The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Permainan Akhir, Sebelum Akhir



Malam, disebuah tenda dengan ukuran lebih besar dari yang lainnya, tempat dimana rapat akan diadakan oleh Pahlawan, Kandidat Kaisar, eksekutif dan pemimpin Adventure Asosiasi.


Dalam sebuah meja bundar, terdapat sebuah peta dan beberapa bidak yang menggambarkan pasukan serta penempatan beberapa orang penting lainnya, seperti pemimpin korps.


"Sebaiknya kita menempatkan beberapa orang untuk menjaga garis belakang bersama dengan orang-orang yang dikhususkan membawa perbekalan," saran Asoka kepada yang lainnya.


Mereka tidak perlu bersusah payah membawa makanan di kereta atau gerobak, cukup taruh mereka di infentory. Selain keamanan terjamin, kualitas bahan tidak akan membusuk. Namun resiko terbesarnya adalah jika si pembawa mati, maka segala yang ada di penyimpanan tidak dapat dikeluarkan. Singkatnya, dibawa hingga kematian.


"Benar juga, di sayap belakang sangat rentan terhadap serangan. Akan mengerikan bilamana bandit atau serangan lain berasal dari sana," Rudeus menegaskan, setuju dengan saran Asoka.


"Aku pikir tidak akan ada orang bodoh yang mau merampok pasukan besar seperti ini. Bila ada, mereka benar-benar tidak berbakat menjadi bandit," banyol Odin selagi cekikikan.


"Yeah, meski tidak ada orang bodoh seperti itu, kita tetap harus berwaspada terhadap ancaman yang ada," balas Alexei.


"Kalau begitu, bagaimana bila Odin, Leo dan Garfiel yang mengawasi bagian belakang?" Ozaru memberikan sarannya. "Odin memiliki banyak pengalaman dan cakap, sementara Leo dan Garfiel masih butuh pengalaman. Namun mereka berdua setidaknya dapat menumbangkan beberapa bandit jika memang ada."


Bila saja Garfiel dan Leo berada di garis depan, tidak ada keraguan bahwa mereka dapat menghambat pergerakan para Pahlawan dan yang lainnya.


Meskipun garis depan bagus untuk sekedar mencari pengalaman, namun hal itu benar-benar tidak perlu dikhawatirkan karena raid kali ini bukanlah sesuatu yang bisa dimanfaatkan untuk belajar.


"Kalau begitu aku ikut bersama mereka. Dengan insting hewani milikku dan memanfaatkan kemampuan pengelihatan malamku, kemungkinan sergapan menjadi kecil."


Nadia mengangkat tangan dan berinisiatif untuk membantu pertahanan di garis belakang. Bila masalah pertahanan, pastinya Hazama dan Aland yang harus turun. Namun dengan rencana Ozaru, mereka di tempatkan di garis depan dan sayap kanan. Sementara Hazama di tengah, Gahdevi menjadi penjaga sayap kiri.


"Jika kamu tidak keberatan, maka tidak masalah. Dengan keberadaan Pahlawan seperti dirimu akan membuat yang di belakang menjadi tenang dan bersemangat, Nadia...," Ozaru sedikit lega dan melihat bagian lain yang mungkin kurang penjagaan.


Dengan absennya Rigel hari ini, otomatis Ozaru dan Marcel yang akan ambil bagian kepemimpinan dan strategi. Baginya, ini sudah biasa. Sebelum datang kemari, Ozaru adalah seorang Raja kera yang bijaksana.


Hampir tidak ada tempat untuk kekalahan saat perang terjadi. Namun, tentunya itu hanya berlaku ketika kepribadian cerdasnya yang mengambil alih. Dia dengan kepribadian bodohnya tidak akan bisa membuat taktik dalam perang, paling-paling akan menerobos langsung ke pertahanan lawannya.


"Bisakah saya menginterupsi?" sosok yang sejak awal diam—Natalia mengangkat tangan dan hendak mengajukan pertanyaan.


"Silahkan."


"Saya ingat bahwa tuan Rigel pernah menyinggung sesuatu tentang senjata dari dunianya. Saya pikir sebaiknya kita mengatur ulang formasi ketika beliau tiba."


Pesawat tanpa awaknya tidak hanya sebuah pesawat, namun berisikan bom yang akan meledak dengan benturan. Akan berbahaya bila terdapat Kesatuan Tempur yang terkena serangannya. Mereka perlu melakukan pengaturan waktu kapan dan dimana serangannya akan jatuh.


"Untuk hal itu tidak perlu khawatir. Rigel telah membahasnya denganku. Sebelum kita memulai serangan, dia akan melakukan pembukaan dengan pesawat tanpa awak dan serangan lainnya."


Semuanya telah mengetahui betapa kuatnya ledakan dari pesawat tanpa awak. Meskipun bukan ditenagai oleh nuklir, kekuatannya dapat memusnahkan sebuah desa kecil.


"Sepertinya riuh sekali di sini, ya."


Seseorang memasuki tenda. Tidak perlu lagi bertanya-tanya siapa itu, dialah Rigel. Rambut putihnya yang mencolok menjadi pembeda dirinya dengan yang lainnya.


Wajahnya sedikit melunak, sedikit sedih, banyak marah berkumpul. Dengan santai berjalan mendekati dan melihat bidak-bidak yang tersusun di meja dengan rapih. Memperhatikannya dengan cermat dan merubah susunannya.


"Jika ini peperangan tidak apalah menggunakan formasi seperti ini. Namun, tidak dijamin bahwa dia akan mengerahkan kekuatan penuh dengan mengumpulkan mereka di satu tempat. Karena itu, jauh lebih baik membuat formasi untuk satu tim yang berisi sepuluh orang atau lebih di dalamnya."


Mendengar perkataan Rigel, mereka tertegun karena sama sekali tidak memikirkannya. Wawasan mereka tidak seluas Rigel, meski telah melalui perang dan pertarungan.


Begitu mendengar perang, mereka pastinya memikirkan taktik perang keseluruhan daripada perang terpisah. Untunglah Rigel datang dan merevisi seluruh rencananya. Bila tidak, mereka hanya datang untuk dipanggang habis oleh para naga.


"Benar juga..., aku sama sekali tidak memikirkannya. Untunglah kau datang kemari Rigel," tukas Takumi, tertegun akan taktik yang baru saja dibuat Rigel.


"Yeah, nampaknya rasa pahit di lidahku berasal dari sini. Jika saja strategi semacam ini tetap digunakan dengan bodohnya, tidak mengejutkan bahwa raid ini akan gagal."


Sejak awal dia memiliki firasat tidak enak, karena itulah dia terbang dengan cepat menuju tempat ini dan benar saja, kedunguan orang-orang ini tidak tertolong.


Jika saja dia memilih datang ketika pasukan tiba, maka tidak ada kesempatan baginya untuk mengubah formasi bunuh diri ini. Dia mengakui, bila ini pertarungan dengan kekuatan penuh, ini hal yang bagus. Namun dia meyakini bahwa pertarungan ini menjadi terpisah.


"Jika satu tim berisikan sepuluh orang, bagaimana dengan lima petarung dekat, dua penyihir dan tiga pendukung??"


Bukan pilihan buruk, dengan adanya dua penyihir yang mengganggu pergerakan naga dan menekankan serangan kepada lima petarung jarak dekat kemungkinan menang sedikit meningkat. Bahkan bila mereka mulai kewalahan, terdapat regu pendukung yang siap membantu.


Meski begitu, presentasi kemenangan hanya mencapai 50 saja, tidak lebih. Untuk hal itu, mereka perlu satu regu yang dapat berlari ke medan jauh untuk membantu tim lainnya.


"Itu bagus, namun kita harus membuat regu pembantu yang dapat berpindah-pindah ke berbagai medan untuk membantu regu lain. Anggaplah regu ini dikhususkan sebagai bala bantuan."


Mengirimkan Pahlawan dalam bala bantuan memang bagus, namun mereka pasti akan kelelahan sebelum mencapai tempat Acnologia.


Perlu bagi mereka untuk menumbangkan pemimpin terlebih dahulu dan membuat para naga tidak lagi memiliki orang yang memimpin. Selain itu, masih terdapat sosok misterius yang menculik Priscilla untuk dihadapi.


"Mungkin kalian para Kandidat Kaisar Surgawi dan juga eksekutif lain yang akan menjadi bala bantuan. Tentunya aku akan memilih kepada kalian yang memiliki stamina besar dan mampu bertarung di medan manapun...," dia menyentuh dagunya dan memikirkan nama-nama orang yang cocok untuk tugas itu.


Nama Gahdevi, Evankhell, Odin, Natalia dan Fang terukir dalam kepalanya. Garfiel dan Leo boleh jadi bergabung dalam regu itu, namun ada kekhawatiran mereka berdua akan menghambat pergerakan yang lainnya.


"Jika memang harus, maka regu penyelamat perlu seorang pendukung yang cakap. Maka...," pandangannya berakhir pada Misa, mantan penyihir saat Rigel masih bertarung bersamanya dan Asoka.


"Misa, kamu boleh jadi orang yang tepat untuk menjadi pendukung di regu penyelamat. Untuk anggotanya mungkin Gahdevi, Odin, Fang, Natalia, Kandidat dan Evankhell."


Tidak ada yang menolak akan sarannya sehingga telah diputuskan dengan mudahnya. Di lain sisi, Ozaru yang diam memikirkan baik-baik rencana Rigel.


"Aku setuju dengan pembentukan regu bantuan, namun sebaiknya kita membuat dua kelompok agar tidak menimbulkan beban kelelahan yang berlebihan karena harus berpindah ke berbagai tempat."


Disaat Rigel memikirkan jalan terbaik, Evankhell mengangkat tangan dan menginterupsi pembicaraan.


"Maaf menyela, Pahlawan yang Agung. Saya sendiri bisa menjadi seorang pendukung selagi menyerang. Namun, pergerakan saya akan lebih lambat dan tidak efektif bila bertugas sebagai pendukung juga. Jadi, mungkin terdapat keperluan untuk menambah anggota lagi."


"Aku tentu memikirkannya. Namun yang tersisa hanyalah Leo dan Garfiel, mereka cukup berkemampuan tapi kurang dalam pengalaman."


"Menurut saya itu tidak masalah. Bahkan jika mereka kurang pengalaman, selama mereka tidak bertindak gegabah maka tidak masalah."


Jika begitu sudah diputuskan bahwa Leo dan Garfiel akan bergabung di regu bantuan. Setelahnya, mereka membahas beberapa hal lain seperti pengaturan strategi, penempatan pertahanan selama perjalanan menuju Tanah Naga Yang Terlupakan. Tempat di hutan naga, sebuah tempat yang menjadi rumah bagi Acnologia.


Tidak ada hal spesial terjadi selama hari yang tersisa. Bahkan tidak ada serangan apapun selain goblin dan monster kecil lainnya. Sampai akhirnya, mereka tiba di perbatasan hutan naga tanpa kejadian berarti.


[***]


"Mulai dari sini, hidup dan mati kalian bergantung pada diri kalian sendiri," tukas Rigel dengan suara keras hingga semua orang mendengarnya. "Bertarunglah dengan segenap jiwa dan raga, korbankan darah demi kebebasan!"


Berdiri di depan perbatasan hutan naga yang dikelilingi pohon-pohon besar, tiga kali lebih besar dari biasanya. Kabut menutupi hutannya, tidak memungkinkan untuk melihat bagian dalam hutannya seakan memang dibuat untuk tujuan itu.


"Kita adalah manusia, suatu saat memang akan mati. Tidak perlu takut akan kematian menghampiri karena mereka selalu menghantui! Kerahkanlah jiwa, raga, air mata, bahkan cinta demi memenangkan raid ini!! Untuk MASA DEPAN!!!"


Mengangkat tinjunya tinggi-tinggi, Rigel menanamkan keberanian kepada hati para pejuang, membuat mereka berani mengorbankan nyawa hanya untuk masa depan orang-orang yang mereka cintai.


"UNTUK MASA DEPAN!!" Evankhell ikut berteriak dan mengangkat tinjunya dalam api membara di hati.


"MASA DEPAN!!!" Semua orang mengikuti, memberikan teriakan tak kenal takut dan membuat langit tertegun akan keberanian serta pengorbanan mereka.


Memimpin penyerbuan, Rigel berlari tanpa takut memasuki hutan naga. Diikuti Pahlawan lain hingga akhirnya semua prajurit menerobos masuk tanpa keraguan.


Keyakinan akan kemenangan tak tergoyahkan, hati tak lagi tergentarkan, keberanian tak lagi bisa dihancurkan. Bahkan jika memang harus mati di tempat ini, tanah asing ini, dengan lapang dada mereka berikan nyawa untuk masa depan cerah.


[***]


Tempat yang jauh, Tanah Naga Terlupakan, satu ekor naga berbaring santai, membiarkan satu sosok dengan santai berbaring di hidungnya. Perlahan, mereka membuka matanya di saat yang bersamaan, dalam sesaat bibir melengkung.


BOMB!!


Ledakan besar terjadi. Tidak hanya satu, tapi ada banyak dari mereka. Mereka bisa melihat jelas bahwa pertarungan perlahan mulai menyebar ke berbagai tempat terpisah.


"Sepertinya mereka sudah tiba. Mereka tidak cukup bodoh untuk menggunakan taktik perang berupa kekuatan penuh. Boleh juga."


"Yea, nampaknya ada sosok yang benar-benar berpengaruh besar terhadap mereka."


Sosok itu mengangguk setuju, wajahnya terlihat sangat-sangat senang. Permainan yang lama dia tunggu akhirnya tiba, kebosanannya akan segera menghilang. Tidak lama lagi, dia akan merasakan adrenalin. Bahkan sekarang ini hatinya berdegup cepat.


"Sepertinya sudah dimulai, aku dapat merasakan sepuluh naga campuran pergi ke alam lain. Hahaha, sepertinya ini benar-benar mendebarkan."


Dia mulai melayang di udara, menatap tempat yang jauh dan merasakan tatapan membunuh yang sangat besar menatap balik dari tempat yang jauh itu.


Rambut putih, tatapan yang seakan kau tidak bisa lolos darinya. Bibirnya menggumamkan sesuatu, tentunya suara tidak akan mencapai namun dia memahami apa yang berusaha disampaikan pria berambut putih itu.


'Aku akan membunuhmu, menghina dirimu hingga ke tulang sum-sum.'


Sungguh kata-kata mengerikan dan sedikit menggelikan. Di saat bersamaan, dirinya merasakan sosok lain memasuki hutan. Alhasil, hatinya berdetak kencang akan kebahagiaan.


Lantas dia tersenyum, merentangkan kedua tangan di atas pasukan naga yang tersebar ke berbagai tempat di hutan ini.


"Sekarang, mari kita mulai permainan akhir sebelum menuju akhir! Buatlah aku terhibur sampai ubun-ubunku bergetar kuat!! Datang dan bunuhlah aku, wahai mahkluk rendah nan menjijikkan!!!"


Dengan rasa jijik dan penghinaan yang tidak sedikitpun coba ditahan, dia menyatakan kepada semua peserta dalam game untuk mencoba membunuhnya tanpa keraguan.


Bersamaan dengan pernyataan tanpa rasa takutnya, tanah di sekitar mulai bergetar, dengan kemunculan naga hitam dengan garis biru yang berjalan layaknya manusia. Cahaya bulat hitam dan putih terbang di kedua sisinya, dengan cakar-cakarnya yang tajam nan mematikan.


"Huh~, sangat lama rasanya tidak merasakan perasaan ini. Gembira, adrenalin meningkat, haus darah, jantung berpacu dengan irama menenangkan..."


Sosok besar—Acnologia keluar dari sarangnya, menatap pertempuran yang mulai kacau di kejauhan dan para naga bergegas menghabisi mereka yang menyerang.


Dengan taring-taringnya yang terekspos dia menarik nafas dalam dan—


Roaarrrrwwwrrr!!!


—mengaum dengan keras, membuat seisi hutan gemetar, jatuh dalam ketakutan dan kepanikan. Auman keras yang dapat membuat gunung melarikan diri darinya, Tekanan Kematian.


[***]


"Ugh! Ini sangat berisik! Pekikan apa ini?!!" tukas Odin, menutup telinganya rapat-rapat namun suara keras tetap menembus gendang telinganya.


"Auman ini— berasal dari puncak gunung di sana itu!!" tukas Evankhell, menuju gunung tinggi yang dapat melihat seisi hutan.


"Tidak salah lagi, itu Acnologia. Dengan sengaja dia dan penculik bangsatt itu mengekspos lokasi mereka dan mengundang kita langsung ke tempatnya," tukas Rigel menatap tatapan yang menatapnya dari kejauhan.


"Dengarkan ini baik-baik penculik dan kadal goblok. Akan kubunuh kau, lalu kuhina kematian kalian sampai tulang sum-sum!!"