
"Kuh! nampaknya menghajar mu tidak semudah menampar nyamuk...," keluh Takumi selagi membaringkan tubuhnya di rumput hijau. "Kira benar-benar kalah telak, hanya Undine yang
berhasil dikalahkan."
Undine yang berada di belakang Sylph nampak malu, namun terhormat sekaligus. Mungkin karena dia malu akan kelemahannya dan hormat karena tahu sejauh mana kekuatan yang dia miliki.
Rigel hanya bisa mengagumi kerjasama mereka yang hampir sempurna, hanya ada sedikit cacat pada bagian tertentu.
"Jadi, bagaimana pendapatmu tentang formasi kami?" tanya Marcel, mendekati dari depannya.
Rigel menarik rambutnya seraya berfikir keras untuk memberikan jawaban yang baik. Bukannya sulit untuk dianalisis, jawabannya sudah berada di ujung lidah. Hanya saja, dia juga tengah mencari solusi untuk mengatasi 'cacat' dari formasi mereka.
"Dari serangan tentunya sudah sempurna. Namun, pertahanannya tidak sebanding."
Mereka menatapnya yang menjelaskan hasil pengamatannya. Beberapa dari mereka, Aland, Marcel dan Petra tidak percaya bila formasi mereka memiliki pertahanan yang cacat.
Jika itu orang biasa, dapat ditoleransi. Namun orang yang bertugas dalam pertahanan adalah perisai terkuat yang pernah dimiliki umat manusia, Pahlawan Perisai.
"Bagaimana menurutmu, Sylph? Jangan menjadi ragu untuk mengatakan hal yang perlu dikatakan."
"Aku pribadi setuju denganmu. Bagian pertahanannya tidak akan dapat mengimbangi pergerakan cepat Pahlawan lain. Selain itu, menurutku bagian pendukung juga sedikit kurang bermanfaat. Akan lebih cocok jika mereka dialihkan ke bagian penyerangan."
Pendukung adalah mereka yang berguna memberikan sihir dan efek khusus kepada rekam satu tim. Namun mereka adalah Pahlawan, tanpa bantuan pendukung, efek khusus telah tersedia pada senjata mereka. Jadi masuk akal untuk menyingkirkan bagian pendukung dan mengalihkan pada penyerangan.
"Tunggu, tunggu! Aku tidak memahami apanya yang cacat pada bagian pertahanan? Maksudmu Hazama tidak cukup kuat untuk menjadi bagian pertahanan??" tanya Aland.
"Harus dimulai dari situ, ya..." gumamnya dengan lelah dan malas untuk menjelaskan lebih terperinci.
"Kau salah paham, Aland..." Hazama yang tengah diperbincangkan berinisiatif menjelaskan, jelas bahwa dia yang sangat memahami maksud Rigel. "Cacat yang dimaksud bukan rendahnya daya tahan ku. Namun seberapa lama aku dapat mengikuti pergerakan kalian yang cepat dan bersiaga terhadap serangan yang mendekati."
Penjelasan itu masih tidak cukup jelas untuk membuat Aland memahami intinya. Hazama menghela nafas dan mengangkat kedua jari telunjuknya.
"Ibaratkan kau berada di sisi kanan hendak menerima serangan yang tidak bisa kau atasi. Otomatis aku akan pergi ke tempatmu untuk melakukan tugasku. Namun, apa jadinya bila serangan langsung datang menuju Marcel yang berada di sisi kiri??"
"Tentu saja, kau akan pergi untuk melindunginya, kan?"
Hazama mengangguk, "Ya. Namun, berapa lama aku bisa bertahan untuk berlari dari sisi ke sisi dan menahan serangan kuat? Selain itu apa yang akan terjadi bila serangan mendatangi kalian secara bersamaan??"
Akhirnya Aland menangkap inti dari 'cacat' yang Rigel dan Sylph maksud. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu, sekali lagi berdecak kagum akan pengamatan yang dimiliki Rigel dan pemahaman Hazama yang mendalam
"Begitu, cepat atau lambat kau akan menjadi kelelahan. Lalu, jika itu serangan meluas dirimu juga akan kesulitan melindungi kita semua."
"Yea. Mempertimbangkan kalian yang tidak bergerak secara melambat, aku harus berjuang lebih keras untuk tetap mengimbanginya."
Satu orang yang menjadi pelindung, sementara sebelas yang harus dilindungi. Siapapun akan kesulitan, bahkan mustahil bila orang lain melihatnya. Namun sampai saat ini, Hazama mampu melindungi sebelas orang dari situasi berbahaya.
Dengan absennya Pahlawan Pedang dan Rigel yang mungkin tidak bertarung dalam kelompok, setidaknya beban orang yang patut dilindungi sedikit lebih ringan.
"Kembali ke topik, kita harus mencari cara untuk menutupi cacat itu. Aku tentu bisa membantu, namun seperti yang kukatakan sebelumnya, kekuatanku lebih cocok untuk bertarung secara solo."
Mereka mulai mempertimbangkan apakah bisa membantu Hazama untuk melindungi yang lain atau tidak. Namun kekuatan mayoritas Pahlawan lain adalah penyerangan.
Buntu ya..., nampaknya mau tidak mau memang harus mencampurkan orang luar..., perangai Rigel.
Jika memang harus, dia berniat memasukan Gahdevi yang memiliki tubuh sekeras baja dan serangan kuat. Asoka boleh jadi bagus karena dia seorang Vanguard, namun tergantung pada keadaan, dia harus memerintah prajurit bersama Kandidat lain.
"Bagaimana jika itu aku??"
Sebuah suara yang sama dengan suara yang tidak memahami pembahasan sebelumnya. Rigel menatapnya dengan wajah yang seakan mengatakan "Mungkin itu ide bagus," dan membuat semua orang menatapnya.
"Mungkin itu bagus. Selain memiliki tubuh besar, senjata dan kekuatanmu boleh jadi pertahanan, Aland!"
Mendengar perkataan Rigel, semuanya mulai memikirkan kemungkinannya dan secara mengejutkan memang hal itu menjadi pilihan terbaik.
"Itu mungkin bagus. Namun apa kau yakin? dengan membantu pertahanan, kau tidak akan dapat bertarung lepas seperti yang lain." tutur Hazama, mungkin khawatir bahwa Aland akan menyesalinya.
"Tidak juga. Lagipula tidak banyak serangan milikku yang benar-benar berguna. Karena ini palu, dia hanya bisa memberikan benturan keras, bukan tikaman tajam seperti belati dan Tombak. Karena itu tidak masalah bagiku membantu dalam pertahanan."
"Jika kamu telah bertekad, maka belajarlah untuk membantu bertahan sekaligus menyerang. Tidak hanya Aland, tetapi kita semua perlu belajar melakukannya."
Bertahan sekaligus menyerang adalah strategi sederhana namun sangat sulit untuk ditaklukkan. Contohnya saja Hazama, dia memiliki pertahanan yang sangat kuat, tetapi hampir tidak memiliki Skill serangan yang berarti. Meskipun begitu, terdapat satu Skill yang membuatnya bisa menyerang lawannya.
Full Counter, Skill yang membalikkan serangan yang dia terima dan menggandakannya menjadi dua atau tiga kali lipat. Bahkan jika bisa, Rigel menginginkan satu Skill super berguna seperti itu.
Sangat disayangkan bahwa diantara banyak Skill yang membusuk miliknya, tidak ada satupun yang seperti Full Counter.
"Yah, bagaimana bila kita sudahi saja untuk hari ini?" tanya Rigel. Dia menyadari bahwa tidak ada lagi yang perlu dilakukan selain menyiapkan kondisi fisik dan kekuatan penuh dalam Raid yang akan datang.
"Benar juga. Meski sebentar ini cukup melelahkan, kita perlu menyiapkan kondisi puncak sebelum Raid tiba." tutur Takumi, meregangkan tubuhnya.
"Aku setuju," tukas Hazama, memejamkan matanya dan tersenyum lembut. "Aku dan Nadia telah berjanji kepada anak-anak di kota untuk menyanyikan sebuah lagu kepada mereka."
Bila itu anak-anak, wajah Riri dan bocah lainnya terpikirkan di kepalanya. Dia sendiri tidak terkejut bila penampilan memukau Hazama dan Nadia sangat disukai oleh semua orang. Mengingat dunia ini tidak memiliki banyak hiburan selain wanita, musik boleh jadi budaya bagus bagi mereka.
Bukannya berarti sama sekali tidak ada musik di dunia ini. Hanya saja, musik mereka hanya berupa instrumen, tidak disertai dengan nyanyian seperti yang dilakukan Hazama dan Nadia.
"Mereka sangat menyukai lagu-lagu yang kami mainkan dan perlahan mempelajarinya. Tidak hanya anak kecil, tetapi golongan tua nampak sangat menyukainya." Nadia menambahkan dengan riang.
Maka tidak bisa dipungkiri bahwa perlahan musik dan jenis budaya lain dari bumi akan muncul di dunia ini. Semuanya akan bermula pada Region yang kemungkinan di masa depan akan dikenal dengan kota para Pahlawan.
Selama budaya yang masuk positif dan tidak merugikan Region, maka Rigel tidak akan menentang. Malah dia memang memiliki niat seperti itu semenjak awal, namun tidak banyak kesempatan untuk menyebarkannya.
"Lain kali mungkin aku akan menciptakan lebih banyak peralatan musik dan hal lainnya."
"Itu bagus. Jika bisa, cobalah buat angklung atau gamelan, aku yakin akan banyak orang tertarik dengan alat musik itu." tukas Nadia selagi bernostalgia.
Dari caranya yang sangat bersemangat membahas musik dan suaranya yang merdu, semua orang akan menduga bahwa Nadia seorang penyanyi atau sejenisnya ketika masih berada di bumi.
"Angklung itu sulit, namun Gamelan mungkin bisa. Yeah, lain kali akan ku buat jika ingat..." meninggalkan kata-katanya dia hendak pergi dari tempat itu.
Meski tidak tahu kemana harus pergi, untuk saat ini Rigel mungkin akan pergi ke Region dan melihat perkembangan Kesatuan Tempur. Tidak hanya Region, tetap tiga negara besar lainnya. Ruberios, Kekaisaran Timur dan juga Britannia.
Sylph dan Undine juga memberikan isyarat bahwa mereka akan kembali ke hutan Peri dan pamit kepada Takumi dan Pahlawan lain.
KRIING!!
Sesuatu berdering keras, asalnya dari ibukota. Sylph, Undine dan Pahlawan lain tidak mengerti makna dari suara itu, hanya Rigel dan eksekutif Region yang sangat mengetahui. Ray dan Merial tentunya tahu, mengingat mereka awalnya salah satu dari eksekutif yang ada. Ozaru juga mengetahuinya dari Rigel, bilamana suara keras berbunyi maka pertanda bahaya mendekat.
"Rigel peringatan itu..." Ray memperingati, namun tanpa dia perlu memanggilnya Rigel telah menyadarinya.
" Seharusnya ada beberapa lampu merah bila penyusup hendak masuk, namun ini hanya suaranya saja...," tukas Merial, bersiap kembali ke Region untuk melihat apa yang terjadi.
Semenjak kejadian Karaka, pertahanan Region kembali di tingkatkan ke tingkat super waspada. Tidak akan ada bahkan satupun lalat dapat melewatinya tanpa ketahuan.
Namun, dari suara dering yang berlangsung lama ini, menandakan bahwa energi tak dikenal dengan niat jahat telah memasuki Region, tanpa menembus pelindung yang mengelilinginya. Atau mungkin, sesuatu sedang mengintai di langit Region.
"Itu..., sebuah portal??" Yuri bergumam, menunjuk sesuatu yang berada di langit.
Perhatian semua orang teralihkan kepada arah yang ditunjuk Yuri. Semuanya menatap dengan sangat terkejut, bahkan Rigel tidak dapat menutup mulutnya karena sangat terkejut.
"Kepala..., Naga??" tutur Petra, gemetar ngeri akan pemandangan yang dia saksikan.
Kepala Naga raksasa yang sepenuhnya terbuat dari awan terbentuk, menatap daratan di bawahnya, Region dengan tatapan hina. Dia seakan melihat sebuah tempat dimana kumpulan sampah dan yang tidak berguna berkumpul.
Saking hinanya tempat dan seisi penghuninya, dirinya tidak lagi tahan untuk menahan diri agar tidak melenyapkannya. Namun, dia akan bersabar sedikit lagi sampai waktunya benar-benar tiba.
Waktu ketika dunia jatuh dalam kekacauan dan umat manusia, beserta seisi kehidupan ini jatuh dalam kepunahan. Maka dia akan muncul, entah sebagai penyelamat ataupun pengacau perang.
Dirinya beralih menatap kepada gunung yang tidak jauh berada di tempat yang dia anggap hina, menemukan energi yang dia kenal dan lama tak bersua.
Benar saja, dirinya merasakan tatapan tajam nan niat membunuh besar berasal dari tempat yang dia lihat.
"Lama tidak bersua, pembawa aib kaum Naga, Acnologia!" tukas Red dengan perasaan benci. Meski suaranya nampak tidak terlalu kuat, dia yakin keparat itu dapat mendengarnya.
Red tidak berniat untuk menyerangnya, lagipula wujudnya itu hanyalah palsu. Bukan yang asli dan tujuannya pasti bukan untuk memusnahkan.
"Pengecut sepertimu tak pantas berbincang banyak denganku, lagipula kau bukan tujuan utamaku datang kemari."
"Dengarkanlah aku, manusia, Pahlawan manusia yang lemah nan jelek! Diriku tahu bahwa kalian memulai persiapan untuk mencapai tanah kerajaan ku demi membunuh diriku. Namun, kecoa seperti kalian tak bisa menyentuhnya, bahkan melihat tanah kerajaan ku juga tak bisa. Daripada mati sia-sia sebagai mahkluk rendah yang tolol, sebagai belas kasih, aku memiliki sebuah penawaran...,"
Kemunculannya sendiri cukup mengejutkan—tidak. Itu justru sangatlah mengejutkan, mengingat dirinya membentuk wajahnya di langit.
Lama tidak bersua? Kepada siapa dia berbicara??mungkinkah itu Red??? Bila begitu, dia pasti Acnologia!
Serangkaian pertanyaan muncul dalam benaknya, namun yang paling mengganggunya adalah dari mana dia mengetahui bahwa mereka sudah memulai persiapan?
Rigel telah memiliki keyakinan kuat bahwa tidak ada pengkhianat dari pihaknya. Bahkan meski dia percaya, dirinya telah menyiapkan beberapa jebakan kepada orang-orang yang mengetahuinya. Namun, bila itu dari sisi lain yang tidak dia awasi maka..., mari selesaikan nanti.
"**Penawaranku, kalian seluruh umat manusia patut menjadi budak, makanan, sampah dan orang tolol yang mematuhi diriku, menganggap ku sebagai dewa yang satu! Alhasil, akan aku ulurkan tangan saat perang mendekat."
"Namun, jika kalian menolak..., akan kuberikan kehancuran sebelum kehancuran lain tiba**!"
"Penawaran yang gila! Tidak akan ada seorangpun manusia di dunia ini mau menerima penawaran gila itu!!" bentak Takumi dengan marah membara.
Jika memang ada orang seperti itu, mereka patut dibunuh. Menuruti keinginannya sama halnya dengan membiarkan umat manusia kalah sebelum berperang. Pada akhirnya, manusia akan menjadi makanan para Naga, budak dan seonggok daging yang menjadi mainan mereka.
Ketimbang menjadikan masa depan suram seperti itu untuk ketenangan sementara, lebih baik menghadapi kesuraman itu sekarang dan meraih happy ending di akhir!
"Tanpa perlu diputuskan, jawabannya sudah pasti adalah penolakan! Tidak ada keraguan tentang itu!!" seru Yuri, berdiri di sisi Takumi.
"Kau datang dan meminta kesepakatan yang hanya menguntungkan mu saja, mungkinkah kau takut dengan kami?!!" Marcel melontarkan provokasinya, namun hal itu tidak seharusnya dijadikan pilihan saat ini.
"**Takut? Monyet mana yang barusan mengatakan itu?! Diriku sudah mau menyempatkan waktu berharga untuk memberikan belas kasihan kepada mahkluk tolol dan rendah seperti kalian! Namun beraninya kamu menghina?!!"
"Baiklah, mahkluk rendah, kotor, menjijikkan, sampah dan tolol! Akan kutunggu dalam waktu dua Minggu di tanah ku dan bila kalian tidak menghampiriku dalam waktu yang ditentukan..., aku bersumpah untuk membumi hanguskan dunia ini!! Dunia akan merasakan langsung, betapa pedih dan perkasanya diriku!! Hahaha!!"
"Sampai jumpa dua Minggu yang akan datang, orang-orang tolol**!!"
Mengatakan itu— petir menyambar keras dan penampakan kepala Naga mengerikan menghilang bak ditelan bumi. Datang tak dijemput lalu pulang tak diantar, benar-benar menyebalkan.
Melihat kejadian seperti itu, bukannya mustahil mereka yang berniat bergabung dalam kesatuan tempur memilih untuk mundur. Mengapa? Karena dari kemunculannya barusan, dunia telah mengetahui bahwa para Pahlawan berniat menaklukan tanah Naga Yang Terlupakan. Sarang milik Naga malapetaka, Acnologia.
"Dia dapat menciptakan sesuatu seperti itu dengan sangat mudah..., dirinya yang sekarang nampak jauh lebih kuat dari yang kuingat? Apa yang terjadi?? Seharusnya tidak mungkin dia memiliki kekuatan langit...," gumam Sylph yang penuh kejutan.
Meski itu nampak penting, namun tidak ada kesempatan bagi Rigel yang dipenuhi amarah untuk memikirkannya, mendengarnya pun tidak.
Menyadari bahwa kemarahan Rigel benar-benar memuncak, Ray dan Merial hanya diam dan mengikuti.
"Kemana kau akan pergi? dengan kemarahan yang tak terbendung itu??" hanya satu sosok yang berani bertanya, Ozaru.
Tanpa sedikitpun membalikan punggung dan menggerakkan matanya, Rigel terus berjalan dan menjawab pertanyaannya,
"Bila ada seorang penghianat, maka hanya kadal anjing itu yang bisa menjawabnya!!"
Satu hal yang tidak akan pernah termaafkan ataupun ditolerir, sebuah penghianatan. Hukum tak tertulis, bahwa yang mengkhianati Rigel akan merasakan seberapa sedih mendapatkan sebuah kehidupan dan seberapa berdosa dirinya berkhianat padanya.
"Kadal?..., maksudmu Naga bernama Red itu??" Ozaru tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Seharusnya itu tidak mungkin, mengingat dirinya menjadi saksi langsung dimana Rigel membuat kontrak dengan Red. Namun, kemungkinan pengkhianatan tidaklah nihil, hingga akhirnya Ozaru memahami apa yang dicari Rigel.
Pada akhirnya, semua Pahlawan saling mengangguk dan mengikuti Rigel, begitu pula Sylph dan Undine.
[***]
Setelah penampakan Acnologia menghilang dari langit, Red terus menatap bekas tempat keparat itu berada dengan kebencian murni terpancar darinya.
Jika bisa, dia ingin secara langsung mencabik-cabik keparat itu dengan cakarnya dan mengoyak kepalanya dengan taring. Namun untuk sekarang, ada hal lain yang mendekatinya dan perlu diurus.
Dia sudah mengamati mereka semenjak awal. Dimulai dari keberadaan mengejutkan seperti Ratu peri, seluruh Pahlawan yang berkumpul dan—
"Tidak biasanya kamu menjadi semarah ini, sahabat manusiaku."
—kemarahan seseorang yang tidak lagi dapat ditampung dunia.
Baru pertamakali Red merasakan kemarahan yang begitu mencekam, mencekik lehernya. Darahnya begitu mendidih, seakan direbus oleh gunung Merapi. Tatapan keji yang tak kenal takut dan seakan-akan sudah membunuh jutaan jiwa menatapnya dengan tajam.
"Sahabat manusia? Apakah itu hanya ucapan manis yang tolol dan sesuatu yang sejenisnya??" suaranya tetap terjaga, namun bahasa dan kesopanan tak lagi diperlukan.
"Tempo hari kau menyampaikan rekanmu setuju, yang artinya dirimu telah memberitahu kami akan melakukan Raid terhadap Acnologia. Apa rekan yang dirimu maksud adalah Acnologia itu sendiri?!"
Pertanyaan yang begitu langsung menuju intinya dan tanpa rasa ketakutan akan menyinggung hati lawan bicaranya.
Berbeda dengan Pahlawan lain yang khawatir tentang kejadian selanjutnya, hanya Rigel yang dengan berani menyinggung Red.
"Tentu saja tidak mungkin. Kontrak diantara kita telah terjalin, bagaimana bisa kamu mencurigai ku sebagai pengkhianat??" Red menyipitkan matanya, hanya terfokus kepada Rigel yang benar-benar murka.
"Lalu, bagaimana dengan kadal yang kamu panggil rekanmu? Apa kau yakin mereka bukan musuh dibalik selimut?!" tanpa penundaan dia melontarkan pertanyaan lain dan tanpa penundaan Red menghentakkan kaki depannya dengan marah.
"Jangan menjadi tidak sopan, manusia. Hanya karena aku menganggapmu seperti saudara, bukan berarti aku tidak bisa membunuhmu. Kamu hanyalah manusia yang sangat kecil di mataku!"
"Lalu apa? Mau coba mati ditanganku?? maka akan aku injak dan ludahi wajah tolol milikmu itu..."
Suasana mulai menjadi tegang, dua sosok yang tidak bisa diabaikan kehadirannya saling bersitegang dan bersiap bilamana salah satu mencoba menyerang.
Yuri dan Pahlawan lain berkeringat dingin, selagi meneguk air liur mereka yang kering. Dilain sisi, Ozaru yang mengamati diam-diam menyiapkan tongkat dan kekuatannya, kalau-kalau Red menyerang dan mengungkapkan bahwa dia berada dilain sisi.
"Mohon bisakah kalian berdua tenang??"
Sosok yang tidak terabaikan lainnya— Ratu peri berdiri diantara mereka dan menjadi penengah. Keberadaannya patut disyukuri, mengingat Pahlawan lain mungkin tidak dapat menahan sepenuhnya mereka berdua bila terjadi bentrokan.
"Dalam situasi seperti ini, kita harus tetap berpikir rasional. Barangkali Acnologia hanya menduganya saja dan berharap akan lahir kejadian semacam ini. Bahkan jika memang benar adanya seorang pengkhianat, yang jelas dia tidak akan menunjukkan wajahnya."
"Bahkan jika memang begitu, jauh lebih aman menghapus siapapun yang berkemungkinan besar menjadi pengkhianat..." tidak sedikitpun amarah Rigel mereda.
Sebuah pengkhianatan tidak lagi termaafkan baginya. Sudah cukup saat dirinya dicampakkan oleh Tirith, hal itu akan menjadi terakhir kali dia mengampuni penghianat.
Yang membuat Rigel khawatir bila mana penaklukan terungkap ke seluruh dunia, termasuk ras iblis dan Acnologia sendiri. Akan ada jepitan dua arah dari ras Naga dan para iblis. Jika terdapat situasi seperti itu dikemudian hari, kematian takkan terelakkan.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Rigel. Namun jangan pernah melupakan keberadaan ku. Jika keadaan yang kau khawatirkan benar-benar terjadi, maka aku akan menjamin membawa kalian semua ke tempat aman tanpa keraguan. Selain itu...," Sylph menajamkan sudut matanya.
"Bila ada seseorang yang patut dicurigai, maka orang itu adalah sosok yang menculik Priscilla."
Rigel tidak memikirkannya. Benar bahwa kemungkinan itu ada, bahwa tidak sedikit. Dirinya telah benar-benar terbawa oleh emosi yang sangat lama tertampung dalam dadanya.
Tubuhnya seakan bisa meledak dan hancur berkeping-keping, menjatuhkan dunia dalam kebakaran amarah yang berkecamuk. Untuk saat ini, sebaiknya dia menenangkan diri dan tidak menambah jumlah musuh.
Rigel menarik nafas dalam, berusaha untuk mengembalikan pemikiran rasionalitas miliknya. Dia tidak harus melupakan amarah ataupun pengkhianat, hanya perlu melepaskan Red dan kadal yang dianggap rekannya..., untuk saat ini.
"Benar juga..., maaf karena aku kehilangan kendali. Pengkhianatan akan menjadi satu-satunya pemicu dimana kemarahan dunia tidak lagi dapat ditampung."
"Huh, syukurlah. Kupikir aku akan mati karena lupa bernafas sebelumnya," Yuri mendesah lega selagi menepuk-nepuk dadanya.
"Aku memang tidak bisa menjamin apakah ada pengkhianat atau tidak diantara rekan-rekanku. Namun, kamu bisa memegang perkataanku ini..., bahwa aku tidak akan pernah menghianatimu." tukas Red dengan keyakinan kuat.
Entah dapat dipercaya atau tidak, Rigel hanya perlu diam dan menunggu kata-katanya benar-benar nyata atau tidak. Maka hanya perlu membiarkan waktu yang mengungkapkan segalanya.
"Hanya ada dua Minggu yang tersisa. Untuk mencapai tanah para Naga, dibutuhkan empat hari perjalanan. Waktu yang kita miliki lebih sedikit dari jadwal..., karena hal itulah, kita harus bergerak secepat mungkin."