
Mentari telah lama menyambut, lantas segala aktivitas yang dimiliki orang-orang mulai berlanjut. Saat ini, para Pahlawan tengah berkumpul disebuah tempat jauh berada dikedalaman hutan, lapangan luas tanpa apapun yang menghalangi pandangan.
"Hah, nampaknya tempat ini sangat cocok untuk berlatih. Udaranya hangat dan lembab, cuaca yang sangat pas!"
Takumi meletakkan tangan di pinggangnya dan dengan senang menghirup kesegaran udara pegunungan. Yuri yang berada di sisinya hanya tersenyum dan menyetujui perkataannya.
"Benar..., bukankah hawa ini mengingatkan pada Jepang??"
"Benar juga. Meski begitu, aku lebih menyukai tempat ini," balasnya selagi teringat seseorang— satu-satunya orang yang Takumi miliki di bumi. Namun, yeah, mari lewatkan ceritanya untuk lain waktu.
Yuri dan Takumi sama-sama berasal dari Jepang, sama halnya dengan Hazama. Meski mereka berasal dari garis waktu yang sangat berbeda, namun negara yang ditinggali tetaplah bernama Jepang.
Selain nama negara, terdapat hal lain yang memiliki nama berbeda. Terutama bagaimana Takumi menyebut roket dan rudal, sangat-sangat aneh dan terdengar bodoh.
"Semua telah berkumpul, hanya tinggal menunggu Rigel saja. Apa kalian bertiga tahu kemana dia pergi?" Marcel menoleh kepada Merial, Ray dan Ozaru. Mereka adalah tiga orang yang jarang terlihat, entah apa yang sedang mereka kerjakan.
"Entahlah, kami bertiga selalu bersama selama ini. Namun tidak sekalipun tahu apa yang tengah dilakukan Rigel..." jawab Ozaru selagi berbaring dengan santai di rumput.
"Dia selalu saja bertindak sendirian, bahkan tidak memberitahukan dengan jelas hal apa yang dia kerjakan," Merial menambahkan dan Ray yang berada di sisinya mengangguk setuju.
"Yeah, memang seperti itulah dirinya. Bukan Rigel namanya jika tidak memiliki misteri di dalamnya."
Tidak ada banyak orang yang benar-benar memahami jalan pemikiran Rigel. Lantaran dia tidak pernah mengungkapkan pemikirannya kepada semua orang ataupun bersikap terbuka.
Apa yang benar-benar dia pikirkan, maka hanya dirinya sendiri yang tahu atau ketika dia sengaja membocorkan sedikit informasi yang ada.
"Namun setidaknya dia bukan orang yang akan lupa tentang pelatihan semacam ini, kan??" tanya Aland untuk mengkonfirmasi kebenaran.
"Yea, begitulah. Jika dirinya telah berjanji, maka pasti janji itu akan dia tepati."
Setidaknya itu yang telah dipastikan kebenarannya. Rigel selalu menepati setiap janji yang dia buat, karena sudah menjadi prinsip utamanya agar tidak pernah mengingkari janji.
"Nampaknya semua telah berkumpul..." tuturnya ketika melihat mereka tengah menunggu kedatangannya saja.
Terhadap suara akrab dari seseorang yang tengah mereka perbincangkan, Takumi dan Pahlawan lain menoleh dengan tatapan lembut.
"Baru saja dibicarakan, orangnya telah datang."
"Aku sedikit terlambat rupanya, berapa lama kalian menunggu??"
"Tidak sampai setengah jam, kok..." tukas Nadia. Dia melipat tangannya dipunggung dengan anggun selagi menunggu hal yang akan mere Bhaika lakukan.
"Tidak biasanya bagimu untuk terlambat. Kau juga tidak berada di Region saat malam, apa yang kau kerjakan?" Ozaru melompat bangun dan menyiapkan tongkatnya.
Dikarenakan Rigel telah datang, maka tidak ada orang lain yang perlu ditunggu oleh mereka. Ozaru menarik tongkat dari telinganya dan mengembalikan ukurannya, yang awalnya hanya sebesar tusuk gigi.
"Bukan urusanmu, yang jelas ini masalah pribadi yang wajib kulakukan..." Rigel mengelak menjawab pertanyaannya, namun dengan menjawab seperti itu cukup menjelaskan kepada Ozaru bahwa Rigel menyembunyikan sesuatu. "Kesampingkan itu, kita mulai berlatih kordinasi sekarang??"
Berusaha mengalihkan topik, ya... perangai Ozaru, menatap Rigel dengan sedikit jengkel.
"Yea, lebih cepat lebih baik. Karena aku belum menjelajahi negaramu sepenuhnya, hahaha..." Marcel tertawa riang selagi menggantungkan sabitnya di bahu.
Sekarang, mari pikirkan hal yang bagus untuk menjadi pelatihan mereka. Mungkin meminta Red menjadi lawan akan bagus, namun akan sangat disayangkan bila Red terluka parah akibat serangan yang mereka lancarkan.
Naga yang berasal dari pasukan kematian boleh jadi bagus, namun para Pahlawan tentunya dapat menghabisi mereka dengan mudah. Sangat tidak cocok untuk dijadikan lawan bertanding.
Mungkinkah aku harus menggunakan Hydra? Kekuatannya sendiri tidak bisa diremehkan, namun Mana yang diperlukan untuk memanggilnya juga tidak sedikit....
Dia memeras otak, akhirnya menemukan sesuatu yang boleh jadi bagus. Meskipun belum melihat langsung kekuatannya, Rigel tahu bahwa 'dia' setara dengan Pahlawan. Bahkan Rigel tidak yakin menang melawannya tanpa cidera ringan. Setidaknya dia butuh kartu yang belum pernah dia gunakan untuk mengalahkannya.
"Sudah ku putuskan lawan yang akan kalian hadapi. Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya..." tanpa meninggalkan waktu untuk yang lain merespon, Rigel menghilang dari tempatnya dan menuju suatu tempat.
"Dasar, dia benar-benar datang dan hilang sesukanya..." Petra mendesah lelah selagi menatap tempat Rigel berada sebelumnya.
"Yea, namun dirinya yang seperti itu membuatku sedikit iri," di sisi lain, Hazama tersenyum lembut akan tindakan Rigel.
Setelah menunggu beberapa menit, Rigel akhirnya tiba, namun terdapat dua orang pendatang baru yang dia bawa bersamanya. Para Pahlawan mengenal salah satunya, gadis dengan sayap kupu-kupu itu. Namun, untuk gadis berambut biru di sebelahnya tidak dikenali. Ini adalah kali pertama mereka berjumpa dengan gadis itu.
"Kalau tidak salah, Ratu peri dan..." perkataan Yuri terhenti karena dia sendiri tidak mengenal gadis di sebelahnya.
"Salam kenal, para Pahlawan manusia sekalian. Nama saya, Undine. Peri air tingkat tinggi, Undine. Saya diminta untuk menemani Ratu saya sebagai latih tanding melawan anda sekalian Pahlawan manusia..." Undine membungkuk hormat dan memperkenalkan dirinya dengan elegan.
Terhadap perkenalannya, Pahlawan lain ikut memperkenalkan diri mereka satu persatu sehingga Undine menjadi lebih mudah memanggil mereka.
"Tidak kusangka, bila Ratu para peri dan peri tingkat tinggi yang akan menjadi lawan berlatih kita...," gumam Merial dengan berseri-seri akan keberadaan Ratu peri.
Bahkan Ray sama takjubnya dengan Merial. Mungkin bagi orang-orang dunia ini, Sylph adalah sosok yang tidak akan dijumpai dengan sangat mudahnya. Untuk bertemu dengannya sama seperti keberuntungan yang datang seratus tahun sekali.
"Meski itu Ratu peri bukankah sedikit tidak berimbang? Dua lawan sebelas..." Nadia khawatir akan perbedaan jumlah yang berkali-kali lipat.
Mereka tentu tahu, kekuatan satu individu seperti Sylph bukan sesuatu yang dapat mereka kalahkan dengan begitu mudahnya. Mengingat bahwa Sylph sendiri memiliki kekuasaan atas alam, maka selagi ada di dunia ini, tidak perduli dimana pun zona pertarungan, dia akan diuntungkan.
Namun, para Pahlawan sendiri tidak bisa diremehkan. Satu dari mereka dapat mengancam nyawa Sylph, belum lagi kali ini ada sebelas dari mereka.
"Dua? Sebelas? siapa bilang—"
Mereka jelas terkejut begitu mendengar Rigel yang mengatakan sesuatu yang tidak dipahami. Hanya Ozaru, Ray dan Merial yang telah menebak maksud dari perkataan Rigel dengan mudahnya.
Lagipula dia tidak pernah berkata pertarungan akan menjadi dua lawan sebelas. Dia juga tidak pernah berkata akan berada di pihak mereka,
"—yang benar adalah tiga melawan sepuluh. Aku akan bersama Sylph dan Undine, dengan begitu kekuatannya akan menjadi berimbang, kan?" Rigel merentangkan tangannya, tersenyum berani seakan menantang.
Hanya para pria yang mengerti dan memahami bahwa Rigel tengah menantang mereka. Lantas bukan kemarahan, senyuman yang penuh semangat mereka tunjukkan. Bahkan Ozaru dan Ray tidak bisa menahan senyumnya.
Kekuatan Rigel sendiri berada di atas rata-rata Pahlawan.Padahal dua tahun lalu dia hanya yang terlemah diantara mereka, namun sekarang justru berbalik arah. Dirinya menjadi yang paling kuat diantara Pahlawan lain. Bahkan mungkin yang terkuat dari umat manusia.
"Boleh saja, kebetulan aku selalu ingin memukulmu sesekali!" ujar Marcel dengan senang.
Tidak ada kebencian atau semacamnya, hal ini dianggap sebagai kesenangan semata bagi para pria. Di lain sisi, Pahlawan wanita yang ada hanya menatap dan tersenyum masam.
"Pria memang kekanakan seperti itu, ya...," gumam Petra.
"Latihan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama tim kita, namun mengapa kau yang salah satu dari kami malah menjadi lawan?" tukas Nadia.
Masuk akal, karena Rigel terbilang salah satu dari sebelas Pahlawan yang tersisa. Mengenai satu Pahlawan lagi, posisi pedang saat ini masih belum ada yang menempatinya. Alasannya sederhana, wadahnya belumlah siap mengemban bebannya.
"Kalian seharusnya tahu bahwa kekuatanku meluas, sangat tidak cocok bertarung dalam tim. Namun, aku masih bisa menyesuaikan diri dengan mudah, terutama pada orang-orang yang sudah kukenal lama seperti kalian."
Dengan begitu tidak ada kebutuhan baginya untuk berlatih dan menyesuaikan diri. Selama dia tahu kapan mereka akan menyerang dan mundur, maka semua baik saja.
"Kalau begitu tidak perlu dibicarakan lagi. Kita langsung mulai saja..." dengan tidak sabar, Takumi menyiapkan tombaknya, diikuti Pahlawan lain.
Mereka mulai mengambil posisi masing-masing, menutupi setiap celah yang boleh jadi menjadi titik lemah posisi tempur mereka.
"Baiklah, dari yang terlihat aku akan menjadi petarung garis depan, Sylph petarung jarak jauh dan Undine sebagai pendukung. Bisakah??"
Sebelum membawa mereka ke sini, dia telah memberitahu tentang pelatihan ini dan meminta mereka menjelaskan tempat yang cocok bagi mereka dalam pertarungan. Undine memiliki afinitas air, jadi sangat cocok berada di posisi pendukung. Sementara Sylph sendiri mengejutkan, dia dapat menjadi apapun. Entah itu jarak dekat, jauh, pertahanan dan bahkan pendukung.
Gelar Ratu para peri memang benar-benar nyata. Namun, mari lihat seberapa jauh kemampuan bertarungnya.
"Sudah diputuskan, ya..." akar tanaman hijau mulai mengelilingi Sylph yang tersenyum dan memejamkan mata, selagi sayapnya terus mengepak.
"Kalau begitu serahkan dukungan kepada saya..." air muncul dan mengelilingi Undine, berputar dan menjadikan dirinya sendiri sebagai pusatnya.
Rigel mengeluarkan seluruh kekuatan sihirnya, menciptakan pancaran aura kemerahan menyelimuti dirinya. Melipat tangan dan tersenyum berani, dia berkata...,
"Majulah, kalian semua!"
Bersamaan dengan aba-aba darinya, Marcel dan Ray menerjang dari dua sisi berbeda tanpa sedikitpun penundaan. Rigel menciptakan dua pedang besar dan menahan keduanya bersamaan. Menyadari bahwa Takumi menyerang dari udara, dia mengambil langkah mundur, sampai akhirnya tongkat Ozaru melesat di tengahnya sehingga Rigel perlu mengambil tindakan defensif.
Merasakan dampak benturan keras di tangannya, dia terdorong mundur dari tempatnya berdiri. Undine yang memperhatikan mengirimkan bantuan berupa duri air yang terus mengejar kemanapun mereka pergi, namun Yuri dan Petra dengan cermat mengatasinya.
"Boleh juga!" Takumi hendak menyerang lagi, namun kakinya terlilit sesuatu yang membuatnya kehilangan keseimbangan.
Akar melilit kakinya tanpa ampun, terus merambaf naik untuk menggulung seluruh tubuhnya dengan akar.
"Sialan!" dia tidak memiliki postur yang cocok untuk mengayunkan tombak sehingga tidak dapat memotongnya dan disaat itu pula...,
Shurrt!
Cambuk panjang berkecepatan tinggi menebas akar dengan cepat, hingga tidak dapat beregenerasi tepat waktu. Takumi segera melompat mundur, menghindari ranjau akar yang kapanpun boleh jadi mengenainya.
"Sankyu!" dia melambaikan tangan kepada Merial dan kembali berfokus pada lawannya.
Dia menyadari bahwa seluruh tempat ini menjadi wilayah kekuasaan Sylph. Bahkan oksigen yang dia butuhkan untuk bernafas barangkali berbalik memusuhinya.
"Sepertinya tidak akan mudah mencoba menumbangkan mereka satu-persatu," gumamnya, melihat pertarungan yang ada.
Rigel masih memiliki kemungkinan untuk ditangani dengan serangan bertubi-tubi dan strategi licik yang matang. Selama dia tidak menggunakan prajurit kematian, Rune biru, Purgatory dan skill lainnya selain Creator, mereka dapat menang. Sama halnya dengan Undine yang kekuatannya hanya beberapa langkah lagi menyaingi Petra.
Namun Ratu peri yang satu ini berbeda. Bukan berarti dia sangat kuat, namun dia jelas memanfaatkan betul keberadaan Rigel dan Undine untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan. Kekuatannya sendiri terbilang misterius, lantaran ini menjadi kali pertama dia melihat Ratu peri itu bertarung.
Takumi tidak cukup bodoh sampai-sampai tidak menyadari terdapat berbagai perangkap menyusahkan tersebar dan menuntunnya ke jalan tempat Rigel berada.
"Meskipun tanpa kehadiran Vanguard atau pertahanan, dengan taktik semacam itu membuatnya memiliki pertahanan..." gumamnya.
Dengan tidak membiarkan adanya orang yang memutar dan menyerang dari sisi lain, dia sampai repot-repot memasang berbagai jebakan. Jika ini pertarungan hidup dan mati, maka tidak mengejutkan bila terdapat tanaman insektivor yang dapat memakan manusia.
Ting!
Di sisi lain, Ray dan Rigel tengah bertukar pukulan satu sama lain. Dia sama sekali tidak menahan diri, begitu pula Ray. Satu pukulan kiri Rigel dapat mendorong mundur tubuhnya beberapa langkah. Dia benar-benar berdecak kagum akan kekuatan fisik yang mirip seperti monster ketimbang manusia.
"Terima ini!"
Ray dengan lincahnya berlari zig-zag disekitar Rigel selagi memberikan pukulan cepat. Namun tidak satupun dari serangannya berhasil tepat sasaran, karena Rigel selalu menangkisnya dan Undine memberi dukungan berupa gangguan.
"Sekarang giliranku, Ashura Punch!" tinju Mana terbentuk, dengan cepat menuju langsung ke arahnya.
Bang!
"Tidak akan kubiarkan!" perisai yang nampak seperti cermin menghalangi laju serangannya di pertengahan.
Dia sedikit mengintip dari balik Perisainya dan tersenyum, "Full Counter!" mengembalikan serangan Rigel dua kali lebih kuat dari awal.
"Perlindungan yang bagus!"
Dari sisi lain, Aland mengambil langkah berat dan melemparkan palunya dengan kuat menuju Rigel, bersamaan dengan tinju Mana yang diperkuat.
Tinju Mana dapat dengan mudah dihilangkan, namun lain halnya dengan palu yang merupakan senjata suci. Rigel tidak dapat menangkapnya, karena larangan menyentuh senjata suci Pahlawan. Untuk hal itulah dia terus menghindarinya, namun palunya terus mengekor.
"Benar- benar menyusahka—" ucapannya terpotong oleh seseorang.
"—tidak ada waktu untuk keluhan! Calamity Claw!"
Serangan cepat dari cakar bersamaan dengan gangguan palu menghampirinya bersamaan. Kombinasi yang unik dan cemerlang, patut diacungi jempol.
"Namun...,—"
Besi-besi kuat mulai tumbuh bak duri diantara Rigel, menahan laju palu dan memblokir setiap serangan yang ada.
"—kesalahan besar bila melupakan siapa diriku dan hal yang bisa aku lakukan..." Rigel mengejek dan memberikan tawa kecil sebagai provokasi.
Dia mengharapkan akan ada komentar ketidak senangan dan amarah akan provokasinya, namun dia mendapat sesuatu yang berada jauh dari keinginannya.
Nadia menunjukkan senyuman mengejek seakan membalas senyuman Rigel, "Tentu saja kami tidak sebodoh itu untuk lupa."
Bom!
Begitu Nadia melompat mundur bersamaan dengan palu Aland, sebuah tongkat seukuran mobil jatuh dari langit, hampir saja membuat Rigel rata karenanya.
"Untunglah aku tepat waktu," sesaat sebelum tongkat Ozaru mencapainya, dia telah lebih dulu pergi dari sana karena sudah mempertimbangkan kondisi seperti itu.
Dia aku bahwa dirinya terlaku meremehkan Pahlawan lain, mengingat tidak ada kordinasi atau tanda seperti apapun yang mereka tunjukkan. Namun kenyataannya mereka dapat bertindak tanpa rencana dan bekerjasama dengan sangat baik. Jika prediksinya benar, mereka berniat menyerang dirinya tanpa henti dan membuatnya terpojok.
Jika saja Rigel hanya menggunakan kekuatan Creator dan Mana manipulasi, maka dia kemungkinan besar kalah jika terus menerus diletakkan di situasi berbahaya. Namun, selama Sylph dan Undine tetap berdiri maka tidak jadi masalah.
"Sepertinya memang tidak mudah untuk melukaimu setengah-setengah, ya..." Ozaru berdecak kagum terhadap ketangkasan yang dimiliki Rigel.
"Sama halnya denganmu dan juga yang lainnya. Yeah, lagipula latihan ini hanya bertujuan untuk melihat seberapa baik kordinasi yang dimiliki, namun hasilnya lumayan juga."
Meski terdapat beberapa kekurangan yang tidak terbantahkan, sejauh ini hasilnya sudah cukup bagus. Dapat bergerak tanpa rencana awal saja sudah cukup. Selama mereka memahami hal apa yang akan dilakukan rekannya.
Rigel menoleh ke pertarungan lain, menemukan Sylph tengah bertarung sengit melawan Takumi, Merial dan Yuri.
Merial menggunakan cambuknya untum menyapu bersih jebakan yang disiapkan Sylph, sementara dia melakukan hal berlawanan yaitu membuat jebakan lain.
Yuri terus menyerangnya— atau mungkin Sylph yang menyerang Yuri dengan serangkaian duri-duri tajam dan menghindari Takumi yang berusaha mendekatinya. Membuat jebakan, menyerang sekaligus bertahan dan menghindar. Dia dapat melakukan berbagai hal itu dalam satu waktu yang bersamaan. Tidak ada hal lain selain kekaguman yang dapat dirasakan.
Dari yang terlihat, Sylph tidak mengalami kesulitan dan masih bertarung dengan sangat santai. Menunjukkan dengan jelas seberapa tangkas dan kuat dirinya.
Untuk Undine, dia tengah berseteru melawan Petra dan Marcel. Meskipun dirinya hanya bertugas sebagai pendukung, namun bukan berarti dia lemah dalam pertarungan. Buktinya, dia dapat bertarung seimbang dengan Marcel, meskipun Undine nampak jelas mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyamai Marcel.
Dengan bantuan Petra yang terus mengirimkan gelombang udara dan bilah kipas cahaya, Undine terus terpojok. Marcel terus memutar sabitnya dan menyapu udara dengan luas hingga Undine bergabung dengan air dan memecah diri menjadi empat bagian lalu kembali bersatu.
Dua kemenangan pihak Rigel dan satu kekalahan. Mungkin itu yang akan terjadi. Namun mereka sama sekali tidak perduli akan memang dan kalah, karena sebagian hari dilakukan untuk berlatih dan bersenang-senang saja.