
Langit mulai diselimuti awan hitam, karena keberadaan matahari yang seiring dengan waktu menghilang. Rigel tetap bertapa di tempat yang sama dengan sebelumnya, hingga akhirnya dia membuka matanya dan menemukan Region disinari oleh lampu-lampu indah.
Namun bukan hal itu yang membuatnya menghentikan mengumpulkan kekuatan, tetapi kehadiran lain yang tidak bisa diabaikan mendekatinya.
Wosh!
Angin kencang menghempaskan dedaunan kering dan membuat bumi bergetar dengan hanya kebasan sayapnya yang lebar. Erangan besar dan udara hangat menyelimuti tubuhnya. Tidak perlu lagi baginya mencari tahu siapa itu.
"Apa yang membawamu kemari?"
"Tidak..., aku hanya ingin mengobrol beberapa hal tentangmu. Selama ini, aku telah mengamati bahwa umat manusia telah bergabung di bawah telapak tanganmu..." dia menatap tempat yang sama dengan Rigel dan duduk seperti anak anjing.
Sepertinya dia tidak hanya dia dan berbaring di gua saja, buktinya dia dapat mengetahui hal itu. Rigel meyakini, selagi dirinya tidak melihat, Red melakukan sesuatu seperti berkelana ke berbagai tempat untuk mencari informasi.
Mengenai perkataannya, meskipun perlahan, namun seluruh dunia memang mulai bersatu di bawah tangannya. Mungkin mereka menyadari, bahwasanya para Pahlawan akan menaklukkan para malapetaka lebih dahulu. Maka dari itu, negara yang awalnya tidak turut andil kini mengulurkan tangan mereka untuk membantu.
Entah butuh berapa lama lagi hingga akhir tiba, yang jelas ini bagus bila seluruh manusia perlahan bersatu secepat ini.
"Begitulah. Aku sendiri terkejut dengan banyaknya permintaan dari mereka untuk membuat hubungan baik dengan kami."
Red hanya diam dan mengangguk, hingga akhirnya setelah basa-basi, dia masuk ke poin utama yang hendak dibincangkan.
"Rekanku yang terpencar setuju untuk membantu, tentunya dengan kondisi yang diriku inginkan."
Kondisi yang dimaksud adalah dimana pihak Rigel memegang kendali, tidak terlihat terpuruk. Untuk itulah sangat penting memegang kendali pertarungan diawal, karena bala bantuan dari Red akan tiba pada saat itu juga.
"Hah, kalian benar-benar egois. Kami telah begitu baik untuk menyelesaikan masalah kalian demi kepentingan kami sendiri, namun kalian hanya akan membantu kami ketika tahu pihak kami akan menang."
Dia tidak berniat menyembunyikan rasa kesalnya sedikitpun. Bilamana bantuan Red datang sejak awal, maka jalan kemenangan untuk mengatasi para darah murni telah ditetapkan. Yang tersisa hanya dari mereka yang tidak memiliki darah murni, lalu Acnologia dan sosok misterius diakhir.
"Terserah apa katamu. Kami melakukannya demi menghindari kepunahan masal, dari ras Naga yang masih waras. Yeah, mari kesampingkan..." dia menghembuskan nafas lelah dan menatap Rigel dengan mata mahkluk buasnya.
"Bila saja diriku hampir mati ditangan bajingan Acnologia, bisakah kau menggunakan api biru yang kau dapatkan dari Phoenix untuk meledakan kristal Naga milikku bersama dengannya??"
Permintaan yang tidak terduga, lantas Rigel sangat terkejut. Dia sendiri tidak meragukan kekuatan Red, namun mengingat dia memiliki pemikiran untuk mati, maka Acnologia sendiri nampak jelas berkali-kali lipat kuatnya.
"Tidak hanya aku. Tetapi rekan-rekanku yang lain, ledakan kristal Naga kami bersamaan. Setidaknya hal itu dapat menunjukkan bahwa kami akan terus melawannya sampai akhir. Demi membebaskan ras kami, nyawa ini kan dikorbankan."
Dengan mudahnya menginginkan kematian, mengikhlaskannya. Hanya Naga dan sosok lain yang hidup terlalu lama dapat mengikhlaskan kematiannya.
Berbeda dengan manusia, selalu dihantui oleh rasa takut akan kematian. Naga telah hidup dalam jangkauan umur yang tidak akan dicapai manusia. Dapat hidup seratus tahun terbilang hebat, namun bagi Naga itu hanya seumuran bayi.
Rigel sendiri terbilang pernah mati satu kali dan meskipun begitu dia merasa takut akan kematian itu mendekatinya lagi. Karena itulah dia terus mencari kekuatan, bertekad dan berjuang sekuat tenaga untuk tetap hidup.
"Mengapa tiba-tiba? Lalu kapan saat aku harus melakukannya??"
"Mengapa, ya..., seperti katamu, kami terlalu egois. Meski dapat hidup bebas, namun dosa membiarkan sesama kami menderita tidak termaafkan. Kami terus mengumpulkan kekuatan demi pembalasan, lalu mati di medan perang. Untuk menebusnya, tanpa ragu kami mengorbankan nyawa. Sebagai harga untuk mencapai kebebasan ras Naga..." tuturnya, menatap langit dengan penuh arti. Seakan dirinya tidak akan pernah bisa menatap langit biru.
Mereka yang melarikan diri dari tanah airnya dapat merasakan kebebasan dalam waktu lama. Namun tidak bagi mereka yang tertinggal di tanah air. Merasakan penderitaan tiada akhir, menjadi subyek percobaan Acnologia dan mati dibawah cakarnya.
Selama masa kebebasan bagi mereka yang melarikan diri, tidak sedetikpun melupakan dendam akan sesamanya yang diperbudak Acnologia. Selama tenggat waktu yang ada, mengumpulkan kekuatan dan tiba waktunya untuk melampiaskan dendam lebih dari dua ribu tahun.
"Jadi kau berniat membeli kebebasan dengan nyawa dan membuat Naga yang diperbudak Acnologia merasakan kebebasan, ya?" tujuan yang benar-benar mulia dan mengharukan.
"Diriku tidak meminta imbalan apapun dari melakukanya. Cukup dengan membuat mereka mendapatkan kembali kebebasannya. Karena itulah, aku mempertaruhkan segalanya kepadamu yang seorang manusia, Pahlawan, Messiah dan Sahabat manusiaku..." wajahnya yang sulit dibedakan mulai melembut. Tatapan mengerikannya kontras dengan raut wajahnya.
Rigel sendiri tidak mengingat bahwa dia memiliki kedekatan atau semacamnya, sampai dapat dipanggil sahabat olehnya. Namun, tidak ada kerugian yang diterima dari membiarkan panggilan semacam itu.
"Suatu kehormatan menjadi sahabat seekor Naga? sayangnya aku sama sekali tidak merasakan apapun darinya..." Rigel cekikikan dan mengirim batuk kecil yang disengaja.
"Baiklah, hari sudah gelap. Ada hal lain yang perlu kulakukan dan tidak bisa dihindari. Mengenai keinginanmu sebelumnya—" dia kembali memikirkan akankah aman untuk mewujudkannya atau tidak dan memutuskan. "— akan kulakukan."
Seakan sudah menantikan jawabannya semenjak lama, Red membuang nafas yang nampak sebuah kelegaan. Mungkin dia tidak ingin orang lain selain Rigel yang membunuhnya. Maka boleh jadi, ini menjadi saat-saat terakhir mereka bersama.
"Mulai dari sekarang, apa yang akan kau lakukan?" Rigel berdiri dan menatap Red yang tetap duduk, kembali menatap langit.
"Benar juga..., aku sudah memberitahu kapan penyerangan akan terjadi dan hanya menunggu tanda dariku saja. Untuk itu, mungkin aku akan mengucapkan salam perpisahan kepada anak-anak kecil yang menemaniku selama ini."
Mungkin yang dimaksud adalah Riri dan kawan-kawannya. Memang, bahwa selama ini mereka selalu nampak bersama. Tentunya akan ada kesedihan tertentu mengingat dirinya mungkin akan mati dalam Raid yang akan datang.
Rigel tidak memberikan ucapan apapun, bahkan dia tidak mencoba menghentikan niatnya. Yang perlu dia katakan hanyalah satu hal, "Mari berjuang sampai akhir."
Tidak hanya untuk Red, tetapi itu juga berlaku untuk dirinya. Medan perang senantiasa menanti, menakutkan dan menyenangkan bagi mereka yang pernah mengalaminya. Bermandikan keringat, berendam di lautan darah dan berjalan ditumpukkan mayat.
"Ya..., mari raih kebebasan—"
"—dan kemenangan." Rigel menambahkan perkataan Red, saling menatap satu sama lain dan mengucapkan perpisahan melalui kontak mata.
Di bawah langit malam dihiasi bintang, persahabatan manusia dan Naga terjalin dan akan terpisahkan oleh kehidupan.
[***]
Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Red, dia lantas bergegas menuju hutan roh, dimana Sylph berada. Hutan yang sunyi namun menyegarkan seperti biasa.
Peri yang nampak seperti kunang-kunang bertebaran, menyapa dengan melambaikan tangan kepada Rigel. Dengan ukuran kecil itu, bibirnya tersenyum dengan lembutnya. Mereka berbaris, seakan menunjukkan jalan baginya ke tempat yang dia tuju.
Dengan riang kemilau cahaya kecil itu menuntunnya ke suatu tempat, mengikuti jalan yang telah terbentuk berkat peri kecil lain yang berbaris.
Tempat yang sama dengannya sarapan, dia tiba disana. Makanan yang berbeda dari pagi hari, sesuatu seperti sup dan bubur yang bercahaya. Makanan dunia ini memang aneh, namun bubur cahaya itu jauh lebih aneh.
Dia menyadari bahwa terdapat Sylph, Undine dan beberapa peri lainnya yang terlihat seperti Driad, ras yang memiliki wujud manusia namun setengah tumbuhan. Rambutnya seperti akar menjalar dan kulitnya berwarna hijau, beberapa juga bewarna coklat. Mereka dengan lembut memberikan senyuman dan hormat kepadanya.
Lantas Rigel menatap meja di depannya, menemukan makanan unik yang sangat menarik perhatiannya.
"Benda apa itu? Sejenis racun??" tanyanya dengan bermasalah.
Sylph yang berdiri di sisinya tersenyum lembut dan menikmati ketidaktahuannya. Alasannya sederhana, makanan itu hanya dapat ditemukan di hutan roh dan hanya dihidangkan kepada mereka yang dianggap sosok khusus bagi Ratu peri.
"Makanan khusus bagi mereka yang dicintai Ratu peri. Aku menjamin bahwa makanan ini aman dikonsumsi, bahkan dapat menyembuhkan luka yang engkau miliki..." dia meraih bubur itu dan membuat gerakan untuk menyuapi Rigel.
Jika makanan ini dikhususkan untuk mereka yang dicintai, maka hanya ada dua orang yang baru mencicipinya. Priscilla dan Rigel. Jika begitu, maka Rigel benar-benar dicintai oleh Sylph? sesuatu yang tidak pernah dia duga.
Awalnya dia berpikir Sylph memilihnya hanya karena sebuah kebetulan, karena dia manusia yang dia kenal. Namun tidak menduga bahwa Sylph memendam perasaannya.
"Ayo, buka mulutmu, Rigel..." serunya dengan lembut, menyodorkan bubur cahaya ke mulut Rigel.
Dengan sedikit canggung, dia memakannya dan merasakan bubur hangat dan dingin, lembut dan kasar, manis dan asam. Rasanya benar-benar unik, meski sedikit aneh namun dia menyukainya. Perlahan, energi sihir alam mulai merasuki tubuhnya dan memulihkan kekuatannya.
Benar bahwa bubur cahaya ini memiliki khasiat mujarab. Hal ini membantunya menjadi semakin mudah mencerna energi alam yang dia serap. Mungkin dirinya akan meminta Sylph membuatkannya lagi.
Rigel membuka mulutnya lagi, membiarkan Sylph memanjakan dirinya sedikit lebih lama lagi. Lagipula mereka akan segera melakukan hal itu, untuk membagi otoritas yang dimiliki Sylph kepada Rigel.
"Bagaimana rasanya??" tanyanya dengan lembut.
"Lumayan enak..., jika bisa aku ingin memakan ini esok hari. Karena bagus untuk mengumpulkan Mana alam yang ada."
"Kalau begitu syukurlah..." dirinya tersenyum lembut selagi terus menyuapi Rigel.
Para peri menatap dengan cemburu, bahkan Undine dan para Driad merona akan pemandangan itu. Mungkin pemandangan yang mereka lihat nampak romantis dan dipenuhi dengan kehangatan keluarga.
Tidak hanya bubur cahaya itu, dia juga menyantap makanan lain dengan nyaman dan membiarkan perut serta lidah merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Keunikan dari makanan di hutan roh.
Beberapa waktu setelah menyantap makan malam yang megah, Rigel dan Sylph berjalan bersama menuju rumah usang tempat mereka menghabiskan malam. Untuk alasan yang tidak dirinya ketahui, Sylph memilih berjalan dengan kaki telanjangnya ketimbang sayapnya yang biasa.
"Dengan malam ini, akan menjadi hari kedua ya. Sungguh malam yang panjang..." gumam Rigel, menatap langit yang nampak sangat cantik.
"Benar juga..., bahkan yang kemarin berlangsung cukup lama..." Sylph setuju, pipinya mulai merona begitu mengingat kejadian kemarin.
Mau tidak mau dia pasti akan kembali teringat kejadian yang terasa segar dalam ingatannya. Belum lagi, mereka harus melakukannya enam kali lagi, termasuk malam ini. Bukannya terbilang terlalu bernafsu, namun itu sudah kewajiban yang harus dilakukan untuk memberikan Rigel otoritas atas para peri.
Selagi terus berjalan Rigel menyadari bahwa Sylph nampak tidak terlalu nyaman menginjakan kaki di dedaunan kering. Alas kaki nampaknya tidak jauh beda, jadi tidak perlu membuatkan untuknya. Namun, seharusnya dia tidak perlu repot-repot ikut berjalan kaki bersamanya.
"Kau boleh menggunakan sayapmu bila merasa tidak nyaman berjalan kaki..." Rigel memperingati, namun Sylph tidak memiliki tanda-tanda akan melakukannya.
"Tidak. Sesekali kupikir tidak apa berjalan kaki..." tuturnya selagi memperhatikan jalan yang akan dia lalui.
Rigel hanya menghela nafas, akan kekerasan kepalanya Sylph yang kukuh untuk berjalan berdampingan dengannya. Dia sedikit memikirkan tindakan yang hendak dia lakukan. Namun mengingat bahwa Sylph adalah istrinya, maka tidak jadi masalah melakukan hal itu.
"Huh, mau bagaimana lagi..." dia sedikit membungkuk dan meraih bahu Sylph lalu menariknya ke pelukannya. "Aku tidak bisa membiarkan istriku yang cantik terluka."
Rigel menggendongnya seperti seorang tuan putri, membuat Sylph merona dan malu karenanya. Tentu hatinya melompat kegirangan, tidak menduga akan tiba ketika dia benar-benar menyukai seorang manusia.
Dengan sedikit canggung, dia mengalungkan tangannya ke leher Rigel dan mengendus aroma tubuhnya yang sedikit harum, begitu pula sebaliknya.
"Terima kasih...," gumamnya.
"Yea, meski kau sedikit berat..." Rigel sedikit mengejek, membuat Sylph yang tidak terduga membuat raut wajah cemberut.
Sangat jarang baginya memasang ekspresi lain selain senyuman lembut seperti biasanya. Baginya, hal ini menjadi sesuatu yang baru dan segar.
"Kita sudah sampai."
Sebuah pondok tempat mereka menghabiskan waktu hanya untuk satu malam yang seakan berlangsung selamanya. Lantas mereka membuka pintu dan memasukinya, menemukan kasur yang awalnya sedikit berdarah dan basah telah bersih seutuhnya.
Entah Sylph atau peri lain yang membersihkannya, dia tidak terlalu memperdulikan. Hal yang perlu dilakukannya sekarang adalah meletakkan Sylph di tempat tidur dan memulainya.
"... Langsung kita mulai saja?" tanya Rigel, tetap menjaga ekspresinya agar tetap datar.
"Emh..., bila kau mengingatkannya maka biarlah..." ujarnya dengan merona dan malu-malu.
Lantas Rigel memulai dari melepas pakaian atasnya lalu meniduri Sylph. Sebagai langkah awal, dia mulai menjamah bibir, lalu meraba tangannya ke bagian dada dan membuat Sylph mengeluarkan suara kecil yang indah. Mereka saling melepaskan hasrat dengan membiarkan kulit saling bersentuhan dan merasakan kehangatan satu sama lainnya.
"Akan kumasukkan..." meninggalkan kata-kata itu, malam panjang mereka benar-benar dimulai.
"Y-ya..., ah!" desahan kecil terdengar, membiarkan sepenuhnya merasuki tubuhnya.
Sylph mengalungkan tangannya kepada Rigel, menatap matanya dengan penuh arti dan pipi merona karena kenikmatan surgawi yang dia terima.