The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Satu VS sepuluh juta



Butuh beberapa menit untukku berhenti menangis dan menenangkan diri. Di hadapanku ada sosok yang sudah lama tidak aku lihat, Azartooth. Sementara pria yang disampingnya adalah Satan. Mataku masih memerah dan bengkak karena terus menerus menangis sebelumnya.


"Jadi, dengan ini aku sudah menyelesaikan labyrint neraka, kan? Lalu, apakah aku akan langsung kembali dihidupkan atau akan ada hal lain yang harus dilakukan?"


Tanya Rigel.


"Jangan terburu buru. Kalu baru 11 atau 12 tahun menjalani pelatihan, sementara kau harus melaluinya selama 100 tahun, ingat?"


Ucap Azartooth.


"Yah, karena kau benar benar orang yang pantas menerima kekuatan itu, tidak ada banyak hal lagi yang perlu ku ajarkan kepadamu. Namun, ada satu hal lagi yang harus kau lakukan dan setelah itu, baru aku bisa mengembalikanmu ke EarthLand."


Ucap Azartooth.


"Dan hal apakah itu?"


Tanya Rigel.


"Sebelum kau memulai pelatihan terakhirmu, aku akan memberitahukanmu beberapa hal penting kepadamu termaksud bagian lain dari dirimu."


Ucap Azartooth.


Bagian lain dalam diriku? Apa maksudnya adalah aku memiliki orang lain di dalam tubuhku atau semacamnya? Yah, jawabannya ada pada Azartooth.


"Menurutmu, antara dewa dan manusia sosok mana yang lebih kuat dan sempurna?"


Ucap Azartooth dengan serius.


Aku sudah pernah berlatih bersamanya selama 5 tahun dan aku paham betul saat saat ketika aku tidak boleh membantah ataupun bercanda saat dia bertanya sesuatu. Namun, tetap saja pertanyaan konyol macam apa ini, bahkan anak kecil tahu apa jawabannya.


"Tentu saja para dewa, kan? Bagi manusia dewa adalah eksistensi yang berada jauh dalam jangkauan mereka."


Ucap Rigel.


"Yah, jawabanmu tidaklah salah dan aku yakin setiap manusia memiliki jawaban yang sama. Namun, kenyataannya sangatlah berbeda, Rigel."


Ucap Azartooth.


"Apa maksudmu?"


Tanya Rigel.


"kami para dewa memang kuat, namun manusia lebih sempurna daripada kami, terutama pada wujud fisiknya. Bahkan kami para dewa meniru wujud fisik dari seorang manusia. Untuk kekuatan, para dewa memang lebih kuat, namun manusia bisa menjadi lebih kuat dari kami para dewa."


Ucap Azartooth.


Aku hanya diam mendengarkannya bercerita.


"Manusia memiliki potensi yang sangat besar dalam hal sihir, mereka bebas mengakses berbagai mantra yang dapat mereka pelajari. Semenjak mengetahui hal itu, kami para dewa takut akan manusia yang memiliki potensi tak terbatas dan para dewa akhirnya sepakat bahwa mereka harus memberikan batasan kekuatan kepada manusia agar kekuatannya tidak lebih kuat dari dewa."


"Salah satu perbedaan utama manusia dengan dewa adalah umur. Jika para dewa hidup abadi, sementara manusia tidak dapat berumur lebih dari 100 tahun. Para dewa memanfaatkan hal itu dan akhirnya menanamkan batasan yang mengacu pada sistem level."


"Sistem level?"


Ucap Rigel.


"Ya, semakin tinggi levelmu semakin sulit untuk naik, kan? Hal itu dilakukan agar tidak ada manusia yang memiliki kekuatan yang dapat menyandingi kami para dewa. Jika tanpa batasan level tersebut, bukannya tidak mungkin bagi manusia untuk membunuh seorang dewa."


Ucap Azartooth.


Meskipun hal ini terdengar seperti kejutan karena para dewa pernah takut dengan manusia, ada hal yang membuatku bingung.


"Tunggu, jika kalian para dewa menanamkan level pada manusia, bagaimana dengan kami manusia dari bumi? Kami tidak dapat menggunakan sihir bahkan tidak ada sesuatu seperti level selain di dalam game."


Ucap Rigel.


"Ya, manusia di bumi sedikit berbeda. Pada saat manusia baru menginjakan kakinya di planet bumi, mereka tidak mengenal apapun tentang sihir dan bahkan tidak tahu apakah sihir itu benar benar ada. Saat manusia di bumi berbeda dengan yang lainnya, mereka tidak bergantung kepada sihir melainkan pengetahuan."


Ucap Azartooth.


"Mereka berkembang secara perlahan. Mereka mencoba menanam sayuran untuk bertahan hidup dan mulai membangun rumah serta perangkap untuk hewan. Karena hal inilah, kami para dewa sangat tertarik dengan kehidupan manusia di bumi. Kami para dewa mulai turun ke bumi dan membantu manusia disana untuk membangun peradaban, terutamanya dewa hephaestus. Dialah yang paling tertarik dengan manusia dan juga dialah orang yang mengajarkan manusia cara membuat senjata."


Jadi, untuk membantu kami manusoa di bumi membangun peradaban, para dewa turun untuk membantu kami karena kami hidup tanpa bergantung pada sihir. Aku membayangkan jika para ilmuan hebat seperti Albert Einstein adalah dewa yang membaur sebagai manusia. Aku tidak dapat membayangkannya.


Azartooth terus bercerita tentang berbagai hal mengenai manusia. Aku mendengarkannya sambil duduk di tanah yang dingin.


"Apakah ada hal lain yang ingin kau ketahui?"


Tanya Azartooth.


"Hmm, aku ingin mengetahui maksudmu dengan sisi lain dari diriku."


Ucap Rigel.


"Bagian lain dari dirimu yang kumaksud adalah jiwa lain yang bergabung bersama jiwa milikmu."


"Apa? Jiwa orang lain?"


Ucap Rigel.


"Ya. Jiwa itu milik putraku. Alasan kunci ke lima memilihmu mungkin karena jiwa putraku berada di dalam jiwa milikmu."


Ucap Azartooth.


"T-tunggu, kok bisa? Bukankah seorang dewa akan kembali hidup dengan bereinkarnasi lagi?"


Ucap Rigel.


"Ya, namun apa yang terjadi dengan putraku berbeda. Kau tahukan bahwa dewa lah yang menciptakan para pahlawan?"


Tabya Azartooth.


Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Dewa itu adalah Putraku, dia mengorbankan wujud fisik dewa miliknya untuk menciptakan pahlawan. Pada awalnya, pahlawan hanyalah kumpulan harapan dari seluruh manusia di alam semesta lalu putraku mewujudkan harapan itu menjadi sebuah senjata yang akan di gunakan oleh manusia yang terpilih. Karena putraku mengorbankan tubuh fisiknya, jiwanya tidak memiliki wadah untuj di tempati. Karena itulah, istriku Athena sang dewi perang mencampurkan jiwa putra kami kedalam jiwa manusia dan itu terus berlanjut hingga dia berakhir di dalam jiwamu Rigel."


Ucap Azartooth.


Jadi, bukankah kalau begitu secara tidak langsung aku juga termasuk putranya? Karena jiwa anaknya berada di dalam diriku. Lalu, Aku menggelengkan kepalaku untuk menyingkirkan pikiran itu dari kepalaku.


"Aku ingin menanyakan satu hal lagi, apa sebenarnya hari yang di janjikan itu? Saat berhadapan dengan pangeran lainnya, mereka selalu menyinggung hari yang di janjikan. Bahkan Azazel membahas sesuatu tentang takdirku atau semacamnya."


Ucap Rigel.


Ada keheningan singkat antara Azartooth dan Satan yang masih diam mendengarkan semenjak tadi.


"Kau akan mengetahuinya saat waktunya tiba, Rigel. Untuk sekarang akan kuberitahu hal terakhir yang harus kau lakukan."


Ucap Azartooth.


Meskipun aku sedikit kesal karena dia tidak memberiku jawaban dan mengalihkan pembicaraan, aku menuruti Azartooth yang tangannya menunjuk ke belakangku. Aku berbalik mengikuti arah yang dia tunjuk dan aku terkejut dengan apa yang aku lihat.


Seratus, tidak, satu juta, atau mungkin sepuluh juta pasukan sudah berbaris di belakangku. Apakah mereka sudah berada di sana semenjak tadi? Aku sama sekali tidak menyadari mereka.


"Apa apaan ini."


Gumam Rigel.


"Kau harus mengalahkan mereka semua, Rigel. Anggap saja ini sebagai latihan dalam menggunakan kekuatan dari kunci kunci itu."


Ucao Azartooth.


"A-apa maksudmu, aku harus menjadikan mereka kelinci pelatihanku?"


Tanya Rigel dengan takut.


" Ya. Tenang saja, mereka bukan manusia. Kau tidak perlu khawatir. Jika kau ingin kembali ke tempat gadismu berada, kau harus melakukannya. "


Ucap Azartooth.


" Tu-tunggu, apakah aku harus benar benar melakukannya sekarang?"


Ucap Rigel dengan panik.


"Ya, aku dan Satan akan tetap disini memperhatikanmu, sekarang pergilah."


Ucap Azartooth.


"Ayo, pergi sana aku ingin melihat bagaimana kekuatan kunci yang berada di tanganmu."


Ucap Satan sambil mendorongku ke bawah.


Sial, mereka seenaknya saja memaksaku. Aky tidak tahu berapa jumlah pastinya, namun aku yakin mereka ada lebih dari 10 juta pasukan. Mereka mengenakan full set zirah yabgbterlihat seperti manusia, namun aku mendengar erangan monster dari mereka.


Aku tidak tahu monster macam apa mereka, mungkin seperti monster yang kuhadapi di labyrint sebelumnya, tempat Anastasia mendapatkan tangan kiri palsu ini. Ke empat kunci itu tampaknya telah masuk kedalam tubuhku dengan sendirinya.


"Huh, satu vs sepuluh juta. Ini sangat tidak seimbang."


Gumam Rigel.


Aku mengambil nafas panjang dan mengaktifkan rune di seluruh tubuhku. Aku menutup mataku dan memantapkan tekadku untuk menghadapi pasukan monster ini.


"Haaaarrggghhhhhh!!!"


Rigel mengaum.


Aku berlari langsung menuju ke tempat jutaan monster berwujud kesatria itu dan aku akan membunuh mereka semua. Tunggu aku, Tirith.