
Hari demi hari berlalu, tidak terasa 6 hari sudah berlalu semenjak ketibaannya di Darkness. Banyak hal telah terjadi dalam rentang waktu itu. Dimulai dari kejadian Priscilla yang begitu memprihatinkan karena tidak diketahui keberadaannya, hingga Region yang kini telah kedatangan banyak pedagang budak.
Tidak terduga bahwa beritanya tersebar dengan begitu cepat, tentang Rigel mencari budak. Namun ada beberapa kejadian mengesalkan, seperti bangsawan yang sengaja membuat putrinya terlihat seperti budak dengan tujuan memiliki keturunan dari Pahlawan.
Untuk mengatasinya, diperlukan tes khusus untuk memastikan apakah mereka budak sungguhan atau hanya palsu belaka. Tes itu berupa pengetahuan dasar yang seharusnya sudah tertanam diingatan para budak dan hasilnya terdapat banyak dari mereka tertangkap.
Meski mungkin ada beberapa dari mereka yang dapat meloloskan diri, Rigel telah membuat pernyataan yang berbunyi :
"Barang siapa yang menyamar menjadi budak dan berniat menipu, aku tidak akan sungkan mencincang kalian dan menjadikannya makanan babi atau makanan Naga murni yang berada di gunung. Yanh terburuknya, aku akan membuat kalian mengandung anak kera."
Memang akan terdengar seperti gertakan belaka bagi sebagian orang, namun bertepatan dengan pernyataan Rigel, auman seekor Naga yang memekakan telinga dapat terdengar yang menguatkan pernyataannya.
Bagi sebagian bangsawan, mereka menyadari bahwa sosok seperti Rigel akan terlampau sulit dikadali ketimbang Pahlawan lain. Lalu sebagian dari mereka sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Rigel dan berpikir bahwa tiada salahnya mencoba keberuntungan.
Karena Region sendiri masih dalam tahap pembentukan awal dan memerlukan mitra dagang, transaksi menggunakan uang akan sulit. Karena itulah, Rigel meminta Asoka menggunakan cara lama yaitu barter. Sebagai ganti menyerahkan budak, Region akan memberikan sebuah kendaraan bernama mobil yang membuat mereka dapat menempuh jarak jauh dalam beberapa jam.
Tentunya tidak ada yang tidak tertarik untuk memilikinya. Menempuh perjalanan jauh dalam satu hari adalah berkah para pedagang, sehingga orang-orang mulai berlomba-lomba mendapatkannya.
Apakah itu menguntungkan atau sebaliknya? Tentu saja yang pertama adalah jawabannya. Pada akhirnya, semua mobil membutuhkan bahan bakar dan mobil yang diciptakan Rigel berbasis tenaga surya. Rigel membuat mobil yang akan diserahkan kepada pedagang budak untuk tidak dapat mengisis dayanya sendiri, sehingga ada kebutuhan mengisi daya dengan membayar harga yang cukup tinggi ke Region. Tidak ada bedanya dengan memonopoli dan Natalia sangat kagum terhadap rencana Rigel yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Berbicara tentang Natalia, dia kini menjadi mitra perdagangan Region dan menyalurkan berbagai barang yang telah disiapkan Rigel untuk diperkenalkan kepada dunia. Tentunya bukan dalam bentuk senjata, melainkan kebutuhan primer berupa sandang, pangan dan papan. Meskipun pada bagian makanan masih sulit untuk diterapkan secara merata.
Dengan begini perdagangan telah dimulai, satu langkah lagi bagi Region menuju negara maju dan makmur. Langkah terakhir yang dibutuhkan adalah membangun sistem militer dan para Dwarf yang dapat membuat hal-hal yang berasal dari bumi, bahkan tanpa bantuan Rigel dimasa depan. Untuk saat ini, pertarungan di zona E akan diselenggarakan dan pertandingan pertama akan menjadi tim Rigel melawan Odin.
"Hey, hey, hey, hey, hey! Disini pembawa acara tercinta kalian! Tidak terasa bahwa babak Eliminasi akan mencapai akhir dan hendak memasuki Fight To End sesungguhnya!"
"WHOAA!"
Sorak-sorai pecah, seakan pertarungan kali ini menjadi penantian kedua setelah Pilar Iblis Marionette. Masing-masing penonton memegang kantung berisi uang, siap sepenuhnya untuk berjudi dan memilih petarung yang berkemungkinan menang.
"Ya, ya, ya, ya, ya! Pertarungan pertama akan menjadi hal yang dinanti-nantikan oleh banyak orang! Sosok yang memiliki kemampuan mirip dengan Pilar Ibli Marionette dan pendatang baru di arena pemakaman! Dia adalah Matsu Sang Necromancer!"
"WHOAA!"
Pria bertopeng dengan jubah yang menutupi tubuhnya memasuki arena, diiringi dengan Leo dan Garfiel yang dikenal dengan nama Tiger. Semangat diantara penonton pecah akan kehadiran yang telah dinantikan. Pendatang baru bernama Matsu telah membuat namanya terkenal di babak Eliminasi awal, ditambah dia satu tim dengan Tiger yang memiliki reputasi baik di tempat ini. Lalu, seorang bocah bernama Leo dengan kemampuan berpedang setara dengan pendekar hebat.
Namun, yang menjadikan pertarungan ini layak disaksikan adalah lawannya, petarung solo terkuat Odin. Sama halnya dengan Tiger dan Alexander, Odin juga memiliki reputasi tinggi di tempat ini sehingga tidak ada orang yang tidak mengenal namanya, Odin Putra Langit.
"Dan di sisi lain, petarung veteran yang telah memenangkan Fight To End beberapa kali, si Putra Langit, petarung solo terkuat, Odin!!!"
"WHOAAA!"
Pria berumur kepala empat dengan rambut hitam pendek yang dihiasi rambut putih memasuki arena. Odin menggunakan zirah lengkap yang tampak kuat, namun dia tidak terlihat membawa senjata apapun. Meski begitu, ketangguhan yang dimilikinya terlihat nyata.
Dia mengamati lawannya baik-baik. Dua lainnya hanya anak-anak dan Odin tahu mereka sedikit spesial sementara pria bertopeng didepannya mengeluarkan pancaran labil seperti kenyamanan dan kengerian tertentu.
Kenyamanan yang membuatnya merasa aman, diiringi dengan kengerian yang membuatnya tunduk dihadapan eksistensinya. Odin tahu betul, pria bertopeng itu bukan lawan yang patut diremehkan. Mengingat Necromancer adalah kemampuan mengerikan dan jahat, kenyamanan yang dipancarkan sungguh tidak masuk akal.
"Sepertinya kau menemukan orang yang sangat menarik ya, Tiger."
Odin mencoba menggali informasi, namun tiada hal dari reaksi Tiger memberikan informasi khusus. Disisi lain, pria bertopeng itu tampak tenang, meski samar, pancaran kebiruan dapat dilihat dari balik topengnya.
"Hey, hey, hey, hey, hey! Para petarung telah berada ditempat, siapkanlah uang kalian dan pasanglah taruhan kalian!"
Mendengar ucapan pembawa acara itu, semua penonton memasang taruhan. Bahkan tidak terkecuqli Moris.
"Aku bertaruh 1000 koin emas untuk Matsu!"
"WHOA!"
Moris tahu siapa sosok Matsu yang sebenarnya, sehingga tiada keraguan bahwa dia akan kalah oleh Odin. Meski sedikit menjengkelkan mengetahui bahwa dia meraup keuntungan dari pertarungannya, Rigel memilih untuk mengabaikannya. Jika saja Moris meraup untung banyak, maka Rigel akan menganggapnya sebagai bayaran atas dia yang mau memandu Rigel ke tempat ini.
Diikuti Moris, beberapa penonton lain bertarung dengan jumlah gila, bahkan ada yang mencapai sepuluh ribu emas untuk bertaruh kepada Odin.
"Wah, wah, wah, wah, wah! Nampaknya para penjudi juga mulai menggila dan mempertaruhkan banyak uang! Jika begitu, tidak perlu buang waktu, mari kita mulai pertarungannya!"
Mendapatkan tanda dari pembawa acara, pertarungan seharusnya dimulai, namun tidak ada salah satu dari pihak manapun langsung menerjang. Garfiel hendak menerjang tanpa pikir panjang, namun Rigel menahannya dan mengamati Odin baik-baik. Sampai saat ini, tidak ada tanda bahwa Odin akan mengambil senjatanya.
"Pertarungan telah dimulai, cepat tariklah senjayamu dari sarungnya."
Mendengar perumpamaan pria bertopeng yang memintanya mengeluarkan senjata, Odin hanya mendengus saja.
"Tidak perlu bagiku menarik senjata untuk melawan keroco seperti kalian... Toh—tadinya ingin kuberkata begitu. Namun entah mengapa, sesuatu tentang dirimu tidak pada tempatnya. Disisi lain kengerian mendalam akan kemarahan dunia, namu disisi lain ketenangan yang patut dipuja layaknya dewa... Untuk pertama kalinya, aku menemui sesuatu tak pasti seperti ini. Karena itu aku sulit memutuskan, haruskah bertarung sekuat tenaga dari awal atau justru sebaliknya."
Evaluasinya terhadap Rigel cukup tinggi, hingga menimbulkan kebimbangan semacam itu didalam dirinya. Memang bukan hal yang buruk mendapatkan penilaian tinggi, namun disituasi ini hal itu tidak menguntungkan. Setidaknya, dipertarungan ini, Rigel berniat menang tanpa perlu mengeluarkan banyak usaha.
Memang kemenangan sudah terjamin. Bahkan jika ada satu banding satu juta dia mengalami kekalahan, hal itu tidak perlu dikhawatirkan.
"Aku tidak memahami maksudmu. Namun, jika tidak bisa, aku ingin kau langsung menyerah tanpa perlawanan dan memberikan barang berhargamu."
Dengan begitu, tidak ada kebutuhan baginya mengungkap hal yang tidak perlu diungkapkan. Namun Odin tidak akan pernah sepatuh itu padanya.
"Dari cara bicaramu, sepertinya kau seakan sudah menjamin kemenanganmu, bahkan jika aku bertarung serius sejak awal," Odin mencibir dan seakan terhibur.
"Kau tahu itu, namun tidak mau menyerah begitu saja?"
Memang terdengar seperti provokasi dari sisi lain, namun nyatanya berbeda dari itu.
"Hahaha... Yah, Necromancer memang bukan sesuatu yang sering di jumpai. Namun, bukan berarti itu tanpa kelemahan. Tidak ada satupun sihir di dunia ini yang tanpa kelemahan. Jika aku mengalahkan si pengguna, maka mayat hidup itu tidak akan bisa dibangkitkan."
Jadi begitu. Sekarang Rigel memahami, mengapa orang seperti Odin dapat menjadi jawara di tempat ini dan berkali-kali memenangkannya. Pengetahuannya sendiri luas, dia tidak hanya bertumpu dengan 'serangan itu kuat, mustahil dikalahkan' namun dia memikirkan sesuatu yang jarang terpikirkan.
Pernyataan tentang 'tidak ada sihir tanpa kelemahan' sangat disetujui oleh Rigel. Tidak ada yang namanya kesempurnaan didunia ini, bahkan Manusia selalu memiliki kekurangan didalamnya. Dunia ini sendiri tidak sempurna, jika memang sempurna, seharusnya tidak ada takdir kejam yang selalu merenggut yang terkasih dan yang dibenci.
"Hahaha, ya. Akupun setuju. Tidak ada hal baik datang dari membuang-buang waktu."
Odin mengambil kuda-kuda ofensif selagi tangan kanan bersiap mengambil apapun dari infentory. Leo dan Garfiel juga sama dengannya, mengambil kuda-kuda.
Untuk pertama kalinya dipertarungan, Garfiel menyiapkan cakarnya diawal pertarungan. Berbeda dari harapan, cakarnya tidak muncul langsung dari kukunya, nelainkan dari punggung jari-jarinya. Tidak hanya cakar, tetapj taring giginya sedikit memanjang keluar dari bibirnya.
Disisi lain, Leo menghunuskan pedang yang tampak seperti Katana dan mengambil posisi bertarung. Odin sedikit membelalak begitu melihat bilah gelap namun tajam dari pedang Leo dan menyadari bahwa pedangnya berkualitas sangat tinggi.
'Sepertinya memang tidak salah memilih bertarung sejak awal, ya,' batin Odin.
"Aku mulai!"
Dengan suara berat, Odin menerjang maju dengan sangat cepat, namun bukan berarti tidak dapat diikuti. Odin mengambil sebuah senjata dari penyimpanan dan itu berwujud pedang dengan bilah yang cukup besar. Namun unkinya, bilah besarnya ditutupi oleh perban dengan ukiran segel sihir. Meski begitu, kekuatannya cukup untuk memenggal kepala.
Leo dengan sigap melangkah maju, menahan serangan Odin dengan punggung pedangnya. Meski sedikit terdorong dari tempat berpijak sebelumnya, Leo berhasil menahan dan disaat bersamaan, Garfiel melangkah menyerang punggung Odin.
Menyadari itu, Odin menguatkan ayunan pedangnya. Disatu sisi membuat Leo terhempas dan disisi lain Odin terhempas ke udara, menghindari serangan kejutan Garfiel.
Saat berpikir dia lolos dari kejaran, sebuah bayangan hitam melesat langsung ke arahnya dan menabraknya dengan kuat. Odin terhempas kembali ke arena, dengan debu pasir berkumpul di sekitarnya. Sesaat dirinya tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, namun setelah melihatnya dia hanya tersenyum masam akan kecerobohannya.
"Ahh~, benar juga. Aku hampir melupakan bahwa kau memiliki mahkluk panggilan Naga, ya."
Odin menyeka darah di bibirnya yang tersenyum lebar. Sudah sejak lama dia tidak merasa kesenangan seperti ini. Menghadapi tekanan akan hidup dan mati yang nyata merupakan kesegaran baru baginya.
"Hehehe, sepertinya memang tidak ada waktu menahan diri, ya!"
Lagi-lagi dia melesat dengan cepat dan menghempaskan Garfiel dalam perjalanan. Leo menghalanginya dan bentrok antara pedang terjadi. Namun sayangnya Leo memiliki sedikit pengalaman ketimbang Odin sehingga dia dapat disingkirkan dengan mudahnya.
Odin menerjang menuju Rigel, namun Naga di belakangnya tidak tinggal diam dan mengayunkan cakarnya untuk melindungi Rigel.
Mengumpulkan Mana dan mewujudkannya menjadi tinju emas, Rigel melemparkannya kepada Odin dan membuatnya terdorong mundur. Selagi dirinya berusaha mengambil pijakan yang tepat, Leo dan Garfiel menerjang dari dua arah.
Leo menikamkan pedangnya dari sisi kiri, namun dihindari dengan brilian oleh Odin. Tetapi dalam jeda waktu tersebut, memberikan kesempatan bagi Garfiel menggores pinggangnya cukup salam untuk menembus armor tebalnya.
"Heh, boleh juga..."
"Belum berakhir... Burst Step!"
Leo menggunakan langkah cepatnya, cukup cepat untuk membuat Odin telat bereaksi. Dia menghubungkannya dengan serangan yang mungkin didapat dari hasil latihannya bersama Tirith.
"Blade Dance!"
Berputar selayaknya menari, Leo menyerang langsung dari belakang Odin. Tentunya dia tidak menduga bahwa bocah yang diremehkan olehnya hingga diabaikan dapat bergerak secepat itu. Karena kelalaiannya, dia terlalu terkejut hingga telat untuk bereaksi.
"Salahku, karena meremehkanmu. Maafkan aku. Tetapi... Kau belum cukup hebat menggores tubuh pak tua ini, anak muda!"
"Wahh! Sungguh gerakan yang sangat mulus! Odin menggunakan pedangnya untuk menahan serangan berputar yang sangat mematikan!"
Whoaa!
Teriakan kagum dan sorak dari para penonton pecah
Untuk menghindari runtutan serangan pedang Leo, Odin menggunakan punggung pedangnya yang besar untuk melindungi punggungnya. Rigel berpikir bahwa pedang Odin akan patah, namun kenyataannya berbeda. Tidak ada sedikitpun retakan, bahkan goresanpun tidak terbentuk.
Rigel mendapat kesimpulan bahwa pedang Odin bukanlah pedang biasa. Jika benar, maka kualitas pedang Odin sama dengan milik Leo. Yaitu kualitas tertinggi, God Tier!
Odin berputar dan menendang Leo tepat di perut dan membuatnya memuntahkan isi perutnya. Garfiel mengfantikan Leo dengan menerjang dan berusaha melindungi Leo. Sementara Naga dibelakangnya mulai mengepakan sayap dan menghembuskan nafas api dari tenggorokannya.
"Shield!"
Odin menancapkan pedangnya ke tanah dan mewujudkan perisai sihir yang melindunginya dari nafas api keunguan itu. Para penonton berdecak kagum terhadap pertarungan yang tidak mudah dijumpai.
Rigel sendiri begitu tertarik dengan wujud sejati pedang Odin. Pedangnya dapat mewujudkan perisai sihir melalui auranya, dan bilahnya yang ditutupi perban yang tampaknya sebuah segel, masih cukup tajam untuk memotong sebuah pohon.
Tidak salah untuk menyebutnya sebagai petarung solo terkuat karena kecakapannya dalam pertarungan sungguh nyata. Jika Odin memilih untuk menyerah nanti dan menyerahkan pedangnya, tidak ada keraguan untuk merekrutnya sebagai salah satu kesatria di Region.
"Fiuh~, meski aku tahu kelemahan Necromancer terletak pada penggunanya, nyatanya tidak mudah untuk mendekatimu dengan guardian yang cukup ahli ini."
Tidak ada kata-kata lain selain pujian yang dapat dituturkan olehnya. Mungkin sudah 15 menit berlalu semenjak pertarungan dimulai dan dimata semua orang, masih belum jelas siapa yang akan berdiri sebagai pemenang.
Dalam 15 menit ini, masing-masing dari mereka sedang mencari celah dan titik lemah selagi bertarung seminim mungkin. Odin juga menyadari niatnya, sehingga tiada hal yang dapat dilakukan selain tersenyum dan mengungkap kartu yang sejak lama disimpan.
"Ahh~, meski masih abu-abu, aku tahu setidaknya kau kuat, bahkan tanpa mayat dibelakangmu itu."
"Hoho? Darimana kesimpulan tak berdasar itu berasal?"
"Jangan menilaiku... Bahkan seekor domba akan menyadari jika serigala menyusup kekawanan mereka... Aku tidak cukup bodoh untuk tidak mengetahui garis dimana kau berada. Dilihat dari strategi serangan dan ketepatan timing dukungan dari Naga yang kau arahkan, menandakan jelas kau memiliki banyak pengalaman bertempur," ujar Odin.
Lagi-lagi, Rigel harus mengubah evaluasinya terhadap sosok bernama Odin ini. Meskipun ada kebutuhan tentang Moris yang ingin membalaskan dendam anaknya, namun akan disayangkan untuk menghilangkan orang seberbakat dia.
"Selain itu, keyakinanku tak terbantahkan, bahwa kau cukup kuat sampai berhasil membunuh Naga dan menjadikannya mayat hidupmu."
Senyuman berani yang tampak bagai provokasi muncul dibibirnya. Odin mulai mengalirkan Mana kepedangnya dengan niat melepaskan perban yang menyegel pedangnya.
"Sebuah kehormatan besar, bahwa pada akhirnya setelah waktu yang sangat lama. Aku melepas segel pedangku untuk menghadapi lawan yang kuakui kekuatannya"
Energi sihir besar meledak keluar begitu segel dilepaskan. Perban yang menutupinya terlepas dan memperlihatkan bilah pedang yang berkilauan dengan cemerlang.
"Hoho... Sepertinya pertarungan selanjutnya akan menjadi menarik!"