
POV AMATSUMI RIGEL.
Roaaaaaarrrrr!
Arch Licht mengaum karena telah dipindahkan dari lantai yang seharusnya dia lindungi.
Sebelumnya, aku berhasil memindahkan Arch Licht dari lantai 15 ke lantai 7. Saat ini, semua hanya bergantung kepada berapa lama aku dapat menahannya tanpa perlu menggunakan curse series dan kartu truf ku yang lainnya.
Aku sudah berada dilantai 7 dan benar seperti yang dikatakan tuan Braun, ditempat ini garis memiliki garis waktu yang berbeda dengan lantai lainnya.
Di lantai ini hanya perlu beberapa waktu lagi untuk matahari menampakan dirinya.
Sial, aku berharap matahari sudah terang saat kami datang!
Berarti, aku harus menahan monster ini seorang diri dan beruntungnya, kami berada jauh dari pemukiman.
Aku berada di lapangan yang berada di tengah hutan. Syukurlah jika tidak akan ada banyak saksi yang melihat ini.
Jika ada banyak orang yang melihatnya, hal ini akan jadi kegemparan bagi banyak orang dan aku khawatir hal ini akan sampai ke telinga empat pangeran neraka.
Bahkan penjaga lantainya saja sudah sekuat ini, lalu seberapa kuat empat pangeran neraka yang sebenarnya? Memikirkan emoat pangeran neraka lebih sulit di hadapi dari mahkluk ini saja sudah membuatku merinding.
Aku harus menjadi kuat dengan kekuatanku sendiri agar mampu mengalahkan ke empat pangeran dengan kekuatanku.
Arch Licht ini adalah langkah awalku untuk melalui jalan penuh darah.
Aku kembali mefokuskan kesadaran dan pikiranku ke pada Arch Licht yang berjalan mendekatiku.
Meskipun wajahnya hanyalah tulang, aku tahu bahwa dia tengah marah saat ini. Aku tersenyum untuk mengejeknya dan dia membalasku dengan melontarkan api hitam ke unguan kepadaku.
Woosh!
Clapt!
Aku melompat menjauh ke pepohonan terdekat dan membalas serangan Arch Licht itu dengan bola api yang aku ciptakan.
"Skills Creator : create Fire!"
Api tercipta di lengan kananku yang terulur dan menerjang ke wajah Arch Licht.
Arch Licht itu tidak menghindarinya, dia hanya menampar apiku bagaikan seekor lalat yang terbang ke arahnya. Apiku langsung menghilang dengan sekali ayunan tangannya.
Sial, tulang ini benar benar meremehkanku.
Aku benar benar ingin menghancurkan wajah tengkorak yang sombong itu dengan tanganku. Namun, aku mengurungkan niatku itu karena aku tidak ingin membongkar kartu di lengan bajuku satu persatu.
Meskipun tidak ada saksi mata di tempat ini, namun hal yang mengkhawatirkanku adalah kemungkinan bahwa setiap boss lantai dapat mengirimkan informasi dari para penakluk lantai ke Azazel.
Karena itu, untuk berjaga jaga aku akan menyimpan semua kartuku karena khawatir bahwa Azazel dan pangeran yang lainnya mengetahui kartu yang kumiliki di lengan baju.
Meskipun aku bilang begitu, tidak baik bagiku untuk menahan diri saat melawan mahkluk ini. Aku sudah hampir Kehabisan tenaga dan butuh hampir setengah jam lagi untuk matahari terbit.
Arch Licht itu melihat ke langit dan menyadari bahwa perlahan lahan, langit mulai menerang. Dia menyadari alasanku membawanya kesini dan dia mulai bergegas untuk menghabisiku.
Arch Licht menggumamkan mantra sambil mengangkat kedua tangannya ke langit. Saat mantranya selesai, api berwarna ungu kehitaman yang melingkari daerah kami berada turun dari langit dan membakar seluruh pohon dan dedaunan di sekitar kami.
Aku tidak tahu apa tujuannya, namun hal yang dapat kupikirkan adalah untuk menghindari aku melarikan diri dan bersembunyi di pepohonan.
Belum selesai dengan satu mantra, dia menggumamkan mantra lain dan mengarahkannya ke dirinya sendiri.
Energi gelap langsung masuk kedalam tubuh Arch Licht itu dan menutupi tubuhnya. Aku penasaran apa yang akan terjadi namun, aku terkejut dengan apa yang aku lihat setelah kabut hitam yang menutupi tubuhnya menghilang.
Dia mengenakan satu set baju besi hitam legam yang menutupi seluruh tubuhnya dari kaki hingga tulang kepalanya.
Jika begini, bukankah dia tidak akan terkena sinar matahari?
Batin Rigel.
Apakah mungkin dia juga menggunakan zirah ini untuk meminimalisir kerusakan yang dibuat oleh serangan Anastasia?
Tetapi itu tidak mungkin mengingat dia tidak merapalkan mantra apapun pada saat itu.
Saat aku terlalu sibuk dengan pikiranku, sosok Arch Licht itu mulai berkedip dan tidak tahu apa yang terjadi, aku terhempas ke langit karena pukulan atau lebih tepatnya tendangan yang sangat kencang.
Khak!
Aku memuntahkan darah dari mulutku dan menyiapkan angin untuk menghentikan tubuhku yang masib terhempas.
Aku membuat pusaran angin di telapak kakiku yang memungkinkan ku untuk terbang dilangit.
Sialan, apa yang baru saja terjadi?! Apakah Arch Licht itu baru saja menendangku? Bukankah dia seorang magic caster dan bukan petarung jarak dekat!
Bukan dia yang meremehkanku, justru aku yang terlalu meremehkannya! Aku tidak pernah berfikir bahwa dia juga bisa bertarung dalam jarak dekat.
Tidak membiarkanku mengambil nafas, Arch Licht itu sudah berada di belakangku sambil mengulurkan kedua tangannya ke atas dan menghantam tubuhku yang masih melayang ke tanah.
Boom!
Woosh!
Angin bergemuruh kencang karena hantaman keras tubuhku yang menghantam bumi. Tanah disekitar memiliki lubang yang cukup besar dan retakan dimana mana.
Aku mefokuskan kekuatanku untuk tetap mempertahankan kesadaranku yang hampir menghilang. Hantamannya sangat kuat, aku dapat merasakan darah mengalir di mulut dan kepalaku.
Tidak memberiku waktu, Arch Licht itu lagi lagi bergerak dengan cepat menuju langsung ke arahku, dia berniat menginjakku langsung!
Aku berusaha bangkit secepat mungkin dan melesat dengan cepat untuk menghindari Arch Licht itu.
Baam!
Suara jatuhnya Arch Licht bergema dan membuat tanah yang hancur jadi semakin parah. Aku langsung mengumpulkan mana sebanyak mungkin di tangan kananku dan menerjang ke arah Arch Licht.
Aku menggunakan skill seperti sebelumnya, aku memadatkan mana dan membentuk tangan raksasa yang mengikuti gerakan tanganku.
"Haaaaarrrggghh!"
Aku mengaum sambil mengulurkan lengan kananku yang di ikuti tangan mana raksasa, aku akan menamainya Mana Hand.
Arch Licht menyilangkan tangannya untuk menahan pukulan Mana Hand milikku.
Bang!
Benturan antara Mana Hand dan tulang keras Arch Licht yang di tutup zirah bergema dengan keras. Arch Licht itu terdorong beberapa meter karena pukulan keras yang aku buat.
Tidak memberi waktu untuk Arch Licht berekasi, aku membuat listrik bertegangan tinggi di tangan kananku dan mengulurkannya ke langit.
"Creator skills : ciptakan listrik, Thunder Bolt!"
Aliran listrik besar dan kuat turun dari langit dan menghantam Arch Licht yang berada tepat di bawahnya.
Bamm!
Rrrrraaaarrr!
Arch Licht menggeram kesakitan oleh sengatan listrik bertegangan tinggi yang menghantamnya dari langit. Kupikir serangan itu cukup kuat untuk melemahkan Arch Licht, namun serangan itu tidak terlalu efektif terhadapnya.
Pertahanannya sangatlah kuat, aku dapat melihat asap hangus keluar dari zirahnya namun tidak ada kerusakan apapun di zirah hitamnya itu.
Sialan, apa yang harus aku lakukan!
Aku melesat menjauh saat Arch Licht itu menghampiriku dengan sangat cepat, nampaknya dia berusaha mengakhiri pertarungan ini secepat mungkin.
Kami terus bertukar pukulan dengan cepat dan terus berpindah pindah hingga hanya menyisakan kilauan yang terpancar di mata kami.
Aku mengulurkan kaki kananku untuk menendang tinju Arch Licht yang hendak menghantamku, namun—
Saat kupikir serangannya akan datang dari tinjunya, justru serangannya datang dari dengkul kaki miliknya. Aku terhempas ke langit dan memuntahkan darah lagi.
Arch Licht tidak membuang waktu, dia langsung berada di atasku dengan sangat cepat dan menghentakan kakinya untuk menghempaskanku kembali ke tanah.
Woosh!
Aku melesat dengan sangat cepat seperti rudal yang ditembakan dan menghantam tanah keras sehingga menciptakan banyak retakan dan lubang di sekitar.
'S-sial, jika begini, a-aku akan mati.'
Masih ada sekitar 15 atau 20 menit bagi matahari untuk terbit, bahkan jika matahari terbit aku tidak yakin Arch Licht itu akan musnah karena tubuhnya telah ditutupi oleh zirah sepenuhnya.
Aku sudah tidak sanggup lagi berdiri, bahkan aku hampir tidak dapat mempertahankan kesadaranku lagi, apakah ini akhir dari perjalananku?
Masih ada banyak hal yang harus dilakukan, aku masih harus menyelesaikan lantai ini dan mendapatkan kembali ingatanku.
Aku belum kalah disini! Aku belum boleh kalah! Sekarang bukan waktunya untuk menahan apapun, aku akan menyelesaikannya dengan cepat.
Aku mencoba menggerakan dan mengeluarkan suaraku untuk mengaktifkan kekuatanku.
"Datanglah, kutukan kemarahan—
...Murkanya para dewa! ...