The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Serangan Pilar Iblis



Di Kekaisaran Timur, situasi masih buruk dengan banyaknya iblis yang berdatangan. Petra dan Nadia tengah membereskan para iblis yang datang sementara Aland membereskan binatang iblis panggilan Aldebaran. Untuk Marcel, dia yang menghadapi pilar iblis, Aldebaran.


Marcel tatap menatap dengan pilar iblis itu. Ini kali pertama baginya untuk bertemu dengan pilar iblis. Kemampuan pilar itu tidak begitu pasti, hanya kemampuannya memanggil binatang iblis yang dapat Marcel konfirmasi.


"Pahlawan Sabit, ya... Salam kenal, aku salah satu pilar iblis, Aldebaran. Ini pertama kalinya kita bertemu, dan nampaknya kau sudah membenciku, ya..." Dia tersenyum menatap Marcel.


Tampilan Aldebaran berambut putih panjang yang menutupi satu matanya dan sebuah tanduk panjang di kening. Taringnya persis seperti Vampir, namun sorot matanya seperti binatang buas.


"Kenapa kau melakukan serangan semacam ini? dari yang kudengar, hampir setiap pasukan iblis menyerang setiap negara... Apa kalian berniat memulai perang sebelum di mulai?"


Marcel berusaha mengungkapkan niat dari pihak iblis melakukan serangan semacam ini. Dari sudut pandangnya, membiarkan pasukan iblis muncul dan di bunuh oleh Pahlawan hanya akan menghabiskan sumber daya yang mereka miliki. Mendengar itu, Aldebaran tersenyum dan mengangkat bahunya.


"Ntahlah... Hanya tuan Lucifer yang mengetahui rencananya sendiri. Dia membebaskan kami melakukan apapun sesukanya selagi iblis kecil itu keluar dari gerbang dunia bawah."


Gerbang dunia bawah, kebenaran tentang kekacauan ini merujuk ke sana. Marcel tidak dapat menemukan tujuan dari kekacauan ini, namun yang pasti itu bukan sesuatu yang baik.


"Percuma saja kau mencoba mengungkapkan tujuan tuan Lucifer... Bahkan jika kau mencoba datang ke gerbangnya langsung, kau hanya akan berhadapan dengan Dante dan pilar iblis lainnya."


Marcel menajamkan alisnya. Ntah memang bodoh atau Aldebaran sengaja memberikan informasi bahwa pilar iblis menjaga gerbang dunia bawah. Namun bukan berarti Marcel bisa mempercayainya begitu saja.


"Aku akan tahu itu setelah aku selesai berurusan denganmu..." Marcel mengacungkan sakitnya dan berlari menyerang Aldebaran.


Melihat Marcel mulai bergerak, Aldebaran merubah tangannya menjadi sebuah bilah raksasa. Dengan cepat dia bergerak dan menyerang duluan. Dia mengayunkan bilahnya menuju dada Marcel, namun berhasil di tahan menggunakan Sabitnya. Marcel dan Aldebaran saling menatap mata. Wajah mereka sangat dekat dan Marcel menatap langsung mata Aldebaran, begitu pula sebaliknya.


"Gehe, mari kita lihat seberapa jauh kau bisa menghiburku..." Aldebaran tersenyum dan mengambil jarak dari Marcel.


"Summon : Demon Beast!"


Puluhan binatang iblis seperti serigala bermata satu muncul dari sebuah lingkaran sihir. Mereka dengan cepat berlari menuju Marcel. Tanpa perlu menghabiskan Mana, Marcel berputar dan membunuh binatang iblis dalam satu ayunan. Aldebaran melangkah maju, dua bilahnya bersinar dan dengan cepat hampir memenggal kepala Marcel.


"Badai Sabit!" Marcel melemparkan Sabitnya dan menciptakan ratusan bilah Sabit yang beterbangan di sekitar Aldebaran.


Aldebaran menyilangkan bilahnya dan mengeluarkan aura gelap yang melindungi dirinya dari bilah Sabit milik Marcel. Tidak berhenti di situ, Marcel berlari dan mengayunkan Sabitnya ke kepala Aldebaran.


*Ting!


Sabit dan bilah Aldebaran saling berbenturan sampai menciptakan percikan api.


"Hahaha, boleh juga kau Pahlawan!" Aldebaran mendorong Marcel ke udara dan melompat.


Dia menikam kan bilahnya ke dada Marcel, namun berhasil di hindari dengan memutar tubuhnya.


"Grim Reaper!" Marcel mengayunkan Sabitnya yang berubah ke unguan dan menghempaskan Aldebaran ke daratan.


*Boom!


Tanah tempatnya mendarat memiliki retakan, Aldebaran sedikit memuntahkan darah berwarna ungu. Bukannya merasa sakit, dia justru merasa senang. Sudah sangat lama semenjak terakhir kali dia merasakan rasa sakit.


"Sudah lama aku tidak merasa sakit dan mengeluarkan darah seperti ini. Lumayan juga untuk Pahlawan seukuranmu... Namun, jika hanya segini saja kekuatanmu, kau tidak akan pernah bisa membunuhku."


Aura jahat mulai muncul saat Aldebaran tersenyum dan matanya berkilau ingin membunuh. Marcel meningkatkan kewaspadaannya kepada Aldebaran selagi menunggu Aland dan yang lain kemari untuk membantunya.


"Aku akan bertarung serius, mulai dari sekarang... Berusahalah untuk tidak terbunuh, Pahlawan..."


Udara mulai bergetar dan perlahan tubuh Aldebaran membengkak seakan ingin merubahnya menjadi sesuatu. Keringat muncul di dahi Marcel berkat hawa membunuh yang dia rasakan dari Aldebaran.


*Dor, dor, dor.............


Suara-suara tembakan terdengar dari dalam kerajaan. Meski belum melihatnya, Marcel tahu jelas bahwa suara semacam itu hanya bisa di buat oleh senjata api. Jika begitu, berarti Rigel telah mengirimkan pasukannya untuk membantu mereka.


Bagus, sebentar lagi Aland dan yang lain pasti akan datang kemari... Sampai saat itu tiba, aku akan menahannya di sini...


Mendengar bahwa suara aneh terdengar dan pasukan iblis jatuh satu persatu, Aldebaran menghentikan transformasi nya. Dia melihat bahwa ada banyak sekali peluru api terbang dan membunuh iblis itu. Jika begitu, cepat atau lambat Pahlawan lain akan datang dan semakin merepotkan menghadapi lebih dari satu Pahlawan. Aldebaran menghela nafas kecewa dan menatap Marcel.


"Sepertinya waktu bermain sudah habis ya. Huh, padahal lagi seru-serunya... Yah, lagipula aku tidak memiliki tujuan khusus. Mari kita bertemu di lain kesempatan, Pahlawan... Selanjutnya tidak ada keringanan." Aldebaran perlahan masuk ke dalam tanah dan hendak pergi.


Marcel dengan cepat berlari dan mengayunkan Sabitnya, namun Aldebaran telah berhasil melarikan diri. Meski kesal karena gagal membunuh satu pilar iblis, Marcel hanya bisa merelakannya. Dia tidak memiliki waktu untuk merasa kesal dan kecewa, karena situasi masih belum terkendali.


"Tidak perduli seberapa banyak kami membunuhnya, mereka masih saja terus berdatangan. Ntah benar atau tidak, namun kupikir cara terbaik mengatasinya adalah menghancurkan gerbang tempat mereka keluar."


Marcel menatap langit dan menyaksikan dengan jelas pasukan iblis yang terbang dan menyebar ke penjuru dunia.


Kita pergi ke Ruberios. Pertempuran mulai pecah di sana. Hampir separuh dari wilayahnya hancur karena invasi para iblis, dan juga kehadirannya salah satu pilar iblis, Leviathan. Hanya ada Argo dan Hazama Pahlawan yang tersisa dari Ruberios. Berkat Rigel, dia dapat mengirimkan Takumi ke sana dan satu peleton pasukan militer Region untuk membantu membereskan kekacauan di sana.


Di sana, Takumi, dan Argo yang kelelahan berhadapan langsung dengan pilar iblis, Leviathan. Tampilannya terlihat seperti pria muda, dia hanya menggunakan celana dan kain berwarna biru yang menutupi tubuh bagian atasnya. Untuk Hazama, saat ini dia sedang membantu prajurit lain dan akan membantu Takumi setelahnya.


"Jadi kau yang datang, Takumi." Nafas Argo terengah-engah.


"Ya, syukurlah aku datang tepat pada waktunya..." Takumi tetap menatap Leviathan, begitu juga sebaliknya.


Leviathan mengerutkan alisnya, "Rambut merah, dan Pahlawan dengan Tombak... Jadi kau ya... Orang yang telah mengalahkan Behemoth. Kau tampak lemah saat ini, apa mungkin ada sesuatu yang melemahkan kekuatanmu?"


Cukup mengesankan baginya bahwa dia dapat menerka kalau Takumi harus kehilangan beberapa levelnya karena bayaran penggunaan kutukan pemalas.


"Waspadalah, Takumi. Dia sangatlah kuat..." Argo berkata selagi mengatur pernafasan nya.


Takumi hanya mengangguk dalam diam dan terus meningkatkan kewaspadaannya. Bahkan tanpa perlu di peringatkan Argo, dia sudah tahu dengan jelas bahwa pilar iblis adalah eksistensi yang berbeda.


"Lalu, memangnya kenapa jika aku yang membunuh Behemoth? apa kau berniat balas dendam atas kematiannya? kalau begitu kemarilah, dan akan ku kirimkan kau ke tempatnya berada." Takumi tersenyum dan memprovokasi Leviathan yang mengerutkan alisnya.


Takumi sedikit bereaksi saat mendengar tentang mata. Sebelum kematiannya, Behemoth memberikan sebuah bola mata kepada Takumi dan berkata bahwa itu akan berguna untuknya di kemudian hari. Takumi masih menyimpannya sampai saat ini, dia tidak tahu betul apa kegunaan mata itu.


Menyadari bahwa Takumi bereaksi dengan kata 'Mata' Leviathan telah mengkonfirmasi bahwa Takumi memang benar-benar memilikinya.


"Begitu ya, jadi kau memilikinya. Namun kenapa kau belum menggunakannya? sungguh sia-sia... Yah, kita lewatkan saja itu. Sekarang, mari kita bermain-main, Pahlawan." Leviathan tersenyum jahat dan mengulurkan tangannya di udara.


Langit mulai menggelap seakan ingin hujan. Leviathan nampaknya menggunakan sihir merubah cuaca dan menurunkan hujan. Sesuai namanya, Leviathan sangat Raja lautan. Air mulai turun dan menghujani wilayah Ruberios. Takumi dan Argo berwaspada akan serangan tak terduga Leviathan. Tetesan huja berhenti sesaat sebelum menyentuh tanah. Takumi menatap dengan bingung, sampai dia menyadari niat Leviathan.


"Argo! Berlindung!"


Leviathan tersenyum lebar dan bergumam, "Sudah terlambat," Dia langsung mengulurkan tangannya menuju Takumi dan Argo.


Tetesan hujan yang berhenti mulai kembali turun dalam bentuk jarum kecil dan menghujani Takumi dan Argo. Mustahil menghindari hujanan jarum air ini tanpa terluka. Di saat bersamaan,


"Shield Skill : Bubble Shield!" Gelembung perisai muncul dan melindungi Takumi dan Argo.


Takumi menoleh kepada orang yang memberikan perisai gelembung itu dan menemukan Hazama di sana. Dia berlari menghampiri Takumi dan Argo untuk bergabung dan membantu pertempuran. Dengan keberadaannya di sini, itu berarti kondisi di sana sudah mulai kondusif.


"Hazama! apakah di sana baik-baik saja?" Argo bertanya.


"Ya, sejauh ini keadaan mulai terkendali berkat pasukan militer dari Region. Selain itu, para iblis itu nampaknya telah berhenti datang." Hazama menjelaskan situasinya.


Benar juga, Takumi belum melihat iblis-iblis di udara sekarang. Mungkinkah mereka mati karena serangan skala besar Leviathan? Yah, untuk sekarang menghadapi Leviathan adalah prioritas utama.


"Kalian serang lah, Bubble Shield ku hanya bertahan selama sepuluh menit dan saat waktunya habis aku akan memberikannya pada kalian lagi."


Dengan dukungan dari Hazama Takumi dan Argo tidak perlu mengkhawatirkan hujan jarum itu. Dengan cepat, Takumi dan Argo berlari melesat menuju Leviathan.


Takumi mengayunkan tombaknya ke kepala Leviathan namun berhasil di tangkis dengan tangannya yang kuat. Argo menyusul dengan menikam kan pisaunya yang bercahaya terang namun Leviathan berhasil menangkis nya. Tidak cukup sampai di situ, Takumi melemparkan Javelin Strike dari belakang Leviathan.


Menyadari sesuatu melesat dari belakang punggungnya, Leviathan menengok kebelakang dan mengulurkan tangannya, menciptakan sebuah trisula air dan meluncurkan nya ke Javelin Takumi.


*Bom!


Tombak dan Trisula saling menghantam dan menciptakan ledakan. Meski hanya sedikit, Argo melihat celah pada Leviathan dan tidak mau menyia-nyiakannya.


"Pisau Meteor!" Dengan cepat, Argo mengubah pegangannya dan memotong jarak.


Pisaunya berkilau dan berhasil melukai lengan Leviathan. Serangannya tidak cukup kuat untuk memotong tangan Leviathan.


Leviathan hanya bergumam, "Hoo?" dia dengan cepat melompat ke udara untuk menghindari kepungan, namun di atasnya terbentuk sebuah Perisai yang memblokir pelarian ke udara.


Melihat itu, Leviathan mendecakan lidahnya dan mengulurkan tinjunya dengan sangat kuat sampai Perisai itu hancur.


"Sejauh ini kalian cukup bai—" Takumi tidak membiarkan Leviathan menyelesaikan kata-katanya.


Dia dengan niat membunuh luar biasa menikam kan Tombaknya. Leviathan tidak menghindarinya, dia meraih bilah tombak Takumi dan memegangnya lalu menariknya sampai wajahnya sangat dekat dengan Takumi.


Leviathan tersenyum marah sekaligus sedikit senang, "Dengarkanlah ucapan orang sampai selesai, Tombak."


Takumi membalasnya dengan senyuman bengis, "Kecuali kau pergi ke neraka, baru aku mendengarkan."


Mendengar provokasi tak terduga Takumi, Leviathan terkejut dan mengulurkan tinju kirinya ke perut Takumi dengan sangat keras.


Takumi kembali terhempas ke darat dan menciptakan retakan besar di tanah. Leviathan menciptakan sepasang sayap air dan meluncurkan bulu-buku air tajam ke arah tempat jatuhnya Takumi. Hazama berlari dan melindungi Takumi dari hujanan bulu air tajam itu.


"Full Counter!" Serangan Leviathan yang di luncurkan ke Takumi langsung berbalik ke arahnya sendiri. Namun Leviathan hanya mengulurkan tangannya dan serangan balik Hazama di gagalkan dengan mudah.


Leviathan hendak mengerahkan serangan lain, namun ntah karena alasan apa dia berhenti dan mengembalikan cuaca ke keadaan sepenuhnya.


"Huh~, sepertinya waktu bermain kota telah habis, ya... Yah, setidaknya aku dapat menebak kekuatan kalian sampai batas tertentu. Aku tahu kalian masih belum benar-benar serius menghadapiku dan begitu pula sebaliknya..." Leviathan mulai di kelilingi air yang perlahan menutupi tubuhnya.


"Mari kita bertemu dan bertarung dengan serius, pada kesempatan selanjutnya. Berusahalah untuk tetap hidup sampai saat itu tiba..." Air menutupi Leviathan sepenuhnya dan sosoknya langsung menghilang dari udara.


"Dia pergi..." Takumi bergumam selagi menatap kepergiannya.


Hazama menghela nafas lega, "Kita tidak memiliki waktu beristirahat, masih ada hal lain yang harus kita bereskan dan invasi iblis belum berakhir." Hazama mengingatkan.


"Benar juga ya... Setidaknya kita harus memanfaatkan waktu ini untuk beristirahat. Kedepannya aku yakin akan semakin sedikit waktu istirahat yang kita miliki." Argo duduk di tanah selagi menatap langit sore.


"Ya. Kemungkinan besar, Rigel akan mengadakan pertemuan mengenai invasi pasukan iblis... Haha, sepertinya Konfrensi meja bundar akan di laksanakan untuk kedua kalinya." Takumi mendengus tertawa.


Di tempat lain, di pinggir pantai yang cukup jauh dari Region terdapat seorang iblis berlengan empat muncul keluar dari dasar lautan. Dia berjalan ke tepi pantai dan duduk di bawah sebuah pohon untuk beristirahat. Nafasnya sedikit terengah-engah, tubuhnya sedikit terluka namun bukannya kesal, dia justru tersenyum senang.


"Amatsumi Rigel, ya... Hahahaha, ternyata benar apa kata Lucifer, kau benar-benar pria yang menarik!"


Dia kembali mengingat kejadian saat di telan Hydra. Di dalam sana dia bertemu dengan sebuah bayangan yang sangat mirip Rigel. Bayangan itu merupakan Hologram.


Kilas balik.


"Argh!" Karaka mengaum selagi berusaha keras mengangkat mulut Hydra namun dia terhentikan dengan bayangan pria yang baru saja dia temui. Melihat sosok itu, Karaka tertawa senang dan meninju nya namun lengannya menembus tubuhnya.


"Ini hanya hologram, kau tidak akan bisa menyakitinya. Jika kau benar-benar ingin bertarung denganku, akan aku layani kau pada malam hari ke tujuh dari sekarang. Akan ku berikan tanda untuk lokasi pertarungannya." Hologram langsung menghilang dalam sesaat.


Karaka tersenyum lebar. Dia terasa sangat senang karena apa yang Rigel katakan melalui hologram. Karaka sangat tersanjung karena Rigel bahkan sampai menyiapkan tempat pertarungan mereka.


"Jika itu keinginanmu, maka baiklah. Aku akan diam dan menunggu sampai saat itu tiba, Rigel.." Karaka tersenyum dan bersandar selagi menatap matahari terbenam.