, mungkin lebih baik aku kembali sekarang. Tenang saja, aku akan diam untuk saat ini, lebih baik kalian fokus terhadap Karaka yang ku jamin sedang mengamuk." Senyuman bengis tumbuh di bibirnya selagi membuat portal berwarna hitam.


"Jangan kabur kau!" Marcel hendak mengejarnya, namun Rigel menghentikannya untuk saat ini.


Nampaknya Lucifer saat ini berbeda dari yang dulu. Menghentikan waktu adalah sesuatu yang sulit untuk di tangani Pahlawan lain. Tidak ada pilihan lain selain membiarkannya lolos untuk saat ini.


Rigel dan yang lain menatap Lucifer yang memasuki portal dan menghilang dari hadapan mereka.


"Mengapa kau membiarkannya pergi?! dia telah membunuh Argo!" Marcel meraih kerah Rigel dengan marah.


"Pikirkanlah apa yang menjadi prioritas kita sekarang. Kekuatan Lucifer memang belum kembali, meski begitu bukan berarti dia mudah untuk di kalahkan. Lagipula, memangnya kau bisa mengatasi kecepatannya itu?!" Rigel menaikan suaranya.


Marcel diam membeku saat mengingat tentang kecepatan Lucifer. Rigel mendorong Marcel menjauh darinya.


"Gunakanlah kepalamu sebelum bertindak." Rigel berjalan pergi meninggalkan Marcel, "Sekarang, kita harus menghancurkan gerbang ini."


Mendengar itu, Sylph yang hanya sebuah cahaya kecil menyerukan pendapatnya, "Menghancurkan? apakah kita tidak menyegel nya saja, Pahlawan Rigel?"


"Menyegel nya memang mudah, namun di masa depan pasti gerbang ini akan terbuka lagi. Aku merasa jauh lebih tenang jika menghancurkannya ketimbang menyegel."


Menghancurkannya bukanlah perkara mudah. Rigel telah mengirimkan empat Nuklir sebelumnya, namun tidak membuat gerbang ini hancur. Bahkan retak pun tidak. Telah di konfirmasi bahwa detonasi dan fisik tidak akan dapat menghancurkannya. Mungkin Rigel bisa mencoba mendominasi dan menghancurkannya dengan Void.


"Kalian menjauhlah, aku akan menghancurkannya." Rune mulai muncul dari lengan kanan Rigel.


"Apa kau yakin bisa menghancurkannya, Pahlawan Rigel? Aku khawatir jika kau menghancurkannya akan ada robekan dimensi antara Neraka dengan dunia ini." Sylph menyerukan kekhawatirannya.


Rigel mengatakan, "Tenang saja, aku akan menghancurkannya secara totalitas sehingga kekhawatiranmu itu tidak akan terjadi."


Rigel mengulurkan tangan kanannya yang bersinar karena Rune. Dia menyentuh gerbang dunia bawah itu dan bergumam, "Dominasi..."


Secara perlahan, retakan sinar biru merambat ke seluruh bagian gerbang dunia bawah. Hazama menyadari sesuatu.


"Itu... Apakah itu kekuatan yang sama dengan kekuatan saat menghancurkan kepala Tortoise?" Mendengar gumam Hazama, Sylph juga terkejut.


"Jadi seperti ini, kekuatan misterius yang aku rasakan kalau hari itu..."


Mereka memandang gerbang yang hampir sepenuhnya memiliki retakan biru itu. Ketika retakan itu sepenuhnya mendominasi Gerbang, Rigel menggumamkan kata lain.


"Kembalilah menuju kehampaan."


Gerbang dunia bawah mulai di tutupi sinar kebiruan yang sangat menyilaukan. Takumi dan yang lain sampai harus menutup mata mereka karena terangnya cahaya. Sekejap, gerbang dunia bawah beserta dimensi yang terhubung ke Neraka lenyap tanpa sisa. Invasi pasukan iblis Neraka telah selesai sampai sini, namun ini bukanlah sebuah akhir. Masih ada penggila bertarung, Karaka untuk di tangani.