The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Pertarungan perdana



"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Ozaru berkata kita harus mundur namun setelah itu apa?..." Petra berkata dengan raut kebingungan di wajahnya.


Para pahlawan termasuk Hazama dan Petra telah berkumpul di satu tempat. Tortoise masih aktif bergerak dan terus berjalan menuju Britannia. Para prajurit telah di minta untuk menjauh dan mereka sudah tidak berada di jalan yang akan dilalui Tortoise.


"Monyet putih menyuruh kalian diam menunggu dan mengisi tenaga kalian kembali." Ozaru mengambil satu langkah di depan semua orang selagi menatap Tortoise.


Kura-kura ini sangat besar jika di lihat sedekat ini. Apa aku bisa menjadi sebesar ini ya...


"Seperti yang di katakan Ozaru, kita harus menyimpan tenaga kita. Giliran kita akan tiba nanti."


Seorang gadis muncul di antara para pahlawan. Dia adalah Yuri yang sedikit terlambat karena harus mengurus beberapa hal. Melihat Yuri sehat, Takumi dan pahlawan lain menghembuskan nafas lega. Namun di sisi lain mereka juga tampak kecewa dan sedih.


Yuri melihat sekitar, "Dimana Nanami?" dan menyadari bahwa salah satu dari pahlawan tidak ada di sini.


Tidak ada satu orang pun yang mau menjawab. Ekspresi pahit terukir jelas di wajah semua orang, bahkan dari menebaknya saja, Yuri pasti tahu apa yang terjadi. Dia bergumam begitu ya dengan nada kesedihan.


"Daripada itu, apakah Rigel datang ke sini juga?" Takumi bertanya selagi duduk dan bersandar di sebuah pohon. Dia tampak sedikit lelah, mungkin karena menggunakan terlalu banyak energi Sihir.


Yuri menoleh ke Takumi dan tersenyum selagi berkata Rigel juga datang ke sini. Takumi sedikit senang dan juga kesal, dia senang karena Rigel datang membantu meski uluran tangannya telah di tolak. Namun dia juga kesal karena keterlambatan Rigel menyebabkan Nanami mati.


Tidak...Aku tidak bisa menyalahkan Rigel! ini semua salahku karena terlalu lemah sehingga Nanami harus menemui ajalnya...


Selagi Takumi menyalahkan dirinya sendiri, tanpa disadari seseorang sedang berjalan mendekati mereka dari belakang.


"Tidak kusangka kalian akan sepayah ini... Aku hampir meragukan apakah kalian benar-benar seorang pahlawan atau bukan..."


Pria itu adalah orang yang datang di saat terakhir, Amatsumi Rigel. Sungguh pemandangan yang tidak enak di lihat saat melihat para pahlawan itu menjadi sepayah ini. Untuk Takumi Rigel dapat mentolerir karena harus membayar pengurangan level atas kekuatan kutukan kemalasan. Jelas saja dia akan jauh lebih lelah hanya dengan menggunakan Tombak penghakiman.


Hazama terlihat baik-baik saja, begitu juga Aland, Nadia dan Argo. Marcel dan bajingan pedang terlihat sedikit kacau, kenapa tidak sekalian mati saja...


Menyadari Nanami tidak ada, Rigel telah mengkonfirmasi bahwa dia telah mati. Yah, Rigel sudah menduga kemungkinan besar akan ada yang mati jadi dia meminta Ray untuk membawa mayatnya.


"Seperti yang kuduga kalau mahkluk itu tidak akan mati meski kepalanya terputus..." Rigel berkata dengan sedikit mengejek ke pahlawan lain.


Kedatangannya sendiri tidak di sambut baik oleh pahlawan lain, termasuk Hazama. Orang yang telah merangkul bersama dengan Rigel di balik bayang. Hazama sendiri kecewa dengan Rigel yang datang terlambat dan tidak memberikan informasi tentang Tortoise. Meski begitu, dia tidak berniat menyalahkan Rigel untuk urusan ini.


Setidaknya dia masih mau membantu meski sudah di tolak sebelumnya. Yah, kita akan lihat apakah kehadirannya membantu atau tidak.


"... Jadi, apa yang akan kita lakukan? tidak mungkin kau kemari tanpa rencana apapun kan?" Hazama bertanya kepada Rigel selagi menyembunyikan kekecewaannya.


Rigel melirik Hazama sekilas dan kembali menatap Tortoise yang terus melangkah maju, "Sejujurnya aku tidak memiliki rencana matang karena rencana awal ku adalah menghabisi mahkluk ini di laut."


Mendengar bahwa Rigel tetap pada rencananya yaitu membunuh Tortoise di Laut, semua orang memikirkan hal yang sama, kalau ada sesuatu yang hanya bisa Rigel lakukan di laut saja. Bomb Nuklir menjadi salah satu dari sekian banyak pilihan yang ada.


"Apa kau mengatakan, kalau kau datang ke sini tanpa rencana apapun?! Apa kau sudah tidak waras?" Marcel berkata dengan tidak sabaran dan marah.


"Aku tidak pernah berkata bahwa tidak memiliki rencana apapun. Ini hanya sedikit berbeda dari rencana awal saja." Rigel memejamkan matanya dan tersenyum jahat, "Lebih baik kalian dia dan saksikanlah, pertarungan perdanaku dan Region!" Rigel berteriak dengan sedikit nada kegembiraan tercampur di dalamnya.


Rigel langsung mengeluarkan energi sihirnya agar Tortoise dapat menyadari keberadaannya. Tortoise menoleh ke arahnya, bertepatan dengan itu, ratusan Misil melaju ke arahnya.


*Boomm......


*Boomm........


*Graowwrrr.....


"I-itu, P-peluru Misil?!" Marcel terkejut dengan apa yang di lihatnya.


Ratusan Misil kendali meluncur tanpa henti menuju Tortoise. Seperti yang di katakan Nisa, semua orang akan menyaksikan keajaiban dunia yang di ciptakan Rigel.


"A-apakah itu sebuah sihir?!" Alexei bergumam dengan raut wajah tak percaya.


Altucray dan Tirith juga menyaksikannya dari proyektor yang di buat Rigel. Mereka terbungkam, kekuatan tempur Region mungkin yang terkuat di dunia ini.


"Sejak kapan kau mempersiapkan hal seperti itu, Rigel?" Takumi berjalan ke samping Rigel dan bertanya.


"Sudah sejak lama aku memiliki banyak dari mereka.. Berulang kali aku ingin menggunakannya namun kesempatan itu tidak pernah datang..."


Pada akhirnya kesempatan itu datang dengan sendirinya. Entah sudah berapa sering Rigel tidak dapat menahan rasa untuk pamer kepada para pahlawan dan manusia di dunia ini.


Hujan misil telah berhenti dan kulit luar Tortoise memiliki sangat banyak luka namun secara perlahan pulih.


"Baiklah, masuk ke tahap dua, Fang giliranmu dan pasukanmu maju!" Rigel memberi perintah melalui radio kecil yang berada di telinganya dan terhubung kepada Masing-masing pemimpin pasukan.


Fang membalas dengan jawaban "Baiklah."


"Semuanya, Serang!" Fang berteriak dari dalam hutan.


Para tentara Region menyerbu dari dalam hutan dan menembaki Tortoise tanpa henti. Di mulai dari Riffle sampai peluru RPG di luncurkan semuanya dan saat Tortoise hendak mengambil langkah ke para tentara, sebuah sayatan besar melesat menuju kakinya.


*Graaoowwwrrr......


Tortoise menjerit kesal. Serangan barusan berasal dari seorang gadis bangsawan, Merial Ainsworth yang menggunakan pedang sihir sekali pakai. Pedang di tangannya berubah menjadi pecahan debu.


"Merial, dan Fang, bisakah kalian mengulur waktu untukku? Aku akan pergi ke punggungnya untuk mencari akankah ada sesuatu yang berguna." Rigel berkata melalui radio kecilnya.


"Baiklah, jika keadaannya mulai memburuk akan aku kabarkan padamu." Jawab Asoka selagi membantu untuk menenangkan prajurit yang menggila karena parasit.


"... Kau, dari mana kau mengetahui itu?" Hazama bertanya dengan terkejut. Namun jawaban Rigel sangat singkat, "Aku mengawasi kalian."


Bahkan jika para pahlawan menutup mulut kepada Rigel, itu percuma saja karena Rigel telah mengawasi mereka selama ini sehingga dia tahu rencana mereka. Puas mendengar jawaban Rigel, Hazama tanpa membuang waktu berlari dan memimpin Rigel.


Meski cukup sulit mencapai tempurungnya karena mahkluk itu masih saja bergerak, namun mereka berhasil mencapai tempat yang di temukan Hazama sebelumnya.


"Jadi ini tempatnya..." Rigel bergumam dan tanpa ragu melangkah masuk ke dalam gua itu. Hazama mengikutinya dari belakang dan siap untuk melemparkan perisai udara jika keadaan tak di inginkan terjadi.


Tidak ada apapun sejauh ini dan tidak ada monster yang menghalangi Rigel dan Hazama selama perjalanannya. Sampai akhirnya mereka mencapai ujung dari gua ini.


"I-ini..." Hazama bergumam takjub.


Bahkan Rigel juga sama dengannya. Tempat ini sangat menakjubkan. Di sana berdiri delapan patung raksasa dan satu patung yang sedikit lebih kecil dari yang lainnya. Lantainya sendiri memiliki ukiran sihir aneh yang belum pernah Rigel lihat. Delapan patung raksasa itu sama-sama mengulurkan pedangnya ke tengah, dan di tengah itu, sebuah batu berwarna biru melayang di udara. Meskipun belum pernah melihatnya, Rigel tahu apa itu karena dia telah merasakan energi semacam ini di Region meski cuma sedikit.


"Mungkinkah... ini... Batu ramalan?" Rigel bergumam kagum.


Pertama kalinya Rigel melihat ini secara langsung. Meski dia sudah meminta Misa menyelidiki baru Ramalan di Region, dia belum pernah melihatnya secara langsung. Energi sihir yang di keluarkan baru ramalan itu sangat tenang, hampir seperti bercampur dengan Mana dunia. Meski begitu tenang, batu ramalan memiliki jumlah sihir yang sangat besar. Jika itu meledak, mungkin kekuatannya akan dua kali lebih kuat dari Nuklir.


"Sepertinya kau benar... Aku dapat melihat beberapa tulisan kecil di sana... Namun aku tidak tahu apa itu dan aku tidak dapat membacanya." Hazama menyipitkan matanya untuk menyelidiki lebih lanjut.


Rigel menutup mata kanannya dan memfokuskan pengelihatan melalui mata kiri modifikasi. Mata kirinya itu seperti sebuah kamera jarak jauh, dia dapat melihat benda dan meminta Ciel menyimpannya.


"Yang menjadi pertanyaan, kenapa batu ramalan berada di sini?..." Hazama menyerukan pertanyaan di kepalanya.


Rigel sendiri juga penasaran dengan hal itu. Namun dia lebih tertarik dengan lingkaran sihir yang ada di lantainya. Rigel memiliki ingatan yang bagus, meski samar, ukiran yang berada di lantai ini hampir sama dengan ukiran yang ada di Britannia. Lebih tepatnya, sebuah ruangan khusus yang di gunakan untuk memanggil pahlawan. Meski sama, namun ukirannya sedikit berbeda.


"Kita akan menyimpan alasan kenapa batu ramalan ada di sini nanti. Terlebih penting, kota harus mencari sesuatu yang mungkin memberikan informasi lebih lanjut tentang Tortoise dan juga..."


Kita harus menemukan letak segel yang di buat para pahlawan di masa lalu!


Tujuan utama Rigel mau menyelidiki tempat ini karena dia mencari dimana letak segel itu berada. Ratu Peri hanya mengatakan bahwa itu ada di punggung Tortoise atau di dalam tubuhnya. Dia sendiri tidak tahu dengan pasti dimana segel itu berada. Maka kemungkinan yang tersisa...


Di dalam tubuhnya Ya... ini semakin merepotkan saja jika segel itu berada di dalam tubuhnya...Memenggal kepala, menghancurkan Segel dan Jantungnya di saat yang bersamaan... Apakah itu benar-benar bisa di lakukan? Untuk segel dan Jantung mungkin saja, namun memenggal kepala akan menjadi pekerjaan yang berat. Bahkan jika itu berhasil di lakukan, kemungkinannya 50:50 bahwa Tortoise akan mati.


Karena itulah Rigel bersikeras untuk mengalahkan Tortoise di lautan karena kemenangan 100% tidak bisa di pastikan. Alasan Rigel memilih laut, karena dia bisa menggunakan Territory Hydra dan membuat Hydra bertarung dengan Tortoise selagi Salah mencari segel dan Ozaru atau Asoka mencari jantung. Untuk kepala Tortoise, Rigel yang akan mengurusnya secara langsung. Bahkan jika menghancurkan ketiganya tidak berhasil membunuhnya, Rigel hanya perlu menghancurkan Tortoise sampai tidak bersisa dengan Solar Eclipse, kekuatan yang sama yang membunuh Hydra. Matahari kecil.


Selagi Rigel berfikir, Hazama kembali bertanya. "Apakah mungkin bahwa batu ramalan lah yang memberi Tortoise peningkatan pertahanan?"


"Aku tidak bisa menyangkal kemungkinan itu, namun dari informasi yang kuterima, Tortoise akan bertambah kuat saat menyerap sinar bulan. Fakta bahwa Tortoise berhenti saat malam tiba memperkuat informasi itu sendiri."


Mendengar jawaban Rigel, Hazama terkejut dan berfikir bahwa Rigel benar. Hazama sedikit penasaran, dari mana Rigel mendapatkan informasi seperti itu?


Dia hendak bertanya, namun sebuah suara dari radio kecil yang berada di telinga Rigel berbunyi.


"Ada apa?"


"Tuan Rigel! aku rasa kita hampir tidak dapat menahannya lebih lama lagi karena persediaan amunisi yang mulai menipis dan Tortoise yang mulai tidak terkendali!" Merial adalah orang yang mengabari Rigel.


"Aku mengerti, kerja bagus. Aku akan kembali sekarang."


Sudah cukup lama semenjak pahlawan lain bertarung dan aku datang tepat tengah hari, jadi masih cukup banyak waktu yang tersisa ya...


"Merial, Fang. Tarik mundur pasukan, kita akan mengakhiri pertarungan hari ini... Sisanya biar Aku, Yuri dan Ozaru yang mengulur waktu."


"Baiklah!" Merial dan Fang berkata secara serempak dan mengakhiri panggilannya.


"Mari kita kembali sekarang, Hazama." Rigel menoleh ke arah Hazama dan memegang bahu Hazama dan menggunakan Teleportasi untuk pergi keluar dengan cepat.


"Rigel, Hazma! kalian telah kembali!" Takumi orang pertama yang menyambut Rigel dan Hazama. Mendengar suara Takumi, pahlawan lain datang dan menghampiri Rigel dan Hazama.


"Jadi, apa rencanamu dan apa saja yang kau temukan?" Takatsumi bertanya dengan enggan.


Rigel membalas tatapannya dengan tatapan kebencian. Mau tidak mau, dia harus mengesampingkan emosinya dan bekerja sama dengan bajingan ini.


"Untuk sekarang kita mundur... Ada lebih banyak hal yang harus di bicarakan dan strategi mengalahkan Tortoise... Untuk sekarang, Ozaru, Yuri, kita akan menahan pergerakan Tortoise sampai malam hari tiba."


"Baiklah..." Yuri setuju.


"Apa kita tidak membunuhnya sekarang, Monyet putih?" Ozaru bertanya dengan wajah bosan.


"Tentu kita akan membunuhnya, tidak sekarang, tetapi besok." Rigel menjawabnya dengan senyuman berani di bibirnya.


"Tunggu! jika kita menunggu besok, dia akan pulih dan pertahanannya akan menjadi semakin keras! jika ingin membunuhnya, sekaranglah kesempatan yang bagus!" Marcel menjadi orang yang komplen tentang keputusan Rigel. Argo dan Takatsumi nampaknya juga sama tidak puasnya.


"Mengalahkan mahkluk itu tidak semudah memukul Nyamuk, bodoh. Buktinya, kalian telah memenggal kepalanya, namun mahkluk itu tidak mati... Masalah ini jauh lebih rumit dari yang kau bayangkan dan butuh usaha ekstra untuk membunuhnya." Rigel berjalan melewati mereka dan menuju Tortoise, "Untuk sekarang jadilah babi yang patuh padaku." Kata terakhir yang di ucapkan Rigel sebelum terbang menuju Tortoise.


Yuri dan Ozaru mengikuti di belakang Rigel untuk menahan Tortoise. Marcel tampak geram karena Rigel menganggapnya seekor babi.


Rigel mendarat dan berdiri tepat di jalur jalannya Tortoise dan menghadangnya. Tortoise nampaknya tidak mengabaikan Rigel dan menatapnya dengan penasaran.


"Baiklah, mari kita lihat seperti apa kemampuanmu, badan besar." Senyuman tumbuh di bibir Rigel.


Sampai malam tiba, aku akan sedikit mengetahui seberapa kuat seranganmu...