
Empat puluh menit sebelum para Pahlawan berhasil memenggal kepala Tortoise, Tirith yang sudah berangkat pergi menuju tempat pasukan Region berada hampir mencapai pelabuhan. Meski tidak yakin apakah mereka benar-benar ada di sana dan apakah Rigel mau mendengarkannya, dia hanya bisa berharap dan berdoa. Tirith menaiki kereta Naga dan mengendarainya sendiri. Dia mengenakan baju tempur dan membawa pedangnya. Kalau-kalau ada bandit atau monster yang menyerangnya.
"Ayolah, tidak bisakah kalian berlari lebih cepat..." Tirith menggerutu sendiri terhadap Naga yang membawa keretanya.
Tidak lama setelah melalui hutan, Tirith akhirnya keluar dari hutan dan pelabuhan sudah terlihat di depan matanya. Bahkan dari jarak ini, Tirith sudah dapat melihat tiang kapal yang berbeda dari kapal biasanya dan banyak prajurit dengan senjata aneh di tangan mereka. Dari hal ini, sudah jelas bahwa mereka berasal dari Region.
Dua orang prajurit Demi-human dengan senjata api di tangan mereka menghadang arah lajunya kereta Naga Tirith.
"Berhenti!" Teriak prajurit itu.
Tirith dengan cepat menghentikan keretanya dan melompat keluar dari kereta. Para prajurit itu mengenalinya dan seketika langsung memberi hormat sedikit dan bertanya.
"Apa anda juga ingin mengungsi atau ada hal lain yang Anda inginkan, Tuan Putri Tirith?" Tanyanya dengan sopan.
Tirith mengangguk dan mengatakan, "Izinkan aku untuk bertemu petinggi kalian di sini. Aku memiliki sesuatu untuk di sampaikan padanya." Ujar Tirith dengan serius.
Para prajurit menyadari bahwa wajah Tirith mengatakan bahwa ini masalah yang benar-benar serius. Salah satu dari Prajurit itu pergi duluan dan yang satunya lagi menghantarkan Tirith ke sebuah tenda untuk menunggu.
"Silahkan tunggu di sini, Tuan putri Tirith, pemimpin kami di area ini akan datang menemuimu." Ujar Prajurit itu dan meninggalkan tenda.
Tirith melihat-lihat bagian dalam tenda untuk membuang waktunya. Tenda ini tidak jauh berbeda dari yang biasanya dan tidak ada hal spesial apapaun mengenainya. Tidak butuh waktu lama sampai pemimpin mereka di wilayah ini datang. Sosok yang menjadi pemimpin di wilayah ini nampaknya adalah seorang gadis bangsawan bernama Merial dari keluarga Ainsworth.
"Maaf membuatmu menunggu, Tuan Putri... Mari kita langsung persingkat saja. Apa ada sesuatu yang kau inginkan?" Tanya Merial selagi sedikit membungkuk hormat.
Tirith mengerti bahwa di dalam situasi tegang macam ini mempersingkat pembicaraan adalah hal yang utama. Jadi, dia hanya perlu mengatakan maksud kedatangannya dengan sangat jelas.
"Pertemukanlah aku dengan Rigel." Ujar Tirith dengan sangat serius.
Merial mungkin tampak sudah menduga bahwa itu alasan Tirith datang jauh-jauh ke sini.
"Apa yang akan anda lakukan jika saja aku mempertemukan anda dengan Tuan Rigel?" Tanya Merial untuk mengkonfirmasi.
Tirith tidak langsung menjawab. Dia sedikit menunduk namun dia mengepalkan jari-jarinya untuk memperkuatkan tekadnya dan kembali menatap Merial dengan penuh keyakinan.
"Aku.... Aku akan meminta Rigel untuk membantu para Pahlawan dan mengalahkan Tortoise itu!" Ujar Tirith.
Merial memejamkan matanya dan tersenyum. "Jadi begitu ya, aku sudah menduga bahwa itu yang akan anda katakan, Tuan Putri." Ujar Merial, namun wajahnya berubah menjadi sedikit sedih. "Namun sayangnya, atas perintah Tuan Rigel sendiri, dia meminta kami untuk tidak mengizinkan siapapun menemuinya." Lanjut Merial.
Tirith terbelalak kaget, dia tidak percaya bahwa Rigel telah membuat perintah semacam itu. Apakah dia tahu bahwa Tirith akan datang dan meminta pertolongannya?
"Tidak.mungkin... Tolonglah! tidak bisakah kau mempertemukanku dengan Rigel?! jika kita biarkan, para pahlawan bisa saja mati dan ada lebih banyak korban jiwa!" Ujar Tirith dengan sedih.
Merial juga tampak bermasalah dengan apa yang di katakan Tirith. Dia juga benar-benar tidak setuju dengan rencana Rigel untuk membiarkan Britannia hancur dan menjadikan para pengungsi sebagai umpan kepada Tortoise. Merial tidak yakin haruskah dia melanggar perintah Rigel dan membiarkan Tirith bertemu dengannya atau menolak mempertemukan Tirith dengan Rigel.
"Kumohon, pertemukanlah aku dengan Rigel! aku akan membujuknya sebisa mungkin untuk turut andil melawan Tortoise sekarang juga..." Ujar Tirith, pandangannya tertunduk.
Merial masih ragu dan berfikir keras. Dia memikirkan bahwa jika Tirith menemui Rigel dan berhasil membujuknya, ada kemungkinan bahwa rencana Rigel berubah sepenuhnya. Namun kemungkinan keberhasilannya tidak di ketahui. Rigel saat ini benar-benar berbeda dari dirinya yang sebenarnya. Rigel awalnya adalah seseorang yang tidak akan membiarkan orang lain terluka, namun sekarang, dia justru menjadikan nyawa banyak orang sebagai umpan untuk menarik minat Tortoise. Selagi Merial dalam dilema, Seseorang memasuki tenda.
"Nona Merial dan Tuan putri Tirith? Apa yang Anda lakukan di sini?"
Orang yang datang itu adalah Misa, gadis penyihir cantik yang hampir tidak terlihat lagi. Karena mengetahui bahwa Tortoise terbangun dari tidurxMiaa menolak untuk duduk di kursinya selagi meneliti apa yang Rigel minta kepadanya. Oleh karena itu, dia ingin ikut andil kali ini.
"Tuan putri Tirith ingin menemui Tuan Rigel. Kau tahu sendiri bahwa Tuan Rigel melarang kita mengirim siapapun untuk menemuinya." Ujar Merial.
Merial terkejut mendengar apa yang baru saja di ucapkan Misa. Dia hendak menghentikannya, namun pandangan Misa mengatakan bahwa dia akan memberitahu rinciannya nanti. Misa membawa Tirith ke kapal untuk pergi menuju Lift Teleport yang telah di sediakan. Merial mengikuti Misa dan Tirith dari belakang. Dia tidak tahu apa rencana Misa untuk membiarkan Tirith pergi menemui Rigel. Mungkinkah Misa bertaruh bahwa Tirith dapat merubah rencana Rigel yang sudah siap? jika memang benar maka apa yang telah di persiapkan Rigel selama ini akan sia-sia.
Merial, Tirith dan Misa telah mencapai dimana Lift Teleport berada. Misa meminta Tirith untuk berdiri di atas kristal persegi itu.
"Kesini tuan Putri, anda akan langsung di pindahkan ke pintu gerbang Region. Jika perkiraanku benar, Tuan Rigel pasti juga mengawasi gerbang jadi dia akan menyadari bahwa anda pergi ke sini." Ujar Misa.
"Terima kasih banyak, Misa!" Ujar Tirith.
"Aku memiliki satu permintaan untukmu, Tuan Putri. Tolong, tolong bujuk Tuan Rigel untuk menghentikan rencana yang sedang dia kerjakan saat ini dan minta dia untuk langsung turun tangan dan membantu pahlawan lain!" Ujar Misa dengan memohon.
Merial terkejut dengan Misa yang langsung menyerukan permohonannya. Sepertinya dia juga tidak setuju dengan rencana Rigel saat ini.
"Aku juga memohon padamu, Tuan Putri... Jujur saja aku tidak menerima rencana Tuan Rigel saat ini, namun aku tidak memiliki tempat untuk menolaknya..." Merial juga ikut memohon kepada Tirith.
Tirith tersenyum kepada mereka berdua dan mengatakan, "Tentu! aku akan melakukan apa saja agar Rigel mau membantu para pahlawan lain! aku berjanji!" Ujar Tirith dengan semangat.
Merial dan Misa tersenyum. Melihat Tirith yang penuh tekad seperti ini, mereka yakin entah bagaimana Tirith pasti akan menemukan cara untuk mengubah pemikiran Rigel.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan mengirim mu langsung... Teleport!" Ujar Misa, mengaktifkan Lift Teleport.
Cahaya putih ke biruan menutupi Tirith dan dalam sekejap dia langsung menuju gerbang masuk Region. Merial langsung menanyakan Motif Misa.
"Jadi, bisakah kau menjelaskannya sekarang?" Tanya Merial.
Sebelum menjawab, Misa melihat-lihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang akan mendengar pembicaraan mereka.
"... Kau tahu kan bahwa aku di suruh meneliti beberapa hal oleh Tuan Rigel?" Tanya Misa.
"Ya, aku ingat kau melakukan penelitian rahasia yang di suruh Tuan Rigel." Ujar Merial.
"Aku tidak tahu apa rencana Tuan Rigel, namun yang jelas, aku dapat menyimpulkan bahwa Tuan Rigel kemungkinan berniat membunuh pahlawan lain." Ujar Misa, berbisik ke telinga Merial.
"Hal tidak masuk akal apa yang kau katakan, Misa?! Bukankah itu tidak mungkin?!" Ujar Merial, terkejut dan tidak percaya.
Reaksi Merial sungguh wajar. Apa yang di katakan Misa adalah sesuatu yang tidak akan pernah terfikirkan oleh siapapun. Bahkan orang bodoh tidak akan mencapai pemikiran seperti itu.
"Aku juga tidak mempercayainya, ini hanya teoriku. Hal yang Tuan Rigel minta untukku teliti adalah tentang pemanggilan pahlawan legendaris dan mencari tahu apakah ada kemungkinan memanggil pahlawan lain jika salah satunya mati." Ujar Misa.
"M-memanggil pahlawan lain??" Gumam Merial, terkejut.
"Ya" Misa mengangguk, "Pada awalnya aku berfikir bahwa Tuan Rigel meminta itu untuk berjaga-jaga. Namun, semenjak Tortoise bangun dan Tuan Rigel yang tidak berniat menolong mereka, aku pikir tujuannya bukan untuk berjaga-jaga, melainkan memanggil pahlawan lain yang berada di bawah kendalinya." Lanjut Misa dengan pahit.
Memang benar bahwa Teori itu masuk akal dan cukup kuat, namun itu belum tentu benar sepenuhnya. Bisa saja, Rigel memiliki tujuan yang jauh lebih besar dari itu.
"Tidak kusangka akan sampai sejauh itu." Gumam Merial dengan sedih.
"Ya, aku pun terkejut dan tidak percaya... Dia bukan lagi Tuan Rigel yang aku kenal." Gumam Misa.
"... Sisanya, kita hanya bisa bertaruh kepada Putri Tirith untuk mengubah rencana Tuan Rigel." Gumam Merial, menatap Lift Teleport.