
Butuh beberapa waktu untuk Rigel membahas strateginya dengan Takumi. Saat dalam pembahasan, Takumi hanya diam mendengarkan dan terkadang memberikan beberapa saran yang bagus. Sehingga pembicaraan mereka lancar tanpa hambatan.
Saat Rigel dan Takumi keluar, dia menemukan Tirith dan yang lainnya. Mereka di kelilingi banyak Peri kecil yang lucu itu. Bukannya terusik, mereka tampak senang bermain bersama para Peri itu, terutamanya Tirith.
Rigel hanya bisa mengeluarkan senyumannya, "Mari kita kembali dan memakamkan Nanami..."
Mendengar ucapan Rigel, suasana menjadi sedikit sedih. Benar kata Rigel, mau bagaimanapun Nanami adalah seorang Pahlawan yang telah gugur. Dia layak mendapatkan pemakaman yang bagus untuk jasadnya. Tanpa membuang waktu lagi, Rigel dan yang lainnya berteleport, pergi dari Valhalla. Para Peri kecil itu melambaikan tangan mereka dengan riang selagi Rigel menyiapkan teleportasi.
"Teleport!"
Pemandangan sekitar mulai berubah dan mereka telah kembali ke tempat para prajurit berada. Masih ada banyak sekali hal yang harus di lakukan terlebih dahulu dan nampaknya, Pemakaman Nanami akan di laksanakan di tempat terdekat, Britannia.
Waktu berjalan dengan cepat. Rigel telah memerintahkan tentara Region kembali ke negara dengan komando Ray dan Fang. Merial dan Asoka akan ikut bersama Rigel, fakta bahwa Merial menjadi seorang Pahlawan sudah di ketahui Asoka. Namun, Rigel masih tidak berniat untuk mempublikasikan beritanya secara luas. Tentu, untuk saat ini. Perjalanan menuju Britannia membutuhkan waktu satu malam, karena terlalu membuang waktu, Rigel memutuskan pergi menggunakan Teleport, bersama Merial dan Asoka. Sebagai catatan, Rigel telah membungkam mulut Altucray dan Tirith tentang Britannia yang sudah jatuh ke tangannya.
"Lebih baik kita beristirahat di tempat ini, malam ini." Ujar Rigel, menatap pilar tinggi kastil Britannia.
"Ya... Namun sebelum itu kita harus meminta izin tinggal kepada Raja Altucray." Asoka tersenyum dan menyetujui saran Rigel.
Asoka masih belum mengetahui kalau istana ini sudah menjadi milik Rigel di balik bayang. Yah, kerahasiaan ini hal yang penting, jadi Rigel tidak berniat untuk memberitahunya dalam waktu dekat.
"Ya... Untuk sekarang, mari kita masuk, lagipula aku adalah seorang Pahlawan dan kau seorang Raja Region, jadi tidak mungkin mereka menolak orang penting seperti kita... Selain itu..." Rigel melirik Asoka dan Merial sedikit, "Aku yakin Walther ada di sana, ada baiknya kau meminta restu darinya, Asoka." Rigel berjalan memasuki kastil.
"Restu? apa maksudmu Rigel?" Asoka tidak mengerti, namun Rigel tetap berjalan dan tidak berniat menjelaskan. Di lain sisi, Merial tampak memahami dan sedikit merona.
Memutuskan untuk membiarkan mereka berdua, Rigel pergi menuju ruang Tahta. Di sana dia melihat Walther dan bangsawan Britannia lain sedang sibuk mendiskusikan sesuatu tanpa kehadiran Raja. Dia tampak kelelahan menghadapi para bangsawan serakah itu. Rigel memutuskan untuk berjalan mendekati mereka.
"Yo... Nampaknya kau sedang kesusahan, Walther. Meninggalkan kerajaan ini, hanya untuk menemuiku... Tuan Putri bodoh itu benar-benar tidak bertanggung jawab..." Rigel tersenyum mengejek selagi melewati bangsawan lain, termasuk Walther.
"Tuan Rigel! Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku dan juga, aku benar-benar kagum denganmu yang sanggup menghancurkan Tortoise!" Walther bersuka cita.
Rigel tersenyum dan menepuk bahunya dan melewatinya. Rigel duduk di sebuah kursi kosong yang tidak ada seorangpun berani mendudukinya. Kursi itu adalah Tahta milik Raja Britannia. Rigel tanpa basa-basi duduk di sana dan membuat Bangsawan lain tercengang.
"Ahh~, kursi ini terlalu keras dan bau tanah. Yah, setidaknya aku dapat mengistirahatkan tubuhku."
"Bajingan! beraninya kau menduduki Tahta milik Raja! meskipun kau seorang Pahlawan, tidak sepantasnya kau bersikap seperti ini!" Seorang Bangsawan Britannia menyerukan keluhannya.
Rigel menatap orang itu seperti sampah, "Lalu kau siapa? orang rendahan yang berani menghina Pahlawan yang telah mengalahkan DUA monster malapetaka? Sadarilah di mana tempatmu berada, bodoh."
Perkataan Rigel cukup untuk mengguncang setiap orang yang ada di dalam ruangan itu. Bangsawan yang Rigel hina nampak sangat geram dengannya.
"Kau! beraninya kau menghinaku! aku adalah kepala bangsawan Ravenpoop—" Ucapannya di potong oleh Rigel.
"Haah? Ravenpoop? Hahahahaha, aku tidak menyangka jika ada bangsawan dengan nama kotoran gagak... Itu cukup menghibur, namun kelancanganmu tidak termaafkan. Aku akan memberimu sedikit hukuman kecil..." Rigel bangkit dari tahtanya dan dengan cepat sudah berada di depan bangsawan itu.
Tidak ada satu orangpun di sini yang dapat mengikuti kecepatan Rigel yang mengerikan. Rigel menepuk bahu bangsawan kotoran burung itu, "Lihatlah mataku..."
Bangsawan itu menatap mata kanan Rigel yang berwarna biru. Dia terbawa ke dalam matanya dan melihat sekumpulan undead mengerikan bersemayam di dalam tubuhnya.
"Haaahh! haaaarrhhh!!" Bangsawan itu menjerit histeris karena sesuatu. Rigel berjalan pergi, meninggalkan orang itu dalam ketakutan Domain of Death.
Suasana hatinya buruk, Rigel memutuskan untuk pergi ke tempat lain dan menghubungi seseorang melalui telepati khusus dengan roh kecil sebagai perantaranya. Rigel menuju taman kerajaan yang sedikit terbakar karena bom molotov yang dia lemparkan sebelumnya.
"Sylph... ini aku."
Roh kecil hijau itu perlahan bersinar terang dan mengeluarkan suara orang yang Rigel ingin ajak bicara.
"Ya.. Di sini aku..." Balasnya dengan ramah.
"Aku ingin memastikan sesuatu denganmu... ini tentang gadis itu."
"Ahh~, saat ini aku sudah membebaskannya dari penjara kristal Es itu." Sylph menjawab dengan suara yang sedikit riang dan sedih.
"Apa dia baik-baik saja?" Rigel bertanya dengan penasaran.
"Jika kau bertanya seperti itu, aku tidak yakin. Tubuhnya baik-baik saja dan dia masih bernafas. Namun... dia tidak akan pernah bangun dari tidurnya." Suara Sylph tampak sedih dan kesepian.
"Begitu ya... Aku ingin mengkonfirmasi satu hal padamu, apakah dia benar-benar Priscilla?"
"... Ya, dia benar-benar gadis yang ku anggap putriku dan menerima berkah cinta ratu Peri..." Sylph menjawab dengan sedikit linglung.
"Begitu, ya... Kalau begitu, aku akan menemuimu setelah menyelesaikan beberapa hal di sini..." Rigel langsung memutus panggilannya dan menatap langit yang mulai menggelap.
Dia paham betul alasan Priscilla mungkin tidak akan bangun dari tidurnya. Itu karena Jiwanya tidak lagi bersama tubuhnya. Rigel telah menemui jiwanya saat memasuki Labyrinth neraka saat lalu. Yah, Rigel tidak memiliki waktu untuk merenungkan nya, dia akan memikirkan cara untuk membangunkan Priscilla kembali.
"Baiklah, sekarang lebih baik aku memulihkan kondisi tubuhku dan mempersiapkan diri untuk pemakaman esok hari." Rigel berbicara sendiri.
Karena dia tidak memiliki hal lain yang harus di lakukan dan keadaan tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, Rigel memutuskan untuk mengakhiri hari dengan mengistirahatkan tubuhnya.
***
Pada pagi harinya, pemakaman Pahlawan Cambuk sedang di laksanakan. Sebelas Pahlawan tersisa berbaris di depan makam Nanami. Pemakaman itu sendiri di hadiri oleh banyak orang dari segala kalangan. Ada orang yang turut berduka atas kematiannya, ada juga orang yang hadir hanya untuk melihat Pahlawan secara langsung. Cuaca saat ini tidak mendukung, hujan turun dan membuat orang yang hadir kebasahan.
"Mati di dunia yang bukan milik kita, rasanya begitu menyedihkan, ya..." Rigel bergumam dan menatap langit mendung.
"Jika dipikir lagi ada benarnya... Kita datang ke dunia ini tanpa kehendak kita. Dan di paksa bertarung serta memikul beban besar di pundak kita..." Petra setuju.
Di panggil tanpa peringatan dan bertarung dengan monster, lalu berperang di akhir perjalanan. Bagi beberapa orang mungkin dunia semacam ini menyenangkan, namun tidak bagi beberapa orang lainnya.
"Pertarungan ke depannya akan semakin sulit, aku berharap tidak ada lagi satupun dari kita yang mati." Hazama menyerukan isi hatinya.
Rigel mencibir, "Heh, aku tidak yakin tentang itu... Yah, setidaknya kita mendapat pelajaran dari kematian Nanami untuk tidak meremehkan pertarungan ke depannya..." Rigel berbalik dan berjalan meninggalkan pemakaman.
Pahlawan lain masih tetap di tempat dan meratapi kematian Nanami. Mungkin ini akan menjadi peringatan kedua untuk umat manusia. Bahwa pertarungan ke depannya tidak akan menjadi lebih mudah dan mereka harus berusaha keras untuk menaklukkan rintangan yang ada.
Rigel yang sudah menjauh dari pemakaman berhenti sejenak dan menatap tempat pemakaman berada.
"Tidak ada gunanya untuk meratapi orang yang bahkan tidak terlalu ku kenal... Sekarang, lebih baik aku pergi melihat Priscilla dan melakukan segala hal yang dapat kupikirkan untuk membangunkannya..."
Dengan begitu, tanpa perlu membuang waktunya lebih lama. Rigel berteleport ke hutan Peri untuk menemui kawan lama seperjuangannya..