
Ratu para peri, Sylph. Rigel telah mengetahui bahwa ada sosok sepertinya, namun ini adalah pertama kalinya dia melihat sosoknya secara langsung.
"Jadi... kaukah Ratu peri itu..." Gumam Rigel.
Dia adalah sosok wanita cantik yang lima tahun lebih tua dari Rigel. Rambutnya berwarna hijau muda dengan tubuh indah dan langsing. Dia mengenakan pakaian hijau daun yang warnanya seiras dengan rambut dan matanya. Sayap Kupu-kupu di punggungnya sangatlah indah. Dari ujung rambut sampai kakinya hanya menampilkan kecantikan seakan dialah kecantikan itu sendiri.
Rigel sedikit tertegun di hadapan sosok yang menggambarkan arti kecantikan itu sendiri. Merasa terlalu lama menatap Ratu Peri, Rigel akhirnya sadar dan kembali ke kenyataan. Saat ini dia berada di tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Hutan ini lebih hijau dan hidup dari sebelumnya. Kunang-kunang beterbangan di sekitar, ini adalah kali pertama Rigel melihat hewan ini seumur hidupnya. Meskipun ini malam hari, hampir terasa seperti siang hari karena Rigel dapat melihat dengan jelas pemandangan di sekitar.
"... Dimana aku?" tanya Rigel kepada Ratu Peri yang hanya tersenyum.
"Maaf karena aku membawamu secara mendadak ke sini... Selamat datang di wilayah Peri, Spirit Fores." Ujar Ratu Peri sembari merentangkan tangannya seakan ingin memeluk.
Rigel mengabaikan perlakuan ramahnya dan bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak yakin kau menculikku hanya untuk pamer mengenai tempat ini." Ujar Rigel dengan dingin.
"Aku membawamu ke sini untuk membicarakan hal penting yang tidak boleh di dengar orang lain, Pahlawan Creator, Amatsumi Rigel." Ujar Ratu Peri, senyuman di bibirnya masih terbentuk dan matanya melembut.
"Untuk bicara?" Rigel bergumam bingung, "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Lanjutnya dengan dingin.
Suasana hati Rigel sedang tidak baik, jadi dia akan marah jika pembicaraan ini bukanlah hal berguna dan tidak membuatnya tertarik. Ratu Peri memahami bahwa Rigel sedang marah jadi dia memakluminya. Senyum di bibir Ratu Peri menghilang dan dia memasuki mode serius
"Aku akan bekerja sama denganmu untuk mengalahkan Tortoise." Ujarnya.
Rigel tidak menduga bahwa Ratu Peri menginginkan kerja sama dengannya dalam kasus ini. Seingat Rigel, dia seharusnya tidak akan membantu umat manusia dalam hal apapun, termasuk perang Ragnarok di kemudian hari.
"... Akan kudengarkan proposal milikmu, Peri." Ujar Rigel dengan serius.
Ratu Peri memulainya dengan sebuah cerita yang persis di ceritakan Lucifer. Rigel hanya diam mendengarkan untuk mengetahui apakah yang di ceritakan Lucifer sebuah kebenaran atau bukan. Sejauh ini ceritanya sama persis, kecuali saat cerita masuk ke bagian Lucifer yang mengganggu segel. Ratu Peri sedikit marah saat ceritanya mencapai situ, dapat terdengar jelas dari suaranya.
"... Jadi begitu. Intinya, kau ingin bekerja sama denganku untuk menghancurkan segel dan menyelamatkan gadis itu?" Tanya Rigel.
"Begitulah. Syukurlah jika kau cepat mengerti." Ujar Ratu Peri.
"Yah, aku mengerti garis besarnya. Aku ingin menanyakan beberapa hal terlebih dahulu padamu, boleh kan?" Tanya Rigel.
Ratu Peaenyum untuk menandakan bahwa dia tidak masalah dengan Rigel bertanya banyak hal padanya perihal ini.
"Kenapa kau meminta bantuanku? ada banyak pahlawan lain selain aku dan juga, apa kau tidak bisa menyelamatkannya sendiri?" Tanya Rigel.
"Dari dua belas pahlawan yang ada, kupikir hanya kau yang dapat di andalkan. Memang, pahlawan Tombak dan Perisai cukup mbisa di percaya, namun aku masih tetap meragukan mereka karena batasan yang di berikan oleh senjata Ilahi mereka. Lalu, aku tidak bisa menyerang Tortoise karena sumpahku untuk tidak melukai Roh dan Peri." Ujar Ratu Peri.
"Jadi kau memilihku karena aku Satu-satunya yang tidak memiliki batasan karena tidak memiliki senjata suci." Rigel memandang Ratu Peri dengan curiga, "Sangat mencurigakan, itu jawaban yang absurd bagiku." Ujar Rigel.
"Alasan lain aku memilihmu karena tangan kananmu itu." Ujar Ratu Peri.
Rigel sedikit terkejut namun dia berpura-pura tidak mengetahui maksud dari Ratu Peri.
"Apa maksudmu?" Tanya Rigel.
Rigel terkejut mendengarnya. Meski itu bukan tangan Dewa, namun benar bahwa itu pemberian seorang Dewa. Darimana dia mengetahui hal ini? Bahkan Rigel tidak pernah memberitahukan hal itu pada siapapun.
"Aku dapat merasakannya dengan jelas, energi kuat dan misterius di tangan kananmu yang terus bertambah kuat seiringnya waktu. Meskipun kau seorang pahlawan, kau juga seorang Manusia. Aku tidak pernah melihat energi seperti ini bahkan di antara pahlawan generasi sebelumnya. Apa lagi jika bukan kekuatan dari dewa? tenang saja, aku tidak akan membeberkan nya pada siapapun." Ujar Ratu Peri.
Jadi dia hanya berspekulasi saja karena belum melihat energi di tangan kanan Rigel. Awalnya, dia berfikir jika Ratu Peri mengetahui sesuatu tentang ini. Meski sedikit kecewa, Rigel juga bersyukur bahwa Ratu Peri tidak mengetahui apapun lebih dari itu.
"Yah, terserah kau mau menganggapnya tangan apapun. Kita kembali ke topik. Kenapa kau ingin menyelamatkan wanita dalam cerita itu?" Tanya Rigel.
"Karena dia orang berharga bagiku." Ujar Ratu Peri dengan sedih.
Seseorang yang mendapat cinta Ratu Peri. Rigel tidak tahu apakah ini berhubungan atau tidak. Tapi...
"Bisakah aku mengetahui siapa Gadis itu?" Tanya Rigel.
"Dia adalah, *#*#*"
Angin bertiup saat Ratu Peri menjawab pertanyaan yang di ajukan kepadanya. Rigel tidak menduganya, Benar-benar tidak menduganya. Tidak di sangka bahwa ini berhubungan dengannya. Sekarang ada lebih banyak alasan untuk tidak menolak kerja sama dengan Ratu Peri.
"... Begitu, aku mengerti. Kalau begitu, bantuan seperti apa yang kau ingin berikan padaku?" Tanya Rigel.
"Aku akan memberikan segala bantuan padamu, namun aku tidak dapat melakukannya jika kau memintaku untuk melukai Tortoise. Aku hanya bisa membantumu dari belakang." Ujar Ratu Peri.
Rigel memegang rambutnya dan Menariknya pelan. Dia sedang berfikir, bayaran apa yang bagus jika dia menerima kerja sama ini. Setelah beberapa waktu berfikir, Rigel tahu apa yang harus dia lakukan.
"Yah, bagaimana kalau begini. Aku akan menerima bekerja sama denganmu, sebagai gantinya aku ingin kau menganggap ini sebagai hutang budi yang belum terbayarkan padaku. Aku akan memintanya saat waktunya tiba nanti dan tentu saja, kau harus berada di belakangku selama Tortoise belum di kalahkan." Ujar Rigel, dengan senyuman di bibirnya.
Melihat senyuman berani Rigel, Ratu Peri sedikit terkejut namun membalas senyuman Rigel dengan senyuman.
"Kau memang pria yang menarik dan berani... Baiklah, aku akan menerima itu." Ujar Ratu Peri dengan senyuman lembut di bibirnya.
"Kalau begitu kita sepakat." Ujar Rigel selagi mengulurkan tangannya.
Ratu Peri menerima jabat tangan Rigel sebagai formalitas. Dengan begini kerja sama antara Rigel dan Ratu Peri telah di sepakati.
"Kalau begitu, aku akan segera mengembalikanmu ke tempatmu. Panggil saja aku saat waktunya tiba untukmu menghadapi Tortoise." Ujar Ratu Peri selagi membentuk cahaya hijau di tangannya.
Cahaya itu bersinar terang seperti sebelumnya dan menelan Rigel ke dalamnya. Saat cahaya memudar, Rigel kembali ke tempat awal dia berada.
"Hmm, baiklah... sekarang, mari kita kembali ke Region dan melakukan sesuatu tentang ini." Gumam Rigel, berbicara sendiri.
Dia membutuhkan beberapa waktu, sebelum turun tangan menghadapi Tortoise. Lagipula, pahlawan lain tidak ingin bekerja sama dengannya jadi Rigel akan membiarkan mereka berurusan dengannya.
"Untuk sekarang, aku harus mencari Ozaru dan kembali ke Ruberios untuk menjemput Asoka dan Merial lalu kembali ke Region." Gumam Rigel, menatap telapak tangan kiri palsunya.
Rigel mengepalkan tinjunya dan menguatkan tekadnya. Untuk saat ini, Rigel akan diam dan menyaksikan bagaimana pertempuran pahlawan lain dengan Tortoise.