The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Region vs Azazel part 1



Ting!


Ting!


Bam!


Clang!


Suara pedang yang saling berbenturan terdengar dimana mana. Para penyihir merapalkan mantra mereka kepada para monster yang sedang di hadapi oleh para pejuang sementara Vanguard menjadi perisai daging dari serangan para monster itu.


Saat kami membuka pintu gerbang, kami disambut oleh pasukan monster dari yang lemah hingga yang kuat, bahkan beberapa Manticore berterbangan di sekitar kami.


Lantai ini sangat luas, langit langitnya memiliki tinggi beberapa ribu kaki yang memungkinkan bagi seekor naga untuk terbang bebas dengan ruangan seluas dan setinggi ini. Di dalamnya terdapat puing puing dari rumah dan bangunan yang hancur meskipun masih di pertanyakan apakah ada orang yang tinggal di rumah rumah itu sebelumnya.


Namun, hal ini tidak membuat formasi dari masing masing pasukan runtuh.


Terutamanya pasukanku yang di komandoi oleh Braund. Dasarnya, aku menyuruh mereka untuk membuat kelompok kecil dengan minimal 1 orang Vanguard saat menghadapi satu monster yang cukup kuat dan untuk monster kuat yang tidak mudah untuk di tangani, aku menyarankan mereka untuk setidaknya memiliki empat Vanguard, empat penyihir dan tiga petarung.


Dengan Braund yang memimpin pasukan, mereka melakukannya dengan baik dan menuriti nasihatku untuk menyimpan tenaga dan mana sebanyak mungkin karena pertarungan ini adalah pertarungan jangka panjang.


Meskipun mana dan tenaga bisa di pulihkan menggunakan potion, namun jika kita terlalu bergantung padanya itu hanya akan menjadi masalah waktu sampai kita kehabisan potion.


Saat semua orang sibuk dengan pasukan monster yang jumlahnya 2x lebih banyak dari kami, aku dan para petinggi lain berusaha menghabisi monster yang merepotkan seperti Manticore, Minotaur dan Salamander.


Meski tanpa kordinasi, kami tahu tugas masing masing. Biar Priscilla dan Anastasia yang menghadapi Manticore yang berkeliaran di langit, untuk salamander Mirai dan para petinggi lainnya yang akan menghadapi. Lalu, aku mendapatkan jatah untuk menghadapi monster berkepala banteng, Minotaur.


Dengan aku yang sudah memiliki lengan buatan yang terasa seperti lengan asli, aku tidak mengalami kesulitan untuk membunuh banyak dari mereka. Aku berlari di tengah mereka dan memutar tombak di tanganku dengan kedua tanganku.


Cruch!


Roaaaaaarrrrr!


Para Minotaur menjerit kesakitan dan lantai yang kami injak perlahan mulai membuat genangan darah di tanah yang awalnya berwarna coklat, kini menjadi merah darah. Aku melihat ke arah Priscilla yang akan berhadapan dengan empat ekor Manticore yang menerjang langsung ke arahnya.


Priscilla hanya menggoyangkan tangan kecilnya berayun dari ujung ke ujung dan mengikuti tangan kecilnya, bilah angin keluar dari gerakan tangannya dan memotong langsung kepala Manticore itu secara bersamaan. Nampaknya di sisi ini tidak ada masalah, jabatan Ketua bukan hanya gelar kosong.


Bahkan Anastasia dan Mirai hampir selesai dengan bagian mereka, jika seperti ini kemungkinan tidak ada masalah jika kami terus menerobos ke tempat Azazel berada karena semakin lama kami disini, semakin banyak waktu dan stamina yang terbuang.


Aku yakin, sisanya dapat di tangani prajurit dengan baik. Tidak perlu bagi mereka untuk mengikuti kami menghadapi Azazel karena itu sama saja dengan menghampiri kematian mereka.


Priscilla pun nampaknya mengerti apa yang aku pikirkan dan dia mulai memberikan perintah.


"Semuanya! Aku dan para petinggi lain akan langsung menghadapi pangeran neraka, aku yakin kalian dapat menangani yang disini. Untuk berjaga jaga, aku akan meninggalkan salah satu petinggi dan satu periku."


Ucap Priscilla.


Seperti yang dia katakan, seorang peri yang aku temui sebelumnya, Red muncul dari tangan Priscilla yang terulur. Red tanpa perlu waktu lama langsung terbang menuju petinggi yang di tinggalkan disini dan bersembunyi di balik tubuh petinggi itu.


Priscilla menatap kami dan mengangguk.


"Ayo kita pergi!"


Seru Priscilla.


Kami menuruti dan mengikuti di belakangnya. Dalam perjalanan, kami menemui segerombolan monster yang berjumlah sekitar lima puluh. Aku langsung berlari ke depan untuk menghadapi mereka.


Aku melompat dan memutar badanku satu lingkaran penuh dan mengulurkan tanganku seolah ingin menampar mereka. Dengan satu gerakan itu, aku memadatkan mana dan membentuk Mana hand raksasa untuk menghempaskan mereka semua dalam satu tamparan.


"Keterampilan yang menarik."


Priscilla memuji.


Kami terus berlari hingga akhirnya kami menemukan sebuah pintu besar yang menjadi ruangan tempat Azazel berada.


Bahkan dari jarak beberapa ratus meter ini, aku dapat merasakan hawa kehadiran yang sangat kuat dari balik pintu, pasti tidak salah lagi bahwa ruangan itu adalah ruangan Azazel.


Aku merasakan beberapa keringat menetes di dahiku, akan sekuat apa pangeran ini? Dari aura yang menyelimuti ruangan itu bahkan auranya 10 kali lipat dari aura yang dikeluarkan Arch Licht.


Glek.


Aku menaln air liurku untuk membasahi tenggorokanku yang kering. Priscilla tampak tidak gentar dengan aura mengerikan dan menjijikan dari balik pintu itu, justru dia sudah menyiapkan sebuah strategi.


"Anastasia, persiapkanlah perisai sihir yang cukup kuat untuk menahan serangan kejutan saat aku membuka pintunya. Mirai, Rigel kalian akan menyerang bersamaku. Siapkanlah mantra dan serangan kuat kalian. Kita harus bisa mengakhiri pertarungan dengan cepat, karena semakin lama pertarungan berlalu semakin kecil kesempatan menang kita, dan untuk sisanya, bukalah pintu."


Ucap Priscilla dengan tegas.


Lagipula kekuatan dan mana kami terbatas, meskipun kami telah menyiapkan ramuan pemulihan, aku yakin Azazel tidak akan membiarkan kami beristirahat hanya untuk meminum ramuan pemulih jadi hal ini tidak dapat terlalu di andalkan, semakin cepat berakhir semakin baik.


Belum lagi, kekuatan Azazel sendiri masih belum diketahui namun akan jauh lebih baik bahwa kekuatan yang dimilikinya sangat mengerikan.


Kami sudah semakin dekat dengan gerbang dan dua petinggi yang tersisa mendekati pintu perlahan dan hendak membukanya.


Aku sudah mengumpulkan mana di tangan kananku semenjak tadi dan sudah siap untuk meluncurkan serangan Mana Hand ataupun Mana Explode, begitu juga dengan Mirai, dia sudah merapalkan mantranya dan hanya tinggal melemparkan energi listrik di tangan kirinya saja.


Untuk Priscilla, aku tidak tahu serangan seperti apa yang dia keluarkan namun, tubuh mungilnya mulai mengeluarkan sinar putih tipis di selurub tubuhnya. Apakah dia ingin merubah wujudnya dan langsung bertarung serius?


Sementara Anastasia sudah selesai merapalkan perisai pelindung yang sangat kuat, aku meletakan kembali tombakku kedalam Infertory dan mengumpulkan kekuatan di tangan kiri modifikasiku untuk dengan cepat membangun dinding logam jika saja ada serangan kejutan dari Azazel.


Dua petinggi yang di perintahkan membuka gerbang melihat ke arah Priscilla. Priscilla mengangguk sebagai konfirmasi bagi para petinggi itu untuk segera membuka pintunya.


Para petinggi itu memiliki keringat di dahinya dan menelan ludah mereka sebelum mendorong pintu itu. Saat mereka mendorong pintu itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.


"A-p-pintunya tidak mau bergerak."


Ucap petinggi yang mendorong pintu.


"Benar, pintu ini s-sama sekali tidaj mau bergerak."


Lanjut salah satu petinggi lain.


Kami semua terkejut dengan hal ini. Apa yang sebenarnya terjadi?


Mari berpikir dengan cepat, aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dibalik ini. Azazel jelas berada di balik pintu ini, lalu mengapa pintunya tidak terbuka? Aku yakin dia pasti dapat merasakan hawa kehadiran orang yang hendak membunuhnya. Jika dia memang sudah mengetahuinya dan sengaja membuat pintu ini terhenti....


Kata kataku tersangkut di tenggorokanku saat insting bertahan hidupku menjerit bahwa ada sesuatu yang mengerikan sedang melesat kesini dari balik pintu itu.


Aku menarik Mirai dan Priscilla yang berada di dekatku untuk mundur kembali masuk kedalam jangkauan perisai sihir Anastasia. Aku langsung menciptakan dua dinding logam super tebal di depan perisai sihir Anastasia. Saat aku ingin memperingati dua petinggi lainnya...


"Semuanya! Berlindu—"


Namun sudah terlambat.


DUARRR!


Pintu hancur karena bola energi berwarna hijau dan dikelilingi asap hitam menghantam dan menghancurkan tembok itu beserta dinding besi yang aku buat. Kami berhasil bertahan dari serangan kejutan itu namun tidak dengan dua petinggi itu. Kepala dan tubuh mereka berhamburan karena ledakan kuat itu.


"Ehh? Aku pikir kalian semua akan langsung mati setelah satu serangan, namun yang mati hanyalah kedua tikus itu."


Suara seorang pria yang terdengar kecewa datang dari dalam.


Pria itu mengenakan pakaian yang terlihat seperti zirah dada ringan yang berwarna hijau dan sebuah jubah di punggungnya. Di kepalanya, tedapat dua tanduk berwarna hitam dan hijau di ujungnya berada di atas telinganya. Dia terlihat seperti pria yang berumur 30 tahun dengan kumis.


Pria itu sedang duduk di tempat yang Tampaknya sebuah singgahsana sambil tersenyum seolah terhibur dengan serangan yang baru saja dia lakukan. Tidak perlu waktu lama bagiku berfikir bahwa dia pasti Azazel!


Tanpa ragu, aku langsung melesat ke kanan lalu melompat ke arahnya hingga menyisakan jarak beberapa meter. Aku mengayunkan tangan kananku langsung ke arahnya. Mata Azazel tampaknya berhasil mengikuti pergerakanku dan dia menatapku tanpa bergerak, bahkan senyuman di bibirnya tidak menghilang sampai dia mengatakan sesuatu.


"Akhirnya kau datang juga, Pahlawan."


Ucap Azazel.


Aku mengabaikannya dan menyerangnya.


"Mana Explode!"


Energi mana yang berkumpul di tangan kananku dan telah aku padatkan, melesat dengan cepat ke arah Azazel dan aku meledakan bola mana itu saat jaraknya sudah cukup dekat dengannya.


Tidak butuh waktu lama bagi Mirai dan Priscilla mengikutiku dan menyerangnya. Mirai mengulurkan tangannya dan menembakan mantranya.


"Lightning Buster!"


Aliran listrik bertegangan tinggi melesat dari tangan Mirai yang terulur dan saat itu juga serangan lain datang dari sisi lain.


"Teknik peri, ledakan cahaya!"


Teriak Priscilla.


Sama seperti namanya, cahaya meledak tepat saat seranganku dan Mirai juga meledak sehingga menghasilkan daya penghancur yang sangat kuat bahkan para prajurit yang bertarung dengan pasukan monster dapat merasakan getaran yang di timbulkan.


Namun, kami lebih tahu dari siapapun bahwa serangan itu tidak cukup efektif bahkan hanya untuk menggoresnya saja!