
Roarrrr!!
Suara Arch Licht kesakitan karena luka dari pukulan yang berhasil aku ciptakan. Dengan begini pastinya semua krang yang melihat akan menganggapku setara dengan para petinggi lain.
Aku dapat mendengar beberapa sorakan dari para prajurit lain yang menperhatikan pertukaranku dengan Arch Licht.
Meskipun disesalkan karena aku telah menarik perhatian orang orang, namun sekarang bukanlah waktunya untuk menahan diri.
Aku mengambil jarak beberapa langkah dari Arch Licht yang memegang wajahnya. Dia menggunakan sihir penyembuh kepada wajahnya.
Tch!
Aku mendecakkan lidahku karena kesal namun, dengan begini mungkin aku berhasil sedikit melemahkannya.
Arch Licht ini lebih kuat dari Dragon Zombie namub gerakannya lebih lambat dari Dragon Zombie.
Jubah dan tudung yang dia gunakan rupanya memiliki efek anti sihir, jadi serangan sihir tidak akan mempan terhadapnya, ya.
Sebisa mungkin aku ingin menelanjangi mahkluk ini dan mengambil jubah yang dia kenakan untuk diriku pribadi karena selain desainya yang unik dan keren, dia memiliki efek lain yang dapat membantuku.
Namun, ini bukan pekerjaan yang mudah untuk menelanjanginya karena dia tidak akan membiarkan dirinya di telanjangi. Huh, sepertinya tidak mungkin untuk menyimpannya.
Dengan terpaksa aku harus menghancurkan jubahnya dan berharap mendapatkan item yang sebanding dengan jubahnya.
Arch Licht menatapku dengan mata haus darah, aku mengejeknya dengan mengacungkan jari tengahku lalu melesat dengan cepat ke arahnya.
Woosh!
Bang!
Aku mengarahkan tinjuku, disertai mana yang mewujudkan diri menyerupai tinjuku seperti sebelumnya ke arah dada Arch Licht.
Dia dapat menahannya dengan menyilangkan kedua lengannya, dia mundur beberapa langkah karena dorongan kuat dari tinju manaku.
Arch Licht itu membuka rahangnya lebar lebar dan api berwarna biru keluar dari mulutnya. Sial, aku tidak bisa menghindarinya!
Aku mengulurkan tanganku yang disertai tangan mana raksasa untuk menutupiku dari semburan api itu.
Woosh!
Meskipun aku terlindungi karena tangan mana yang kubuat menghadang api, aku masih dapat merasakan panas dari api yang menyebar di sampingku.
Tidak butuh waktu lama bagunya untuk berhenti menyemburkan api. Aku mendarat dan mengambil jarak darinya.
Aku yakin dia mulai kewalahan karena terus menerus mengeluarkan sihir dari tadi. Aku harap dia cepat mati saja.
Aku melihat Mirai yang sudah dalam posisi yang ditentukan dan juga para petinggi lain tampaknya berhasil menyegel gerakan Dragon Zombie dengan rantai sihir yang cukup kuat.
Dengan begitu, Dragon Zombie bisa ditinggalkan sementara dan para petinggi dapat membantu dalam rencana.
Persiapan sudah selesai, sekarang masalah utamanya menghadapi Arch Licht ini. Aku mengangguk Kepada Mirai yang berdiri di samping Anastasia yang sedang mengumpulkan elemen cahaya.
Mirai mengacungkan jempolnya yang menjadi tanda bahwa persiapannya sudah selesai. Sebelumnya, aku menyuruh Mirai untuk memberitahu kepada orang orang apa yang harus mereka lakukan.
"Baiklah sekarang saatnya kita mulai rencananya!!"
Aku meraum sekencang mungkin.
"Yaaa!!!"
Semua orang membalas raunganku dengan penuh semangat dan harapan untuk tetap hidup demi hari esok.
"Maju!!" Rigel berteriak.
Aku berlari maju dan semua orang mengikutiku termasuk Mirai dan petinggi lainnya maju ke arah Arch Licht.
Langkah pertama, aku akan mencoba memberikan pembukaan yang bagus untuk membuat Arch Licht itu terfokus padaku.
Aku menghindar ke kiri dan kanan untuk menghindari setiap sihir putus asa yang di keluarkan Arch Licht sementara tangan kananku mengumpulkan mana sebanyak mungkin.
Untuk Anastasia, dia tetap fokus merapalkan mantra sambil menyaksikan pertarungan kami. Dia saat ini berada di tengah tengah empat perlindungan sihir yang di buat beberapa penyihir yang harus melindungi Anastasia.
Aku melihat ke arah pasukan Undead yang mengejar kami karena tidak ada lagi orang yang mencoba menahan mereka, aku tersenyum karena nampaknya dugaanku benar.
Arch Licht itu tidak dapat memerintahkan para pasukan undead jika dia tidak duduk di tahtanya. Saat ini, mereka hanya di perintahkan untuk membunuh kami dan saat kami berlari mereka mengejar kami.
Jika aku menjadi mereka, aku akan memilih untuk menyerang Anastasia dan penyihir yang sedang membuat sihir pertahanan.
Aku tersenyum lebar dan menyerahkan komando kepada Mirai yang telah kuberitahu apa yang kurencanakan. Aku berputar arah dan menuju kepada satu peleton pasukan undead yang sedang mengejar kami.
Undead adalah sekumpulan mayat yang digerakan oleh sihir jahat yang dikendalikan oleh seseorang. Jika itu sihir, aku dapat menyerap mereka menggunakan teknik mana yang telah kupelajari.
Bahkan jika itu tidak berhasil, aku akan meledakan mana yang telah berkumpul ditangan kananku dan memusnahkan mereka berkeping keping.
Perlahan, mana berwarna hitam terhisap dan berkumpul di tangan kananku. Tengkorak undead itu perlahan jatuh karena energi sihir yang menggerakan mereka telah aku hisap sepenuhnya.
Sepertinya berhasil!
Aku kembali ke oara pasukan penakluk yang datang menyerang Arch Licht yang di komandoi oleh Mirai.
Saat lemparan sihir besar datang, sihir itu di tahan oleh salah satu petinggi dengan ujung tongkatnya yang memiliki lingkaran sihir besar.
Sihir Arch Licht itu di hisap kedalamnya dan di lontarkan kembali kepadanya. Mirai melangkah maju dan memberikan perintah.
"Tim pertama, sekarang giliran Kalian!"
"Baik, SHAMACK!"
Mereka meneriakkan mantra yang mengeluarkan asap super tebal dan hitam di sekitar sehingga menutupi seluruh pasukan dan Arch Licht.
"Tim kedua sekarang giliran kalian dan tim tiga menyusul, cepat!"
Mirai terus memberikan perintah kepada pasukan penakluk. Tim kedua, mereka akan menggunakan sihir tanah dan membuat lubang di besar di lantai tepat di dekat kaki Arch Licht.
Sementara tugas tim tiga adalah menyerang Arch Licht dengan sihir acak untuk mengganggunya dalam merapalkan mantra.
Aku berlari memutar untuk menyerang Arch Licht itu dari belakang, saat asap yang menutupinya peelahan menghilang, aku dapat melihat Mirai melompat ke arah Arch Licht,
Dia mengumpulkan mana di tangannya dan mengalirkannya ke pedang besar miliknya. Pedangnya mengeluarkan percikan api yang seolah akan meledak kapanpun.
Mirai mengayunkan pedangnya ke arah bahu Arch Licht. Saat pedangnya menghantam tulang keras Arch Licht, pedangnya mengeluarkan ledakan api yang cukup besar untuk mendorong mundur Arch Licht.
"Rigel, sekarang!"
Mirai berteriak.
Aku melesat di belakang Arch Licht dan melompat setinggi mungkin untuk menyerangnya. Tangan kananku telah dipenuhi dengan gumpalan Energi sihir dalam jumlah besar.
Aku mengulurkan tanganku kedepan dan meneriakan serangan yang aku gunakan.
"Material Buster!!"
Energi mana itu meledak seperti laser berkecepatan tinggi dan menghantam punggung Arch Licht dengan sangat kuat.
Arch Licht itu terdorong kedepan dengan sangat kuat, dia hendak menahannya dengan berat tubuhnya namun, lubang besar yang telah dibuat para penyihir sudah menantinya.
Kakinya terjatuh dan dia kehilangan keseimbangannya untuk berdiri dan terjatuh perlahan sambil terdorong mundur mengarah ke Anastasia.
"Sekarang, ANASTASIA!"
Mirai meraum.
Mata Anastasia tertutup sambil melafalkan mantra elemen cahayanya.
"Wahai para dewa yang menempati nirwana dunia ini, aku Anastasia dengan ini meminjam cahaya yang menyinari Nirwana untuk membinasakan mahkluk yang mengotori tanah Nirwana,"
Mata Anastasia terbuka dengan cepat dan meneriakan mantranya.
"Cahaya pemurnian!!"
Dia mengarahkan tongkat sihirnya dan energi cahaya yang sangat besar dan kuat keluar dari tongkatnya.
Cahaya itu menyelimuti seluruh ruangan hingga aku tidak dapat melihat apa apa.
Roaaaaaarrrrr!!
Arch Licht itu menjerit kesakitan karena serangan penentuan yang dikeluarkan Anastasia.
Setelah beberapa saat, cahaya mulai mereda dan butuh waktu beberapa detik untukku menyesuaikan penglihatanku.
Aku melihat semua orang terbaring dilantai karena kelelahan yang berlebih. Aku melihat Anastasia yang menatapku dengan tangannya yang masih terulur memegang tongkatnya.
Dia juga melihat ke arahku, bibirnya tersenyum namun senyuman itu tidaj mencapai matanya yang tampak takut. Lalu, dia menggumamkan sesuatu.
"D-dia m-asih bertahan."
Gumam Anastasia pelan.
Punggungku tiba tiba terasa menggigil karena aura sihir yang kupikir sudah lenyap muncul lagi. Aku melihat ke arah Arch Licht terbaring dan menemukan dia perlahan kembali berdiri.
Tubuhnya telah hancur dan hanya menyisakan seperempat dari tubuhnya. Semua orang yang melihatnya menjatuhkan senjata ditangan mereka dan hanya satu kata yang dapat mencerminkan seluruh kejadian ini—
Ini adalah keputusasaan!