
7 hari telah berlalu tanpa di sadari, bertepatan dengan selesainya jubah Salamander, Takumi dan regu nya mencapai tujuan. Pegunungan api, Vulcan. 12 Pahlawan telah berkumpul di satu tempat, bersiap untuk memulai pertarungan besar mereka.
Sebelum pergi ke Britannia dan berkumpul dengan yang lain, ada sebuah tempat yang hendak di kunjunginya terlebih dahulu. Tempat di mana putri tidur sedang bermimpi indah.
"Ara, Pahlawan Rigel, lama tidak berjumpa. Tujuan apa yang membawamu kemari?"
Setibanya di sana, dia mendapatkan sambutan hangat dari penjaga hutan Roh, Ratu Peri, Sylph. Tentunya tanpa perlu baginya bertanya, Sylph tahu bahwa kunjungan Rigel hanya untuk menemui gadis itu. Tentunya, untuk memberitahu padanya, bahwa rencana akan dimulai.
"Segala persiapan mengenai Phoenix telah selesai, hari ini, kami akan langsung memulai serangan. Tetaplah pada rencana, jangan ulurkan tanganmu sampai sesuatu mengenai penghianatan terjadi. Lalu, kau juga dapat menggunakan kuil Excalibur untuk memulai."
"Jadi begitu. Harinya sudah tiba ya..."
Meninggalkan Sylph sendiri, Rigel menuju ke tempat gadis itu, Priscilla berada. Bukan karena keharusan atau keperluan belaka, ini hanya keinginan pribadinya saja.
Seorang wanita berumur 20 tahunan tertidur dengan begitu anggun. Cantik namun rapuh. Seakan-akan dapat hancur dengan hembusan angin. Dia membelai rambut gadis itu dengan lembut.
Sebentar lagi. Tunggulah sebentar lagi. Aku pasti akan membangunkanmu kembali, Priscilla.
Batin Rigel.
Sebagai seorang teman, serta sebagai orang yang membuat Rigel menjadi seperti sekarang. Kerinduan akan mendengar kembali suaranya tak terlukiskan. Keinginan untuk melihatnya menari di bawah api unggun tak tertahankan.
"Aku akan membunuh Phoenix, merebut darah dan air matanya, menarikmu kembali dari dunia mimpi tanpa akhir. Itu pasti, kau hanya perlu sedikit bersabar lagi."
Meninggalkan kata-kata seperti itu, Rigel beranjak bangun. Hendak pergi untuk berkumpul dengan yang lain. Keinginan mencium dahinya muncul, namun dia membulatkan untuk tidak melakukannya, sampai benar-benar membangkitkannya.
"Mari kita mulai Theater Pahlawan sekarang juga."
Karena tak ada hal lain lagi yang harus di lakukan, Rigel pergi ke Britannia. Berkumpul dengan yang lain, mempersiapkan dirinya.
Tak perduli berapa kalipun akan berhadapan dengan musuh besar, kegugupan pasti akan selalu menyertai. Setiap kali hendak berhadapan dengan musuh hebat, setiap kali pula jantung Rigel berdegup kencang, dengan adrenalin pertarungan yang terpacu. Saat ini semua Pahlawan berkumpul di satu tempat, Britannia. Negara yang tak mengalami kerugian akibat invasi.
"Akhirnya tiba juga, ya. Hari besar kita." Takumi menghampiri Rigel dengan senyuman tipis.
Dia menggunakan jubah berwarna merah dengan sedikit duri-duri kecil di bahunya. Begitu pula dengan yang lain. Desain jubahnya nampak lebih cocok di gunakan oleh Antagonis, namun penampilan seperti itu tidak terduga sangat cocok dengan Rigel.
"Ini berbeda dari jubah yang kita gunakan pada waktu itu."
Yuri bergabung dalam percakapan, selagi melihat penampilannya.
Tentunya ini berbeda, tidak hanya desain. Tetapi bahan dan kualitasnya terlampau jauh berbeda. Rigel tidak berniat mengatakan banyak hal selain merespown, "Begitulah," dengan acuh.
Hari ini telah di nantikan dengan sabar, adrenalin mulai berpacu, meski pertarungannya masih jauh berada di depan sana. Jantung Rigel memompa darah lebih cepat dari biasanya. Sebuah perasaan yang tidak pernah sekalipun di benci.
"Hoi."
Seseorang memanggilnya dari kejauhan. Menoleh untuk mengetahui siapa itu, dia menemukan Hazama dan Marcel menghampirinya.
"Ambillah ini."
Rigel menangkap sesuatu yang di lempar Marcel, dan melihat benda berbentuk tetesan air padat. Dalam satu kali pandang dia tahu benda apa itu.
"Gunakan itu untuk tetap menjaga subuh tubuh dalam keadaan normal. Perkiraan, benda itu dapat bertahan paling lama 3 jam. Bahkan jika itu tidak bertahan lebih lama, Hazama dapat melakukan sesuatu dengan Perisainya."
"Ya. Namun seperti yang kalian ketahui, Perisaiku akan menjadi senjata yang di prioritaskan, untuk menahan segala serangan yang datang. Aku tidak akan bisa terus menjaga perisai yang memblokir udara panas pada kalian selagi menahan serangan."
Rigel hanya mengangguk ringan terhadap perkataan Hazama.
"Tenang saja. Benda ini lebih dari cukup. Tidak ada satupun diantara kita memiliki niat bertarung untuk waktu yang lama. Mengakhiri hidup burung api secepat mungkin tentunya sebuah prioritas."
Tentunya mengakhiri secepat mungkin, jelas terbesit di kepala semua orang. Tidak ada seorangpun dengan niat bermain-main dengan burung api.
"Jika begitu, maka semuanya beres. Kita bisa pergi kapanpun." Ujar Marcel.
Semua telah menggunakan jubah dan item sihir yang berbentuk tetesan air. Persediaan telah aman berada di ifentory Rigel. Tidak ada lagi hal yang harus menahan mereka di sini lebih lama. Raja Britannia dan putrinya menghantarkan kepergian para Pahlawan.
Kalau begitu mari kita pergi," Meninggalkan kata-kata itu, secara serempak Takumi dan grupnya menggumamkan Skill yang sama, "Teleport!"
Pemandangan telah berganti, dari yang awalnya kota indah menjadi pegunungan Neraka. Gunung-gunung api terlihat di mana-mana, lahar panas muncul dari puncaknya, tanah hangus terbakar. Yang menjadikan tempat itu Neraka untuk tumbuhan hidup. Dari kejauhan, terlihat sebuah gunung api yang berbeda dari yang lain.
Gunung 4x lebih besar, menyemburkan lahar merah dan memiliki gua besar yang terlihat samar. Energi sihir di tempat itu jauh lebih kuat dari yang lain.
Jadi di sana, ya. Tujuan akhir kita.
Batin Rigel.
"Tidak salah lagi. Gunung besar itu tujuan kita," Takumi menimpali, "Saat kita mulai melangkah ke tanah hitam itu, tentunya mahkluk itu pasti menyadari kita."
Tentunya perjalanan ke sana tidak akan semudah itu. Monster Malapetaka memiliki kepintaran, yang membuat mereka berbeda dari spesiesnya.
"Tetap saja, ini jauh lebih mengerikan dari yang kubayangkan." Petra bergumam selagi bergidik ngeri.
Jika harus memilih, mana yang lebih mendekati neraka. Maka tempat ini akan menjadi jawabannya, melihat bahwa tidak banyak mahkluk hidup yang dapat hidup.
"Di lihat dari suhu, kita harus menempuh perjalanan. Mobil tidak akan bertahan, terutama Ban nya." Ujar Rigel.
Jika suhu terlalu panas, terdapat kekhawatiran mobil akan meledak. Bahkan, Ban yang terbuat dari karet dapat meleleh sehingga jalan kaki mungkin menjadi solusi atau...
"Ya. Bahkan awan Kinton hanya dapat menampung dua orang saja. Tentunya aku bisa membuat jalan dengan tongkat ku, namun sampai saat itu aku tidak dapat bertarung bebas."
Terdapat dua pilihan yang bisa di ambil. Membiarkan Ozaru dan satu orang lainnya untuk pergi dan menyiapkan Teleportasi, atau berjalan di atas tongkat Ozaru bersama-sama.
Pilihan pertama sedikit berbahaya, namun akan menjadi tiket singkat. Rigel bisa membawa setidaknya tiga orang terbang bersamanya. Bukan pilihan buruk, meninggalkan setengah yang lain di sini dahulu.
"Aku dapat menampung empat orang termasuk diriku, kita akan menyisakan setengah dari kita berjaga di sini selagi yang lain menyiapkan Teleportasi." Ujar Rigel.
"Mungkin itu pilihan terbaik, ketimbang membiarkan dua orang saja pergi." Hazama setuju.
"Aku setuju. Tingkat bahaya akan berkurang dengan banyaknya jumlah orang." Bahkan Marcel tidak menolak.
Maka tidak ada lagi kekhawatiran. Dengan begini semua orang juga dapat menghemat tenaga masing-masing.
Untuk orang-orang yang akan pergi duluan, Rigel, Ozaru, Petra, Yuri, Hazama dan Aland. Mereka adalah Pahlawan yang mampu bertarung jarak jauh serta menengah. Keberadaan Hazama akan menjadi Perisai, dengan kekhawatiran terdapat serangan liar.
Hazama menaiki Kinton bersama Ozaru, sementara sisa lainnya pergi bersama Rigel. Mereka terlihat melayang di udara, namun sebenarnya terdapat udara padat di telapak kaki mereka dan itu sangat mengagumkan.
"Whoa, ini jauh lebih mengerikan, bila di lihat semakin dekat." Aland bergumam.
Sangat jarang untuk Rigel setuju dengannya. Tempat ini sangat menggambarkan bentuk neraka di dunia ini, dengan lahar yang terus keluar tanpa henti.
Batin Rigel.
Air Mata Poseidon, Skill yang didapatnya dari pertarungan dengan Hydra. Sebuah Skill yang dapat membuat lautan dengan satu tetes air mata. Tentunya bukan hal buruk mencobanya, namun terdapat kekhawatiran terjadinya ledakan uap.
Sebaiknya lain kali saja kulakukan saat sedang bosan.
Batin Rigel.
*KIEK!
Jeritan Monster yang sungguh memekakkan telinga. Asalnya dari gunung besar yang menjadi tujuan. Tidak salah lagi, itu tentunya berasal dari PPhoenix
Ozaru yang menatap ke depan menggumamkan sesuatu.
"Sepertinya kita kedatangan tamu."
Beberapa Monster api seperti Kelelawar dan burung Elang api menghampiri mereka. Bahkan ada Salamander dan yang lain, tengah menantikan Rigel di bawah.
"Bersiaplah. Petra, Yuri kalian urus bagian depan dan belakang. Sementara Aku dan Aland mengurus yang di bawah. Hazama, lindungilah Ozaru dan yang lain! Bergerak!"
Meninggalkan kata-kata itu, mereka melakukan tugasnya masing-masing dan tetap melindungi satu sama lain.
Yuri menarik busurnya, menembakan empat buah panah cahaya dalam satu tembakan. Setiap panahan tepat sasaran, membunuh kelelawar api yang mendekat dari depan.
Petra mengulurkan kipas di tangan kanan, sementara kipas lainnya menyentuh kristal di senjatanya. Dia menembaki satu-persatu Elang Api yang mendekat, namun Elang itu tangguh dan membutuhkan sedikit usaha untuk menjatuhkannya.
Beberapa Monster mencoba menyerang dari jauh, namun dengan kombinasi Perisai udara dan Full Counter Hazama, hal itu teratasi dengan sangat mudah.
"Kau urus cicak-cicak itu, Aland. Serahkan Golemnua padaku!" Ujar Rigel dan mengambil Riffle dari penyimpanan.
"Ya!" Aland tidak memprotes dan menjatuhkan Palunya dan menghabisi Salamander dalam satu serangan. Palu itu langsung kembali ke genggamannya begitu di panggil.
Sungguh mirip dengan film super hero bumi.
Batin Rigel.
Dengan Riffle miliknya, menghadapi Golem bukanlah hal sulit.
Golem adalah seekor Monster yang terbuat dari tanah, dan tentunya inti energi yang membuat mereka hidup. Cara mengalahkannya terbilang mudah, menghancurkan seluruh bagian tubuh atau menghacurkan sumber energinya.
Rigel dengan mudah menghabisi Golem satu persatu dengan Riffle. Dia mengintip melalui teropong senjatanya dan membidik dengan tepat inti energi.
Hmm, mungkin akan lebih mudah melakukannya dengan Sniper, namun suaranya terlalu bising. Bahkan jika aku menggunakan peredam suara.
Batin Rigel.
Dia tidak ingin mengganggu konsentrasi yang lain. Lengah sedikit saja dapat membuat mereka kehilangan nyawa. Dua harus mengurungkan niat menggunakan Sniper.
"Kau memang benar-benar memiliki kemampuan yang nyaman, ya. Bisa membuat apapun yang ada di bumi dengan kekuatanmu benar-benar sesuatu."
Selagi menghadapi para Monster keroco, Aland membicarakan kekagumannya pada Rigel. Dia tidak salah bahwa ini memang kekuatan yang nyaman. Namun sedikit mengecewakan karena tidak memiliki senjata yang tidak bisa hancur.
"Ya... Namun untuk mencapai titik ini, usaha yang di perlukan tidak sedikit."
Rigel baru dapat membuat sesuatu dari dunianya semenjak setiap Skill Creator menjadi satu kesatuan. Imagination Creator. Membuat benda dari imajinasi atau ingatannya.
Memang dia belum mencoba membuat benda dari bumi sebelum memasuki Labyrinth, namun jawabannya sudah jelas. Itu tidak mungkin di lakukan tanpa Imagination Creator.
"Tetap saja, monster-monster ini tidak ada habisnya. Aku masih dapat melihat cukup banyak datang dari depan sana." Ujar Ozaru.
Bahkan tanpa mencoba untuk melihat, Rigel dapat merasakan kumpulan kehidupan mendekati mereka dari berbagai arah. Ada lebih banyak monster dari yang di harapkan.
Ozaru menatap dalam diam selagi menyaksikan Rigel dan yang lain bertarung. Dia sama sekali tidak memiliki kesempatan, karena Yuri dan Petra menghabisi sebelum dia bisa bertindak. Hanya perlu waktu saja, sampai mereka benar-benar kewalahan.
Huft, sepertinya aku memang harus turun tangan.
Batin Ozaru.
Ozaru mencabut rambut di kepalanya, membuat Hazama berfikir 'Apa yang di lakukan orang ini?' tanpa mengetahui makna dari tindakannya.
Ozaru dengan acuh melempar rambutnya, membuatnya berterbangan di udara. Mengangkat jari telunjuk kanan, Ozaru menggumamkan sesuatu.
"Datanglah! Pasukan Kera!"
Rambut Ozaru berubah, menjadi sekelompok Kera hitam yang menerjang langsung para monster. Hazama tentu terpikat melihatnya karena Skill Ozaru cukup unik untuk di lihat.
Rigel dan Ozaru mungkin kasus lain, mereka tidak hanya memiliki Skill dari senjata, melainkan murni kekuatan mereka sendiri. Rigel tidak memiliki senjata, namun dia lebih dari cukup untuk mengalahkan beberapa Naga sendirian.
Para Kera itu terus bertarung dengan gila. Beberapa meloncat dari satu monster ke monster lain dan beberapa lainnya menghabisi Salamander dan monster yang berada di permukaan.
Tanpa di sadari monster yang datang semakin sedikit berkat pasukan Kera Ozaru. Mereka menyadari bahwa para Kera itu bukan sebuah Skill biasa, seakan-akan mereka benar-benar Kera hidup.
Mereka telah mencapai tempat tujuan, Gunung besar yang menyemburkan Lahar berwarna Merah. Rigel mengamati sekitar dan tidak menemukan monster di manapun, dia memutuskan untuk mendarat. Yuri dan Petra akan menjemput Pahlawan yang tersisa, selagi yang lain berjaga-jaga.
"Umm, Ozaru. Mengenai pasukan Kera milikmu sebelumnya, apakah mereka benar-benar hidup? Kurasa itu bukan sebuah Skill belaka?"
Tidak terkecuali dengan Aland. Dia juga sama penasarannya dengan Hazama mengenai Skill milik Ozaru. Di sisi lain, Rigel sudah menduga jawabannya.
"Apa kalian dungu? itu hanyalah rambut, mengapa beranggapan mereka mahkluk hidup? penalaran kalian benar-benar buruk." Ozaru membuat Ekspres rumit.
Meski ini dunia dengan sihir, mereka tidak terlampau gila. Mana mungkin seekor monyet lahir dari rambut.
Batin Rigel, mengejek Aland dan Hazama.
Tidak butuh waktu lama sampai Pahlawan lain tiba, bersamaan dengan kedatangan mereka, Gunung di belakang mereka bergetar.
Jelas bukan sesuatu yang baik, mereka memilih menjaga jarak dari Gunung itu. Lahar Merah yang keluar dari puncak semakin banyak dan membentuk selimut lahar pada gunung itu.
Kekuatan yang luar biasa besar berasal dari dalam gunung, meluncur keluar ke langit tinggi. Burung api raksasa, dengan penampilan burung Merak yang memiliki warna merah dan biru pada bulu-bulunya. Kuat dan indah, Kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya.
"Baiklah, penaklukan Phoenix akan kita mulai! Raih kemenangan, Buktikan kelayakan!"
"Ya!" Secara serempak mereka berseru.
Sekali lagi, Pahlawan umat manusia akan menantang langit, membuktikan kelayakan umat manusia pantas untuk tetap hidup!