The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Pahlawan dalam dongeng



///POV KAMADA TAKUMI.///


Aku melihat kerajaan Britannia untuk terakhir kalinya, aku tidak akan kembali kesini untuk waktu yang lama dan mungkin aku akan sedikit merindukannya.


Di beberapa tempat, hatiku merasakan rasa sakit yang tidak dapat dijelaskan saat perpisahan saya dengan Yuri.


Meskipun aku tahu bahwa dia berusaha agar tidak ada air mata saat mengantar kepergianku. Namun, aku tidak bisa menunda lebih lama pengembaraanku.


Lagipula, cepat atau lambat peperangan akan segera dimulai. Sebelum waktunya tiba, aku harus berusaha menjadi sekuat mungkin.


"Tunggu aku, iblis keparat. Aku akan menemuimu sampai aku cukup kuat untuk mengalahkanmu, Diablo."


Aku sekali lagi menggumamkan kata kata itu untuk memperkuat tekadku untuk membalaskan kematian Rigel.


Karena permainan yang diajukan iblis itu, Rigel kehilangan Divine Protection of Hero miliknya, sehingga kekuatannya mungkin akan lepas kendali dan menjadi pahlawan yang tersesat.


Sehingga untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, dia terpaksa harus mati.


'ahh! Sudah cukup Takumi, sekarang bukan waktunya memikirkan itu.'


Aku menggelengkan kepalaku dan fokus pada tujuanku. Tujuanku adalah desa kecil di wilayah bagian timur.


Dari yang kudengar, desa itu sedang dalam keadaan kacau karena serangan monster yang memiliki sayap dengan badan singa, ekor kalajengking dan kepala elang yang mungkin lebih akrab dipanggil manticore.


Manticore sering menyerang orang orang dan ternak dari desa itu. Meskipun mereka sudah mengajukan quest penaklukan kepada guild, namun belum ada petualang yang mencoba menaklukannya.


Manticore berbeda dengan monster lainnya. Dia monster yang memiliki kecerdasan meskipun tidak secerdas naga.


Manticore cenderung aktif saat malam hari, dimana semua orang sedang tertidur,bahkan terkadang mereka akan menggunakan perangkap kecil untuk menjebak orang orang.


Selain kecerdasan dan kelicikannya, dia juga merupakan monster yang kuat, pertarungan ini tidak akan mudah bahkan bagiku yang seorang pahlawan.


Jaraknya cukup jauh, butuh waktu 2 hari untuk sampai menggunakan pedati meskipun akan lebih mudah bagiku menggunakan teleportasi,


Namun penggunaan teleportasi hanya memungkinkanmu berpindah ketempat yang sudah kau kunjungi dan tandai.


Dengan menarik pedati, akan membantuku menyamar sebagai pedagang keliling. Aku hanya membawa beberapa pakaian, makanan dan minuman serta beberapa potion.


Di tengah perjalananku, aku melihat seorang pemuda laki laki yang terlihat seumuran denganku yang sedang terengah engah. Dia mengenakan pelindung dada dan ada sebuah pedang di pinggangnya.


'Apa mungkin dia seorang petualang?' pikir Takumi.


Lalu, dia melambaikan tangannya kepadaku seolah ingin aku untuk berhenti. Tanpa kata kata, aku berhenti tepat di depannya.


"Apa yang kau inginkan?"


tanya Takumi dingin.


"Bo-Bolehkah a a aku menumpang denganmu, tuan?" ucapnya terengah engah.


Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan apakah ada orang lain disekitar kami. Bila ada, kemungkinan besar bocah ini seorang bandit.


Setelah beberapa saat melihat lihat, tidak ada siapapun disekitar kami.


"Naiklah."


Ucap Takumi sambil mengulurkan tangannya.


Bocah itu menerima uluran tangannya dan naik ke pedati Takumi.


"Terima kasih, tuan."


"Ya. Omong-omong apa yang membuatmu begitu terengah engah?"


Tanya Takumi penasaran.


"Ini adalah hari pertamaku menjadi seorang petualang. Aku mengambil Quest membunuh beberapa goblin karena kupikir mereka hanyalah mahkluk bodoh dan lemah.


Saat aku berhasil membunuh beberapa, mereka lari kedalam hutan dan aku mengejarnya lalu yang mengejutkannya aku masuk ke perangkap mereka dan terkepung."


"Lalu, bagaimana caramu kabur dari mereka tanpa terluka?"


"Yah, aku beruntung karena memiliki gulungan yang berisikan elemen cahaya yang membutakan, jadi aku menggunakannya dan entah bagaimana aku berhasil menghindari amarah mereka dengan selamat."


Dia bersandar dan tertawa. Takumi tertawa geli mendengarkan cerita pemuda itu.


"Omong-omong apakah kau juga seorang petualang, ee..."


Ucap pemuda itu bingung.


"Panggil saja, Takumi." ucap Takumi. "Kenapa kau berpikir bahwa aku seorang petualang?" Tanya Takumi.


Seharusnya aku terlihat seperti seorang pedagang ketimbang petualang. Aku telah mengecilkan tombakku agar tidak terlihat.


"Ah, kalau begitu panggil saja aku, Bell. Aku berpikir kau seorang petualang karena,


kau duduk dengan postur tubuh yang tegak dan kau tidak pelit seperti para pedagang pada umumnya.


Lalu, aku tahu kau menyimpan senjata jarak menengah di punggungmu, bukan?"


Dia tersenyum.


Takumi sedikit Terkejut dan mulai terkekeh.


"Dasar, bocah yang tajam." Ucapnya.


ucap Bell.


"Hm, kita seumuran sepertinya."


ucap Takumi.


"Kemana tujuanmu, Takumi?"


Tanya Bell.


"Aku ingin pergi ke desa kecil di bagian timur. Ada beberapa hal yang ingin kulakukan."


"Apa maksudmu desa silvet?"


Aku mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu bisakah aku menumpang sampai sana? Desa itu adalah tempat tinggalku, aku tahu rute tercepat dan aman menuju kesana."


"ya, melakukan perjalanan seorang diri membosankan, jadi baiklah."


Aku dan bell sama sama tersenyum. Kami membicarakan beberapa hal hingga tanpa sadar langit telah gelap dan kami memutuskan untuk berkemah di hutan sekitar.


Aku mengumpulkan beberapa kayu kering untuk dibakar dan menyiapkan makan malam untuk kami. Bell mengumpulkan kayu bakar yang ku ambil dan menggumamkan mantra


"Uraikanlah hukum alam dan bentuklah api kecil sesuai keinginanku, Fire!"


Api kecil keluar dari telunjuk jarinya dan dia membakar kayu kayu kering hingga api tercipta.


"Whoa, kau bisa menggunakan sihir api?"


Tanya Takumi.


"yaa, aku bisa menggunakan beberapa jenis sihir."


Bell dengan malu menggaruk kepalanya.


Kami telah selesai makan, saat ini kami sedang menghangatkan diri di dekat api unggun.


"Nah, Bell. Kenapa kau memilih menjadi petualang sebagai pekerjaanmu?"


Tanya Takumi.


Bell terdiam untuk beberapa saat. Hanya ada suara angin yang berhembus serta kayu yang terbakar. Lalu, dia mulai bicara.


"Yah, ini bukan kisah yang bagus untuk diceritakan. Tetapi baiklah, akan kuberitahu alasanku."


Bell tersenyum kepada Takumi dan mulai menceritakan alasannya menjadi petualang.


"Saat aku masih kecil, ibuku selalu menceritakan sebuah kisah tentang pahlawan.


Pahlawan itu sosok yang berani, mereka bertarung untuk melindungi manusia dan orang yang mereka cintai,


Mereka membasmi banyak monster kuat untuk melindungi rakyat dan negara tanpa memperdulikan nyawa mereka.


Pada awalnya aku sangat mengagumi sosok pahlawan seperti dalam cerita ibuku. Namun, semuanya berubah pada hari itu."


Wajah Bell berubah menjadi amarah dan kebencian yang mendalam.


"Saat itu, pada malam hari sekumpulan bandit menyerang desaku. Mereka membunuh, mencincang warga desaku dan menjadikannya makanan monster.


Saat bandit datang aku bersembunyi di loteng bawah tanah. Ibuku bilang bahwa dia akan baik baik saja tapi. Didepan mataku,


Mereka memperkosa ibu dan kakak perempuanku secara bergantian tepat didepan mataku. Yang terburuknya, mereka menjadikan ibuku makanan monster


Sementara mereka membawa kakak perempuanku."


"Saat itu aku hanya bisa bersembunyi ketakutan. Aku sangat berharap bahwa pahlawan akan muncul untuk menyelamatkan kami."


"Aku berfikir bahwa mereka tidak seperti pahlawan dalam cerita, mereka hanyalah sekumpulan orang egois."


"Di saat itulah aku memutuskan. Aku akan menjadi kuat hingga para ******** seperti mereka bertepuk lutut dihadapanku,"


"Dan untuk alasan itulah aku menjadi petualang demi mengumpulkan banyak prestasi dan menjadi kuat. Mungkin ini terdengar kekanakan"


"Namun aku bercita cita untuk menjadi pahlawan seperti yang diceritakan ibuku. Sosok yang akan membuang nyawanya demi kebahagiaan orang orang."


Aku terus diam sembari mendengarkan cerita Bell, meskipun sudah berakhir. Dia tidaklah salah tentang pahlawan merupakan mahkluk yang egois.


Aku bahkan pergi mengembara demi keegoisanku sendiri untuk menjadi kuat dan membunuh iblis sialan itu.


Reaksi seperti apa yang akan ditunjukan Bell jika dia mengetahui, bahwa aku adalah salah satu pahlawan yang egois itu.


"Meskipun Cita citamu kekanak kanakan yang terpenting adalah tujuanmu dan apa yang ingin kau capai di akhir.


Menurutku, tujuanmu yang ingin membuat banyak orang bahagia, itu bukanlah hal yang patut di tertawakan. Jika sampai waktu itu tiba, aku ingin kau mentraktirku minum."


Takumi memukul pelan dada Bell. Bell memiliki wajah yang terkejut, matanya berkilau karena air mata yang tertahan dan diapun tersenyum.


"Kau benar. Hari sudah gelap bagaimana kalau kita tidur?"


Takumi tersenyum dan mengangguk menerima saran Bell. Tidak ada apapun yang terjadi, jadi kami menikmati tidur yang damai tanpa ada gangguan dan bersiap untuk berangkat pada pagi hari.