The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Rencana terselubung



Malam hari telah tiba. Rigel telah meminta para Pahlawan untuk berkumpul tanpa terkecuali dan membahas perihal invasi pasukan iblis. Warga telah mengungsi, meskipun ada cukup banyak korban jiwa. Terutamanya Ruberios yang mengalami kerugian paling besar dari negara lain. Saat ini Rigel sudah menempatkan pasukan militer di setiap negara kalau-kalau pasukan iblis menyerang lagi.


Untuk pertemuan kali ini hanya akan di hadiri para pahlawan dan Sylph sebagai sosok yang mengetahui seluk beluk dari kasus ini. Sebagai catatan, Rigel tidak mengundang Merial dalam rapat ini karena dirinya yang menjadi seorang Pahlawan masih di rahasiakan dari Pahlawan lain.


"Semua telah berkumpul selain Ozaru yang belum sadar. Tanpa perlu ku jelaskan kalian pasti sudah memahami situasi saat ini kan?" Rigel menatap yang lain dan mereka mengkonfirmasi dengan mengangguk, terkecuali satu orang yaitu Takatsumi.


Sampai kini dia masih belum melakukan tindakan apapun sehingga tidak masalah menunda pengeksekusian nya sedikit lebih lama.


"Itu mempersingkat waktu. Langsung saja ke intinya, penginvasian ini terjadi karena terbukanya gerbang dunia bawah. Satu-satunya gerbang yang terhubung dengan Neraka. Aku sendiri masih belum mengetahui tujuan Lucifer melakukan ini. Namun aku dapat menjamin itu bukanlah sesuatu yang baik. Sisanya, biarkan dia yang menjelaskannya..." Rigel memberikan tanda kepada seseorang dan di sebuah kursi kosong yang telah di sediakan. Cahaya berwarna hijau terang berkumpul dan membentuk sosok seorang gadis peri yang cantik.


Ratu para peri, Sylph akan mengikuti Konfrensi meja bundar. Para Pahlawan tidak lagi terkejut karena kehadirannya, mungkin mereka sudah cukup banyak mendapatkan kejutan untuk hari ini.


"Senang bertemu dengan kalian, Pahlawan. Kalian nampaknya telah mengenaliku, aku adalah Ratu para Peri, namaku Sylph. Langsung saja, alasan gerbang Neraka terbuka adalah karena kelalaianku dalam mengawasinya. Aku begitu terfokus untuk mengalahkan Tortoise dan membebaskan gadis itu sehingga aku tidak menyadari bahwa seseorang mencoba membuka gerbang." Sylph berkata dengan perasaan menyesal yang terukir jelas di wajahnya.


Meski Pahlawan lain bisa memakluminya, namun bagi Sylph ini adalah kesalahan tak termaafkan. Dia terlalu terobsesi membebaskan Priscilla sampai mengabaikan tugas untuk memantau gerbang Neraka.


"Apa boleh buat, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Kita hanya perlu mencari cara menutup gerbang itu dan menghancurkannya." Marcel berkata dengan acuh dan mengabaikan tangannya.


"Sebelum itu, aku ingin mendengar lebih lanjut tentang asal usul gerbang Neraka sebelum kita lanjut membahas permasalahan utamanya." Hazama memberikan saran.


"Aku juga setuju dengan itu. Ada baiknya kita mengetahui asal usul gerbang itu, dan juga, ceritakanlah ada berapa banyak sesuatu yang mirip dengan Gate Of Underworld atau semacamnya yang jika lepas akan menjadi bencana. Penting bagiku untuk mengetahui apakah ada hal lain selain Monster malapetaka dan Gate of Underworld yang harus di waspadai." Rigel juga menyetujui saran yang di berikan Hazama.


Begitu mendengar kata-kata Rigel, Pahlawan lain mengangguk setuju. Penting bagi mereka untuk mengetahui segala hal yang dapat mengacaukan dunia ini. Meski mereka sudah cukup lama berada di dunia ini, mereka sama sekali tidak mengetahui apapun tentang masa lalu yang terjadi di dunia ini.


Sylph mengangguk dan menarik nafas bersedia untuk bercerita.


"Semuanya terhubung tepat pada seribu tahun yang lalu. Untuk pertama kalinya, umat manusia memanggil para Pahlawan. Dua belas dari Pahlawan terpanggil dan tepat pada saat mereka terpanggil, dunia mulai benar-benar menampakan taringnya. Di mulai dari beberapa bencana seperti Tortoise, dan kemunculan gerbang dunia bawah, serta fakta mengenai batu ramalan dan seorang dewa yang memerintah mereka. Aku masih dapat mengingat dengan jelas peristiwa-peristiwa yang terjadi pada seribu tahun lalu. Aku yakin bahwa tidak ada sesuatu yang lain akan menyebabkan bencana. Jika ada, kemungkinan besar hanya kemarahan pohon Roh saja." Sylph berhenti sejenak dan mengambil nafas untuk melanjutkan ceritanya.


"Aku sendiri tidak begitu mengetahui dari mana asal usul gerbang dunia bawah itu. Namun dahulu kala sebelum gerbang itu muncul, terdapat sebuah negara kecil di sana. Negara itu termasuk negara paling maju pada masanya, namun saat gerbang dunia bawah muncul, Negara itu lenyap tak bersisa. Tanah tempatnya berada tercemar dan tidak lagi dapat di tinggali. Tempat itu di juluki dengan pulau hitam. Lucifer menjadi orang pertama yang menemukan gerbang dunia bawah. Tidak lama kemudian aku menyadari kehadiran Lucifer di suatu tempat dan aku menghubungi Pahlawan lalu datang ke tempatnya. Untungnya kami berhasil tepat pada waktunya dan Lucifer memilih menyerah dengan segel dan segera memulai tidur panjangnya. Aku beserta para Pahlawan mengerahkan kekuatan kami untuk menyegel pintu itu."


Jadi segel itu telah bertahan selama seribu tahun sampai saat Tortoise bangkit dan Lucifer memanfaatkannya untuk melepaskan segel. Namun dari Lucifer mengacau segel Tortoise, ntah mengapa seperti ada hal yang tak terlihat jelas di bagian ini.


"Jika di pikirkan lagi, Lucifer mengganggu proses penyegelan Tortoise di masa lalu dan mengubahnya bahwa Tortoise akan terbangun saat dia bangun. Aku pikir itu bukan suatu kebetulan saja." Rigel menarik rambutnya dan mengungkapkan hipotesis yang dia buat.


Mendengar ucapan Rigel, Hazama menjadi orang pertama yang mengetahui kemana permasalahan ini mengarah.


"Jadi maksudmu, hal itu bukan suatu kebetulan belaka. Jika Lucifer mengacau segel dan membuat Tortoise terbangun saat dia bangun?" Mendengar Hazama, Rigel menatapnya dan mengangguk.


"Yang artinya, itu tidak di sengaja. Lucifer sepertinya sudah merencanakannya sejak awal. Namun, bukankah dia tidak mengetahui tentang kehadiran gerbang dunia bawah saat penyegelan Tortoise?" Takumi menyentuh tepat inti dari apa yang sedang Rigel cari jawabannya.


Ini lah yang menjadi pertanyaan bagaimana Lucifer bisa menemukannya. Jika gerbang itu sudah ada saat penyegelan Tortoise, mustahil bahwa Sylph tidak menyadari keberadaannya. Selain itu, aku penasaran siapa yang membuat atau mendatangkan gerbang dunia bawah itu.


"Untuk itu sendiri aku tidak mengetahuinya," Sylph menjadi orang yang menjawab pertanyaan Takumi, "Namun sepertinya, Lucifer memiliki sebuah cara yang memungkinkannya melihat kejadian yang akan terjadi di masa depan sampai batas tertentu."


Semua Pahlawan terkejut mendengarnya. Meskipun terdengar tidak masuk akal, namun bukan berarti tidak ada kemungkinan seperti itu. Rigel bahkan tidak menolak gagasan itu. Dari pergerakan Lucifer sejauh ini, Rigel menyimpulkan bahwa akal sehat tidak akan berarti jika itu menyangkut dirinya.


"Jika dia bisa melihat masa depan, bukankah itu berarti apapun yang akan kita lakukan saat perang dapat dengan mudah dia gagalkan?" Argo berspekulasi.


"Tidak." Rigel menolak gagasannya.


"Aku rasa hal itu juga tidak akan terjadi. Seperti yang di katakan nya, pasti dia bisa melihat sampai batas tertentu. Kita ambil contoh Behemoth yang di kalahkan Takumi. Jika Lucifer sudah melihat masa depan sampai di peristiwa ini sejak sebelum dia tertidur. Aku yakin dia sudah melakukan antisipasi jika mengetahui bahwa pilar miliknya akan mati." Takatsumi menjelaskan alasan bahwa kekhawatiran Argo tidak akan terjadi.


Meski sangat benci mengakuinya, Takatsumi mungkin orang kedua setelahnya yang memiliki pemikiran tajam seperti itu.


"Mari kita ringkas saja. Saat penyegelan Tortoise, kita berasumsi bahwa Lucifer telah mengetahui bahwa gerbang dunia bawah akan muncul sehingga dia mengubah segel Tortoise yang akan terbangun bersamaan dengannya. Seling beberapa waktu setelahnya, gerbang dunia bawah benar-benar muncul dan Lucifer datang untuk mengkonfirmasinya sebelum memulai tidur panjang." Rigel meringkas cerita yang masuk akal untuk saat ini.


Tidak ada yang menolak gagasan itu. Justru cerita itu mungkin yang paling mendekati. Meski itu tidak mencakup seluruhnya, namun beberapa kebenaran masih berada di dalam kegelapan.


"Dengan ini, berarti telah di konfirmasi bahwa tidak ada hal lain yang seperti gerbang dunia bawah itu, kan?" Yuri berkata.


Sylph tersenyum dan menganggap untuk menjawabnya. Untuk pohon Roh, akan di kecuali kan dari bencana seperti gerbang dunia bawah. Tentu, selama tidak ada yang mengusiknya, itu akan aman. Satu kekhawatiran Rigel telah terselesaikan dan sekarang waktunya menyelesaikan yang lain.


"Sekarang, mari kita bahas tentang iblis-iblis yang keluar dari gerbang itu. Terutamanya iblis yang aku temui sebelumnya, Karaka. Dia jelas merupakan eksistensi yang sangat berbahaya." Rigel beralih ke pembicaraan selanjutnya.


"Karaka? bisakah kau jelaskan lebih detail tentangnya?" Marcel bertanya dengan serius.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun nampaknya Lucifer bercerita tentang diriku kepadanya sehingga membuatnya sangat terobsesi untuk bertarung denganku. Setidaknya saat ini, aku bisa menundanya selama tujuh hari. Tetapi aku tidak yakin dia mau menunggu dengan tenang sampai saat itu tiba." Rigel melanjutkan.


Bahkan dalam sekali pandangan pertama, Rigel tahu orang seperti apa Karaka itu. Dia sangat yakin bahwa Karaka tidak akan mau diam saja dan menunggu. Kemungkinan dia akan membawa beberapa kekacauan sampai pertarungannya dengan Rigel tiba.


"Berlengan empat ya. Aku dapat dengan jelas memikirkan bagaimana wujudnya. Jadi selain pilar iblis, masih ada dia yang harus di waspadai." Nadia mengambil kesimpulan namun Rigel dengan segera menolaknya.


"Aku pikir tidak hanya mereka yang harus di waspadai."


"Ya. Kita juga harus mewaspadai Lucifer yang belum terlihat gerak-gerik nya lagi saat ini." Takumi menambahkan penjelasan Rigel.


Mendengar itu, Marcel menyentuh dagunya dan teringat sesuatu.


"Benar juga, aku ingat apa yang di katakan Aldebaran saat menghadapinya."


Rigel menajamkan matanya, "Apa itu?"


"Aku sempat mencoba mengorek informasi darinya tentang rencana Lucifer. Namun dia hanya berkata bahwa tidak ada yang mengetahui rencana Lucifer dan dia membebaskan Pilar iblis untuk melakukan apapun yang mereka mau."


Mendengar itu, Rigel bergumam, "Begitu, ya. Aku mengerti sekarang."


Pahlawan lain dan Sylph memandang Rigel dengan bingung dan menunggunya untuk memberikan penjelasan. Rigel di sisi lain merasa sangat di permainkan. Dia telah mati-matian mencari jawaban dari serangan ini, namun tidak kunjung menemukannya. Jawabanya sangatlah mudah.


"Hahaha... Dengan begini aku sangat yakin, bahwa kekacauan semacam ini bukan yang menjadi tujuan Lucifer."


"Apa maksudmu?" Petra bertanya, tidak dapat mencerna kata-kata Rigel sebelumnya.


"Pikirkanlah dengan jelas. Apa tujuannya menimbulkan kekacauan dengan mengirimkan iblis lemah yang hanya akan mati dan memperkuat kita? Hal itu terlalu remeh untuk di lakukan Lucifer."


Pahlawan lain mulai memikirkannya. Itu memanglah masuk akal, bahkan nampaknya Takatsumi mulai memikirkan sesuatu.


Rigel merasa bodoh, sangat-sangat bodoh karena tidak dapat menemukan jawaban yang sudah berada di depan matanya sejak lama. Di mulai dari mengacau penyegelan Tortoise, memberikan umpan para Pahlawan dan Sylph untuk fokus pada Tortoise sepenuhnya dan dia membebaskan gerbang dunia bawah. Semua kejadian ini memiliki kesamaan yang sangat jelas.


Rigel memukul meja dan membuat seluruh perhatian tertuju padanya.


"Singkatnya, kita sudah menari di telapak tangan Lucifer sejak awal. Jawabannya sangat mudah, invasi iblis dan penyerangan pilar iblis serta Karaka hanyalah umpan yang di berikan oleh Lucifer kepada kita."


Semua orang terbelalak karena terkejut dengan pernyataan berani Rigel. Dia kini memahami jelas alasan Lucifer memberitahukan padanya cara untuk mengalahkan Tortoise. Dengan memberitahukan hal itu, Lucifer yakin bahwa Rigel akan berusaha mencari kebenarannya dan melakukan eksekusi rencananya. Dia juga meyakini bahwa Sylph akan meminta bantuannya. Berkat itu, Rige dan Sylph dapat mengabaikan sepenuhnya pergerakan Lucifer.


"Sebelumnya juga sama, dia memberikan umpan Tortoise pada kita Pahlawan dan Sylph sementara dia dengan tenang dapat melepas segel gerbang dunia bawah. Jika kita memakan umpannya, aku yakin kita akan dengan bodohnya mengurus para iblis dan pilar iblis yang membuat kekacauan terlebih dahulu sebelum pergi ke gerbang dunia bawah. Jika benar begitu, maka urusan Lucifer pasti telah selesai."


Sylph, Takatsumi dan Marcel sama-sama memahami inti dari apa yang sedang Rigel coba sampaikan kepada mereka.


"Tujuan Lucifer yang sebenarnya bukanlah menginvasi ataupun melemahkan kekuatan manusia..." Marcel berkata.


"Tujuannya adalah apa yang ada di balik gerbang dunia bawah itu...." Takatsumi melanjutkan.


"Tujuanya adalah... Neraka??" Sylph melanjutkan.


"Benar. Sejak awal dia tidak menganggap kita ancaman besar, buktinya, kita dengan bodoh bermain-main di atas telapak tangannya." Rigel berkata dengan sedikit kesal.


"Jika begitu! bukankah kita harus bergerak sekarang?!" Aland berteriak dengan terburu-buru, namun Marcel yang masih tenang menghentikannya.


"Tunggu dulu, Aland. Kita tidak dapat begitu saja pergi ke sana. Aku sangat yakin bahwa ada satu atau lebih pilar iblis yang menjaga gerbang neraka itu. Kita tidak bisa pergi ke sana dengan bodohnya dan tanpa persiapan apapun. Setidaknya, kita harus menyiapkan satu atau dua rencana dengan matang, benar kan, Rigel?" Marcel tersenyum berani kepada Rigel.


Rigel tersenyum balik dengan kesenangan yang menggelitik hatinya, "Kuhuhuhu, ya.. itu sangat benar. Kita harus menyiapkan rencana sebelum pergi ke sana dan membuat iblis bajingan itu gemetar!"


Melihat Rigel yang tampak bahagia seperti itu, Takumi tersenyum, "Ya... Namun sebelum itu kita juga harus memikirkan cara untuk menghadapi iblis kecil yang mungkin akan datang lagi."


Rigel yang masih tersenyum menunduk dan memegang wajahnya. Matanya yang biru mulai bersinar karena pantulan cahaya.


"Ya... Lucifer~, jika pertempuran yang kau inginkan, maka Perang yang kau dapatkan!" Wajah dan senyuman bengis Rigel muncul.


Dia benar-benar merasa sangat tidak terima untuk di permalukan seperti ini dengan menari di telapak tangannya.